CRIMESTORY

Prabangsa, Ketika Berita Berbalas Nyawa

Mengungkap dugaan korupsi di Bali, Prabangsa dibunuh dengan sangat keji. Namun, Jokowi memberi 'kado' remisi kepada otak pembunuhnya.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 8 Februari 2019

“Ada mayat…!” Muhari berteriak kepada anak buah kapal Perdana Nusantara yang dinakhodainya ketika melihat seonggok tubuh manusia terapung di dekat dek kapal. Siang itu, Senin, 16 Februari 2009, kapal Muhari berlayar menuju Pelabuhan Padang Bai, Bali, melalui jalur perairan Teluk Bungsil, wilayah di Kabupaten Karangasem.

Muhari bergegas membawa kapalnya menuju pelabuhan. Begitu berlabuh di Padang Bai, Muhari langsung menemui Syahbandar Made Sudiarta. Ia melaporkan penemuan mayat di titik koordinat 08.32.882 Lintang Selatan dan 115.30.672 Bujur Timur di perairan Teluk Bungsil.

Syahbandar pun langsung mengirim petugas pelabuhan, Polisi Airud, dan Bali Amateur Emergency Service dengan tiga speedboat. Setengah jam perjalanan, mereka menemukan mayat itu dan mengevakuasinya ke Rumah Sakit Umum Daerah Amlapura, Karangasem, untuk dilakukan visum.

Beruntung, saat itu tim forensik yang dipimpin dr Gusti Putra menemukan dompet korban. Di dalamnya lengkap ada KTP, SIM, STNK sepeda motor Honda GL Pro, dan kartu ATM BNI. Semua atas nama Anak Agung Gede Bagus Narendra Prabangsa, warga Jalan Nusa Kambangan, Sanglah, Kota Denpasar. Sekujur tubuh korban dipenuhi luka-luka parah akibat penganiayaan. Dahi nyaris remuk dan pada lehernya terdapat luka bekas jeratan tali.

Guna diperiksa lebih lanjut, jasad Prabangsa pun dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar. Identitas korban cocok dengan laporan kehilangan yang ada di Polwiltabes. Laporan itu dibuat istri Prabangsa dan perwakilan koran Radar Bali dua hari sebelumnya.

Anak Agung Gede Bagus Narendra Prabangsa
Foto: Repro buku "Jejak Darah Setelah Berita"


Beberapa hari sebelum menghilang, dia selalu takut bila ada jendela terbuka.”

Prabangsa tercatat sebagai redaktur di koran milik Jawa Pos Group itu. Prabangsa, yang bergabung dengan Radar Bali sejak 2003, dikenal sebagai sosok yang penuh ceria dan ramah. Rabu, 11 Februari, pagi, Prabangsa masih berkantor dan memberi penugasan kepada reporternya. Siang harinya, ia meninggalkan kantor dengan sepeda motor Honda GL Pro kesayangannya.

Prabangsa menuju rumah ibunya di Taman Bali, Bangli, untuk menghadiri acara nelubulani (upacara adat bagi bayi berusia 3 bulan) yang diadakan keluarga besarnya. Di tengah-tengah acara, sekitar pukul 15.00 Wita, Prabangsa menerima panggilan telepon dari seseorang cukup lama. Setelah itu, ia pergi meninggalkan sepeda motor di rumah ibunya. Jejak Prabangsa tak diketahui lagi hingga mayatnya ditemukan mengambang di laut.

Awak redaksi Radar Bali sempat menaruh curiga terhadap raut wajah Prabangsa sebelum hilang. Wartawan kelahiran Bangli, 20 November 1968, itu selalu murung dan diam. Prabangsa seperti ketakutan terhadap sesuatu. “Beberapa hari sebelum menghilang, dia selalu takut bila ada jendela terbuka,” ujar Soepojo, salah satu karyawan Radar Bali, seperti dikutip dari buku ‘Jejak Darah Setelah Berita’, yang diterbitkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Southeast Asian Press Alliance pada 2012.

Sang istri, Prihartini, yang dinikahi Prabangsa pada 1996, mengungkapkan hal serupa. Malah suaminya berapa kali berbicara tentang kematian. “Kalau saya meninggal, apakah kamu menikah lagi?” Prihartini terkejut. Ia mencoba menyelidik, tapi suaminya hanya diam. “Sepertinya saya bakal mati duluan,” begitu kata Prabangsa seperti ditirukan Prihartini.

Melihat kejanggalan itu, Kepala Polda Bali Irjen Teuku Ashikin Husein membentuk tim khusus dari Satuan I Direktorat Reserse Kriminal Polda Bali. Sayang, polisi belum mampu memecahkan motif pembunuhan. AJI Denpasar lalu membentuk tim advokasi untuk menginvestigasi kasus pembunuhan Prabangsa. Mereka menemukan tiga berita yang dibuat Prabangsa yang berpotensi memancing konflik dengan narasumber.

Ketiga berita yang dimuat Radar Bali itu masing-masing berjudul ‘Pengawas Dibentuk Setelah Proyek Jalan’ (terbit 3 Desember 2008), ‘Bagi-bagi Proyek PL Dinas Pendidikan Bali’ (terbit 8 Desember 2008), dan ‘SK Kadis Dinilai Cacat’ (terbit 9 Desember 2008). Semuanya terkait dugaan penyimpangan sejumlah proyek pembangunan di Kabupaten Bangli.

Kantung jenazah Prabangsa saat dievakuasi dari RSUP Sanglah
Foto: Repro buku "Jejak Darah Setelah Berita"

Temuan itu memacu polisi untuk membentuk tim baru bernama Tim Lima. Tim gabungan ini melibatkan dari unsur Reskrim, Labfor, IT, Intelkam, dan Densus 88 Antiteror Polda Bali. Polisi pun akhirnya berhasil menemukan jejak pesan singkat dan percakapan telepon Prabangsa dengan sejumlah orang yang dicurigai sebagai tersangka.

“Intinya, mereka meminta Prabangsa tidak lagi menulis soal kasus-kasus korupsi di Bangli. Mereka minta agar pemberitaan soal kasus itu dihentikan,” kata Komandan Tim Lima sekaligus Kepala Satuan 1 Direktorat Reserse Kriminal Polda Bali AKBP Akhmad Nur Wahid saat itu.

Kecurigaan awal mengarah pada Kepala Dinas Pendidikan Bangli Anak Agung Ngurah Samba dan keponakannya, Anak Agung Sastrawan. Sastrawan diketahui sering memenangi tender proyek di lingkungan Dinas Pendidikan. Polisi juga mencurigai adik kandung Bupati Bangli Nengah Asnawa, yaitu I Nyoman Susrama. Susrama dikenal sebagai ‘penguasa tak resmi’ yang selalu menentukan pemenang tender di Bangli.

Polisi sempat kesulitan memeriksa Susrama karena kesibukannya sebagai caleg DPRD Bangli dari PDI Perjuangan pada Pemilu 2009. Tapi, pada awal Mei, Susrama dan Anak Agung Ngurah Samba akhirnya dapat diperiksa. Ia diduga mencoba menghilangkan barang bukti dengan menggelar upacara Mecaru (upacara adat pembersihan rumah) di Kampung Banjar Petak, Desa Bebalang, Bangli. Rumah Susrama itu pun digeledah. Benar saja, di belakang rumah itu masih terdapat sisa-sisa bercak darah mengering. Juga di karpet mobil yang diparkir di sudut rumah.

Mobil Toyota Kijang Rover warna merah milik Susrama, yang biasa terparkir di rumah, tak ada. Rupanya mobil itu disembunyikan di rumah kerabat Susrama di Yogyakarta. Bahkan pelat nomor mobil sudah diubah dari B-8888-AP jadi AB-8888-MK. Setelah mobil itu ditemukan, polisi memeriksa dan menemukan enam bercak darah mengering dan potongan rambut di jok belakang. Semua identik dengan darah di karpet yang ditemukan di rumah Susrama.

Pada 25 Mei 2009, polisi mengumumkan sembilan tersangka pelaku pembunuhan Prabangsa. Dalang atau aktor intelektual pembunuhan adalah Susrama. Delapan orang lainnya anak buah Susrama, yaitu Komang Gede Wardana alias Mangde dan Nyoman Suryadyana alias Rencana (eksekutor dan pembawa mayat), Komang Gede (penjemput Prabangsa), Dewa Sumbawa (sopir pembawa mayat).

Susrama saat melakukan reka ulang kejadian pembunuhan Prabangsa
Foto: Repro buku "Jejak Darah Setelah Berita"

Endi Mashuri dan Darianto alias Jampes, sopir dan karyawan perusahaan air minum ‘Sita’ milik Susrama. Lalu dua orang tersangka yang berada di lokasi pembunuhan, yaitu Ida Bagus Made Adnyana Narbawa alias Gus Oblong dan Nyoman Suwecita alias Maong. Semuanya dijerat dengan Pasal 338 KUHP juncto Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana, yang ganjarannya penjara seumur hidup dan maksimal hukuman mati.

Kasus itu untuk pertama kali disidangkan di Pengadilan Negeri Denpasar pada 8 Oktober 2009. Dari fakta dan kesaksian, terungkap bahwa Susrama memerintahkan anak buahnya menghabisi nyawa Prabangsa pada 11 Februari 2009. Susrama meminta Komang Gede, Mangde, dan Rencana menjemput Prabangsa di Taman Bali, Bangli.

Pukul 15.00 Wita, Prabangsa dijemput menggunakan mobil Honda Civic LX warna hijau metalik. Saat dibawa, kedua tangan Prabangsa diikat tali ke belakang. Ia dibawa ke rumah kosong milik Susrama di Banjar Petak, Bebalang. Pukul 16.10 Wita, muncul Susrama bersama Dewa Sumbawa. Tanpa banyak bicara, Susrama langsung memerintahkan anak buahnya memukuli Prabangsa yang masih terikat.

Tubuh Prabangsa pun ambruk. Ia sempat bangun dan berusaha lari, tapi gagal. Ia ditangkap lagi oleh Mangde, Rencana, dan Sumbawa. Prabangsa diseret kembali ke belakang rumah kosong itu. Susrama makin emosional. Ia memerintahkan anak buahnya menghabisi nyawa Prabangsa.

Tanpa pikir panjang, Mangde dan Rencana mengambil balok kayu. Tubuh dan kepala Prabangsa pun beberapa kali dihantam balok kayu oleh kedua orang itu. Prabangsa ambruk, pingsan. Tubuhnya berlumuran darah dan mengalami luka parah. Saat itu Prabangsa diseret dan disekap di dalam kamar. Susrama memerintahkan Endi dan Darianto membersihkan pekarangan itu dari darah yang menggenang.

Pukul 21.00 Wita, Prabangsa, yang sudah tak berkutik, dibawa menggunakan mobil Kijang Rover ke Pantai Goa Lawah, Kabupaten Klungkung, oleh Susrama dkk. Begitu sampai, sudah ada Gus Oblong dan Maong. Susrama memerintahkan agar tubuh Prabangsa dibuang. Kedua orang itu lalu menaikkan tubuh Prabangsa ke perahu dan membawanya ke tengah laut. Di kegelapan malam tubuh Prabangsa dibuang ke laut. 

“Pembunuhan yang dilakukan para terdakwa sangat keji,” kata ketua majelis hakim Djumain ketika menjatuhkan vonis pada 15 Februari 2010.

Persidangan Susrama di Pengadilan Negeri Denpasar
Foto: Repro buku "Jejak Darah Setelah Berita"

Hakim memvonis Susrama penjara seumur hidup. Sedangkan Komang Gede, Komang Gede Wardana alias Mangde, dan Nyoman Suryadyana alias Rencana divonis 20 tahun penjara. Dewa Sumbawa dan Nyoman Suwecita alias Maong divonis 8 tahun penjara. Ida Bagus Made Adnyana Narbawa alias Gus Oblong divonis 5 tahun penjara. Sementara itu, Endi dan Darianto divonis 9 bulan penjara. Semua dijebloskan ke sel di Lapas Kelas II-B Bangli.

Susrama sempat mengajukan permohonan banding, tapi Pengadilan Tinggi Bali menguatkan putusan PN Denpasar No.1002/Pid.B/2009/PN.DPS. Putusan Pengadilan Tinggi Bali dituangkan dalam surat keputusan nomor 29/PID/2010/PT.DPS tanggal 16 April 2010. Mahkamah Agung juga menolak kasasi Susrama sesuai dengan keputusan nomor 1665 K/PID/2010 tanggal 4 September 2010.

Kabar mengejutkan justru datang dari Presiden RI Joko Widodo. Ia memberikan remisi hukuman kepada Susrama, dari sebelumnya seumur hidup menjadi 20 tahun penjara. Keputusan Jokowi ini mengundang protes dari AJI dan kalangan jurnalis. Jokowi diminta mencabut remisi untuk Susrama.


Reporter/Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE