undefined
image 1 for background / image background
image 2
image 3

INTERMESO

Dulu Komik Indonesia Pernah Berjaya

“Hal-hal tertentu yang tahun lalu dianggap porno sekarang mungkin tidak lagi.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 29 Desember 2016

“Tjerita ini disusun untuk mengarahkan pengaruh-pengaruh negatip dari djiwa muda terhadap pengaruh kebudajaan asing…Tjerita bergambar ini menjadi tjambuk. Jang berarti kita tidak perlu mengimport komik-komik dari luar jang kadang-kadang meratjuni djiwa bangsa kita atau setidak-tidaknya tidak tjotjok dengan kepribadian kita.”

Anak-anak sekarang mungkin akan geli membaca kata pengantar di buku komik Ramayana yang terbit di Kota Solo, Jawa Tengah, pada 1962 tersebut. Saat itu, lantaran dianggap bisa mempengaruhi “pikiran” banyak orang, ada “pesan” pemerintah yang kadang “dititipkan”.

Maka tak aneh pula jika penguasa ikut mengatur apa yang boleh dan apa yang tak boleh ada dalam komik. Di Komando Daerah Kepolisian VII Jaya (Komdak VII Jaya), yang membawahi wilayah Jakarta, ada Seksi Bina Budaja yang memberikan izin penerbitan komik. Pada akhir 1960-an, Inspektur Polisi Ma’aroef jadi penanggung jawab Seksi Bina Budaja di Komdak VII Jaya.

Dialah yang menentukan apakah satu gambar adegan kekerasan perlu diperhalus atau satu adegan di atas kasur yang harus disamarkan. Sebagai “polisi moral” di atas komik, menurut Inspektur Ma’aroef, dia harus mengikuti perkembangan. “Hal-hal tertentu yang tahun lalu dianggap porno sekarang mungkin tidak lagi…. Pendapat masyarakat berubah,” kata Inspektur Ma’roef, dikutip Marcel Bonneff dalam bukunya, Komik Indonesia.

Komik-komik karya Hans Jaladara
Foto: Sapto Pradityo/detikX

Beberapa komikus yang “bandel” dan suka menyerempet “bahaya” kadang seperti sengaja mencari masalah dengan Seksi Bina Budaja. Komikus-komikus jenis ini tahu persis bahwa “standar moralitas” yang dipakai mengukur kelayakan komik sangat lentur, gampang melar mengikuti perkembangan zaman.

Lantaran di Bandung kala itu lebih gampang dan lebih cepat untuk mendapatkan izin menerbitkan komik, tak sedikit perusahaan yang memilih “mendaftarkan” komiknya di Kota Kembang ketimbang di Jakarta.

* * *

Berkat komik, saya bisa beli rumah, mobil, dan truk Datsun.”

Hans Jaladara, komikus serial Panji Tengkorak

Bicara komik Indonesia tak bisa lepas dari Raden Ahmad Kosasih, yang sering dianggap sebagai Bapak Komik Indonesia. Tapi belasan tahun sebelum Kosasih menerbitkan Sri Asih, komik pertamanya, sudah ada komikus-komikus Indonesia yang menggambar komik strip untuk koran dan majalah.

Sejak 1931, Kho Wan Gie rutin menggambar komik Si Put On di harian Sin Po. Put On, Wan Gie menggambarkan, adalah seorang bujang tua yang selalu gagal dalam urusan hubungan asmara. Komik karya seniman kelahiran Indramayu, Jawa Barat, ini dimuat setiap hari Kamis dan bertahan hingga awal 1960-an.


Komikus lain yang sezaman dengan Wan Gie adalah Siauw Tik Kwie. Tik Wie, yang lahir dan tumbuh besar di Surakarta, Jawa Tengah, bersahabat karib dengan Wan Gie. Sementara Wan Gie menggambar untuk harian Sin Po, Tik Wie menggambar komik untuk harian Sin Tit Po, yang terbit di Surabaya, dan Siang Po di Jakarta.

Pada periode 1930-1950, memang masih banyak komikus Indonesia berlatar belakang keturunan Tionghoa. Hanya ada segelintir komikus non-Tionghoa, salah satunya Nasrun A.S. asal Solo dan B. Margono dari Yogyakarta. Pada 1939, Nasrun menerbitkan komik Mentjari Poetri Hidjaoe di harian Ratoe Timoer. Tiga tahun setelah karya Nasrun, harian Sinar Matahari di Yogyakarta mulai memuat komik Roro Mendut karya B. Margono.

Karya-karya Kosasih-lah yang jadi awal bagi terbitnya komik Indonesia dalam bentuk buku. Tak lama setelah Kosasih, komikus-komikus lain, seperti Saleh Ardisoma dan komikus keturunan Jawa kelahiran Suriname, Taguan Hardjo, menyusul menerbitkan karyanya. Tak seperti Kosasih dan Ardisoma yang beberapa kali memilih topik cerita wayang yang populer di Indonesia, Taguan yang tak akrab dengan kisah wayang kadang memilih tema-tema tak biasa.

Toko komik di Semanggi
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Misalnya dalam Batas Firdaus, Taguan menceritakan kehidupan setelah perang nuklir. Peradaban hancur dan kehidupan nyaris punah. Hanya ada seorang ayah bersama putrinya yang terdampar di satu pulau kosong. Benak sang ayah galau. Dia berpikir, apakah hubungannya dengan anaknya akan terus normal layaknya seorang bapak dan anak? Atau apakah mereka berdua harus melaksanakan kewajiban untuk meneruskan kehidupan manusia di bumi?

Akhir 1960-an hingga awal 1980-an merupakan masa-masa komik Indonesia berjaya di negeri ini. Penerbit komik, seperti Melodie, Sastra Kumala, dan Eres, tumbuh subur, demikian pula isi kantong komikus yang laris, seperti Ganes T.H., Hans Jaladara, Jan Mintaraga, Hasmi, Mansyur Daman, Zaldy, Teguh Santosa, dan Tatang Suhenra.

Hans Rianto Sukandi, yang lebih dikenal sebagai Hans Jaladara, mulai menggambar komik sejak 1966. Kala itu umurnya baru 19 tahun. Komik pertama Hans, Hanja Kemarin, diterbitkan oleh PT Dasa Warga, Jakarta, pada 17 April 1966. Saat itu memang masanya komik cinta-cintaan.

Komik-komik Hans, kini 69 tahun, laris manis di pasar. Apalagi setelah dia menerbitkan komik silat serial Panji Tengkorak pada 1968. Serial Panji Tengkorak ini sempat difilmkan pada 1971 dengan bintang utama Deddy Sutomo dan Lenny Marlina. Pesanan komik dari penerbit terus mengalir. Isi kantong Hans tentu saja makin gemuk. “Berkat komik, saya bisa beli rumah, mobil, dan truk Datsun,” kata Hans beberapa pekan lalu.

Komik Mahabharata karya R.A. Kosasih
Foto : Rengga Sancaya/detikcom

Hans dan komikus-komikus Indonesia sempat belasan tahun mencicipi masa-masa indah itu sebelum akhirnya manga merontokkan komik Indonesia. Sekarang generasi baru komikus Indonesia, seperti Beng Rahadian, Is Yuniarto, dan Chris Lie, berjuang kembali untuk menjadi tuan di negeri sendiri.

Sekarang, menurut Beng Rahadian, komikus sekaligus dosen di Institut Kesenian Jakarta, kesempatan merebut pasar bagi komik Indonesia sangat besar lantaran ada kecenderungan penurunan penetrasi komik luar. “Walaupun porsinya masih banyak di rak-rak toko buku,” kata Beng. Apalagi komik lokal punya keunggulan. “Karena kebanyakan komik lokal ini berbicara persoalan sehari-hari.”


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE