INTERMESO

70 TAHUN MEGAWATI

PDI dan Debut Politik Megawati

Kehadiran Megawati menjadi penentu kebangkitan PDI. Partai ini tercerai-berai karena konflik internal dan represi Orde Baru.

Ilustrator: Fuad Hasim

Senin, 23 Januari 2017

Pembicaraan Sabam Sirait dan Taufiq Kiemas itu sampai juga ke telinga Megawati Soekarnoputri. Sabam sudah lama ingin Megawati bergabung ke Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Pembicaraan tersebut disampaikan langsung oleh Taufiq, suami putri Presiden Sukarno itu. Taufiq sudah lebih dulu masuk PDI. Setelah dibujuk, akhirnya Megawati menyusul pada awal 1987.

“Akhirnya Taufiq-lah yang berhasil mengajak Mega terjun di dunia politik. Padahal saat itu, menurut yang saya dengar, bahkan Golkar juga menginginkan Megawati,” ucap Sabam dalam buku Megawati: Anak Putra Sang Fajar (2012).

Selain Sabam, Ketua Umum PDI Soerjadi pun melobi Taufiq. Ia menginginkan agar ada keluarga Bung Karno di partainya. Maklum, PDI waktu itu sedang menghadapi Pemilihan Umum 1987.

Soerjadi berharap, dengan hadirnya keturunan Bung Karno, perolehan suara partai berlogo kepala banteng itu terdongkrak. Sejak lahir dari kebijakan fusi partai politik pada era Orde Baru, suara PDI terpuruk.

Partai gabungan dari Partai Nasionalis Indonesia (PNI), Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia, dan Partai Kristen Indonesia itu juga terus terbelit konflik.

Megawati Soekarnoputri
Foto: repro buku Gerak dan Langkah Megawati

Soerjadi
Foto: dok. detikcom

Konflik masih kental terasa pada Kongres III PDI pada 1986, menjelang bergabungnya Megawati. Hingga kemudian pemerintah mengintervensi kongres dengan menunjuk Soerjadi sebagai ketua umum.

Awalnya tidak mudah bagi Soerjadi untuk mengajak anggota keluarga Bung Karno terjun ke politik. Sebab, di antara mereka sudah ada konsensus bahwa mereka tidak akan berpolitik praktis.

Berkat Taufiq Kiemas, upaya Soerjadi itu berjalan mulus. Taufiq membujuk Guntur Soekarnoputra, Guruh Sukarno Putra, dan Megawati. Namun saat itu baru Megawati yang menunjukkan kesanggupannya.

Ketika memberi arahan di Sekolah PDI Perjuangan pada Agustus 2016, Megawati sempat menyinggung tawaran dari Golkar pada 1980 itu. Namun akhirnya ia lebih memilih PDI meski sedang dilanda konflik.

“Pas masuk PDI, ini partai berantakan. Siapa suruh saya masuk PDI? Tapi akan saya tunjukkan kepada mereka, kepada rakyat saya, bahwa keluarga Bung Karno bukanlah keluarga sembarangan,” katanya.

Megawati mengawali karier politik sebagai Wakil Ketua Dewan Pimpinan Cabang PDI Jakarta Pusat. Kematangannya berpikir sudah terpupuk sejak masa kecil. Ia terbiasa hidup dengan masyarakat bawah.

Megawati dan Guntur berfoto saat Bung Karno menerima Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru.
Foto: repro buku Gerak dan Langkah Megawati

Megawati saat diplonco sebagai mahasiswa baru di Universitas Padjadjaran
Foto: repro buku Gerak dan Langkah Megawati

Keikutsertaannya dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia sewaktu kuliah di Universitas Padjadjaran, Bandung, membuatnya berpengalaman dalam organisasi.

Pendidikan politik diperoleh langsung dari Sukarno. Ayahnya itu biasa memberikan pemahaman cinta tanah air pada saat sarapan pagi. Ia juga sering diajak berdiskusi setelah Sukarno menerima tamu, seperti Dr J. Leimena dan Jenderal A.H. Nasution.

Pada 1987 itu, Megawati langsung terlibat dalam kampanye PDI. Soerjadi mengakui sumbangan Megawati sangat besar. Dalam setiap kampanye yang dihadiri Megawati, kader PDI selalu membeludak.

“Dalam kampanye saya pidato satu jam, tapi suara terbanyak bisa dikumpulkan dari Mega, yang hanya bicara dua menit,” kata Soerjadi dalam buku Megawati: Anak Putra Sang Fajar (2012).

Karisma keluarga Sukarno merebak di tengah kampanye PDI. Dalam setiap kampanye terbuka, poster bergambar Sukarno selalu terpampang. Megawati pun hadir dengan suara sederhana, tapi berhasil memecah udara.

Namun perjalanan Megawati di PDI sendiri sebelumnya sempat dipertanyakan oleh sesepuh PNI, partai yang didirikan Bung Karno. Tak lama setelah memutuskan masuk PDI, Megawati diundang ke kediaman sesepuh PNI, Supeni.

Megawati dalam acara ulang tahun PDIP di Jakarta, Selasa, 10 Januari 2017
Foto: Andry Novelino/CNN Indonesia


Supeni dan beberapa tokoh PNI mempertanyakan alasan Megawati masuk PDI. Mereka menunjuk Manai Sophiaan sebagai juru bicara. “Aku naar (menuju) Merdeka Utara,” jawab Mega seperti tertera dalam buku 70 Tahun Taufiq Kiemas: Gelora Kebangsaan Tak Kunjung Padam (2012).

Pihak yang menentang kehadiran Megawati di PDI pun ada. Mereka menganggap belum waktunya Megawati berpolitik. Mereka khawatir, jika Megawati larut dalam politik, simbol perjuangan Bung Karno akan semu.

Begitupun di lingkup internal keluarga Bung Karno. Adik Megawati, Rachmawati Soekarnoputri, mengatakan sempat melayangkan protes kepada Guntur. Megawati dianggapnya telah melanggar konsensus keluarga.

“Saya protes ke Guntur, kok ada yang bertentangan dan melanggar tidak dibicarakan dulu? Dan jawaban Guntur, ‘Kita kan sudah sama-sama dewasa,’” kata Rachmawati saat ditemui detikX di rumahnya, Jalan Jati Padang Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu, 22 Januari 2017.

Sebelum Megawati, Rachmawati mengaku lebih dulu ditawari masuk PDI. Tawaran itu datang dari jenderal TNI yang dikenal dekat dengan Soeharto, L.B. Moerdani.

Kepada Rachmawati, Moerdani mengatakan mengajak trah Sukarno untuk melemahkan kekuatan Islam. Namun dia menolaknya. Belakangan, ternyata Megawati-lah yang bergabung dengan PDI.

Rachmawati Soekarnoputri
Foto: dok. detikcom

“Pertanyaan saya tidak pernah dijawab sama Mega. Sudah tidak bisa diajak berunding. Dia sudah punya jalan sendiri,” kata Rachmawati.

Dan Megawati memang terus melaju. Pemilu 1987 berakhir cukup gemilang bagi PDI. Partai ini meraup 9,3 juta suara dari 85,8 juta suara sah (10 persen). Jatah kursi di DPR meningkat menjadi 40 kursi, naik 16 kursi dari Pemilu 1982 sebanyak 24 kursi.

Kehadiran Megawati mampu mendongkrak perolehan suara PDI di 22 provinsi. PDI pun dapat mengungguli Partai Persatuan Pembangunan di enam provinsi, yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Irian Jaya.

Megawati dan Taufiq mampu melenggang ke gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Debut politik Megawati menjadi kebangkitan PDI, yang kelak mengancam rezim Orde Baru.


Reporter: Aryo Bhawono, Ibad Durohman, Irwan Nugroho
Redaktur: Aryo Bhawono
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE