Ketika-Lukisan-Istana-Bernilai-Nol-Rupiah

INTERMESO

Ketika Lukisan Istana Bernilai Satu Rupiah

Tak adanya nominalisasi karya seni Istana membuat anggaran perawatan sangat minim. Kini nilai total karya seni koleksi Istana ditaksir mencapai Rp 2,5 triliun.

Lukisan Memanah karya Henk Ngantung, 1943, menjadi satu dari 28 lukisan koleksi Istana yang dipamerkan dalam Pameran Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan di Galeri Nasional, Jakarta, hingga 30 Agustus 2016

Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Senin, 1 Agustus 2016

Sambil berbincang dengan rekannya, Andi Imawan mengarahkan telunjuknya pada lukisan cat minyak berukuran 125 X 291 sentimeter yang diletakkan di pojok sisi kanan ruang subtema Jejak-jejak Perjuangan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Senin, 1 Agustus 2016. "Lukisan pantai ini luar biasa," ujar Andi mengagumi karya pelukis Mahjuddin, yang dibuat pada 1950 dengan judul Pantai Karang Bolong. Pria separuh baya asal Jakarta itu mengaku hari ini merupakan pertama kalinya dia melihat lukisan-lukisan koleksi Istana Presiden secara langsung. "Semua masterpiece," katanya. "Saya sampai sulit menentukan yang mana yang paling bagus."

Ia menilai lukisan-lukisan mahakarya tersebut tak mungkin bisa terkumpul tanpa campur tangan Presiden Sukarno. "Jiwa seni Bung Karno-lah yang membuatnya bisa melihat nilai sebuah lukisan," kata Andi.

Lukisan Pantai Karang Bolong merupakan satu dari 28 lukisan hasil karya 21 pelukis terkemuka Indonesia ataupun pelukis asing yang dipamerkan di Galeri Nasional hingga akhir Agustus. Mereka di antaranya Raden Saleh, Basoeki Abdullah, Affandi, Dullah, Sindudarsono Sudjojono, Henk Ngantung, Trubus, Hendra Gunawan, Bung Karno, serta Rudolf Bonnet, Diego Rivera, dan Walter Spies.

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh ini diserahkan pemerintah Belanda kepada Indonesia pada 1978.
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Adapun lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh, yang dibuat pada 1857, menjadi karya paling mahal yang bisa dinikmati publik. Kurator dan pengamat seni rupa Agus Dermawan T. menyebut, pada 2011 nilai lukisan itu setara dengan Rp 50 miliar. “Kalau sekarang mungkin bisa mencapai Rp 150 miliar," ujarnya.

Lukisan berukuran 112 X 179 cm yang dibuat menggunakan cat minyak di kanvas sebelum dipamerkan itu terpasang di dinding ruang pamer utama Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta.

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro merupakan koreksi atas lukisan Nicholaas Pienemaan, Penyerahan Diri Dipo Negoro, yang menggambarkan Pangeran Diponegoro menyerahkan diri kepada Letnan Jenderal H.M. de Kock pada 28 Maret 1930. Kejadian itu mengakhiri Perang Jawa. Pada karya Pienemaan, wajah Diponegoro digambarkan tertunduk. Sebaliknya, dalam lukisan karya Raden Saleh, wajah sang pangeran justru menengadah, seolah menantang Belanda yang mengkhianatinya.

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh nilainya ditaksir mencapai Rp 150 miliar.

Agus Dermawan T., pengamat seni rupa Indonesia

“Lukisan ini oleh pemerintah Belanda diberikan kepada pemerintah Indonesia pada 1978, bersamaan dengan peristiwa kembalinya sejumlah artefak warisan budaya lainnya,” kata Mikke Susanto, yang menjadi salah seorang kurator pameran.

Bung Karno, ujar Mikke, mengoleksi banyak sekali lukisan dan karya seni lainnya karena menginginkan istana-istana yang ditempatinya tampak megah dan berisi. Sekaligus menyalurkan kesenangannya pada benda-benda seni. "Bung Karno mulai mengoleksi karya seni sebelum Indonesia merdeka dan terus berkembang hingga berjumlah ribuan," katanya. Saat ini jumlah koleksi benda seni Istana hampir 16 ribu item.

Proses pengumpulan koleksi-koleksi Istana pun beragam. Ada yang terjadi secara sengaja dan ada yang tidak. "Upayanya pun bergantung pada kebijakan serta selera presiden yang berkuasa," ujar Mikke. Bung Karno, kata Mikke, paling sering membeli langsung di pameran-pameran, terutama yang digelar di Hotel Des Indes dan Balai Budaya pada periode 1950-1960. Sejumlah lukisan Basoeki Abdullah dibeli di pameran. Dalam periode yang sama, Bung Karno juga kerap mengunjungi sanggar-sanggar seniman. Saat berkunjung ke Sanggar Pelukis Rakyat di Yogyakarta, Bung Karno membeli lukisan Kerokan karya Hendra Gunawan dan patung karya Sutopo.

Srihadi Soedarsono tengah melanjutkan goresan Presiden Joko Widodo saat membuka Pameran Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan, di Jakarta, Senin, 1 Agustus 2016.
Foto: Wisnu Prasetiyo/detikcom

Koleksi pun bertambah ketika Sukarno mengangkat pelukis Istana, yang berturut-turut dijabat Dullah, Lee Man-fong, dan kemudian Lim Wasim. Dari mereka, kata Mikke, Bung Karno memesan lukisan yang lumayan banyak. "Pengerjaannya dilakukan di Istana, jadi Bung Karno dapat memantau,” kata Mikke. Tak hanya memantau, Bung Karno pun memberi saran. Lukisannya berupa obyek pemandangan alam atau lukisan potret wajah Bung Karno yang digunakan sebagai kenang-kenangan untuk tamu negara yang berkunjung. "Jadi jangan heran di luar negeri ada lukisan Sukarno tahun 1950-1960-an," kata Mikke.

Ada juga koleksi yang dipesan secara khusus sang presiden melalui lembaga tertentu. Sukarno pernah memerintahkan Kementerian Penerangan memesan lukisan Persiapan Gerilya, yang dibuat Dullah. Lukisan itu sempat dikoleksi kementerian tersebut, lalu kemudian dipindahkan ke Istana.

Terakhir saya hanya bisa meminjam empat. Itu pun karena ada rekomendasi dari Titiek Soeharto, juga rekomendasi dari Jusuf Wanandi. Harus ada beking yang kuat."

Agus Dermawan T., pengamat seni rupa Indonesia

Koleksi-koleksi Istana ada juga yang didapatkan dari kenang-kenangan pemimpin negara lain. Karya pelukis Konstantine Makovski didapatkan Bung Karno saat berkunjung ke Uni Soviet. Bung Karno pun mendapat hadiah ulang tahun dari Kaisar Jepang Hirohito berupa lukisan berjudul Gunung Fuji Dilihat dari Miho, yang dibuat pelukis Istana Kerajaan Jepang, Taikan Yokoyama, pada 1952.

* * *


Presiden Joko Widodo menggoreskan warna merah membentuk huruf "S" di kanvas putih sebagai tanda dibukanya Pameran Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan di Jakarta, Senin, 1 Agustus 2016.
Foto: Bagus Prihantoro/detikcom

Agus Dermawan memuji kebijakan Presiden Jokowi menggelar pameran lukisan karya-karya para maestro lukis Indonesia ini. Dari pengalamannya selama ini, sangat sulit bisa memamerkan lukisan-lukisan koleksi Istana. “Terakhir saya hanya bisa meminjam empat. Itu pun karena ada rekomendasi dari Titiek Soeharto (anak keempat Presiden Soeharto), juga rekomendasi dari Jusuf Wanandi (pendiri CSIS). Harus ada beking yang kuat. Sekarang keluar 28 lukisan, menurut saya ini luar biasa,” ujar Agus.

Penulis biografi para maestro seni lukis itu berharap, ke depan Presiden Jokowi memberi izin untuk menggelar lukisan-lukisan lainnya secara berkala dengan tema yang berbeda. Sebab, setahu dia, Istana menyimpan sekitar 2.700 lukisan selain karya seni lainnya, seperti keramik dan patung, yang jumlahnya masing-masing 600 dan 400 buah. Ia juga berharap pameran lukisan dan karya seni koleksi Istana lainnya bakal menjadi embrio pembangunan Museum Istana Kepresidenan yang pernah digagas.

Kurator pameran Mikke Susanto tengah menjelaskan riwayat lukisan Pangeran Diponegoro karya Basoeki Abdullah, 1949, dalam Pameran Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan di Jakarta.
Foto: dok. Pameran Lukisan Istana Kepresidenan

Agus, yang pernah menjadi anggota nominalisasi koleksi karya seni Istana pada 2011-2013, menyebutkan, pada 2011 nilai total 16 ribu koleksi Istana mencapai Rp 1,5 triliun. Kalau dikonversi dengan harga sekarang, nilainya bisa mencapai Rp 2,3-2,5 triliun. Bagi Agus, angka itu besar sekali.

Inventarisasi dan nominalisasi yang pernah dilakukan, kata Agus, menjadi semacam petunjuk bahwa benda tersebut aset negara yang sangat berharga dan harus dianggarkan pemeliharaannya. “Tapi sekarang ini masih sangat kurang sekali biaya perawatannya.”

Ditemui terpisah, Kepala Biro Pengelolaan Istana Adek Wahyuni Saptantinah mengakui minimnya anggaran perawatan koleksi benda seni di lingkungan Istana. Saking minimnya anggaran, kata Adek, yang bertugas di Istana sejak 1983, satu lukisan pernah dihargai cuma Rp 1. “Bagaimana nilai aset sebesar itu diajukan anggaran untuk perawatannya maupun konservasi?” ujarnya.

Video: Abdul Haris, Adil Pradipta/detikTV

Adek Wahyuni Saptantinah, Kepala Biro Pengelolaan Istana
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Agar mendapatkan anggaran, ia bersiasat antara lain dengan merintis upaya penilaian aset mulai 2010. Dengan adanya anggaran perawatan, otomatis lukisan dan karya seni lainnya yang rusak dapat diperbaiki secara bertahap. “Lukisan yang rusak berat itu ada 30-40 lukisan,” ujar Adek.

Ia menyebut lukisan Memanah karya Henk Ngantung sebagai karya yang rusak berat. Lukisan yang rusak, ia melanjutkan, antara lain karena kanvas yang sobek dan/atau catnya rusak. Penyimpanan dengan suhu udara yang tidak stabil akan memudahkan retaknya cat. Udara yang terlalu dingin akan membuat cat mengering, sehingga catnya jadi retak. Kalau sudah retak, cat mudah terkelupas.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE