CRIME STORY

Geger Inses di Lampung

Kisah Si Bungsu yang Sering Mencuri

Kemiskinan membelit keluarga pelaku inses di Pringsewu, Lampung. Bahkan pelaku sering mencuri untuk makan.

Ilustrator: Edi Wahyono

Rabu, 06 Maret 2019

Rumah itu terbilang cukup luas. Dindingnya terbuat dari batu bata yang dilapisi semen dan bercat putih. Lantainya sudah berubin, kecuali dapur yang masih berupa tanah. Kotoran terlihat di setiap sudut lantai rumah.

Selain dapur, di dalam rumah itu terdapat ruang tamu sederhana, tanpa meja-kursi ataupun televisi untuk menghibur tamu. Juga empat kamar tanpa pintu kayu, hanya gorden kumal yang berlubang di sana-sini.

Tidak semua kamar dilengkapi kasur. Sebagian ranjang cuma beralas papan, yang tentu saja keras dipakai untuk tidur. Sebuah lemari penyimpanan berdiri di dekat ruang tamu dengan baju yang berserakan.

Saat malam tiba, rumah milik M, 44 tahun, warga Panggungrejo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Lampung, itu suasananya cukup remang-remang karena minimnya penerangan. Saat menemani berkunjung pada Selasa, 26 Februari, Tina, keponakan M, meminta detikX menyalakan senter ponsel supaya sedikit terang. Tina sendiri mengaku tidak tahu bagaimana kebiasaan di rumah M tersebut.

Rumah keluarga M, Panggungrejo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Lampung
Foto : Monica Arum Tiyasworo/detikcom


Saya nggak ngapa-ngapain di rumah. Setiap hari untuk makan kadang susah, kadang ada rezeki sampai kelebihan dan kadang susah juga. Nggak tahu dapatnya uang berapa kita juga nggak tahu.”

Di rumah yang berjarak hampir 6 kilometer dari jalan raya Kecamatan Sukoharjo itulah selama enam bulan ini terjadi persetubuhan sedarah yang menimpa Putri—bukan nama sebenarnya. Putri tak lain anak perempuan M. Pelakunya adalah M bersama dua anak laki-lakinya yang tinggal di rumah tersebut, SA, 24 tahun, dan YF, 15 tahun.

Kini ketiganya mendekam di sel tahanan Polres Tanggamus, Lampung, untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Atas perbuatan sungguh bejat itu, mereka terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Begitu teganya mereka melakukan perbuatan itu kepada gadis 18 tahun penderita tunagrahita atau retardasi mental itu. Ketika ditemui detikX, M sekarang ini hanya bisa menunduk dan menangis.

“Saya menyesal sudah melakukan ini,” ucap M, yang sehari-hari bekerja sebagai penambang pasir kali, kepada detikX di Mapolres Tanggamus, Jalan Jenderal Sudirman, Tanggamus, Rabu, 27 Februari 2019.

M mengaku, dari hasil menambang pasir, setiap pekan ia mengantongi uang Rp 150-250 ribu. Hidup keluarga yang pas-pasan itu membuat M selalu bertengkar dengan istrinya, Hayani. Tak tahan terhadap kondisi itu, Hayani minggat dari rumah pada 2004.

“Saya nggak ngapa-ngapain di rumah. Setiap hari untuk makan kadang susah, kadang ada rezeki sampai kelebihan dan kadang susah juga. Nggak tahu dapatnya uang berapa kita juga nggak tahu,” kata M.

Pelaku saat olah TKP
Foto : Monica Arum Tiyasworo/detikcom

Hayani meninggalkan suami bersama tiga anaknya, yaitu—secara berurutan usia—SA (laki-laki), ES (perempuan), dan YF (laki-laki). Ia hanya mengajak Putri, anak ketiga yang saat itu berusia 2,5 tahun, ke Metro, Bandar Lampung. Di Metro, Hayani bekerja sebagai pegawai salon.

"Nggak pernah pulang sampai sekarang. Izin pamit mau kerja, sampai Lebaran pun dia juga nggak pulang-pulang. Sampai sekarang anak-anak sudah besar,” ujar M mengenang istrinya yang kabur.

M mengatakan, karena kemiskinan, kedua anak laki-laki yang diasuhkan putus sekolah dasar. Hanya ES yang berhasil lulus SD. Itu pun, pada 2017, ES kabur dari rumah dan bekerja di panti jompo di kawasan Metro.

YF mengikuti jejak bapaknya menjadi penambang pasir. Remaja ini juga nyambi mencari kayu bakar untuk dipakai memasak sendiri atau dijual kepada para perajin batu bata untuk pembakaran.

“Kayu itu biasanya untuk bakar batu bata. Di daerah tempat tinggal saya banyak perajin batu bata dan olahan kayu. Juga lahan sawah yang cukup luas,” ucap YF, yang duduk di samping bapaknya bersama SA.

SA lain lagi. Punya kemahiran memanjat pohon, sehari-hari dia melayani jasa memetik kelapa para tetangga yang membutuhkan. “Saya sehari-hari metik kelapa punya orang,” ujarnya sambil tertunduk.

David, warga Panggungrejo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Lampung
Foto : Monica Arum Tiyasworo/detikcom

Bertahun-tahun mereka hidup seperti itu, hingga awal 2018, terdengar kabar Hayani meninggal karena serangan jantung. M langsung menjemput pulang Putri, yang sudah tumbuh besar dan diasuh neneknya di Wonosobo, Pringsewu, Lampung.

Tak lama setelah Putri kembali, terjadilah hubungan badan sedarah Putri dengan M dan kedua saudara laki-lakinya tersebut. Perbuatan itu berulang-ulang dilakukan pelaku, bahkan sampai ratusan kali dalam tempo enam bulan itu.

Setelah kejahatan seksual itu terkuak, tetangga mereka pun geram terhadap M dan dua putranya. "Seorang bapak seharusnya melindungi anak-anaknya. Harapannya, si bapak dihukum seberat-beratnya sesuai UU," kata Purwati, salah seorang tetangga M, saat ditemui detikX pekan lalu.

Hampir sebagian besar warga Panggungrejo menilai M dan anak-anaknya sangat tertutup. Bapak-anak itu tidak pernah mengikuti kegiatan warga. Bahkan sekadar berbincang dengan tetangga pun tidak pernah.

Ketua RW 09 Panggungrejo, David, menjelaskan M hanya mau bersilaturahmi kepada saudaranya, itu pun hanya saat Idul Fitri. "Jadi dia selalu menyendiri, menutup diri, dan tidak mau bergaul," ungkap David kepada detikX pekan lalu.

Bahkan YF dianggap sebagai remaja yang sangat meresahkan masyarakat. Dia sering mencuri beras dan uang milik warga. "Uang nggak terhitung jumlahnya karena korbannya yang diambil banyak,” tutur David.

Namun YF cukup lihai menjalankan aksinya. Begitu ketahuan mencuri dan hendak ditangkap, ia lebih sering berhasil melarikan diri. Pernah YF ditangkap dan dipukuli warga, tapi sepertinya tak pernah kapok berbuat kriminal.

M bercerita YF pernah hilang lima hari di Lampung Barat. Ia meminta bantuan uang kepada anaknya ES untuk ongkos, tapi tidak dikasih. Sambil menangis, M akhirnya menjemput YF dengan naik ojek.

“Saya habis main PS kesasar. Lalu Bapak jemput saya naik motor. Saya hilang lima hari dan diambil sama bapak polisi. Lalu saya dikasih makan sama mereka,” ujar YF.

Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas mengatakan selama ini M banyak menggantungkan hidup pada anaknya. M banyak menganggur di rumah, sementara Putri bertugas menyiapkan masakan.

Warga menonton olah TKP di kediaman M
Foto : Monica Arum Tiyasworo/detikcom

Menurut Qorinas, penyidikan kasus persetubuhan sedarah itu masih terus dilakukan oleh penyidik. Kamis, 28 Februari, polisi kembali mendatangi rumah M untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). “Sementara ini biarkan kami bekerja. Nanti akan kami sampaikan perkembangannya,” begitu kata Qorinas kepada detikX di sela-sela proses rekonstruksi.


Reporter: Gresnia Arela F
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE