INTERMESO

Kisah Para Tukang Cukur Langganan Presiden RI

"Diberi kesempatan memotong rambut Presiden merupakan kebanggaan tersendiri dan tak ternilai."

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 5 Januari 2017

Suatu sore, mobil voorijder polisi melaju kencang dengan sirene yang meraung dari Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Seolah tak mau kalah, satu mobil membuntuti di belakang sama kencangnya. Dua mobil ini tancap gas menuju Istana Negara.

Bukan seorang menteri atau perwira tinggi yang dibawa mobil-mobil ini, melainkan seorang ahli pangkas rambut lengkap dengan semua peralatannya. "Saya mendadak diminta segera ke Istana Negara beberapa hari sebelum masuk puasa kemarin," ujar Herman, tukang pangkas rambut itu, saat menceritakan kisahnya kepada detikX di Jakarta dua pekan lalu.

Begitu sampai Istana Negara, Herman setengah berlari masuk ditemani anggota Pasukan Pengamanan Presiden. "Sampai-sampai tak melewati pemeriksaan lagi," katanya. Ia langsung diminta menuju ruangan yang sudah disiapkan protokoler Istana. Saat Herman menyiapkan peralatannya, Presiden Joko Widodo datang dan langsung duduk di kursi menghadap cermin besar. Tak banyak bicara lagi, Herman segera “memainkan” alat cukurnya, memangkas rambut Presiden Republik Indonesia.

Pria asal Kampung Bantarjati, Banyuresmi, Garut, Jawa Barat, ini sudah lebih dari tiga tahun dipercaya menjadi tukang pangkas rambut orang nomor satu di negeri ini, sejak Presiden Jokowi masih menjabat Gubernur DKI Jakarta. Herman masih ingat betul saat pertama kali diminta merapikan rambut Jokowi. "Ditunjuk pemilik barbershop tempat saya bekerja," ujar pria berusia 38 tahun itu.

Herman, tukang pangkas rambut langganan Presiden Jokowi
Foto: Pasti Liberti/detikX

Herman bekerja di Shortcut Barberia, Grand Indonesia. Kebetulan anak bungsu Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep, acap kali memangkas rambutnya di Shortcut Barberia saat sedang berada di Jakarta. "Mas Kaesang juga kenal dengan Pak Marcello Decaran, pemilik Shortcut," kata Herman. Kaesang pulalah yang memperkenalkan tukang cukur langganannya itu kepada ayahnya. Kebetulan Jokowi memang sedang mencari tukang potong rambut.

Marcello, yang kemudian menerima permintaan ajudan Jokowi via telepon, meminta Herman segera bersiap menuju rumah dinas Gubernur Jakarta di Taman Suropati. "Pak Marcello sendiri yang antar," kata Herman. Mereka tiba di rumah dinas sekitar pukul 15.00 WIB. Rupanya Jokowi belum tiba. Hujan yang turun pada bulan Januari 2013 menimbulkan genangan tinggi di berbagai wilayah di Jakarta. Herman harus menunggu dua jam karena Jokowi sibuk memantau kondisi Ibu Kota. "Beliau tidak minta model macam-macam, hanya minta dirapiin. Tak butuh lama, hanya 15 menit."

Ternyata Jokowi merasa cocok dengan kelihaian Herman memainkan gunting. Sejak hari itu, secara rutin sebulan sekali, Herman dipanggil ke rumah dinas gubernur. Ketika Jokowi akhirnya terpilih menjadi presiden, Herman tak menyangka masih mendapat kepercayaan tersebut. "Saya juga kaget. Kirain sudah enggak dipakai lagi," ujar ayah satu anak itu.

Banyak yang nanya, Pak SBY kasih apa saja. Saya bilang bayarannya ya dikasih kepercayaan.”

Agus Wahidin, tukang cukur langganan SBY




Agus Wahidin, tukang cukur langganan mantan presiden SBY
Foto: Pasti Liberti/detikX

Malam hari setelah Jokowi dilantik, Herman diminta datang ke Istana Negara. Kali ini bukan gubernur yang menjadi kliennya, melainkan penguasa Republik. "Deg-degan banget. Walaupun udaranya dingin, tetap saja keringetan. Padahal sudah biasa motong beliau," kata Herman. Empat prajurit Paspampres berjaga di sudut ruangan. "Pak Jokowi sih biasa saja, tetap ramah dan tidak berubah."

Bagi Herman, bukan jumlah duit yang membuatnya selalu memangkas rambut Presiden Jokowi dengan takzim. Baginya, kepercayaan yang diberikan Jokowi merupakan sesuatu yang tak bisa diukur dengan materi. "Diberi kesempatan memotong rambut Presiden merupakan kebanggaan tersendiri dan tak ternilai," kata Herman.

* * *

Beberapa hari lalu, Ani Yudhoyono mengunggah foto suaminya, mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang tengah dicukur rambutnya di Instagram.

Dia menulis, "Bapak dari Garut inilah yang paling berani pegang kepala SBY", "This is the man from Garut who's so brave to touch SBY's head." Siapa laki-laki “pemberani” itu?

Namanya Agus Wahidin, 49 tahun. Sama seperti Herman, Agus seorang “Asgar” alias “Asli Garut”. Agus berasal dari Kampung Parung, yang letaknya bersebelahan dengan Kampung Bantarjati. Kedua kampung yang terletak di Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, ini memang dikenal sebagai kampungnya tukang pangkas rambut.

Muhammad Nasim, tukang cukur langganan mantan presiden B.J. Habibie
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Sudah hampir 12 tahun SBY menggunakan jasa tukang pangkas asal Garut itu. Agus “kenal” dengan Presiden SBY lewat Suripto, pegawai di kantor Sekretariat Negara yang jadi pelanggan setianya. Saat itu Susilo Bambang Yudhoyono baru enam bulan dilantik menjadi Presiden Indonesia. "Waktu itu tukang potong rambut Pak SBY lagi sakit. Pak Suripto lalu merekomendasikan saya kepada Bagian Rumah Tangga Kepresidenan," Agus menuturkan dua pekan lalu.

Suatu sore, Suripto menelepon Agus, yang saat itu masih bekerja di Paxi Barbershop, Plaza Senayan, Jakarta. Dia minta Agus segera berkemas. Tak lama kemudian, ajudan Presiden datang menjemputnya. Saat Agus memasuki satu ruangan di Istana Negara, Presiden SBY sudah duduk di sebuah kursi. Ibu Negara Ani Yudhoyono dan beberapa anggota Paspampres juga berada di dalam ruangan itu. "Sebelum masuk, saya sudah dipesan agar tidak grogi," kata Agus, yang sekarang bekerja di Crownpax Barbershop di Mal Ratu Plaza, Jakarta.

Agus segera mengeluarkan semua peralatan cukur yang ia bawa. Kemudian meminta izin kepada SBY untuk membungkus badannya dengan kain penutup. Seraya meminta maaf, ia memegang kepala SBY. "Saya sih tidak grogi, tapi sempat terdiam mikir model paling baik untuk rambut beliau,” kata Agus. Ani Yudhoyono-lah yang jadi “pengarah model” rambut untuk Presiden. “Bu Ani ngarahin bagian belakangnya agak pendek sedikit, bagian sampingnya juga dirapikan." 

Agus hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk merapikan rambut Presiden SBY. Ani Yudhoyono, yang ikut menunggu di ruangan itu, juga tampak puas. "Besok-besok potong model begini lagi," ujar Agus menirukan Ani Yudhoyono. Begitu tiba di rumahnya, semalaman Agus tak bisa memejamkan mata. "Saya tidak membayangkan bisa mencukur Presiden. Soalnya, belum pernah tukang cukur dari Garut bisa megang kepala Presiden."

Agus Wahidin mencukur rambut SBY
Foto: dok. Instagram Ani Yudhoyono

SBY rupanya senang dengan hasil potongan Agus. Sekitar dua minggu kemudian, ajudan Presiden menghubunginya. Agus diminta datang ke kediaman Presiden SBY di Cikeas, Bogor. "Sejak saat itu sampai sekarang, saya selalu dipanggil untuk mencukur beliau," kata Agus.

Merasa mendapat kepercayaan dan kehormatan, Agus berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada Presiden. Ia menguras uang tabungannya membeli satu set peralatan cukur terbaik di Pasar Baru. Gunting sasak merek Dovo dibelinya dengan harga Rp 2,5 juta. 

"Sengaja saya siapkan secara khusus. Nanti, kalau saya pensiun, gunting ini akan menjadi benda-benda bersejarah," ujar Agus. Bagi Herman, juga bagi Agus Wahidin, yang mengawali profesinya sebagai tukang potong rambut keliling di wilayah Pondok Pinang dan Pondok Indah pada 1988, mendapat kepercayaan presiden merupakan bayaran yang tak bisa dinilai dengan apa pun.

"Banyak yang nanya, Pak SBY kasih apa saja. Saya bilang bayarannya ya dikasih kepercayaan. Kepercayaan itu tidak sembarang orang bisa dapatkan. Jangan sampai saya menodai kepercayaan itu," kata Agus.

Lain pula kisah perkenalan Muhammad Nasim, 77 tahun, tukang cukur paling senior di Pax Wijaya, Jakarta Selatan, dengan B.J. Habibie, presiden ketiga Indonesia. Nasim kenal Habibie lewat adiknya, Suyatim “Timmy” Habibie. Timmy sudah lama jadi langganan Nasim.

Suasana barbershop Pax Wijaya, yang menjadi langganan para pejabat
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Selama bertahun-tahun rambut Habibie selalu dicukur oleh istrinya, Ainun. “Setelah istrinya meninggal, beliau bingung mau cukur di mana,” kata Nasim. Timmy-lah yang memberikan nama Nasim kepada kakaknya itu. Nasim menuturkan tak pernah membayangkan suatu kali nanti bakal mencukur rambut seorang mantan Presiden Indonesia.

Tak berapa lama setelah Ainun meninggal, telepon di Pax Wijaya berdering. Di ujung sana ternyata ajudan Habibie. Nasim diminta segera mengemasi alat-alat cukurnya. Satu mobil dikirim untuk membawa Nasim ke rumah Habibie di bilangan Kuningan.

Habibie tak pesan macam-macam kepada Nasim. Sebagai tukang cukur yang sudah puluhan tahun memegang gunting, hanya sekilas melihat rambut dan bentuk kepala Habibie, dia sudah tahu model seperti apa yang cocok untuk mantan Presiden Indonesia ini. “Karena rambut di samping kiri dan kanan sudah tipis dan di atasnya botak, jadi tinggal dirapikan saja…. Saya agak grogi juga awalnya. Tapi sekarang sih sudah lancar,” kata Nasim.

Kini setiap dua bulan sekali, ajudan mantan presiden Habibie datang menjemput Nasim. “Setiap datang, saya selalu ditanya bagaimana keadaan anak dan cucu di kampung. Saya juga enggak beranilah ngomong macam-macam. Namanya juga rakyat kecil, takut salah ngomong,” ujar Nasim. Biasanya, setiap kali selesai mencukur Habibie, Nasim membawa pulang Rp 500 ribu, lebih dari enam kali lipat ongkos mencukur di Pax Wijaya. “Pulang dari sana setelah mencukur pun saya kadang masih bengong, enggak nyangka barusan mencukur rambutnya Pak Habibie.”


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa, Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE