CRIMESTORY

Dulu Robby, Sekarang Tentri

Ada 45 artis dan 100-an foto model yang diduga terlibat jaringan prostitusi Endang dan Tentri. Melibatkan duit miliaran rupiah.

Fotografer: Palevi S/detikcom

Rabu, 10 Januari 2019

Kurang-lebih 25 abad silam, Solon mendirikan rumah bordil di Athena, Yunani. Dengan dalih mencegah perselingkuhan, rumah bordil Solon menerima semua laki-laki yang datang. Entah dia seorang prajurit, kuli, atau pejabat pemerintah seperti halnya Solon. Solon memang bukan seorang ‘muncikari’ biasa.

Hari ini, lebih dari 2.500 tahun kemudian, bisnis esek-esek ini tak kunjung mati, bahkan bisa jadi akan bertahan hingga hari akhir nanti. Belum juga orang lupa dengan Robby Abbas, yang sudah dihukum penjara oleh pengadilan lantaran terbukti menjadi muncikari bagi beberapa artis, fotomodel, dan pramugari tiga tahun lalu, kini ada lagi kasus sejenis yang sama hebohnya. Kali ini orang yang diduga jadi muncikarinya adalah dua perempuan, Endang Siska dan Tentri N.

Dulu Robby ‘bernyanyi’, menyebut sejumlah inisial artis yang berkali-kali dia perantarai menjual diri. Kali ini polisi dari satuan Subdirektorat Cybercrime Direktorat Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Timur menggerebek Vanessa Adzania, atau lebih dikenal sebagai Vanessa Angel, saat dia berada di kamar hotel bersama seorang laki-laki, pada Sabtu lewat tengah hari pekan lalu. Vanessa ditangkap polisi di kamar 2721 Hotel Vasa, Jalan HR Muhammad, Surabaya. Selain menangkap Vanessa, polisi menjemput Avriellia Shaqqila, model foto yang pernah tampil di beberapa majalah dewasa.

Hari itu pula, polisi bergerak cepat membekuk dua perempuan yang diduga menjadi muncikarinya. Endang Siska alias ES, 37 tahun, diamankan polisi ketika menunggui pelayanan jasa prostitusi di hotel yang sama. Sedangkan germo satunya lagi, Tentri alias TN, 28 tahun, ditangkap polisi di Tower Alamanda, Apartemen Bassura City, Cipinang, Jakarta Timur.

Oleh kedua muncikari ini, menurut polisi, Vanessa Angel ditawarkan kepada para pria hidung belang dengan tarif Rp 80 juta, sedangkan Avriellia Shaqqila ditawarkan Rp 25 juta. Saat digerebek, Vanessa kabarnya tengah melayani seorang pengusaha tambang pasir bernama Rian.

Tersangka mucikari dari prostitusi daring artis (baju tahanan biru) ketika ungkap kasus di Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jawa Timur, Kamis (10/01/2019). Ditreskrimsus Polda Jawa Timur menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus prostitusi daring usai tertangkapnya dua artis ibu kota Vanessa Angel dan Avriellya Shaqqila di Surabaya, Sabtu (5/1) lalu
Foto : M Risyal Hidayat/ANTARA

Endang dan Tentri bukanlah germo ecek-ecek. Polisi, menurut Ajun Komisaris Besar Polisi Harrisandi, Kepala Subdirektorat V Cybercrime Polda Jawa Timur, sudah sebulan mengawasi bisnis esek-esek Endang. Tak seperti muncikari lainnya, yang biasa bertransaksi cukup melalui WhatsApp, Endang dan Tentri mewajibkan calon pelanggannya bertemu muka.

Semua pelanggan diwajibkan menyetor uang muka paling sedikit 30 persen dari nilai transaksi sebelum ‘ngamar’. “Dia yang mencarikan kamar hotelnya. Dia juga yang menunggui konsumen dengan penjual jasa itu,” kata juru bicara Polda Jawa Timur Komisaris Besar Frans Barung Mangera.

Jaringan ‘anak buah’ ES ini bukan main. Dari hasil pemeriksaan polisi, menurut Kepala Polda Jawa Timur Inspektur Jenderal Luki Hermawan, ada 45 artis dan 100 fotomodel yang memakai ‘jasa’ Endang dan Tentri untuk menjajakan diri. Endang lebih banyak berhubungan dengan para artis, sementara Tentri mengurus para model di majalah-majalah dewasa. Kabarnya, polisi juga masih mengejar dua germo lagi yang terkait jaringan prostitusi kelas tinggi ini.

“Untuk menguatkan bahwa prostitusi online ini besar, kami sudah mengambil data dari rekening koran mereka, ada Rp 2,8 miliar.... Besar sekali," ujar Irjen Luki Hermawan. Polisi berencana memanggil beberapa artis yang diduga punya hubungan dengan Endang dan Tentri. Ada enam artis yang bakal dipanggil ke kantor polisi, yakni Aldira Chena, Tiara Permata Sari, Baby Shu, Mulya Lestari, dan Riri Febianti, Fatya Ginanjarsari.

Lantaran selalu pasang syarat bertemu muka, polisi yakin, Endang dan Tentri tahu betul siapa saja pelanggan-pelanggan ‘jasa’ anak buahnya. Tak hanya menyimpan kontak mereka, kedua perempuan ini juga kenal wajah-wajah pemakai jasa ‘anak-anak’-nya. Beberapa hari lalu, polisi sudah menyerahkan dua ponsel milik Endang dan Tentri ke bagian forensik digital. Isi ponsel itu akan mengungkap siapa saja pelanggan mereka. “Karena berhubungan dengan operator dan lain-lain, kira-kira tiga hari sampai seminggulah,” kata Frans soal waktu pemeriksaan dua ponsel itu.

Vaness Angel memberikan keterangan pers seusai diperiksa Polda Jatim.
Foto : Farid Miftah Rahman/CNN Indonesia

Saat digerebek di Hotel Vasa, menurut polisi, Vanessa tengah melayani seorang pengusaha tambang pasir asal Lumajang, Jawa Timur, bernama Rian. Rian disebut-sebut berusia 45 tahun dengan KTP DKI Jakarta, tetapi sering berada di Surabaya. Namun polisi melepaskan Rian, yang hanya berstatus saksi dalam kasus itu. Menurut polisi, tak ada pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang bisa dipakai menjerat pemakai jasa prostitusi.

Bupati Lumajang Thoriqul Haq mengaku sudah mengumpulkan 25 penambang pasir yang memiliki izin di daerahnya. Hampir semua penambang pasir mengaku tak ada yang kenal. Sementara itu, salah seorang pengurus Asosiasi Penambang Pasir Lumajang, Jamal Al Katiri, sedikit memberikan keterangan berbeda kepada detikX.

Jamal mengakui Rian memang tak dikenal oleh para penambang karena memang bukan penambang, tapi hanya seorang pengepul. Ia tahu Rian sering terlihat di sekitar tempat pengepulan pasir di depan Balai Desa Lampeni, Kecamatan Candipuro, Lumajang. Rian, menurutnya, bukan orang Lumajang, tapi sering ke Jakarta dan Surabaya.

Pria muda keturunan Tionghoa yang dikenalnya itu masih muda sekali, berumur sekitar 27 tahun, tapi memiliki banyak usaha, di antaranya tambang batu bara. “Dia itu bukan penambang. Penambang harus punya surat izin usaha pertambangan, dia nggak punya. Dia hanya pengepul,” kata Jamal saat ditemui di rumahnya, Desa Sumber Mujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Selasa lalu. Apakah Rian versi Jamal ini sama dengan Rian yang bersama Vanessa?

Vanessa pertama kali muncul di televisi pada 2008. Dia main dalam sinetron ‘Cinta Intan’ yang tayang di SCTV. Setelah sinetron pertama itu, dia sempat main di beberapa sinetron lain, seperti ‘Layla Majnun dan Nadin’, juga beberapa film televisi. Vanessa, kini 27 tahun, pernah pula menjadi penyanyi dan sempat merekam lagu Indah Cintaku, berduet dengan Nicky Tirta. Sementara itu, tak banyak cerita soal Avriellia Shaqqila selain bahwa di lahir di Jakarta, 24 tahun lalu, dan pernah menjadi model foto di majalah-majalah dewasa.

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan di Mapolda Jatim, Surabaya, Senin (7/1).
Foto : Farid Miftah Rahman/CNN Indonesia

Versi Vanessa, dia pergi ke Surabaya lantaran ada pengusaha yang hendak memakai jasanya menjadi pembawa acara. Tapi Guntual Laremba, mantan pengacara Vanessa, kurang yakin dengan cerita itu. “Masak nge-MC di dalam kamar bersama laki-laki?” kata Guntual. Dia juga mengungkapkan Vanessa mengatakan kepada tim kuasa hukumnya di Jakarta bahwa tak ada aliran dana yang masuk ke rekening pribadinya. Namun, nyatanya, ada sejumlah yang ditemukan di ATM Vanessa. "Berbeda semua, terkait tidak ada aliran dana. Kami sendiri yang melihat ada aliran dana di rekening."

Setelah penggerebekan di Hotel Vasa, kabarnya Vanessa shock berat. Apalagi, setelah penangkapannya itu, beredar pula foto telanjangnya di dunia maya. Kondisinya semakin drop ketika mendengar manajernya, Lidya, ditipu Rp 25 juta oleh seseorang yang mengaku oknum polisi untuk menyelesaikan masalah yang menerpanya itu. “Ya kaget, shock lagi,” kata Lidya melalui pesan singkat.

Hal senada diungkapkan mantan kuasa hukum Vanessa, Muhammad Zakir Rasyidin. “Vanessa sedang menenangkan diri dulu, belum bisa keluar. Dia tidak tidur-tidur 24 jam, masih shock dan kondisinya masih terguncang,” kata Zakir, Senin lalu, dalam konferensi pers tanpa kehadiran Vanessa. Sayangnya, Zakir tak lama menjadi kuasa hukum Vanessa. Per Rabu, 9 Januari, Vanessa mencabut kuasanya.

Entah apa yang terjadi. Yang jelas, menurut Lidya, tim kuasa hukum yang disiapkan Jane Shalimar itu telah membuat acara jumpa pers tanpa persetujuannya. “Satu, Saudara Jane Shalimar hanya sahabat dan tidak mempunyai hak untuk mengeluarkan pendapat hukum mengenai kasus yang tengah dihadapi Vanessa Angel,” kata Lidya. Ada satu lagi ‘kesalahan’ Zakir. “Kedua, kuasa hukum Zakir Rasyidin benar kuasa hukum Vanessa Angel, akan tetapi tindakan kuasa hukum dengan melakukan konferensi pers tanpa konfirmasi atau mendapatkan persetujuan Vanessa Angel.”

Vanessa Angel
Foto : Dok Pribadi

Tapi lain cerita Zakir. Menurut Zakir, dia mundur sebagai kuasa hukum Vanessa karena dianggap bertentangan dengan nuraninya sebagai pengacara. Dia, kata Zakir, mencari kebenaran, bukan pembenaran. Banyak yang menjadi tanda tanya dalam kasus Vanessa Angel, yang seharusnya kliennya mau terbuka mengungkap jaringan prostitusi online itu. “Surat kuasa saya itu tanggal 6 Januari 2019, yang minta Vanessa sendiri, karena dia diperiksa sebagai saksi. Jangan sampai melebar ke mana-mana dan perlu pendampingan meluruskan peristiwa yang terjadi,” kata Zakir menceritakan awal menjadi kuasa hukum Vanessa Angel.

Zakir sebagai kuasa hukum dalam kasus ini tidak memberikan bantahan atau komentar terhadap apa yang terjadi di Surabaya, karena masalahnya sudah masuk ke ranah hukum yang ditangani kepolisian Polda Jawa Timur. Dalam rangka pemberantasan prostitusi, ia sepakat hal itu harus sama-sama diberantas untuk mencari tahu dan mengungkap siapa saja yang terlibat dengan meminta pihak kepolisian memproses secara hukum.

“Kewajiban kami untuk meluruskan agar posisi peristiwanya bisa didudukkan secara tepat, supaya kita bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi,” jelasnya.

Zakir menambahkan ada keterangan dari kepolisian yang pihaknya bantah. Pertama, tidak benar ketika kliennya (Vanessa Angel) diamankan di Surabaya menerima uang Rp 80 juta. Kedua, tidak benar Vanessa Angel menerima uang muka sebelumnya. Tetapi polisi menyebutkan ada transferan uang yang masuk ke kliennya tanpa tak diketahui sumbernya dan rekening siapa. Sebab, saat itu uang dikembalikan untuk dijadikan alat bukti.

“Nah, dari sini kita memberikan pembelaan. Kalau klien kami terlibat dalam prostitusi, itu perlu penelusuran lebih lanjut dan itu tugas kepolisian untuk melanjutkan itu,” tegas Zakir.


Reporter: Gresnia F Arela, Hilda Meilissa (Surabaya), Nurhadi (Lumajang)
Redaktur: M Rizal
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE