CRIME STORY

Cemburu Buta Penghilang Nyawa

Nyawa Olisye melayang di tangan teman sepermainannya sendiri.
Gara-gara berebut pacar.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 9 Desember 2016

Setiap hari Minggu, Olisye Manginsihi, 14 tahun, pergi berdoa ke gereja tak jauh dari kampungnya di Lingkungan I, Kelurahan Malalayang Timur, Kecamatan Malalayang, Kota Manado. Begitu pula pada Minggu, 13 November 2016, siang yang cerah itu.

Gadis hitam-manis ini pamit kepada ibunya, Maria, 45 tahun, berangkat menuju gereja bersama teman-temannya. Sepulang dari gereja, gadis yang masih duduk di kelas III di salah satu sekolah menengah pertama ternama di Kota Manado itu biasanya bermain bersama teman-temannya.

Mereka berkeliling menikmati Kota Anging Mammiri, bahkan sering kongko di pusat-pusat belanja. Namun hari itu ada yang di luar kebiasaan. Sudah hampir malam Olisye baru pulang ke tempat kos dia dan ibunya. Tapi entah kenapa, Olisye kembali pamit untuk pergi ke luar rumah.

Hingga Senin, 14 November 2016, Olisye tak kunjung pulang. Hal ini tentunya membuat keluarga cemas. Tak lama, sekitar pukul 09.00 Wita, keluarga mendapat kabar yang mengejutkan bahwa Olisye ditemukan terkapar dengan luka-luka parah di pinggir Jalan Lingkar Luar Kota Manado.

Olisye ditemukan seorang tukang ojek dengan kondisi mengenaskan dengan sejumlah luka lebam di bagian kepala di pinggir jalan, tak jauh dari kampus IAIN Manado sekitar pukul 05.30 Wita. Pihak kepolisian dari Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Manado diturunkan ke lokasi kejadian.



Kami terpaksa meminta otopsi supaya kami bisa tahu penyebab pasti kematian Olisye.”

Saat itu Olisye, yang masih bernapas, segera dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Kepolisian Daerah Sulawesi Utara. Namun, karena kondisinya sangat parah, Olisye kemudian dirujuk ke RS Kandou Malalayang. Nahas, nyawa Olisye tak tertolong. Sekitar pukul 22.00 Wita, ia mengembuskan napas terakhir.

Olisye meninggalkan tempat kos pada Minggu sekitar pukul 22.30 Wita. Ia pergi dengan membawa telepon seluler milik ibunya. Sekitar pukul 24.00 Wita, Olisye sempat menelepon temannya bernama Nixson. Saat itu Olisye sempat menanyakan kondisi ibunya kepada temannya itu, yang tinggal tak jauh dari rumah kos Olisye bersama sang ibu.

“Waktu dia telepon, saya tanyakan kondisi dan posisinya di mana. Dia mengaku berada di Kampung Wonasa Kapleng,” terang Nixson kepada detikX di RS Bhayangkara Polda Sulawesi Utara beberapa waktu lalu.

Nixson mengatakan, sekitar pukul 02.30 Wita Olisye sempat meneleponnya kembali, tapi panggilan telepon itu tak dia respons karena sudah tertidur lelap. Baru pagi harinya, ketika ia bangun mendapatkan kabar tentang penemuan Olisye yang mengalami luka-luka di Jalan Lingkar Luar.

Akhirnya keluarga Olisye meminta polisi melakukan otopsi. Korban pun kembali dibawa ke RS Bhayangkara. Keluarga curiga ada yang janggal pada tubuh Olisye. Kepala bagian belakang korban bengkak, sedangkan kaki dan tangan mengalami luka lecet. Bukan hanya itu, alat kelaminnya juga mengeluarkan darah segar.

“Kami terpaksa meminta otopsi supaya kami bisa tahu penyebab pasti kematian Olisye,” kata salah seorang kerabat Olisye kepada detikX.

Kecurigaan keluarga pun terbukti. Hasil otopsi membenarkan bahwa luka lebam pada bagian kepala merupakan akibat pukulan benda tumpul beberapa kali. Begitu juga dengan alat kelamin korban yang mengalami luka robek. Karena itu, polisi bergerak cepat. Kasus langsung diambil alih Tim Manguni, Direktorat Reserse Kriminal Polda Sulawesi Utara.


Hanya berselang sehari, tim gabungan Tim Manguni Charlie yang dikomandani Aiptu Mulyadi  dan Tim Manguni 3 pimpinan Ipda Adrianus berhasil mengungkap satu nama yang menjadi saksi kunci, yakni Tia, warga Desa Sawangan, Kecamatan Tombolu, Kabupaten Minahasa, berumur 16 tahun.

Tia mengaku bersama Olisye dan dua teman lainnya, yaitu Sela dan Lidya, sempat menggelar pesta miras yang dicampur obat terlarang jenis botil dan pil koplo di kawasan Tugu Lilin, Marina Plaza, sekitar pukul 03.00 Wita.

Sekitar pukul 04.00 Wita, Olisye terlibat cekcok mulut dengan Sela. Olisye dituduh telah merebut pacar Sela. “Jujur saja, kamu suka pacar saya, kan?" teriak Sela bertanya kepada Olisye seperti ditirukan Tia.

Tia mengaku bersama Lidya sempat melerai cekcok mulut kedua temannya itu. Tapi, karena gelap mata, Sela langsung melemparkan batu ke arah belakang kepala Olisye. Olisye jatuh.

Olisye sempat berusaha bangun untuk berdiri. Tapi Sela mengambil sepotong kayu yang tak jauh dari lokasi. Ia langsung memukulkan kayu itu beberapa kali ke bagian belakang leher Olisye hingga terjatuh lagi.

Olisye kembali bangun, berhasil melarikan diri, dan berteriak minta tolong. Ia sempat menumpang sepeda motor yang lewat sebelum diketahui tubuhnya ditemukan di Jalan Lingkar Luar.

Polisi segera menangkap Sela dan Lidya di rumah gubuk di Kompleks Pekuburan Kampung Nanas, Kecamatan Singkil. Tia, Sela, dan Lidya awalnya berbeda pernyataan dan berbelit-belit saat memberikan keterangan.

Akhirnya ketiganya mengaku bahwa mereka bertigalah yang mengeroyok Olisye. Saat Olisye tak sadarkan diri akibat dihantam batu dan kayu oleh ketiga perempuan ABG itu, tubuh korban diseret ke pinggir jalan. Kemudian mereka menyetop mobil pikap yang melintas dan menumpang.




Tia dan Lidya menaikkan tubuh Olisye ke atas mobil pikap itu, sementara Sela pergi menuju rumah pacarnya di Kecamatan Singkil. Kepada sopir, Tia dan Lidya beralasan akan mengantar temannya yang tengah mabuk berat. “Kami memberhentikan sebuah mobil pikap, dan bilang teman kami mabuk berat, mau diantar pulang,” ujar Tia.

Mobil pikap itu pun melaju. Sesampai mereka di Jalan Lingkar Luar, sopir sempat menanyakan tujuan ketiga perempuan muda itu. Namun Tia dan Lidya malah minta diturunkan di situ. 

Keduanya lalu menurunkan tubuh Olisye dan membopongnya ke semak-semak untuk dibuang. Tubuh perempuan muda itu ditemukan tukang ojek pada pagi harinya.

Kasusnya ternyata bukan hanya itu saja. Setelah diotopsi dan divisum, diketahui bahwa korban mengalami tindak pemerkosaan sebelum dibunuh oleh teman-temannya. Kepolisian mengembangkan kasus tersebut, dan berhasil menangkap seorang sopir angkutan kota bernama Yudi alias Aba, 55 tahun.

Rupanya, sebelum pengeroyokan, pada Minggu, 13 November 2016, pukul 17.00 Wita, Olisye dan ketiga pelaku sempat datang ke tempat kos Yudi di Minanga, Kecamatan Tetengesan. Olisye sempat diperkosa sampai alat kelaminnya robek.

Hal itu terjadi karena alat kelamin Yudi disuntik silikon sampai jadi besar. Dari pengakuan Yudi, Olisye bersama ketiga temannya diberi minuman yang sudah dibubuhi obat-obatan narkotik hingga mabuk dan terjadilah tindak pemerkosaan tersebut.

Bukan hanya terhadap Olisye, Aba mengaku sering mencabuli Tia, Sela, dan Lidya. Tak berbeda jauh, Aba selalu menaruh obat terlarang dalam minuman yang diberikan kepada ketiga perempuan muda itu. “Yudi kami tahan juga atas dugaan pemberian obat terlarang, miras, dan tindak pidana pencabulan,” kata Direktur Reskrimum Polda Sulawesi Utara Kombes Pitra Ratulangi.

Hingga saat ini, Tia, Sela, dan Lidya harus mendekam di sel tahanan Polda Sulawesi utara. Begitu juga Yudi. Sedangkan keluarga Olisye berharap pihak kepolisian menjatuhkan hukuman yang pantas kepada keempat pelaku pengeroyokan hingga tewas dan pencabulan terhadap Olisye.


Reporter: Eka Putra (Manado), M. Rizal
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Crime Story mengulas kasus-kasus kriminal yang menghebohkan, dikemas dalam bahasa bercerita atau bertutur, dilengkapi dengan gambar  ilustrasi yang menarik.

SHARE