INTERMESO

Saat Orang Kaya Cina Kursus Etiket

"Jangan merusak terumbu karang. Jangan kebanyakan makan mi instan.”

Sara Jane Ho

Foto: Institut Sarita

Selasa, 12 Juli 2016

Hampir tiga tahun lalu, serombongan turis dari Cina menumpang bus dan berhenti di pos peristirahatan di luar Kota Frankfurt, Jerman. Linda Li, sang pemandu, memberi pengumuman, yang sudah tak tahan berkemih bisa memakai toilet dengan membayar 0,7 euro atau kurang-lebih Rp 10 ribu.

“Kalau tidak punya uang kecil, ambil saja dari aku,” kata Linda dikutip South China Morning Post. Mendengar untuk buang air kecil saja harus membayar Rp 10 ribu, sebagian wisatawan dari Cina itu menggerutu. Di Tiongkok sana, mereka hanya membayar 0,5 yuan atau seribu rupiah untuk buang air kecil.

Yang tak disangka Linda Li, sebagian turis yang dia bawa pilih belok kanan, tak masuk toilet. Tanpa tengok kiri-kanan lagi, mereka buang air kecil di tanah kosong di samping toilet. “Aku benar-benar tak menyangka…. Padahal orang yang menolak membayar 0,7 euro itu baru saja membelanjakan ribuan euro untuk membeli jam Vacheron Constantin,” kata Linda. Dia hanya bisa melengos sembari geleng-geleng kepala.

Saat berjalan dengan sepatu berhak tinggi, jangan pijakkan hak dulu karena akan membuat kalian gampang terpeleset dan menimbulkan suara tak enak. Hak dan ujung sepatu harus menginjak lantai bersamaan."

Saat Cina kian makmur, makin banyak pula warganya yang pergi jalan-jalan ke luar negeri. Menurut data Badan Pariwisata Dunia (UNWTO), pelancong-pelancong dari daratan Cina sudah menggantikan turis Amerika Serikat dan Jerman sebagai pembelanja terbesar di dunia. Pada 2013 saja, mengutip data Badan Nasional Pariwisata Cina, ada lebih dari 100 juta warga Tiongkok yang piknik ke luar negeri.

Yang jadi soal bukan soal isi dompet mereka, melainkan, seperti penuturan Linda Li, kebiasaan buruk sebagian pelancong dari Cina. Satu setengah tahun lalu, pesawat Thai AirAsia yang baru beberapa saat lepas landas dari Bangkok putar balik lagi ke landasan setelah seorang penumpang dari Tiongkok marah-marah dan menyiram pramugari dengan air panas dan mi instan. Kali lain, harian Southern Metropolis Daily memberitakan soal ulah seorang penumpang pesawat Xiamen Air yang membuka pintu darurat hanya beberapa saat sebelum pesawat siap terbang. Penumpang itu beralasan mencari udara segar.

Presiden Cina Xi Jinping dan Wakil Perdana Menteri Wang Yan sampai perlu mengingatkan turis-turis dari negaranya supaya tak bikin malu di negeri orang. “Jangan buang botol plastik minuman sembarangan. Jangan merusak terumbu karang. Jangan kebanyakan makan mi instan, tapi makanlah makanan laut setempat,” kata Presiden Xi Jinping saat melawat ke Maladewa, pertengahan 2014.  

* * *

Kursus etiket di Insitut Sarita
Foto: dok. Institut Sarita

Pada masa Revolusi Kebudayaan persis setengah abad silam, segala hal yang dicap borjuis dan feodal, termasuk rupa-rupa aturan, kebiasaan, dan sopan-santun ala Barat, jadi hal terlarang di Cina.

Tapi kini, ketika jumlah orang kaya makin banyak di Tiongkok, warganya makin sering bepergian ke negara-negara Barat, sopan-santun yang dulu sempat ditinggalkan itu dipelajari kembali.

Bahkan, demi belajar sopan-santun, para perempuan kaya dari Cina rela membayar 80 ribu yuan atau Rp 157 juta hanya untuk kursus “kepribadian” selama sepuluh hari di Institut Sarita, Beijing. Di Sarita, perempuan-perempuan kaya ini belajar bagaimana mesti berjalan, bagaimana postur yang benar saat duduk dan bicara, juga rupa-rupa tata cara makan di meja. Mereka juga belajar keterampilan lain yang sedang ngetren di kalangan kelas atas Cina, seperti menunggang kuda.

Sara Jane Ho
Foto: Wikipedia

“Dulu orang tua mereka harus berjuang untuk mendapatkan barisan paling depan, tak peduli soal antre, untuk mendapatkan segala kebutuhannya,” kata Sara Jane Ho, pendiri Sarita, kepada Daily Mail. Sedangkan sang anak hidup relatif makmur sejak masih kecil. “Mereka bersekolah di luar negeri, membeli rumah di negeri seberang, dan diundang ke peragaan busana Christian Dior. Banyak hal yang mesti mereka pelajari soal kebudayaan Barat.”

Sara, 30 tahun, banyak melewatkan waktu di luar negeri. Dia sekolah dan kuliah di Amerika Serikat dan sempat bekerja di New York. Setelah tuntas kursus etiket di Institut Villa Pierrefeu, Swiss, Sara memutuskan mendirikan Institut Sarita.

“Jangan arahkan pisau makanmu ke orang di sebelahmu,” Sara mengingatkan peserta kursus. Dengan sangat detail, dia menjelaskan segala macam etiket di atas meja makan. Mulai soal cara mengupas pisang dengan garpu, cara menyantap mi dengan sumpit, meletakkan semua alat makan usai bersantap, hingga cara berjalan dengan sepatu berhak tinggi. Semua hal dilakukan dengan anggun dan elegan. “Saat berjalan dengan sepatu berhak tinggi, jangan pijakkan hak dulu karena akan membuat kalian gampang terpeleset dan menimbulkan suara tak enak. Hak dan ujung sepatu harus menginjak lantai bersamaan.”

Kursus etiket di Insitut Sarita
Foto: dok. Institut Sarita

Ongkos kursus etiket selama sepuluh hari ini memang sangat mahal, hampir sama harganya dengan kuliah untuk mendapatkan gelar MBA selama setahun. Tapi, menurut Candice Li, Li Guyi, dan Chelsea Chen, tiga peserta kursus di Sarita, harga itu sepadan dengan yang mereka dapatkan.

Candice mengaku sering melawat ke luar negeri. Pelajaran yang dia peroleh di Sarita membuatnya lebih percaya diri berhubungan dengan orang asing. “Berapa yang kami bayar tak terlalu penting…. Yang utama adalah apa yang kami peroleh,” kata Chelsea kepada BBC. Bagi dia, kursus di Sarita sama halnya dengan investasi. Dia bisa mengajarkannya kepada keluarga. “Akan sangat cantik jika semua perempuan Cina bisa seperti Sara,” kata Li Guyi.

Kursus etiket di Insitut Sarita
Foto: dok. Institut Sarita

Kini Sarita bukan satu-satunya sekolah etiket kelas atas di Cina. Beberapa waktu lalu, pemuda asal Prancis, Guillaume Rué de Bernadac, mendirikan Académie de Bernadac di Kota Shanghai. Sekolah ini, serupa dengan Sarita, tentu hanya untuk orang-orang dengan dompet sangat gemuk di Tiongkok.

Untuk dua hari belajar etiket di meja makan saja, Bernadac pasang tarif 10 ribu yuan atau hampir Rp 20 juta. “Para orang tua ingin anaknya lebih sukses dari mereka. Anak-anak itu mungkin bisa kuliah di kampus-kampus di luar negeri yang paling mahal, tapi mereka tak bisa belajar soal etiket di sana. Makanya mereka datang kepada kami,” kata Bernadac, dikutip Global Times.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE