Tak-Ada-Ganja-Ketapang-Pun-Jadi

INTERMESO

Tak Ada Ganja, Ketapang Pun Jadi

Kedatangan ribuan relawan pascatsunami ikut mempopulerkan kopi dan mi Aceh. Agar sesuai dengan lidah warga Jakarta, kadar rempah-rempah dikurangi.

Ilustrasi: Luthfy Syhaban

Rabu, 4 Mei 2016

Kedai mi dan kopi Aceh dalam lima tahun terakhir ini kian meruyak di seantero Jakarta dengan beragam nama. Sebut saja Mie Aceh 2001 Pidie, Mie Aceh Seulawah, Mie Aceh Jaly Jaly, Mie Aceh Bungong Jeumpa, Mie Aceh Bungong Selangan, Waroeng Atjeh Selat Malaka, Mie Aceh Titi Bobrok, atau Kopi Ulee Kareng. Omzetnya per bulan ratusan juta rupiah.

Setidaknya begitu pengakuan Abubakar Husein, 45 tahun, pengelola Mie Aceh Jaly Jaly, dan Ratna Dwikora (Mie Aceh Seulawah Ikora). Keduanya tergolong perintis kedai mi Aceh di Jakarta, sejak 1995. Tak aneh bila saat ini Mie Aceh Jaly Jaly memiliki 17 cabang kedai, yang tersebar hingga Depok, dan Ratna mengaku punya 10 kedai.

Kalau Anda ke dapur, ada botol biji ganja itu biasa saja. Tidak ada yang aneh."

Ratna Dwikora, pemilik kedai Mie Aceh Seulawah Ikora

“Tsunami memberi berkah tersendiri buat kami,” kata Ratna saat berbincang dengan detikX, Selasa malam, 3 Mei lalu. Saat terjadi tsunami pada akhir 2004, ribuan relawan dari berbagai pelosok negeri, bahkan mancanegara, datang ke Bumi Serambi Mekah. Karena tinggal di Aceh rata-rata lebih dari sepekan, mau tak mau mereka akhirnya mengenal, mencicipi, dan ketagihan berbagai menu Aceh, seperti mi Aceh, yang cita rasanya kaya rempah-rempah. Kopi pun menjadi menu wajib lainnya karena hampir seluruh warga Aceh gemar minum kopi.

Bisik-bisik, selain menggunakan rempah, ada campuran ganja dalam menu-menu kuliner Aceh, tak terkecuali mi dan kopi. Tapi apakah menu yang dijual Ratna dan Abubakar ditambahi ganja? Keduanya sepakat menyebut hal itu sebagai cerita masa lalu. Mitos!

Warung Mie Aceh Jaly Jaly milik Abubakar di Jalan Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan
Foto: M. Rizal/detikX

“Ganja? Ya ada, itu kalau gampang dapatnya. Dulu mah gampang, sekarang kan susah dan memang dilarang, apalagi ini sudah dikategorikan narkoba,” ujar perempuan kelahiran Pidie pada 1964 itu dengan logat Sunda yang kental.

Menurut Ratna, bagi sebagian masyarakat Aceh, penggunaan ganja untuk bumbu masakan adalah sesuatu yang umum. Tapi itu dulu sekali, ketika ganja belum dinyatakan sebagai barang haram. Ketika masih kanak-kanak, Ratna biasa melihat satu atau dua tanaman ganja di halaman rumah orang di Kota Pidie, Aceh.

"Itu sudah biasa, karena pada masa itu belum ada ribut-ribut soal larangan (ganja). Kalau Anda ke dapur, ada botol biji ganja itu biasa saja. Tidak ada yang aneh," tuturnya.

Rumah makan Seulewah Jalan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat
Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Namun saat ini, ia memastikan, semua menu masakannya mengandalkan 22 macam rempah yang khusus didatangkan dari Aceh. Bumbu itu merupakan racikan ibunya, Hajah Fatimah, yang dikenal sebagai ahli masak terkemuka di Pidie. Hingga kini, keaslian rasa khas Aceh terjaga. “Keunikan rasa ini jadi daya tarik pencinta kuliner di Jakarta untuk menikmati masakan khas Aceh,” tutur Ratna, yang mulai membuka kedai Mie Aceh Seulawah sejak 1996.

Abubakar pun menjamin bumbu masakan untuk semua menu yang dijual di kedainya lebih banyak menggunakan rempah-rempah yang banyak dijual di Jakarta. Ia mengaku menggunakan 24 macam rempah sebagai bumbu masaknya. Untuk menggantikan ganja, yang kerap digunakan untuk membuat daging lebih lunak, Abubakar menyebut kaskas, semacam serbuk kayu berwarna putih yang banyak terdapat di Aceh.

Alternatif lainnya adalah minyak buah ketapang, yang mengandung lemak dengan rasa lebih enak daripada lemak kacang, dan campuran kapulaga. “Ini yang kami pakai, tapi buah ketapang agak langka. Jadi tidak identik dengan ganja,” kata Abubakar menegaskan saat ditemui di salah satu kedainya di Jalan Soepomo, Jakarta Selatan, Selasa malam, 3 Mei.

* * *

Mie Aceh Jaly Jaly didirikan oleh Razalie Abdul Jalil pada 1995 di kawasan Mal Blok M. Kemudian Abubakar Husein bergabung sejak 1997 dengan Bang Jaly, sapaan Razalie Abdul Jalil, sebagai tukang martabak Aceh. Abubakar keluar pada 2004 dan bergabung lagi dua tahun kemudian untuk berfokus mengembangkan kedai mi Aceh di ITC Ambasador, Kuningan, Jakarta Selatan.

Abubakar Husein, salah satu pemilik kedai Mie Aceh Jaly Jaly
Foto: M. Rizal/detikX

Berikutnya Abubakar membuka cabang di Jalan Soepomo, Tebet, dan Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kini ia pribadi memiliki tiga cabang, sementara Bang Jaly punya 14 cabang. Pada mulanya tentu tak mudah memperkenalkan masakan Aceh yang kaya rempah kepada warga Jakarta yang heterogen. Untuk menyiasatinya, Abubakar juga menjual mi bakso atau ayam bakar.

Siasat lain adalah menurunkan kadar rempah. “Juga rasa pedas dan asam agar sesuai dengan lidah (konsumen) di Jakarta," ujar Ratna.

Ke depan, Abubakar maupun Ratna berharap ada menu masakan Aceh lainnya yang bisa ditonjolkan. Bila saat ini baru ada mi Aceh, roti cane, kari, martabak Aceh, dan teh tarik, ke depan mereka akan merintis penjualan menu sate Matang. Menu ini berasal dari Matang Kuli, Bireuen. “Selama ini hanya ada di wilayah Aceh bagian utara, seperti Bireuen, Lhokseumawe, sampai Peureulak,” ujar Ratna.



Reporter/Penulis: M. Rizal
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE