Tinggalkan-Suami,-Mati-di-Tangan-Selingkuhan

CRIME STORY

Tinggalkan Suami, Mati di Tangan Selingkuhan

Dua hari meninggalkan suami dan anak, seorang perempuan di Bogor tewas di tangan kekasih gelapnya, yang sudah beristri.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 3 Juni 2016

Siti Nurlaela Sari, 31 tahun, memang bukan “Bang Toyib”, yang sampai tiga tahun tak pulang ke keluarganya. Toh, meski baru mengilang dua hari, kepergian Siti yang tanpa pamit membuat suami dan ketiga anaknya cemas bukan kepalang. Kecemasan itu rupanya tak cuma berakhir dengan duka-nestapa, tapi juga aib tak terhingga bagi keluarga.

Memasuki hari ketiga hilangnya Siti, Ayu Ningsih, 15 tahun, yang ditemani bibinya, Kartika, 30 tahun, berusaha mencari keberadaan sang bunda. Beruntung, di tengah jalan, warga Desa Parakan, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, itu bertemu dengan seseorang yang mengenali Siti. Orang itu mengabarkan bahwa ibunda Ayu tinggal di sebuah rumah kontrakan di Kampung Sukarapih RT 03 RW 08, Desa Ciomas, Kecamatan Ciomas. 

Saat tiba di lokasi, ternyata rumah kontrakan milik Haji Asep itu dalam kondisi terkunci. Ketukan di pintu maupun unjuk salam yang diucapkan keduanya tak mendapat respons. Tapi Ayu berkeyakinan sang bunda berada di dalam rumah. Indikasinya, sepasang sandal yang biasa dipakai Siti teronggok di depan pintu.

Enggak, enggak menyangka sama sekali Ibu akan seperti ini."

Ayu Ningsih, anak korban

Ayu dan Kartika kemudian memutar ke belakang rumah. Saat didorong, pintu bagian belakang rupanya tak terkunci. Ayu pun nekat masuk. Tapi, begitu memasuki kamar tidur, ia sontak menjerit histeris, “Ibu....”

Tanpa dikomando, Kartika pun turut berteriak-teriak minta tolong begitu menyaksikan sosok sang kakak sudah tak bernyawa, tanpa busana. Dalam hitungan menit kemudian, warga kanan-kiri di lingkungan itu pun heboh. Aparat dari Kepolisian Sektor Ciomas tak lama berselang tiba di lokasi.


“Saya dapat laporan dari warga, saya datang untuk memastikan. Terus saya lapor polisi,” kata Lusi Sugiarti, Ketua RT 03 RW 08 Kampung Sukarapih. Polisi, Lusi melanjutkan, langsung melakukan olah data tempat kejadian perkara, memasang garis polisi, dan mengevakuasi jenazah Siti ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk diautopsi.

Menurut Haji Asep, yang mengontrak rumah itu adalah Edi Yulianto alias Keling, yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkot nomor 06 trayek Ciheuleut-Parung Panjang. Dia datang menemuinya pada Minggu, 22 Mei 2016, dan memberi uang muka Rp 200 ribu. Rencananya, rumah itu baru akan ditempati pada 28 Mei.

“Makanya saya juga belum terima fotokopi KTP Yulianto. Eh, enggak tahunya sudah diisi duluan,” ujarnya dengan ekspresi tak senang. Ia seperti menyesal telah mengontrakkan rumah itu. Sebab, yang mengisi ternyata seorang perempuan yang kabur dari suami dan anak-anaknya. Yulianto pun, menurut Asep, sudah punya istri dan anak. “Sepertinya mereka selingkuh,” ujarnya.

* * *


Saat ditemui detikX pekan lalu, Ayu terlihat masih terpukul atas kejadian yang menimpa ibunya. Mengenakan kerudung putih, putri pertama pasangan Siti dan Junaedi itu tak mau banyak bicara. Ayu cuma menjelaskan dirinya bersama bibinya menemukan rumah kontrakan sang ibu berkat informasi dari seorang kenalan.

Soal hubungan cinta terlarang sang ibu dengan Yulianto, gadis itu menyatakan sama sekali tak pernah mengiranya. Apalagi, saat menjemput dirinya dari sebuah pesantren di Sukabumi, Jawa Barat, pada 21 Mei lalu, kedua orang tuanya datang dengan angkot yang dikemudikan Yulianto. “Enggak, enggak menyangka sama sekali Ibu akan seperti ini,” ujarnya lirih.

Ayu juga tak mau bicara soal kemungkinan tidak harmonisnya hubungan ibunya dengan sang ayah. Bahkan Junaedi memilih pergi saat ditanya masalah yang terkait dengan istrinya itu.

Sudah lama kenalnya, dari sebelum dia narik angkot, orang tua saya juga sudah kenal sama dia."

Kartika, adik korban

Menurut Kartika, yang mendampingi Ayu, mereka semua tak menyangka kakaknya dan Yulianto menjalin cinta terlarang. Keluarga besar Siti, kata dia, sudah lama mengenal Yulianto sebagai sosok yang baik. Orang tua Siti memiliki rumah dan warung dekat rumah Yulianto di Desa Parakan. Bahkan orang tua Siti, saat membeli barang ke pasar untuk dagangan di warungnya, kerap menyewa angkot yang disopiri Yulianto.

“Jadi sudah lama kenalnya, dari sebelum dia narik angkot, orang tua saya juga sudah kenal sama dia. Kalau ibu saya mau antar dagangan, ya pasti sewa mobil dia. Yang jadi sopirnya juga dia,” tutur Kartika.

Belum diketahui alasan pasti kenapa cinta Siti berpaling kepada Yulianto. Cuma, seorang tetangga korban membisikkan bahwa Siti pernah curhat terkait kondisi ekonomi keluarganya. Maklum, Junaedi hanya bekerja serabutan. “Dia cuma curhat soal ekonomi, bukan soal asmara.”


Reporter: Farhan (Bogor)
Penulis: M. Rizal
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Crime Story mengulas kasus-kasus kriminal yang menghebohkan, dikemas dalam bahasa bercerita atau bertutur, dilengkapi dengan gambar ilustrasi yang menarik.


SHARE