INTERMESO

PAHLAWAN-PAHLAWAN MUDA

Membawa Kerajinan Bambu ke Pasar Dunia

Lewat sentuhannya, perajin bambu di Garut tak cuma piawai membuat sangkar burung, tapi juga aneka benda artistik bernilai ekonomi tinggi.

Harry Mawardi
Foto-foto: dok pribadi Harry Mawardi

Kamis, 10 November 2016

Dari coretan-coretan pena pada selembar kertas, Harry Anugrah Mawardi dan kawan-kawannya mengubah bilah-bilah bambu menjadi benda bernilai tinggi. Bambu tidak lagi ditempatkan sebagai pagar rumah atau dipotong-potong menjadi tusuk sate. Tapi sudah menjelajah sampai benua lain. Mengisi ruang tamu rumah-rumah mentereng dan kafe-kafe eksklusif. Bahkan bisa dipakai untuk menghiasi leher perempuan-perempuan muda nan molek.

"Bambu bisa dibentuk menjadi seperti ini," kata Harry kepada detikX di Uma Design Shop, Bandung, Senin, 7 November 2016, sambil menimang-nimang jam meja berdiameter 15 sentimeter dengan bentuk unik. Ia menuturkan, jam hasil desain mahasiswa Jurusan Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung itu dipakai sebagai cendera mata resmi Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia. "Perajin bambu dari Garut yang buat, kami hanya mendesain."

Perkenalan Harry dengan bambu bermula dari kegiatan penelitian bersama dosen-dosen ITB di sejumlah sentra perajin bambu di Jawa Barat. Namun ia tak puas bila hasil penelitian hanya terhenti sebagai makalah, jurnal, dan poster ilmiah di pameran-pameran. "Impact-nya cuma ke peneliti dan desainer, karena yang mendapat sorotan dari publik cuma mereka," ujar lulusan ITB Jurusan Desain Produk Fakultas Seni Rupa dan Desain pada 2009 itu.

Potensi perajin bambu Indonesia untuk menghasilkan produk yang dapat bersaing di pasar global, menurut Harry, cukup besar. Kendalanya, perajin tidak memiliki akses pasar sehingga produk kerajinan bambu yang dihasilkan terbatas dari segi model dan dihargai murah. "Saya dan dosen-dosen sempat membuat brand untuk sejumlah kerajinan selama dua tahun, tapi terhenti," ujar pria kelahiran Bandung, 30 tahun lalu, itu.

Kegagalan tak memupuskan semangat ayah Sangsaka Kawani Mawardi itu. Akhir 2013, tanpa sengaja, saat melintasi daerah Selaawi, Kabupaten Garut, matanya tertuju pada jejeran sangkar burung. Rupanya Selaawi merupakan sentra kerajinan sangkar burung yang bahan bakunya dari bambu. Ia segera membelokkan mobilnya masuk ke kampung itu. "Perajin-perajin cukup smart dengan memberlakukan sistem pembagian kerja. Saya lihat mereka punya potensi," kata Harry.

Beberapa hari kemudian, ia kembali ke kampung itu untuk menawarkan ide membuat produk-produk kerajinan bambu yang baru selain sangkar burung dan anyaman. Ternyata ide tersebut mendapat sambutan hangat. Sebab, ramai-sepinya penjualan sangkar burung itu ternyata ada musimnya. Penjualan ramai ketika ada kompetisi burung. Dalam satu tahun, ada dua bulan di mana tidak ada pesanan sangkar burung. “Pada bulan puasa dan Lebaran," ujarnya. Para perajin menyadari mereka membutuhkan alternatif agar roda usaha bisa berkelanjutan.

Pada awal 2014, merek Amygdala Bamboo akhirnya diluncurkan. Harry menggandeng Utang Mamad, 46 tahun, perajin asal Desa Mekarsari, Selaawi. Sinergi keduanya menghasilkan desain-desain baru yang kreatif dan inovatif. Mulai lampu meja dan gantung, vas bunga, bangku, gelas keramik dengan pegangan bambu, jam, sampai kalung. Harga yang ditawarkan pun beragam, mulai ratusan ribu sampai jutaan rupiah per produk. Uniknya, sebagian besar kerajinan bambu yang diproduksi menyerupai sangkar burung dengan bentuk tabung dan memiliki jeruji bambu. Harry menyebutnya teknik lattice atau kisi-kisi.

Menurut Utang, sebagai sarjana desain, Harry berhasil membuat desain khusus tanpa meninggalkan teknik dasar yang sudah dikuasai para perajin secara turun-temurun. "Kalau keluar dari kebiasaan, kami pasti akan kesusahan. Teknik pembuatannya sudah dikuasai, tinggal modifikasi," ujarnya.

Utang mengaku sangat terbantu oleh datangnya desain-desain kerajinan bambu yang lebih modern. Produk yang dihasilkan pun memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Secara pendapatan, ia dan kawan-kawannya di Selaawi sangat terbantu.

Sampai saat ini, sudah 50 jenis produk yang dihasilkan Harry dan timnya di Amygdala Bamboo bersama perajin Garut. Begitu pesanan meningkat, otomatis jumlah perajin pun harus ditambah. Selain Utang, kini ada tujuh perajin lain yang bermitra dengan Harry. Masing-masing dari mereka tentu saja melibatkan belasan perajin lainnya sebagai tim.


           

Harry tak menerapkan sistem gaji kepada mereka, melainkan beli putus. “Para perajin sanggup mengerjakan berapa item, itu yang kami beli," ujar pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB serta Institut Teknologi Sains Bandung itu.

Selain membuka outlet di Sanur, Bali, Harry mengandalkan penjualan secara daring. Ia mengaku pesanan datang dari Italia, Jepang, Korea Selatan, dan Australia. Bekerja sama dengan kanal distribusi asal Korea, produk perajin asal Garut itu pun akan dipasarkan di sejumlah toko di Korea dan Tiongkok. Kerja sama dengan perusahaan Korea Selatan tersebut difasilitasi British Council.

Kemampuan Harry dan perajin Garut mengolah bambu juga menarik perhatian Noah Park, dokter gigi asal Korea. Noah, yang juga seorang filantropi, menawarkan kepada Harry untuk mendesain dan kemudian memproduksi secara massal sikat gigi dengan gagang bambu. Gagasan ini rencananya direalisasi awal tahun depan.

Untuk kiprahnya menggandeng para perajin di pedesaan itu, Harry diganjar penghargaan best of the best dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri 2015, yang diberikan Maret lalu. Pemerintah Jawa Barat pun memberinya penghargaan Anugerah Prakarsa 2016.

Infografis: Fuad Hasim


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer:
Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE