INTERMESO

‘Pendekar’ Komik Indonesia Terakhir

Hans “Panji Tengkorak” Jaladara dan Mansyur “Mandala Siluman Sungai Ular” Daman terus berkarya sampai tua. Karya-karyanya makin matang.

Ilustrasi: Hans Jaladara dan Bumi Langit

Jumat, 30 Desember 2016

Seperti inilah jika “pendekar” komik silat berbisnis. Tak perlu di hotel atau kantor yang adem, di warung makan Tegal alias warteg pun jadi. Tak perlu banyak basa-basi. Tak ada tawar-menawar harga bertele-tele.

Suatu kali pada akhir 1980-an, Mansyur Daman, kini 69 tahun, berniat pulang ke rumahnya di daerah Ciputat, Tangerang Selatan. Seniman komik itu baru turun dari bus kota. Dari halte bus ke rumahnya, masih butuh beberapa ratus meter lagi berjalan kaki masuk ke dalam gang.

Di pemberhentian bus itu, komikus serial Mandala Siluman Sungai Ular ini mendengar ada seorang laki-laki mencarinya. “Dia bertanya ke orang-orang di mana rumah Mansyur Daman,” kata Mansyur beberapa pekan lalu. Rupanya laki-laki itu seorang produser film, Ray Kishore dari Kanta Indah Film.

Dia mencari Mansyur karena berniat memfilmkan salah satu komik karyanya. Walaupun asing dengan dunia film, nama Mansyur sudah lumayan dikenal. Saat itu, sudah ada tiga komiknya yang naik ke layar bioskop: Midah Perawan Buronan dan Kupu-kupu Beracun yang disutradarai Fritz G. Schadt, dan Golok Setan yang disutradarai Ratno Timoer.

Kishore dan Kanta Indah berniat memfilmkan komik Mandala. Bintang film-film laga, Barry Prima, akan jadi pemeran utama. “Di dekat halte itu saya lihat ada warteg…. Saya ajak Kishore masuk warung,” Mansyur menuturkan kisahnya dengan sedikit geli.

Golok Setan karya Mansyur Daman
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Tanpa perlu berlembar-lembar dokumen, tak usah didampingi segala macam pengacara, hanya beberapa menit bercakap, Mansyur dan Kishore bersalaman. Di warteg itu, harga untuk memfilmkan Mandala disepakati. “Keesokan harinya, saya tinggal datang ke kantor mereka untuk mengambil uangnya,” kata Pak Man. Beres.

Sudah lebih dari setengah abad, Pak Man, teman-temannya biasa menyapa Mansyur, menggambar komik. Komik pertamanya, komik horor Istana Hantu, diterbitkan oleh PT Rose pada 1965. Tenaganya memang tak lagi muda. Umur tak bisa dikelabui. Tapi semangatnya masih sama dengan semangat Mansyur Daman setengah abad lalu. Justru goresan pensilnya makin mantap.

“Sekarang satu jam duduk sudah harus bangun. Kalau dulu, duduk dan enggak bangun-bangun,” Mansyur tertawa. “Dulu saya bisa sangat produktif. Tapi kalau saya perhatikan gambarnya kurang teliti. Dan dulu tega-tega saja, gambar dengan latar belakang kosong…. Sekarang saya makin teliti dan bertanggung jawab.”

* * *

Pada pertengahan 1960-an hingga awal 1980-an, “dunia persilatan” komik Indonesia dikuasai oleh beberapa “pendekar”. Ada yang menyebut Lima Besar, ada pula yang bilang Tujuh Besar, seniman komik Indonesia kala itu. Sebutan itu rasanya tak penting-penting amat.

Mansyur Daman
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

“Waktu muda dulu, saya bisa seminggu enggak nginjak jalan.

Hans Jaladara, komikus Panji Tengkorak

Mereka adalah Ganes Thiar Santoso alias Ganes T.H., Jan Mintaraga, Hans Jaladara, Zaldy Armendaris, Sim alias Sim Kim Toh, Djair Warni, dan Mansyur Daman. Ganes kondang dengan serial Si Buta dari Gua Hantu, yang konon laku hingga ratusan ribu eksemplar. Hans besar oleh kisah Panji Tengkorak. Siapa pula tak kenal Jaka Sembung karya Djair? Inilah masa-masa jaya komik Indonesia.

Serial Mandala yang digambar Mansyur Daman, juga Si Buta, Panji Tengkorak, Jaka Sembung, dan sebagainya, sudah berkali-kali naik ke layar bioskop, juga masuk televisi. Bahkan Si Buta Barda Mandrawata paling tidak sudah tujuh kali dibuat versi film layar lebarnya.

Sekarang hanya tinggal Hans Jaladara dan Mansyur Daman yang masih hidup dan terus menggambar komik. Ganes meninggal pada 1995, disusul Jan Mintaraga empat tahun kemudian. Djair ‘Jaka Sembung’ Warni meninggal tiga bulan lalu di Jakarta.

Hans lahir di pengungsian di Kota Yogyakarta, tapi tumbuh besar di daerah Petojo, Jakarta Pusat. Kebetulan rumahnya tak jauh dari dua komikus lain, Ganes dan Zaldy. Komik karya pertamanya, komik roman Hanja Kemarin, terbit pada April 1966. Entah sudah berapa banyak komik yang digambar Hans. “Saya tak ingat lagi,” kata Hans awal Desember lalu. Bahkan karyanya sendiri banyak yang tak lagi dimiliki oleh Hans. “Waktu muda dulu, saya bisa seminggu enggak nginjak jalan.”

Mulanya dia banyak menggambar komik roman. Setelah Si Buta karya Ganes meledak di pasar buku, penerbit meminta Hans juga membuat komik silat. Maka lahirlah serial Panji Tengkorak pada 1968. Komik Panji serta kelanjutannya, Pandu Wilantara dan Si Rase Terbang, sudah beberapa kali digambar ulang dan diterbitkan kembali.

Hans Jaladara
Foto: Sapto Pradityo/detikX

“Ada yang mengkritik versi ketiga mirip dengan manga,” kata Hans. Kemiripan dengan gaya manga ini, menurut Hans, dia buat atas permintaan penerbit. Saat itu, pertengahan 1990-an, Indonesia memang tengah diserbu manga. Pendekar-pendekar komik lama seperti Hans, mau tak mau, harus beradaptasi dengan selera pasar untuk bertahan hidup.

Ketika manga menyerbu Indonesia, komik Indonesia yang sudah agak lesu makin lunglai lagi. Tak sedikit komikus yang kehilangan pekerjaan. Hans bertahan dengan menerbitkan ulang beberapa komiknya yang ngetop. Dia juga menggambar beberapa komik baru, seperti Wonder V, Roy, dan Zira.

Pak Man terselamatkan oleh industri periklanan. Sembari terus menggambar komik, Mansyur juga bekerja lepas untuk biro-biro iklan. “Di biro iklan, pekerjaannya enggak banyak, tapi gajinya gede,” kata Mansyur. Dia juga ikut merancang beberapa wahana di Dunia Fantasi di Ancol.

Selama setahun, Pak Man juga pernah jadi orang kantoran, bekerja sebagai karyawan di perusahaan animasi, PT Tunas Pakar Integraha. “Saya berangkat pagi, pakai sepatu,” kata Mansyur. Padahal selama puluhan tahun dia hanya “berkantor” di rumah. Sehari-hari baju “seragam”-nya hanyalah sarung. “Anak saya sampai menyangka saya tak punya pekerjaan.”

Tapi dasar seniman, dia tak tahan lama bekerja dalam kantor. Bukan hanya soal kerja yang monoton yang bikin dia bosan, tapi terutama soal kepuasan dalam berkarya. Di bisnis animasi, goresan tangan Mansyur harus melalui beberapa tangan lagi hingga dapat hasil akhir. Walhasil, jejak karyanya nyaris tak lagi kelihatan. Pak Man pun memilih keluar dan kembali ke dunia komik.

Komik Panji Tengkorak karya Hans Jaladara
Foto: Sapto Pradityo/detikX

Stamina pendekar-pendekar komik tua seperti Hans dan Mansyur barangkali sudah tak seperti dulu. Tapi karya mereka justru makin matang oleh pengalaman. Kalau Hans memilih menerbitkan sendiri komiknya—komik terbaru Hans, Tridas, segera terbit—Mansyur justru ketiban banyak pesanan.

Sekarang saja, selain bekerja untuk majalah komik dari Amerika Serikat, Creeps, jasa Mansyur dipakai oleh beberapa museum. Museum Sumpah Pemuda dan Museum Proklamasi, misalnya, memesan puluhan komik untuk digarap Mansyur. Dua museum itu meminta Pak Man menggambar komik kisah hidup masing-masing tokoh yang terlibat dalam Sumpah Pemuda tahun 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

“Andi pernah menawari saya apakah mau menggarap satu pekerjaan lagi,” kata Mansyur menunjuk Andy Wijaya, Direktur Kreatif Bumi Langit, studio komik di Jakarta. Apa daya, tangannya cuma dua.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mapapa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE