INVESTIGASI

Tsunami Selat Sunda

Horor Tsunami di
Hotel Mutiara

“Saya menangis. Alhamdulillah, saya dapat bertemu kembali dengan istri dan anak-anak di bukit malam itu.”

Bangunan yang Hotel Mutiara di Pantai Carita, Pandeglang, Banten, hancur diterjang tsunami
Foto: Andika Prasetya/detikcom

Selasa, 25 Desember 2018

Aan Supriatna, 56 tahun, pemimpin sekuriti Hotel Mutiara Carita Cottage di Pantai Carita, Pandeglang, Banten, baru saja selesai mengontrol permukaan air laut pada pukul 21.00 WIB, malam itu. Normal-normal saja, aman, pikirnya. Tidak ada hal yang aneh di benaknya. Gunung Anak Krakatau memang bergemuruh seharian. Lava pijar terlihat di kejauhan sana. Namun ‘tingkah’ gunung superaktif di Selat Sunda itu juga biasa dilihatnya.

Tamu-tamu hotel terlihat asyik menikmati suasana malam di tepi pantai dengan langit cerah berhias bulan purnama. Ia tak tahu pasti jumlah wisatawan yang menginap pada malam itu, tapi perkiraannya sekitar 300 orang. Sebagian bermain ke dermaga yang menjorok ke laut, sebagian lagi meriung di depan penginapan berbentuk vila-vila. Maka, pada Sabtu, 22 Desember 2018, malam itu, Aan kembali melangkah ke pos jaga.

Namun, setengah jam kemudian, tiba-tiba ombak terdengar begitu keras. Gemuruh ombak itu segera disusul oleh teriakan para pengunjung bahwa air laut telah naik ke vila-vila mereka. Arus listrik terputus, membuat suasana di seluruh area resor di Jalan Raya Carita itu gelap gulita.

Belum sempat Aan dan anak buahnya mengecek kejadian itu, tiba-tiba datang ombak yang jauh lebih besar. Dua kali gelombang setinggi 3 meter itu menerjang vila-vila yang dipenuhi pelancong. Kaca-kaca pecah. Pohon-pohon tumbang. Mobil-mobil pengunjung bergeser tak tentu arah, menabrak dinding, dan bertubrukan karena tsunami.

Mobil anggota GL Mania setelah tsunami menerjang
Foto: dok. GL Mania Chapter Tangerang

Para penghuni resor menjerit-jerit di tengah gelapnya malam. Teriakan minta tolong terdengar bersahutan. Sebagian tamu menyelamatkan diri dengan naik ke lantai dua vila. Sebagian lainnya berlarian telanjang kaki menghindari kejaran air, menyusuri jalan berkerikil sepanjang 1 kilometer keluar ke arah jalan raya. “Orang-orang berlarian dari arah sana (vila). Anggota saya juga ada yang kegulung air. Tapi untungnya bisa berpegangan pada tiang kayu. Di bawahnya ada kasur. Dia naik ke kasur itu dan akhirnya selamat,” ujar Aan kepada detikX saat ditemui di Hotel Mutiara Carita, Senin, 24 Desember, malam.

Menurut Aan, situasi mencekam itu berlangsung kurang-lebih 15 menit. Air laut yang datang menggumpal-gumpal di area hotel berangsur tenang, sebelum akhirnya surut kembali ke pantai. Ia dan para pegawai hotel lainnya lantas mendatangi vila-vila untuk mengevakuasi para korban tsunami.

“Saya gendong banyak korban. Ada yang berdarah-darah karena malam, ya, gelap, kena kaca. Kemudian ada yang sempat tenggelam, sehingga butuh oksigen,” ujar Aan. “Ada tamu yang berteriak ‘selamatkan keluarga saya’. ‘Anak saya, ini anak saya.’ ‘Bapak saya belum ketemu. ‘Ya, sudah, Bu, daripada Ibu ini... ikut kumpul saja dulu di front office,” sambung Aan.

Front office hotel bintang tiga itu penuh dengan korban tsunami. Korban yang dikumpulkan di tempat itu lantas diungsikan ke perbukitan di seberang jalan. Mereka ditempatkan di halaman Balai Desa Tembong dan sekolah-sekolah di sekitarnya. Proses penyelamatan korban itu berlangsung sejak malam hingga pagi. “Saya telepon Polres, minta bantuan. Masyarakat kemudian banyak yang datang untuk membantu. Kita evakuasi manual saja, karena tidak ada alat,” katanya.

Anak saya minta kita naik lagi ke dataran yang lebih tinggi karena takut. Kita sampai ke hutan-hutan."

Eko Nurcahyo, Ketua Grand Livina Mania Chapter Tangerang

Kawasan Hotel Mutiara, Pandeglang, Banten
Foto: Ivan Fadly/detikX

Adapun evakuasi korban meninggal baru dilakukan setelah kondisi terang pagi harinya, Minggu, 23 Desember. Aan tidak mengetahui pasti berapa jumlah pengunjung Hotel Mutiara yang tewas ataupun yang masih hilang hingga sekarang. Namun, berdasarkan informasi yang diperoleh detikX, hingga Senin, 24 Desember, malam, tim SAR gabungan menemukan setidaknya 64 korban tewas di hotel itu. Seorang personel tim SAR yang bersiaga di hotel itu bilang korban yang masih hilang diperkirakan 70 orang.

Aan mengatakan kompleks terparah akibat tsunami itu adalah Mentari Lembayung, yang terletak di ujung kiri kawasan Hotel Mutiara. Kompleks itu berisi hunian-hunian eksklusif dengan kepemilikan pribadi. Kebanyakan orang Jakarta yang punya. “Di sana (Mentari Lembayung) rusaknya paling parah,” ucap pria yang sudah puluhan tahun bekerja di Hotel Mutiara itu.

Kesaksian ngerinya tsunami juga dituturkan oleh Eko Nurcahyo, pengunjung Hotel Mutiara. Eko bersama dengan rekan-rekannya dari komunitas otomotif Grand Livina Mania (GL Mania) Chapter Tangerang tengah menggelar gathering untuk memperingati satu tahun berdirinya komunitas itu di Hotel Mutiara. Gathering itu diikuti oleh 30 anggota. Bersama anak dan istri mereka, setidaknya ada 60 orang yang hadir dalam acara itu.

Eko sebagai ketua komunitas hadir bersama istri dan ketiga anaknya. Ledakan erupsi Gunung Anak Krakatau didengarnya hampir setiap menit. Perasaannya sempat tidak enak. Namun ia berusaha mengusir kegelisahanya itu dan larut dalam acara gathering yang berlangsung meriah di dekat kolam renang. Pukul 21.00 WIB, tumpeng dipotong. Setelah memberi sambutan, ia sempat kembali ke kamar bersama anak keduanya yang minta tidur.

Tiba-tiba air masuk ke kamarnya. Eko pun panik dan segera keluar mencari istri dan anak pertama dan ketiga, sedangkan anak kedua ditinggal di kamar. Namun istri dan kedua anaknya tidak kunjung ditemukan. Belum juga menemukan anggota keluarganya, ombak besar datang mengempas. “Saya sempat hanyut, tapi masih di sekitar cottage. Kaki saya terluka, entah membentur apa,” kata Eko saat ditemui detikX, Senin, 24 Desember, malam di Hotel Mutiara.

Eko kembali ke kamarnya, tapi sang anak sudah tidak ada lagi di tempat. Eko bertambah kalut dan bingung. Telepon selulernya tak berfungsi karena terendam air. Di tengah kepanikan itu seorang member GL Mania meraih tangannya dan memaksanya agar keluar dari hotel karena takut datangnya tsunami susulan. Eko mengungsi bersama rekan-rekannya ke dataran yang lebih tinggi.

Aan Supriatna, pemimpin sekuriti Hotel Mutiara, Pandeglang, Banten
Foto: Ibad Durrohman

Di atas perbukitan, seorang anggota GL Mania memberi tahu Eko bahwa istrinya selamat. Sekitar pukul 00.30 WIB, ia akhirnya bertemu dengan istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Mereka rupanya langsung menyelamatkan diri ke bukit ketika ombak pertama datang menerjang. “Saya menangis. Alhamdulillah saya dapat bertemu kembali dengan istri dan anak-anak di bukit malam itu. Anak saya minta kita naik lagi ke dataran yang lebih tinggi karena takut. Kita sampai ke hutan-hutan,” ucapnya.

Eko merasa lebih lega lagi setelah pagi datang ia mendapat kabar bahwa anak keduanya juga selamat. Buah hatinya itu diselamatkan oleh seorang anggota dan sudah dibawa ke Tangerang. Eko juga bersyukur semua anggota GL Mania dan keluarga mereka selamat. Senin malam itu, Eko dan rekan-rekannya datang kembali untuk menderek mobil mereka yang mati mesin. “Mobil ada yang penyok-penyok. Yah, kalau ingat kejadian kemarin, rasanya masih trauma dan takut,” katanya.

Berdasarkan pantauan detikX, Senin pukul 20.00 WIB, lampu penerangan di kawasan hotel itu telah menyala. Bangunan-bangunan vila terlihat hancur. Benda-benda elektronik dan furnitur berserakan di pekarangan, belum dibersihkan pengelola. Sementara itu, beberapa mobil terlihat masih nyangkut di pohon atau bangunan. Dua bus pembawa rombongan masih teronggok. Sementara itu, di front office Hotel Mutiara, regu penyelamat masih berjaga.

Pada Senin siang, Presiden RI Joko Widodo berkunjung melihat hotel tersebut. Hotel Mutiara Carita merupakan penginapan yang paling parah dihantam tsunami Selat Sunda. Selain Hotel Mutiara, ada tiga hotel lain yang rusak parah dan ditemukan banyak korban tewas akibat tsunami, yakni Hotel Tanjung Lesung Panimbang, Hotel Sambolo Carita, dan Vila Stephanie.


Reporter: Ibad Durrohman, Irwan Nugroho
Editor: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE