INTERMESO

Kisah Rohingya
Jadi Amerika

“Di Myanmar, kami tak ada harganya…. Di sini kami bebas menjadi diri sendiri. Sekarang kami punya rumah.”

Anak-anak Rohingya di Pusat Pendidikan Rohingya di Klang, Malaysia
Foto: AlJazeera

Selasa, 22 November 2016

Pada tengah malam 7 Januari 2013, bersama 129 orang Rohingya lainnya, Mohammad Rafiq meninggalkan pantai di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, dengan berjejal di atas perahu kecil. Inilah perjalanan melewati “neraka” di dunia. Rafiq beruntung bisa selamat melewati “neraka” itu.

Dengan bekal seadanya, 129 laki-laki Rohingya itu berangkat ke laut lepas, berharap bisa sampai ke Thailand. Rafiq hanya membawa bekal beberapa botol kecil air minum dan nasi. Beberapa hari kemudian, kapal Angkatan Laut Thailand mencegat perahu mereka. Perahu kecil itu diseret kembali ke tengah laut dan mesinnya dicopot.

Tanpa mesin, perahu mereka terombang-ambing di laut, mengikuti ke mana saja gelombang mendorong perahu. Selama 38 hari, Rafiq dan teman-temannya terpanggang matahari di tengah laut. Nyaris tanpa makanan dan minuman. Beberapa temannya nekat minum air laut dan mengunyah barang apa saja yang ada di depannya.

Hingga seorang nelayan Sri Lanka melihat perahu itu dan mengirim kabar ke kapal Angkatan Laut. Saat Rafiq dan teman-temannya dipindahkan ke atas dek kapal Angkatan Laut Sri Lanka, tubuh mereka sudah benar-benar kisut. Dari 130 laki-laki, hanya 32 orang yang masih hidup.

Keluarga Babu bin Abdul Hamad asal Myanmar di kota Chicago
Foto : ChicagoTribune

Inilah hidup baru kami, masa depan kami. Kami bayi yang baru lahir di sini.”

Nasir bin Zakaria, Rohingya di Chicago, Amerika Serikat

“Tak sedikit di antara kami yang melompat ke laut dan mati,” Rafiq menuturkan kepada Globe and Mail beberapa bulan lalu. Dua sahabat Rafiq, Syed Hussein dan Hamidullah, termasuk yang tak selamat. Hussein meninggal di atas perahu, sementara Hamidullah memilih melompat ke laut. Hampir dua tahun Rafiq tinggal di penampungan pengungsi di Sri Lanka, hingga pemerintah Kanada menerima permohonan suakanya. Kini dia tinggal di Ontario, Kanada.

Ada sekitar 1,3 juta keturunan Rohingya di Myanmar. Leluhur mereka sudah ratusan tahun tinggal di Myanmar, tapi Rohingya, yang sebagian besar beragama Islam, tak pernah benar-benar diterima di tanah kelahirannya sendiri. Rohingya tak termasuk di antara 135 suku yang diakui pemerintah Myanmar.

Dalam sensus penduduk pada Maret 2014, pemerintah Myanmar menyebut mereka keturunan Bengali dan mengharamkan penggunaan sebutan Rohingya. Istilah Bengali ini biasa dipakai pemerintah Myanmar bagi para imigran gelap dari Bangladesh. “Jika satu keluarga ngotot didaftarkan sebagai Rohingya, kami tak akan mencatatnya,” kata Ye Htut, juru bicara pemerintah, kala itu. Tak diakui sebagai penduduk, jutaan muslim Rohingya kehilangan suara.

Sudah lama ada “api” di antara muslim Rohingya dan penganut Buddha di Myanmar. Biarawan-biarawan Buddha garis keras acap meniupkan isu bahwa orang-orang Rohingya berniat merebut tanah dan pekerjaan mereka. Tak sedikit yang termakan “propaganda” anti-Rohingya ini.

“Tak mungkin kami hidup bersama kelompok muslim karena mereka terus menginvasi dan merebut tanah kami,” kata Kyaw Win, warga Maungdaw, dikutip Reuters, beberapa pekan lalu. Gara-gara perseteruan ini, ribuan keluarga minoritas muslim Rohingya terusir dari kampungnya dan sampai hari ini terpaksa tinggal di pengungsian. Hidup mereka terancam dan tak bebas bergerak. Hak mereka dilucuti habis-habisan.

Pengungsi Rohingya di Aceh sedang sembahyang pada Oktober 2015
(GettyImages)

Anak-anak Rohingya di Sittwe, Myanmar
(GettyImages)


Itulah alasan mengapa Rafiq, Hamidullah, dan ribuan orang Rohingya lari dari kampung mereka. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) menaksir, lebih dari 120 ribu Rohingya lari dari Myanmar ke pelbagai negara. Sebagian besar dari mereka kini ada di pengungsian di Malaysia. Ada ribuan lagi orang Rohingya yang tinggal di Amerika Serikat. Nasir bin Zakaria salah satunya.

Nasir lahir dan tumbuh remaja di Buthidoung, Myanmar. Saat umurnya baru 14 tahun, Nasir lari dari Buthidoung setelah lolos dari penculikan kelompok militan anti-Rohingya. Selama hampir 20 tahun, Nasir berpindah-pindah dari Bangladesh, Thailand, dan Malaysia. Untuk menyambung hidup, pekerjaan apa pun dia sambar. Dari pencuci piring di warung makan sampai kuli bangunan.

Enam tahun lalu, Nasir dan keluarganya mendarat di Chicago, Amerika, setelah permohonan suakanya dikabulkan. Itulah pertama kali seumur hidupnya dia melihat salju. “Aku sangat bahagia,” Nasir menuturkan kepada Medill Reports. Sekian tahun hidup terlunta-lunta tanpa punya negara—Myanmar tak mengakui Nasir dan orang Rohingya sebagai warga negara—di Amerika, Nasir bak terlahir kembali.

“Aku tak pernah punya perasaan orang-orang berpikiran, ‘Oh, kamu seorang pengungsi,’” kata Nasir kepada Al-Jazeera. “Inilah hidup baru kami, masa depan kami. Kami bayi yang baru lahir di sini.”

Chicago memang bukan surga. Datang tak punya pekerjaan, Nasir harus berjuang mati-matian untuk menghidupi keluarganya. Bukan hal asing baginya. Tapi di kota itu Nasir diperlakukan sama seperti orang lain. “Di Myanmar, kami tak ada harganya…. Di sini kami bebas menjadi diri sendiri. Sekarang kami punya rumah,” kata Nasir.

Aku merasa sebagai orang Malaysia…. Aku ingin anak-anakku menjadi orang Malaysia.”

Hamida, pengungsi Rohingya di Malaysia

Rohingya Center di Chicago, Amerika Serikat
Foto : MedillReports

Menurut data Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, dalam setahun terakhir hingga September lalu, ada 11.902 pengungsi dari Myanmar yang ditampung Amerika, 2.173 orang di antaranya adalah Rohingya. Di Kota Chicago saja, ada lebih dari 1.000 orang Rohingya. “Selama beberapa tahun terakhir, jumlah pengungsi Rohingya terus bertambah,” kata Melineh Kano, Direktur Eksekutif RefugeeOne, kepada Reuters.

Abdul Hamid, 68 tahun, sudah kenyang menderita selama hidup di Myanmar, juga selama lari ke Thailand dan Malaysia. Bahkan, saat baru berumur 7 tahun pun, dia sudah mencicipi dinginnya lantai penjara. Abdul menyaksikan bagaimana buruknya perlakuan terhadap orang Rohingya di negaranya.

“Mereka memperkosa perempuan dan membunuh orang-orang Rohingya,” kata Abdul. Bersama anaknya, sekarang Abdul menemukan kedamaian di Chicago, ribuan kilometer dari kampung kelahiran. Keluarga Abdul dan Nasir jauh lebih beruntung dari ribuan pengungsi Rohingya lainnya.

Di Malaysia, juga sebagian di Indonesia dan Thailand, masih ada ribuan orang Rohingya yang bertahun-tahun tersekap di kamp pengungsian. Mereka tak bisa membayangkan seperti apa masa depannya. Tak sedikit anak Rohingya yang lahir dan tumbuh besar di pengungsian. Tapi mereka bukan warga Malaysia atau Thailand.

Bagi Hamida, Malaysia adalah tanah airnya. “Aku punya akta kelahiran, tapi di situ tertulis bahwa aku warga Myanmar,” kata Hamida kepada MalaysiaKini. Padahal tak semenit pun dia pernah menginjakkan kaki di Myanmar. Dia lahir dan tumbuh dewasa di Malaysia. “Aku merasa sebagai orang Malaysia…. Aku ingin anak-anakku menjadi orang Malaysia.”


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE