Aceh-Produsen-Ganja,-Konsumen-Sabu

INTERMESO

Aceh Produsen Ganja, Konsumen Sabu

Menjadi provinsi kedelapan dengan tingkat pengguna narkoba terbanyak di Indonesia. Belum punya panti rehabilitasi korban narkoba.

Ilustrasi: Fuad Hasim

Rabu, 4 Mei 2016

Ironi itu terjadi di Provinsi Aceh. Di negeri yang dijuluki Bumi Serambi Mekah, dengan peraturan berlandaskan syariah, itu, ternyata sebagian anggota masyarakatnya merupakan pengguna narkoba. Menurut Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh Komisaris Besar Drs Armensyah Thay, penyalahgunaan narkoba di wilayah Aceh menduduki posisi ke-12 dengan prevalensi penyalah guna sebanyak 73.201 jiwa atau sekitar 2,08 persen dari total penduduk Aceh.

"Aceh merupakan salah satu daerah yang tergolong daerah darurat narkoba. Kami mengharapkan semua pihak siap membantu program yang dilakukan BNNP Aceh," kata Armensyah kepada detikX, Selasa, 3 Mei 2016.

Menurut catatan BNNP, di Aceh banyak beredar sabu, mulai Kabupaten Pidie hingga Kabupaten Aceh Tamiang. Maklum, daerah lintas timur ini berdekatan dengan laut. Bahkan di sana juga banyak “jalan tikus” yang digunakan para anggota mafia narkoba untuk memasok sabu-sabu.

Kepala Polres Kota Banda Aceh Komisaris Besar Zulkifli memperlihatkan paket ganja seberat 15 kilogram yang diselipkan dalam kemasan dodol, 6 Oktober 2015.
Foto: Agus Setyadi/detikcom

Kepala Polda Aceh Irjen Husein Hamidi
Foto: Agus Setyadi/detikcom

Kepala BNN Provinsi Aceh Armensyah Thay
Foto: Agus Setyadi/detikcom

Pada pertengahan 2015, misalnya, aparat terkait berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 78 kilogram sabu-sabu dari Malaysia. Dalam kasus ini, ada empat orang yang diadili, yakni Abdullah (pemilik 40 kg sabu), Hamdani (pemilik 13 kg sabu), Samsul Bahri (pengawas dengan upah Rp 5 juta), dan Hasan Basri, yang bertugas menjemput barang haram tersebut di tengah laut. Oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Banda Aceh, mereka dijatuhi hukuman mati.

Pemusnahan ratusan hektare ladang ganja bisa menyelamatkan seratusan juta orang."

Berikutnya, pada 7 Januari 2016, giliran Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea-Cukai Banda Aceh yang berhasil menggagalkan upaya penyelundupan metamfetamin (sabu-sabu) dari Malaysia. Dalam operasi ini, petugas menyita 993 gram sabu-sabu senilai sekitar Rp 2 miliar yang dibawa warga Malaysia berinisial FH saat menumpang AirAsia AK-421 rute Kuala Lumpur-Banda Aceh.

Berdasarkan data di Kepolisian Daerah Aceh, pada 2014 sebanyak 1.305 orang ditangkap terkait narkoba. Angka itu meningkat pada 2015 menjadi 1.685 orang, dan pada 2016 hingga Maret sudah mencapai 595 orang ditetapkan sebagai tersangka. Mereka rata-rata terlibat dalam kasus ganja, sabu-sabu, dan ekstasi. Para pengguna sabu-sabu di Aceh rata-rata berusia 14-65 tahun.

* * *

Sejak bertahun silam, sebetulnya wilayah Aceh dikenal sebagai penghasil ganja. Mungkin karena lahan dan iklim yang mendukung, ada ribuan hektare ladang ganja yang dikelola para petani secara bergerilya. Dalam lima tahun terakhir, Polda Aceh telah membumihanguskan sekitar 900 hektare ladang ganja.

Satu dari empat terdakwa penyelundup 78 kilogram sabu dari Malaysia di Aceh, 22 Desember 2015
Foto: Agus Setyadi/detikcom

Tapi daun ganja yang dihasilkan Aceh rupanya lebih banyak diselundupkan ke berbagai daerah lain. Sebaliknya, daerah atau negara lain memasok narkoba jenis sabu, yang lebih mahal dan berbahaya. Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti pernah mensinyalir pola semacam ini. ”Ganja di sini selalu dibawa keluar. Sedangkan sabu-sabu masuk ke Aceh. Sehingga pola konsumsi narkoba di Aceh lebih tinggi pada sabu,” ujarnya saat memimpin acara pemusnahan ladang ganja di Aceh pada awal April lalu.

Pemusnahan ladang ganja sendiri disebut sebagai salah satu upaya yang efektif untuk mencegah dan mengurangi jumlah korban narkoba. Badrodin sempat membuat ilustrasi, bila setiap orang mengkonsumsi 5 gram ganja, pemusnahan ratusan hektare ladang ganja bisa menyelamatkan seratusan juta orang. Asumsinya, dari perhitungan para ahli, dari 1 hektare ladang ganja akan menghasilkan 2 ton ganja kering.

Ia berharap, meskipun ganja merupakan bagian dari sejarah kehidupan masyarakat Aceh, terutama dalam aspek kulinernya, pencerahan harus diberikan kepada para petani agar beralih menanam komoditas pertanian yang lain.

Para petani ganja biasa membuat jebakan pada jalur-jalur yang dirintis aparat intelijen kepolisian."

Penemuan ladang ganja di Aceh selama ini tak lepas dari dukungan masyarakat. Sebab, lokasi ladang ganja kebanyakan sulit dijangkau. Hendri, wartawan lokal di Aceh, yang pernah beberapa kali turut serta dalam operasi penyisiran ladang ganja sejak 2013, menuturkan ladang-ladang ganja acap kali berada di perbukitan dengan kemiringan 70-80 derajat. “Biasanya kami menempuh lokasi 6-8 jam dengan berjalan kaki,” ujarnya kepada detikX.

Sulitnya medan diperparah oleh ulah para petani yang biasa membuat jebakan pada jalur-jalur yang dirintis aparat intelijen kepolisian. Karena itu, ada kalanya waktu tempuh operasi molor dari yang direncanakan karena aparat di lapangan tersesat. “Tanda-tanda yang telah dibuat tim pendahulu tiba-tiba arahnya berubah dari yang sudah ditetapkan,” ujar Hendri.

Ironisnya, meski masuk kategori sebagai provinsi kedelapan dengan tingkat pengguna narkoba terbanyak di Indonesia, hingga kini Aceh belum memiliki panti rehabilitasi. Menurut Kepala Dinas Sosial Aceh Al Hudri, setiap tahun Aceh hanya mendapatkan jatah rehab untuk 10 pengguna narkoba. Para pecandu ini dikirim ke sebuah panti rehab di Sumatera Utara. Karena itu, ia mendesak pemerintah pusat segera membangun panti rehab di Aceh mengingat banyaknya pengguna narkoba mulai usia remaja hingga orang dewasa. “Lahan kami sediakan seluas 12 hektare di kawasan Aceh Besar," kata Hudri.


Reporter: Agus Setyadi (Banda Aceh), M. Rizal
Penulis: M. Rizal
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE