Lamborghini,-Ferrari,-dan-Revolusi-

INTERMESO

Lamborghini, Ferrari, dan Revolusi

“Mereka hanya tahu menghabiskan duit, tapi tak tahu cara mengumpulkannya.”

Foto: Reuters

Selasa, 12 Juli 2016

Setengah abad silam, Pemimpin Besar Tiongkok Mao Zedong menggelar Revolusi Kebudayaan untuk menyapu bersih cara berpikir, adat istiadat, dan segala kebiasaan yang dianggap berbau borjuis. Tapi generasi baru Tiongkok, anak-anak muda yang lahir dari keluarga-keluarga super-tajir Cina, bukanlah anak-anak Revolusi Kebudayaan.

Tak usah buang-buang waktu bicara soal cita-cita Revolusi Kebudayaan Cina dengan mereka. Anak-anak muda ini lebih tertarik bicara soal Ferrari, Lamborghini, Maserati, Gucci, Hermes, atau Grands Échezeaux ketimbang berdiskusi soal ajaran Mao dan cita-cita negara komunis. Mereka inilah para fuerdai, generasi kedua orang-orang kaya di Cina.

Wang Sicong, 28 tahun, misalnya. Putra satu-satunya Wang Jianlin, pemilik raksasa properti Dalian Wanda dan salah satu orang terkaya di daratan Cina, ini kondang dengan segala polahnya. Beberapa bulan lalu, Shanghaiist menulis bagaimana Sicong menghabiskan 2,5 juta yuan atau Rp 4,9 miliar dalam semalam di klub karaoke Beijing KTV.

Mereka semua tak ada yang bekerja…. Mereka hanya membelanjakan duit orang tuanya."

Sicong, yang mengklaim sebagai gaofushuai, “tinggi, kaya, dan ganteng”, memang enteng saja merogoh kantong dan menghamburkan uang bapaknya. Setahun lalu, dia menggelar pesta ulang tahun ke-27 besar-besaran di sebuah hotel bintang lima di Sanya dan mendatangkan grup K-pop, T-ara. Pantai di sekeliling hotel itu ditutup untuk umum demi pesta Sicong. Kepada para tamunya, Sicong dengan royal membagi-bagikan tablet iPad terbaru bak tengah menebar kupon makan.

Tapi rupanya penampilan T-ara di pesta pribadi Sicong itu membuat penggemar berat grup vokal dari Korea Selatan tersebut kurang senang. Salah seorang penggemar T-ara menulis di laman Weibo, bahwa tak semestinya T-ara manggung hanya untuk memuaskan orang berduit seperti Sicong.

Komentar penggemar T-ara itu membuat Sicong sewot berat. “Kelompok lain juga naik panggung bagi mereka yang mampu membayar.... Kamu tak mampu membayar T-ara, tapi aku bisa. Bukankah caraku ini bisa menjadi ajang promosi mereka? Dasar kamu idiot,” Sicong membalas komentar di Weibo.

Menurut Rupert Hoogewerf, Kepala Riset Hurun Report, ada sekitar 67 ribu warga Cina yang memiliki kekayaan lebih dari 100 juta yuan atau Rp 196 miliar hingga September 2014. Kota Beijing, Shanghai, Shenzhen, Guangzhou, dan Hangzhou menjadi rumah utama bagi para pemilik duit tanpa seri ini.

Iklan produk Louis Vuitton
Foto: Cancan Chu/Getty Images

Lain bapak, lain pula anak. Tak seperti rata-rata orang tua mereka yang sempat “mencicipi” Revolusi Kebudayaan dan biasa hidup prihatin—Wang Jianlin pernah menjadi prajurit di Tentara Pembebasan Rakyat—anak-anak muda seperti Sicong tak pernah merasakan hidup susah. Sejak lahir mereka sudah biasa “mandi” dengan uang.

“Aku ingat mendapatkan dompet Chanel pertama kali saat masih umur 9 tahun,” kata Pam Zhou dikutip Business Insider. Sudah beberapa tahun Pam tinggal di Vancouver, Kanada, tapi orang tuanya masih menetap dan mengeruk duit di tanah leluhur Tiongkok. Seperti Pam, teman karibnya, Diana Wang, 23 tahun, sudah beberapa tahun tinggal dan kuliah di Kanada. Di “kampung”-nya, Shanghai, Diana biasa mengendarai sedan Ferrari atau Mercedes Maybach. Tapi di Kanada, Diana “hanya” menunggang sedan Audi RS5. Di Indonesia, Audi RS5 harganya berkisar Rp 2,5 miliar.

Membeli mobil mewah seperti Ferrari, menurut Diana, merupakan investasi yang buruk karena harganya sudah pasti bakal anjlok. “Lebih baik membelanjakan setengah juta dolar untuk jam tangan atau berlian,” Diana, dikutip New York Times, menyarankan. Gadis ini punya puluhan tas Chanel dan mengoleksi jam tangan mewah. Di pergelangan tangannya melingkar jam Breguet, yang harganya setara dengan satu mobil BMW.

Vancouver yang nyaman dengan iklim tak terlampau dingin memang jadi salah satu tempat tinggal favorit bagi anak-anak dan keluarga miliarder dan triliuner dari daratan Tiongkok. Menurut catatan pemerintah metropolitan Vancouver, sekarang hampir seperlima penduduk kota itu merupakan keturunan etnis Cina.

Mereka keturunan pengusaha kaya, tapi ada pula keluarga pejabat-pejabat tinggi Cina. “Di Vancouver banyak anak pejabat-pejabat korup dari Cina,” kata Shi Yi, pemilik dealer mobil mahal Luxury Motor.

* * *

Ilustrasi
Foto: Feng Li/Getty Images

Sudah bergelimang duit sejak orok, tak aneh jika para fuerdai ini tak paham betapa susah ratusan juta penduduk Cina lainnya mencari duit. Tanpa panjang pikir, para fuerdai ini menghamburkan duit orang tuanya dan memamerkan segala macam barang bermerek yang mereka borong, entah tas, sepatu, perhiasan, mobil, yacht, atau sebotol anggur yang harganya puluhan juta, lewat Instagram atau Weibo.

Andy Guo baru saja merayakan ulang tahun ke-18. Sehari-hari, untuk berangkat kuliah di kampus Universitas British Columbia, Kanada, anak muda ini menunggang Lamborghini Huracan. Andy tak mau berbagi mobil dengan saudara kembarnya, Anky Guo. “Kami sering ribut,” kata Andy kepada New York Times.

Mobil dengan mesin 5.200 cc ini harganya kira-kira setara dengan tujuh kali sedan BMW seri 3. Ayah Guo bersaudara masih tinggal dan mencari duit dengan bisnis batu bara di Provinsi Shanxii, Cina.

Di negeri seberang lautan, anak-anak juragan superkaya dari Tiongkok ini relatif bebas menghamburkan duit dan memamerkan kekayaan. Mereka mendirikan klub Vancouver Dynamic Auto Club. Salah satu syarat utama menjadi anggota klub ini adalah harus punya mobil dengan harga paling murah sekitar US$ 77 ribu atau Rp 1 miliar—pajak mobil di Kanada relatif rendah, sehingga mobil lebih murah ketimbang di Tiongkok. Ada 440 anak muda pemilik Lamborghini, Ferrari, Maserati, Aston Martin, dan sekelasnya yang menjadi anggota klub ini.

Ilustrasi
Foto: Feng Li/Getty Images

“Mereka semua tak ada yang bekerja…. Mereka hanya membelanjakan duit orang tuanya,” kata David Dai, 27 tahun, pendiri klub Vancouver Dynamic Auto.

Menurut Jin Qiao, 20 tahun, mereka tak pamer kekayaan. “Di Vancouver banyak orang kaya, apa artinya pamer kekayaan di sini,” dia berkilah. Sehari-hari, anak muda ini mengendarai dua Mercedes-Benz SUV. Tapi, di garasi rumahnya, masih ada satu mobil yang lebih dahsyat lagi, Lamborghini Aventador Roadster Galaxy yang dia dandani habis-habisan. Berapa duit yang dia habiskan untuk belanja mobil beserta aksesorinya, tak usah dihitung lagi.

Pemerintah komunis Cina sebenarnya mulai gerah juga melihat kelakuan sebagian anak-anak orang kaya di negerinya. “Mereka hanya tahu menghabiskan duit, tapi tak tahu cara mengumpulkannya,” ujar seorang pejabat Cina dikutip dalam satu dokumen Partai Komunis. Presiden Xi Jinping pun sudah memperingatkan para fuerdai yang doyan pamer kekayaan orang tuanya. “Pikirkan lagi dari mana sumber kekayaan itu dan bagaimana bertingkah laku setelah hidup makmur,” kata Presiden Jinping, dikutip New Yorker, beberapa waktu lalu.

Pengurus Partai Komunis di sejumlah daerah sudah turun tangan untuk “mengajarkan” nilai-nilai komunis dan rupa-rupa pengetahuan untuk mempersiapkan para fuerdai ini mengambil alih bisnis orang tua mereka. Di Kota Foshan, seperti diberitakan Xinhua, 48 anak pengusaha-pengusaha kaya ikut pelatihan yang diadakan Partai Komunis selama enam bulan. Di Provinsi Zhejiang, pengurus Partai Komunis membuat program sembilan hari bagi anak-anak pengusaha kaya.

Kritik terhadap para fuerdai, kata Guan Guan, fuerdai dari Kota Chengdu, kadang berlebihan. Dia sendiri tak suka keluyuran menghabiskan duit di klub malam. Sekarang Guan, 23 tahun, tengah mengambil gelar master di satu kampus di London. “Aku sudah dengar semua kritik terhadap fuerdai. Anak-anak orang kaya sama seperti orang lain, ada yang berbakat, tapi ada pula yang hanya bisa membakar uang,” kata Guan dikutip Irish Times.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE