Ketika-sang-Gajah-Memukul-si-Binatang-Jalang

INTERMESO

Baca Puisi,
Chairil Dipukul Istri

Di antara sekian banyak gadis yang pernah singgah dalam kehidupan Chairil Anwar, cuma Hapsah Wiriaredja yang menjadi istri dan memberinya seorang putri. Cuma dua tahun, lalu bercerai.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 15 Agustus 2016

I'm all alone in my room, I feel alone

With my books, again, as before I married you

Burton Raffel, guru besar sastra di University of Louisiana at Lafayette, Amerika Serikat, menerjemahkan puisi H karya Chairil Anwar itu dari catatan yang berserak milik H.B. Jassin. Raffel kemudian mencantumkannya dalam buku karyanya, The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar terbitan Paperback, Juni 1970.

Dari dua kalimat singkat itu, bisa dipastikan bahwa H tak lain adalah Hapsah. Lengkapnya Hapsah Wiriaredja, anak seorang pegawai pengadilan, yang dinikahi Chairil di Karawang, Jawa Barat, pada 6 September 1946. Dibanding deretan gadis lain yang pernah singgah dalam kehidupan sang penyair, Hapsah tergolong biasa saja. Toh, di mata Chairil, gadis kelahiran Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1922, itu seperti memiliki aura dan pesona tersendiri.

Dalam rentang kehidupan rumah tangga yang tergolong singkat, sekitar dua tahun, si Binatang Jalang punya panggilan sayang kepada sang istri: Gajah. Sebutan itu merujuk pada tubuh Hapsah yang gendut. “Chairil memanggil Mamah itu ‘Gajah’ karena memang tinggi-besar, gendut kayak saya sekarang ini, sementara Chairil kan kecil-kurus. Mungkin, kalau dia masih hidup, saya pun akan dipanggilnya Gajah, ha-ha-ha…,” tutur Evawani Alissa mengenang kedua orang tuanya saat ditemui di kediamannya di Bekasi, Jawa Barat, Kamis, 11 Agustus 2016.

Chairil memanggil Mamah itu ‘Gajah’ karena memang tinggi-besar, gendut kayak saya sekarang ini, sementara Chairil kan kecil-kurus.”

Evawani Alissa, putri Chairil Anwar

Video: Tri Aljumanto, Muhammad Abdurrosyid/20detik.com

Pada usia 69 tahun, postur notaris yang pernah menjadi peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan dosen di Universitas Indonesia ini memang terlihat subur. Meski demikian, gurat-gurat kecantikan masih terlihat. Sebuah foto di majalah Sarinah terbitan 1988 menunjukkan betapa cantik Evawani pada masa muda.

Menurut Eva, sebelum resmi dipersunting Chairil, ibunya sebetulnya telah menjalin tali kasih dengan seorang dokter. Tapi Chairil, yang datang ke Karawang untuk mengungsi, begitu gencar mendekati Hapsah. Hampir setiap hari dibombardir dengan kalimat-kalimat puitis, akhirnya Hapsah luluh. Hapsah juga terpikat oleh kegigihan Chairil tersebut. Setahun setelah menikah, lahir bayi perempuan yang diberi nama Evawane. Karena Hapsah merajuk, akhirnya disepakati namanya menjadi Evawani, Eva si Pemberani.

Saat di rumah, menurut Eva, ayahnya biasa membacakan sajak-sajak yang dibuatnya di hadapan sang istri. Ada kalanya pembacaan sajak ditingkahi dengan aksi teatrikal dengan naik ke kursi dan meja. “Kadang-kadang dia memaksa Mamah yang sedang masak mendengarkannya membaca sajak. Suatu hari, menurut cerita Mamah, dia kesal dan memukul Chairil dengan centong sayur, ha-ha-ha…,” ujar Eva. 

* * *

Salah satu puisi karya Chairil Anwar, Nocturno
Foto: dok. Perpustakaan H.B. Jassin

Bahtera rumah tangga Chairil-Hapsah ternyata lebih banyak diisi dengan pertengkaran. Gaya hidup Chairil yang urakan tanpa penghasilan tetap menjadi sumber utama percekcokan. Pada awal-awal pernikahan, menurut penuturan Hapsah kepada sastrawan Rachmat Ali, Chairil sempat bekerja sebagai editor di percetakan Noor Komala dengan gaji lumayan. Tapi hal itu tak lama dilakoninya. Dia tak kerasan pada pola kerja yang terikat, harus berkantor tiga kali dalam sepekan. Juga tak suka menghadapi kenyataan harus diperintah-perintah oleh orang lain.

“Dia bilang kepada saya, tidak bisa terikat, tidak bisa bekerja diperintah orang lain. Dia ingin bebas bergerak semaunya,” tutur Hapsah seperti disiarkan Intisari pada 1971.

Hari-hari Chairil kemudian lebih banyak diisi dengan membaca dan keluyuran ke banyak tempat yang disukainya. Ia berbincang dengan siapa saja yang ditemuinya di jalan atau warung kopi, mulai tukang becak, kaum intelektual, hingga kalangan menteri. Saat Chairil di rumah, waktunya dihabiskan dengan membuat sajak-sajak. “Ada kalanya di tengah malam dia membangunkan saya, minta disiapkan pensil dan kertas, lalu menuliskan sajak saat itu juga,” kata Hapsah.

Hidup kami repot dan serbakekurangan. Tapi Chairil cuma meminta bersabar. Bila ada usia panjang, dirinya yakin pada usia 30 tahun bakal menjadi Menteri Kebudayaan.”

Hapsah Wiriaredja, istri Chairil

Evawani Alissa
Foto: Tri Aljumanto/20detik.com

Kehidupan keluarga praktis cuma ditopang oleh gaji Hapsah seorang sebagai pegawai di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sebab, honor satu sajak yang dibuat Chairil bila dimuat cuma Rp 50. Itu pun biasanya lebih banyak dia gunakan sendiri untuk membeli buku-buku.

“Hidup kami repot dan serbakekurangan. Tapi Chairil cuma meminta bersabar. Bila ada usia panjang, dirinya yakin pada usia 30 tahun bakal menjadi Menteri Kebudayaan,” tutur Hapsah. 

Evawani Alissa
Foto: repro majalah Sarinah, Juli 1988

Dalam kondisi ekonomi yang morat-marit, si Gajah tak sanggup lagi merawat rasa cinta dan sabarnya. Dia menceraikan Chairil. Rumah tangga itu pun karam. Tinggal Chairil luntang-lantung tak keruan. Sebatang kara.

Pada suatu malam, dia mengetuk pintu Tasrif S.M., yang kala itu memimpin surat kabar Berita Indonesia. Tak cuma satu-dua malam dia menginap di kamarnya seperti diucapkan pada awal kedatangan, tapi hingga berbulan-bulan. Dalam “Chairil Anwar yang Saya Kenal” seperti disiarkan Intisari, Juni 1966, Tasrif menggambarkan sosok Chairil pascaperceraian dalam kondisi amat menderita lahir-batin.

“Matanya cekung dan kemerahan. Badannya kurus-kering dan penuh kudis,” tulisnya.

Hapsah Wiriaredja, istri Chairil
Foto: repro buku Chairil Anwar, Hasil Karya dan Pengabdiannya karya Sri Sutjianingsih

Chairil benar-benar dibuat patah hati karena tidak boleh menemui putri semata wayangnya, Evawani. Terhadap Hapsah pun, cintanya masih tetap terjaga walau dengan sembunyi-sembunyi. Tasrif bersaksi, “Hampir tiap hari dia bangun pagi untuk buru-buru pergi ke Jalan Cilacap (kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) untuk sekadar melihatnya (Hapsah) selintas.”

Pascaperceraian itu, Tasrif melanjutkan, daya cipta Chairil sebagai penyair hampir habis dan tidak ada lagi karya yang luar biasa. Kesehatannya pun terus memburuk.

Dia gagal mendapatkan kembali cinta Hapsah. Gagal memeluk dan membesarkan buah cintanya, Evawani. Juga tak berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi Menteri Kebudayaan.

Penyakit paru-paru akut dan disentri merenggut napasnya di usia 26 tahun 9 bulan pada 28 April 1949. Chairil dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat. Sedangkan Hapsah, yang pensiun di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, meninggal di usia 56 tahun pada 9 Mei 1978.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE