INTERMESO

PAHLAWAN-PAHLAWAN MUDA

Dia Bertarung
untuk Leuser

“Pemerintah seperti mengutip ayat Al-Quran semau-maunya….
Tidak baca secara lengkap.”

Farwiza Farhan
Foto-foto: dok pribadi Farwiza Farhan

Jumat, 11 November 2016

Orang kadang tak sungkan menghalalkan segala cara demi mendapatkan gaji besar. Ya, siapa yang tak suka punya banyak duit? Tapi tidak bagi Farwiza Farhan.

Enam tahun lalu, Farwiza, kini 30 tahun, bekerja untuk Global Carbon Capture & Storage Institute di Australia. Lembaga yang berkantor di Melbourne, Australia, ini mengklaim punya cita-cita mengembangkan teknologi memerangkap dan menyimpan karbon untuk “menangani” perubahan iklim. Mengutip koran Sydney Morning Herald, pemerintah Australia menyuntikkan duit ratusan juta dolar Australia kepada Global Carbon.

Selama tiga bulan bekerja untuk lembaga ini, Farwiza, yang kala itu baru lulus master dari Universitas Queensland, mendapat gaji sangat besar dan fasilitas kelas satu. “Tapi aku enggak menikmati hari-hariku di sana,” Farwiza menuturkan beberapa hari lalu. Gaji yang besar tak bisa menutupi kegelisahan gadis itu. “Semula aku pikir mereka punya terobosan teknologi untuk mitigasi perubahan iklim…. Tapi, setelah bekerja di sana, aku baru mengetahui… what a lie.”

Dia tak ingin menjadi bagian dari proyek besar yang bertentangan dengan nuraninya. “Konflik batin itu makin kuat,” katanya. Setiap hari batinnya makin tertekan. Dia selalu tak sabar menunggu jam pulang kantor. Sampai akhirnya, walaupun sudah ditawari menjadi staf tetap, dia memilih meninggalkan gaji besar plus fasilitas menggiurkan di sana dan memutuskan pulang ke kampung kelahiran, Aceh. “Aku masih single…. Jadi, kalau aku keluar dan miskin, tak ada yang akan kelaparan.”

Bersama Putri Anne, selaku patron Whitley Fund for Nature, di London, April 2016

Tulang gajah yang mati akibat kebakaran hutan

Foto: Rachman/detikcom

Selama setahun, Farwiza bekerja untuk Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser, hingga lembaga ini dibubarkan Gubernur Aceh. Sejak masih kecil, walaupun tinggal dan sekolah di kota, dia memang dekat dengan alam, terutama laut. Laut adalah “cinta pertama”-nya. Demi menyelam di laut, Farwiza rela menahan lapar supaya bisa menabung.

Bekerja untuk Leuser membuat gadis itu menemukan “cinta kedua”-nya. Hari pertama bekerja di Badan Ekosistem Leuser, dia diajak terbang melintasi hutan di kaki Gunung Leuser. Hari itu pula dia menyaksikan orangutan Sumatera di habitat aslinya. “Sebelumnya cuma lihat di kebun binatang,” ujarnya. “Aku juga diajak rafting…. Saat itu aku jatuh cinta dengan tempat itu, jatuh cinta pada pandangan pertama.”

Lantaran sudah menemukan “cinta”-nya, ketika Badan Ekosistem bubar, Farwiza bersama teman-temannya memutuskan bertahan di Leuser. Mereka mendirikan Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh. Bagi Farwiza dan teman-temannya, Leuser bukan sekadar gunung dan hutan. Bukan juga sekadar habitat bagi satwa langka, seperti orangutan Sumatera, gajah Sumatera, dan badak Sumatera.

Leuser adalah urusan nyawa bagi mereka. “Teman-teman di Aceh Tamiang pernah merasakan banjir bandang yang kayak tsunami kedua. Blok kayu ukuran 4 meter dari sungai menghantam rumah mereka,” Farwiza menuturkan. Aceh Tamiang, yang berada di sisi timur kawasan Gunung Leuser, makin sering digelontor banjir lantaran rusaknya hutan di hulu.

Bersama tokoh masyarakat setempat setelah menerima Whitley Awards

Bersama tokoh masyarakat setempat setelah menerima Whitley Awards

“Kalah atau menang, apa pun yang terjadi, kami tidak akan berhenti berjuang.”

Farwiza Farhan

Makanya mereka mati-matian melawan “gerilya” para pengusaha perkebunan, mafia pencuri kayu, termasuk pemerintah Aceh, yang berniat menggunduli hutan atau mengubah sebagian hutan menjadi kebun sawit. Ketika Gubernur Aceh mengesahkan Qanun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Aceh tiga tahun lalu tanpa mengindahkan kawasan Leuser, Farwiza dan teman-temannya segera menggulung lengan baju dan melawan.

Padahal, lewat Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008, pemerintah menetapkan kawasan ekosistem Leuser sebagai Kawasan Strategis Nasional untuk kepentingan lingkungan hidup. “Pemerintah seperti mengutip ayat Al-Quran semau-maunya. Mereka baca ayat bahwa laki-laki boleh beristri empat dan adil, tapi mereka hanya baca bagian boleh beristri empat saja. Tidak baca secara lengkap,” Farwiza mengibaratkan.

Berbagai upaya ditempuh tapi pemerintah Aceh tetap jalan terus dengan Qanun RTRW. Pembabatan hutan pun jalan terus. Tahun ini saja, menurut dia, sudah ada 4.000 hektare hutan di Leuser yang beralih fungsi menjadi jalan, kebun, tambang, dan sebagainya. Mengutip data dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, ada 93 izin pemanfaatan hutan yang diberikan sejak Qanun RTRW Aceh disahkan.

Efek penambangan emas di kawasan Leuser, menurut warga Aceh Selatan, Sarbunis, 43 tahun, sudah mulai terasa. Selama bertahun-tahun, warga Desa Payateuk dan Lhok Sialang mencari ikan dan udang di Sungai Rasian. “Dalam semalam, mereka bisa membawa lima bambu ikan dan udang,” kata Sarbunis. Tapi sejak ada tambang emas, dan mereka membuang lumpurnya ke sungai itu, jangankan lima bambu, satu bambu ikan saja sulitnya minta ampun.

Farwiza bersama delapan warga Aceh lainnya terpaksa menempuh jalan lain, yakni menggugat pengesahan qanun itu ke pengadilan. Pengesahan Qanun RTRW, menurut dia, melanggar hukum lantaran dilakukan sebelum ada evaluasi dari Menteri Dalam Negeri.

Saat membawa form petisi Save Leuser 

“Kami tidak menuntut seluruh isi Qanun RTRW Aceh dibatalkan,” kata Farwiza. Mereka hanya minta sejumlah hal dalam RTRW Aceh direvisi, terutama soal pemanfaatan Kawasan Ekosistem Leuser, dengan melibatkan peran serta masyarakat. “Kami tidak minta semua menjadi wilayah konservasi. Yang penting adalah pemetaan kegiatan apa yang boleh dilakukan dan lokasinya di mana.”

Sudah setahun gugatan Farwiza dan teman-temannya itu nyangkut di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pada Selasa lalu, 8 November, mestinya majelis hakim membacakan putusan atas gugatan itu. Tapi putusan itu kembali ditunda. Padahal Farwiza dan teman-temannya sudah terbang dari Aceh ke Jakarta demi menyimak putusan hakim.

Memang belum tentu mereka ada di pihak pemenang. “Kalah atau menang, apa pun yang terjadi, kami tidak akan berhenti berjuang sampai apa yang menjadi tuntutan kami terlaksana,” kata Farwiza. Beberapa bulan lalu, Farwiza mendapat penghargaan Whitley Awards atas perjuangannya menyelamatkan hutan Leuser. Kalah atau menang di pengadilan, perjuangan mereka memang masih sangat panjang.

Foto: Rachman Haryanto/detikcom Foto
Infografis: Fuad Hasim


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim


Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE