INTERMESO

Tukang Cukur Jenderal, Artis, dan Menteri

“Saya sudah jadi tukang cukur sejak masih bujangan sampai punya cucu dan cicit.”

Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Kamis, 5 Januari 2017

Meski sebagian besar rambut di kepalanya sudah memutih, tangan Muhammad Nasim masih sangat lincah dan sigap memainkan gunting cukur. Sementara tangan kanan memegang gunting, tangan kirinya mengayunkan sisir mengikuti arah rambut. Tiga tahun lagi, usia Nasim akan berkepala delapan.

Sudah lebih dari setengah abad Nasim menjadi tukang cukur di Jakarta. “Saya sudah jadi tukang cukur sejak masih bujangan sampai punya cucu dan cicit,” kenang Nasim, 77 tahun, saat mengisahkan perjalanan kariernya.

Ke mana dia mesti mengarahkan gunting dan sisir, Nasim sudah tak banyak pikir lagi. Semua alat itu seolah bergerak otomatis. Sembari menggunting dan menyisir, dia masih mengobrol santai dengan pelanggannya. Hari itu orang yang dia cukur rambutnya seorang pengacara senior. Sudah 20 tahun dia jadi pelanggan Nasim. Tak aneh jika mereka bercakap seperti dua sahabat yang lama tak bertemu.

Pertama jadi tukang cukur di Jakarta pada 1965, Nasim bekerja di pangkas rambut Pax di bilangan Blok M, Jakarta Selatan. Pelanggannya dari rupa-rupa kalangan. Ada pengacara, jenderal, sampai seorang menteri. Adalah Sujudi, mantan Rektor Universitas Indonesia, yang kemudian diangkat Presiden Soeharto sebagai Menteri Kesehatan, yang mengubah jalan nasib Nasim dan teman-temannya.

Tukang cukur Pax Wijaya sedang melayani pelanggan
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Suatu kali pada awal 1990-an, Sujudi datang untuk pangkas rambut di Pax. Sujudi bukan orang baru bagi Nasim. Seperti biasa, sembari merapikan rambut Sujudi, Nasim bercakap-cakap dengannya. “Beliau tanya, ‘Kamu kan sudah lama kerja, kenapa masih jadi tukang saja?’ Saya bilang punya modal dari mana, Pak? Terus beliau tanya lagi, 'Kamu mau usaha enggak?’” Nasim mengenang.

Dia sempat tertegun mendengar pertanyaan itu. Sujudi menawarkan bantuan untuk mencarikan modal bagi Nasim dan teman-temannya. Dengan senang hati, Nasim menerima tawaran sang menteri. Berkat bantuan Sujudi, Nasim dan enam tukang cukur Pax mendapatkan pinjaman modal Rp 175 juta dari Bank BNI.

“Per bulan kami balikin Rp 7 juta. Lancar dan enggak pernah menunggak,” kata Nasim. Bersama enam temannya, Nasim merintis pangkas rambut Pax Wijaya di Jalan Wijaya, Jakarta Selatan. Ketika Pax di Blok M tutup lantaran keluarga pemilik tak berminat meneruskan usaha, Pax Wijaya terus bertahan sampai hari ini.

Sebagian pelanggan Pax Blok M pun ikut boyongan ke Pax Wijaya. Pada masa jayanya, Nasim dan teman-temannya sanggup melayani 600 orang sehari dengan 25 tukang cukur. Pelayanan yang ia berikan pun tetap sama. Begitu pelanggannya memerintah “dirapikan saja, Pak”, Nasim sudah tahu harus berbuat apa. Tak perlu diskusi soal model rambut. Hanya dengan melihat bentuk kepala dan rambutnya saja, Nasim sudah paham seperti apa model rambut yang cocok.

“Kami di sini sudah seperti saudara senasib sepenanggungan. Walaupun pelanggan ada yang enggak puas, kita selesaikan sama-sama,” ujar Nasim, yang menjadi tukang cukur paling senior di PAX Wijaya.

Seiring dengan makin berumurnya Nasim dan teman-teman, masa jaya Pax Wijaya pun ikut surut. Dari hari ke hari, jumlah pelanggan makin surut. “Saya bisa mencukur sepuluh orang dalam sehari itu sudah alhamdulillah,” kata Yaya Sunarja, tukang pangkas yang sudah 15 tahun bekerja di Pax Wijaya.

Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Dia cuma bilang, ‘Buatin potongan rambut sopir Kopaja orang Batak.’ Gimana tuh caranya?"

Dimas Bayu Khanafi alias Beka, salah satu tukang cukur Good Willie Barbershop

Tapi sebagian pelanggan mereka, yang sudah bertahun-tahun percaya kepada Nasim dan teman-temannya, masih tetap setia. Nasim, misalnya, masih terus dipercaya mantan presiden B.J. Habibie. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo juga sesekali masih datang ke Pax Wijaya.

Yaya juga masih rutin diminta datang ke rumah keluarga Jenderal (Purnawirawan) Agum Gumelar, mantan Menteri Perhubungan. Bukan hanya Agum yang dipotong rambutnya oleh Yaya, tapi juga menantunya, Taufik Hidayat, juara dunia bulu tangkis dan pemegang medali emas di Olimpiade Athena 2004.

“Kebanggaan bagi kami sebagai tukang pangkas rambut bisa melayani tamu dari kalangan biasa, dari pejabat, sampai jenderal,” ujar Yaya, tukang cukur rambut asli Garut, Jawa Barat.

* * *

Salah satu slogan yang dipasang di dinding Good Willie Barbershop memelesetkan slogan kampanye Donald Trump: We Make Your Hair Great Again. Salon cukur rambut ini baru berumur tiga tahun, tapi sejumlah artis jadi pelanggannya, misalnya Teuku Rifnu Wikana, Didin Bagito, dan Pasha van Krab.

Teuku Rifnu, yang main dalam film Jokowi, Untuk Angeline, dan Sepatu Dahlan, datang ke Good Willie dengan permintaan model rambut yang tak biasa. “Dia minta potong rambut untuk perannya di film. Dia cuma bilang, ‘Buatin potongan rambut sopir Kopaja orang Batak.’ Gimana tuh caranya? Ya, saya coba saja kreasiin sendiri. Untungnya, dia puas dan saat syuting pun enggak diubah lagi gaya rambutnya,” Dimas Bayu Khanafi alias Beka, salah satu tukang cukur Good Willie, menuturkan.

Demi Good Willie, Egi Widya Nur Iqbal, salah satu pendirinya, terbang ke Belanda untuk “belajar” dari Schorem Haarsnijder & Barbier, salon pangkas rambut laki-laki di Kota Rotterdam. Schorem mengaku sebagai old school men-only barbershop in the heart of the working class city of Rotterdam.

Dimas Bayu Khanafi (Beka) dan Detta
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Kebetulan Egi mendapat “perintah” dari dosennya di Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, untuk melancong ke luar negeri. “Schorem itu idola banget karena di Belanda mereka sudah jadi barbershop trendsetter. Makanya, begitu ada kesempatan tugas kuliah ini, saya manfaatkan buat berguru ke sana,” ujar Egi.

Umur Schorem baru enam tahun, tapi pengunjungnya luar biasa. Pelanggannya bukan cuma orang Belanda, tapi juga datang dari negara-negara Eropa, seperti Belgia dan Swiss. Mereka rela antre sejak pagi hanya untuk potong rambut di Schorem. Pertama ke Schorem, Egi datang pukul 9 pagi. Antrean sudah mengular panjang.

“Pas saya tanya kapan bisa cukur? Mereka jawab harus tunggu sampai jam 4 sore,” kata Egi. Baru keesokan harinya, Egi datang lebih pagi dan bisa bercukur di Schorem. Ongkosnya 35 euro atau hampir Rp 500 ribu.

Berbekal ilmu dari Schorem, Egi dan Hari menerapkan konsep potongan rambut klasik di Good Willie. Gaya rambut ikon Rockabilly, yang sempat ngetop pada 1950-an, merupakan salah satu model andalan Egi. Gaya jambul Pompadour ala penyanyi Elvis Presley juga banyak disukai pelanggan mereka.

“Pompadour klasik, Faux Hawk, Under Cut, model yang kami adopsi dari Schorem itu mirip model rambut di zaman perang. Di sini kami kombinasikan unsur modern. Untuk Pompadour, kami bentuk supaya jambulnya enggak terlalu tinggi,” kata Hari Budiarto, pendiri Good Willie.

Egi Widya Nur Iqbal dan Hari Budiarto, pendiri Good Willie Barbershop
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Piagam penghargaan yang diperoleh Good Willie Barbershop
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Sekarang ada dua kapster di Good Willie. Menurut Egi, dia tak memilih kapster yang telah pandai mencukur. Salah satu pencukurnya bahkan seorang mantan narapidana. “Kami dari awal memang enggak mencari yang mahir. Asalkan mereka niat mau belajar, mahir itu urusan belakangan,” kata Egi.

Salah satu kapster, Beka, sudah dua tahun bekerja di Good Willie Barbershop. Meski awalnya tak memiliki kemampuan mencukur, Beka justru berhasil meraih juara IV dalam kompetisi The 1st Gatsby Barber Competition setahun lalu. Ia berhasil menyisihkan 80 peserta se-Jabodetabek dengan membawakan cukuran klasik dan freestyle.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE