Berhaji-Penuh-Nyali-ala-Bahari

INTERMESO

Berhaji Penuh Nyali
ala Bahari

Pernah meliput suasana perang di Afganistan, wartawan Jawa Pos ini menerima penugasan naik haji lewat jalur darat. Sempat dicurigai sebagai mata-mata.

Suasana di sekitar Ka'bah, Mekah, beberapa waktu lalu 
Foto: dok. Media Center Haji 2016

Senin, 5 September 2016

Bukan cuma bekal materi yang harus memadai dan fisik yang prima untuk bisa menunaikan ibadah ala Bahari. Tapi juga kegigihan dan jiwa petualang alias nyali yang super. Sebab, ia memilih rute berhaji lewat jalur yang tak lazim. Bukan menggunakan pesawat atau kapal laut, melainkan estafet melalui jalur darat. Total 11 negara (Malaysia, Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, Vietnam, Cina (selatan), Nepal, India, Pakistan, dan Oman) dilaluinya untuk bisa menjejakkan kaki di Mekah, Arab Saudi.

“Saya memulai perjalanan dari Surabaya pada 5 Agustus 2011 dan berakhir di Mekah pada 1 November 2011,” kata Bahari mengenang perjalanannya menunaikan rukun Islam kelima itu saat dihubungi detikX, Kamis, 1 September 2016.

Di titik tertentu, dia mengakui, perjalanan terasa amat berat. Bukan cuma lantaran medan dan pengaruh cuaca, tapi juga karena politik. Saat tiba di pos imigrasi Kota Tamu, Myanmar, misalnya, Bahari mengaku membentur tembok. Perjalanan sekitar 100 kilometer dari Yangoon, saat itu ibu kota Myanmar, dengan bemo menjadi sia-sia. Tamu, kota kecil di region Sagaing, yang terletak di bagian barat laut Myanmar, merupakan pintu masuk ke Negara Bagian Manipur, India. Petugas tak mengizinkannya melintasi kota itu untuk menyeberang ke India. "Kota itu terlarang bagi orang asing," ujarnya.

Wartawan Jawa Pos itu terpaksa kembali menempuh perjalanan belasan jam dengan bus dan bemo. Melintasi ruas jalan yang rusak, ia mesti menumpang bus yang sempit, tanpa AC, dan harus berjejal dengan aneka barang. Di tengah jalan, kendaraan harus berhenti karena ban bocor. Atau merayap menyeberangi sungai tanpa jembatan. “Ini perjalanan terberat secara fisik."

Bahari, salah satu pelaku haji lewat jalur darat
Foto: dok. pribadi

Mengurus visa masuk ke Tiongkok dari Vietnam rupanya lebih mudah menggunakan jasa agen perjalanan. Daftarnya lewat travel agent yang ada di hotel."

Bahari, pelaku haji lewat darat

Perjalanan haji lewat darat tersebut sebenarnya tugas peliputan bagi Bahari. Ia ditantang melakukan hal itu karena reputasinya yang pernah bertugas di medan perang Afganistan. Sebagai penyuka perjalanan dan petualangan, ayah tiga anak itu tentu tak menyia-nyiakan tawaran yang datang.

Bahari di tengah-tengah melaksanakan ibadah haji.
Foto: dok. pribadi

Perjalanan dimulai dari Surabaya menuju ujung barat Pulau Jawa menuju Sumatera, setelah singgah untuk berziarah ke makam Wali Songo di Demak dan Cirebon. Dari Sumatera, pria yang kini berusia 52 tahun dan sudah pensiun dari Jawa Pos itu masuk Kuala Lumpur (Malaysia), kemudian Bangkok (Thailand). Di Bangkok, Bahari sempat menyambangi kantong komunitas muslim sambil mengurus visa di beberapa kedutaan. Perjalanannya lantas dilanjutkan ke Myanmar dan menemui jalan buntu di Tamu.

Merasa tak bisa melewati Myanmar melalui jalur darat, dia memutuskan terbang ke New Delhi, India. Namun Dahlan Iskan, pendiri Jawa Pos, menyela perjalanannya. "Bukan jalan darat lagi namanya," kata Bahari menirukan ucapan Dahlan, yang saat itu menjabat Menteri Badan Usaha Milik Negara. Dia diminta kembali ke Bangkok dan membuat rute baru yang memutar ke timur.

Atas saran Dahlan, dari Bangkok Bahari menuju Kamboja, Laos, Vietnam, dan kemudian masuk ke Tiongkok bagian selatan. Mengurus visa masuk ke Tiongkok dari Vietnam rupanya lebih mudah menggunakan jasa agen perjalanan. "Daftarnya lewat travel agent yang ada di hotel. Masuk Tiongkok mudah asalkan ada guide," katanya.

Bahari lalu naik ke Nepal dan Tibet, sebelum masuk India dan Pakistan. Saat berada di Gwadar, kota pelabuhan di bagian pesisir barat daya Pakistan, yang berbatasan dengan Iran, tantangan kembali menghadang. Semula, dari Pakistan dia akan menuju Iran, lalu ke Suriah dan Turki. Tapi Negeri Para Mullah rupanya tidak menerima visa on arrival. “Mengurus visa itu ternyata lebih berat daripada perjalanannya," ujar Bahari.

Alih-alih mendapat visa, Bahari malah didatangi petugas imigrasi Pakistan di hotel tempat dia menginap. Tas ranselnya diaduk-aduk, dan mereka menemukan selembar surat rekomendasi dari Duta Besar Republik Indonesia di Myanmar. Interogasi pun harus dihadapinya selama berjam-jam.

Buku hasil perjalanan haji lewat darat Bahari
Foto: dok. pribadi

Aguk di depan poster film Haji Backpacker yang diadaptasi dari novel karangannya
Foto: dok. pribadi

Ia lantas diberi pilihan: masuk penjara atau pergi meninggalkan Gwadar menuju Karachi, yang jaraknya hampir 800 kilometer.

"Saya dicurigai sebagai mata-mata karena awalnya saya mengaku pekerja seni, bukan wartawan. Surat itu memang kecerobohan saya," kata Bahari.

Ia sengaja menyembunyikan identitas dirinya sebagai wartawan untuk memudahkan masuk ke negara-negara tertentu. Kolom pekerjaan di paspornya pun sengaja diganti. Terkadang mengaku sebagai pensiunan yang tengah liburan, sedang bernazar haji darat, atau sebagai insinyur. “Ya, tergantung lawan bicara," ujarnya.

Karena waktunya semakin mepet, Bahari akhirnya mengurungkan niat melewati Iran, Suriah, Turki, dan Mesir. Pilihan lewat Oman sebagai jalan pintas pun diambil. Tapi, karena Arab Saudi tidak mengizinkan jalur darat dari Oman, Bahari akhirnya naik pesawat bersama rombongan haji asal Oman. "Visa haji memang sudah disiapkan lewat agen perjalanan di Surabaya," katanya. Ia tiba di Mekah beberapa jam sebelum pintu masuk ditutup pada 1 November 2011.

Toh, kata Bahari, lamanya perjalanan dan berbagai hambatan yang ditemui tetap masih lebih ringan dibanding bila harus antre bertahun-tahun seperti yang dihadapi ribuan calon haji di Tanah Air. “Antre bertahun-tahun tanpa kepastian itu lebih menekan secara fisik dan psikis,” kata Bahari, yang kini menjadi penulis lepas untuk beberapa media.

Bersama KH Ahmad Mustofa Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Tholibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah
Foto: dok. pribadi

Aguk Irawan punya cerita berbeda. Saat menempuh pendidikan sarjana di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, ia naik haji dengan biaya pas-pasan, Rp 4 juta. Total biaya itu sudah mencakup biaya tiket kapal untuk menyeberang pulang-pergi, akomodasi, dan makan. Pengurusan visa haji pun cukup berbekal rekomendasi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia dan menyetorkan sejumlah uang jaminan.

“Itu saya lakukan pada tahun 2000. Saya tidak takut kehabisan bekal karena, setiap musim haji, lapangan pekerjaan terbuka bagi para mahasiswa Indonesia yang ingin menambah uang saku,” kata penulis buku Haji Backpacker itu saat dihubungi detikX, Jumat, 2 September.

Pendiri Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, Yogyakarta, itu mengaku sempat menjadi “tukang becak” Masjidil Haram alias mendorong kursi roda bagi jemaah haji yang berusia lanjut atau yang dalam keadaan sakit. Honornya saat itu Rp 1 juta.

Berhaji dengan modal pas-pasan, kata lelaki kelahiran Lamongan, Jawa Timur, 37 tahun silam, itu, ada landasan sejarahnya dalam Islam. Nabi Muhammad dan para sahabat, ujarnya, saat datang ke Mekah menggunakan unta-unta yang kurus dan dengan penampilan sangat sederhana. “Ini menjadi inspirasi bagi kita bahwa haji itu tidak perlu menunggu kita mapan atau mampu. Tapi nekat dan seadanya. Inilah haji backpacker,” kata Aguk.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim


Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE