James-Bond-Mencari-Banci

INTERMESO

‘James Bond’
Mencari Banci

“Kalau disuruh jalan, ya jalan. Kalau mengharuskan lari, ya kita lari juga. Dia manjat tembok, ya kita ikut manjat tembok juga.”

Ilustrator: Edi Wahyono

Rabu, 18 Januari 2017

Ada-ada saja kasus yang datang ke Eye Detective. Satu kali, ada seorang laki-laki kelahiran Indonesia yang sudah puluhan tahun tinggal di Kanada menghubungi Eye Detective. Dia sudah lama menjadi warga negara Kanada, tak menikah dan tak punya anak.

Bertahun-tahun banting tulang dan hidup sendiri, dia punya banyak harta. Tapi penyakit jantung yang sudah lama menggerogoti kesehatannya membuat dia cemas. Jika mati mendadak, akan diberikan kepada siapa gedung apartemen dan semua hartanya. Satu-satunya saudara di Indonesia sudah 40 tahun tak dia ketahui lagi jejaknya.

Laki-laki itu menyewa jasa Eye Detective untuk menelusuri jejak saudaranya tersebut. Dia berniat mewariskan semua hartanya kepada adiknya itu. “Kami sudah seperti pegang kunci harta karun,” kata Jessica Putri, detektif di Eye Detective, beberapa pekan lalu. Bagaimana cara Jessica dan timnya mencari jejak orang yang sudah “hilang” puluhan tahun?

“Ternyata kami bisa menemukan target hanya dalam lima hari,” Jessica menuturkan. Sang adik, menurut Jessica, ternyata pernah sakit hati dengan orang tuanya. Dia minggat dari rumah. Kliennya itu sampai terheran-heran saat Jessica dan tim Eye Detective berhasil menemukan adiknya. “Namanya juga sudah 40 tahun, wajahnya saja sudah banyak berubah. Tempat tinggalnya juga tak mirip lagi dengan kondisi dulu.”

Jessica, 23 tahun, sudah lumayan senior di bisnis detektif. Lulusan sastra Inggris ini sudah lima tahun jadi detektif. Sebelum jadi detektif, dia pernah kerja sebagai penerjemah. “Saya bosan kerja monoton,” kata dia. Dari seorang teman, dia mendengar satu lowongan yang tak biasa dan tentu saja jauh dari monoton: menjadi detektif bak Sherlock Holmes. Bukan nilai kuliah atau gelar yang penting untuk menjadi detektif. “Teman saya bilang, yang dicari itu mental dan kecepatan analisis.”

Tak hanya butuh nyali dobel, pekerjaan ini memang perlu kecepatan berpikir dalam setiap situasi. Dia juga harus luwes seperti bunglon, siap menjadi apa saja untuk mendekati target. “Perempuan kan juga bisa ngerayu,” kata Jessica. Satu keahlian yang sangat diperlukan dalam bisnis mata-mematai ini.

Suatu kali seorang klien warga negara asing minta Jessica menelusuri jejak “istri”-nya di Surabaya. Ternyata perempuan itu bekerja di kawasan lokalisasi Dolly. Dengan usia yang masih muda dan punya penampilan menarik, Jessica gampang sekali masuk Dolly.

“Saya mau enggak mau harus menyamar jadi pekerja seks juga, karena saya harus bisa dekat sampai tahu identitas dia yang sebenarnya,” Jessica menuturkan. Perempuan itu ternyata memang seorang pekerja seks. Semua identitas yang dia sampaikan ke laki-laki itu juga palsu belaka.

* * *

Walaupun ayahnya pernah bekerja sebagai intel di lembaga intelijen negara, Andy Bramantyo, 50 tahun, tak punya jam terbang sama sekali dalam urusan mata-mata. Dia lulus dari Institut Sains dan Teknologi Nasional dan pernah bekerja di sejumlah perusahaan telekomunikasi.

Kadang dengar cerita dari ayahnya, juga banyak menonton film mata-mata dan detektif seperti seri James Bond dan Sherlock Holmes, sejak 2008 dia mendirikan biro detektif Eye Detective di Jakarta. Tak punya banyak pengalaman, modal jadi detektif ini hanya kesabaran, ketekunan, juga kecepatan berpikir di lapangan.

“Saya mau cari pekerjaan yang lebih banyak tantangan dan peluang bisnisnya besar. Saya dulu kuliah teknik, tapi sekarang menjadi ‘James Bond’, penjaga masjid dan kebon… ha-ha-ha,” Andy terbahak. Dia yakin peluang bisnis jasa investigasi ini sangat besar. “Karena klien saya biasanya lebih suka mengadu ke detektif swasta ketimbang lapor polisi. Karena polisi mana mungkin menanggapi kasus perselingkuhan. Mereka punya banyak agenda yang lebih penting.”

Andy tak punya kantor, dan memang tak butuh kantor lantaran seluruh aktivitas Andy dan tujuh anak buahnya dilakukan di lapangan. Bagi yang hendak memakai jasa detektif anak buah Andy, calon klien dipersilakan memilih bertatap muka langsung atau melalui sambungan telepon. Mau bayar uang muka boleh, langsung dilunasi pun tak jadi soal. Ongkos jasa detektif ini tentu saja macam-macam. Kalau “hanya” urusan membuktikan perselingkuhan—kebetulan kasus seperti ini banyak sekali—dalam satu kota, mungkin tak seberapa mahal.

Polisi mana mungkin menanggapi kasus perselingkuhan. Mereka punya banyak agenda yang lebih penting."

Andy Bramantyo, pendiri Eye Detective

Selama sembilan tahun menjadi detektif, ada beberapa kasus “lucu” yang berhasil diungkap Andy bersama tim detektifnya. Belum lama ini, Andy membantu salah satu kliennya, seorang laki-laki dan pengusaha sukses yang telah berkeluarga. Lewat jejaring sosial, pengusaha ini kenal dengan seorang “perempuan” cantik. Begitu pintar “perempuan” itu merayu, pengusaha ini klepek-klepek, kasmaran berat.

Padahal mereka belum pernah bertemu atau bertelepon, hanya bertukar pesan lewat internet. Saking cintanya kepada “perempuan” tersebut, pengusaha itu tak sayang mengirimkan duit ratusan juta rupiah kepada “pacar online”-nya. Pengusaha itu minta tolong Eye Detective untuk mencari informasi soal pacar cantiknya itu.

“Ternyata, setelah kami temui, selingkuhannya ini seorang banci. Foto wanita yang dia pakai setelah kami telusuri ternyata sudah berkeluarga, bahkan baru melahirkan,” kata Andy. Banci ini berkilah dia menipu untuk membiayai ongkos berobat orang tuanya. “Dia sampai minta maaf, sujud-sujud segala.” Kasus ini berakhir lewat jalan damai.

Untuk kasus semacam ini, terang mustahil bagi pengusaha itu mau melapor ke polisi. Selain tak mau diketahui istri, dia jelas tak mau orang lain tahu “cerita lucu” seperti ini. “Kalau kasus perselingkuhan lapor ke polisi, bisa-bisa malah terungkap ke publik,” kata Andy.

Banyak jenis kasus lain yang juga lebih cocok ditangani detektif-detektif swasta seperti Eye Detective. Tak aneh jika lumayan banyak biro detektif menawarkan jasa investigasi di Indonesia. Mulai dari biro detektif lokal, seperti Eye Detective, Detektif Perselingkuhan, Detektif Nusantara, Panca Indra, Bali Eye Private Investigation Agency, Integrity Indonesia, sampai biro detektif asing, seperti Pinkerton Indonesia dan Zele Investigators Indonesia.

Zele, yang juga punya cabang di Filipina, Kamboja, Thailand, Vietnam, dan Malaysia, menawarkan jasa investigasi lengkap. Dari urusan mengumpulkan informasi calon istri atau calon suami, menyelidiki perselingkuhan dan kencan tipu-tipu di internet, melacak pelanggaran hak cipta, hingga menelusuri klaim asuransi. Sedangkan Pinkerton, biro detektif yang sudah berumur lebih dari satu setengah abad dan salah satu yang terbesar di dunia, lebih banyak menggarap pasar korporat.

Beberapa pengusaha, menurut Andy, juga kerap memakai jasanya untuk kepentingan bisnis. Dalam sebuah kontrak kerja sama, misalnya, dia kadang diminta menggali profil calon mitra bisnisnya itu. Targetnya pun bukan orang sembarangan. Kebanyakan dari mereka bahkan kelas konglomerat yang hampir selalu dikawal dan tinggal di kompleks yang sangat tertutup. Gonta-ganti kendaraan untuk mengikuti para jetset ini sudah jadi hal lumrah. Ia tak boleh sedikit pun kehilangan momen.

Jika kendaraan yang sedang ia mata-matai sulit dibuntuti, Andy akan menggunakan alat pelacak. “Kalau disuruh jalan, ya jalan, kalau mengharuskan lari, ya kami lari juga. Dia manjat tembok, ya kita ikut manjat tembok juga. Intinya, jangan sampai kita kehilangan target. Kalau lagi dalam pengejaran tiba-tiba mau buang air kecil, kami sampai harus bawa botol biar enggak kehilangan orang itu,” ujarnya.


Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE