INTERMESO

70 TAHUN MEGAWATI

Tiga Laki-laki Megawati

“Mulutnya selalu manis, apalagi ditambah muka yang tampan…. Rupanya itulah yang dia jual.”    

Perkawinan Megawati dan Taufiq Kiemas pada Maret 1973.
Foto: dok. Perpustakaan Nasional

Selasa, 24 Januari 2017

Konon, jauh hari sebelum berkenalan dengan Megawati Soekarnoputri, putri Presiden Sukarno, Taufiq Kiemas sudah bercita-cita mempersuntingnya suatu hari nanti. Hal itu dia sampaikan kepada Adjis Saip, sahabatnya yang sama-sama dipenjara di sel tahanan Kodam Sriwijaya di Palembang, pada awal 1966.

“Djis, ini calon ayu, kakak perempuan, kau,” kata Taufiq sembari menyodorkan foto Megawati yang ada di sebuah majalah. Adjis tentu saja hanya menganggap Taufiq berkelakar. “Ah, Kak Taufiq, jangan mimpilah. Kita ini hanya rakyat biasa. Dia itu anak presiden,” kata Adjis. Tapi Taufiq tak peduli. “Kalau kau tak percaya, lihat saja nanti,” kata Taufiq seperti dikutip dalam bukunya, Gelora Kebangsaan Tak Kunjung Padam.

Keluar dari sel tahanan Kodam Sriwijaya, Taufiq diminta angkat kaki dari Palembang. Di Jakarta, Taufiq, yang menjadi Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Palembang, makin erat menjalin hubungan dengan sesama aktivis nasionalis, seperti kakak Megawati, Guntur Soekarnoputra, dan Soerjadi.

Pada Juli 1971, Guntur mengajak Taufiq dan beberapa aktivis pemuda Jakarta, seperti Panda Nababan, berziarah ke makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur. Pulang dari Blitar, mereka mampir ke rumah Megawati di kompleks TNI Angkatan Udara, Madiun. “Saat itulah pertama kalinya saya berkenalan dengan Taufiq,” kata Megawati. Kurang dari dua tahun kemudian, seperti yang dia sampaikan kepada sobatnya, Adjis, Taufiq mempersunting Megawati.

Ada tiga laki-laki di rumah Megawati. Pertama, tentu, Taufiq Kiemas. Megawati juga punya dua anak laki-laki, yakni Mohammad Rizki Pratama dan Mohammad Prananda. Megawati masih punya satu anak perempuan lagi, yaitu si bungsu, Puan Maharani, kini Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Megawati dan Taufiq Kiemas bersama anak-anaknya.
Foto: repro buku Gerak dan Langkah Megawati

Pernikahan Megawati dan Taufiq Kiemas di Jalan Sriwijaya, 14 Maret 1973.
Foto: dok. Perpustakaan Nasional

Foto: dok. Perpustakaan Nasional

Puan merupakan buah perkawinan Megawati dengan Taufiq Kiemas. Sedangkan Rizki “Tatam” Pratama dan “Nanan” Prananda adalah anak Megawati dari pernikahannya dengan Letnan Satu (Penerbang) Surindro Supjarso, suami pertama Megawati. “Sejak awal menikah, aku sudah menganggap Tatam dan Nanan sebagai anak kandungku. Mereka tidak aku beda-bedakan dengan Puan,” kata Taufiq.

Mas Pacul—Surindro biasa disapa—dan Megawati menikah pada Sabtu petang, 1 Juni 1968, di rumah ibunya, Fatmawati, di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Setelah menikah dengan Mas Pacul, Megawati tinggal jauh dari Jakarta. Pasangan Megawati-Surindro tinggal di kompleks Angkatan Udara, Madiun, Jawa Timur.

Saat Megawati tengah mengandung Prananda, datang kabar duka. Pesawat Skyvan yang dipiloti Surindro dan mengangkut tujuh awak hilang di perairan Biak, Irian Jaya (kini Papua), pada 22 Januari 1971, persis sehari sebelum ulang tahun Megawati yang ke-24. Upaya pencarian mereka selama berbulan-bulan tak membawa hasil. Megawati menjadi janda pada usia yang masih sangat muda.

* * *

Ada tiga laki-laki yang pernah singgah di hati Megawati. Surindro adalah yang pertama, sementara Taufiq Kiemas merupakan yang terakhir. Walaupun sangat singkat, hubungan Megawati dengan mantan diplomat Mesir, Hassan Gamal Ahmed Hassan, adalah yang paling heboh.

Tak ada sahabat atau kerabat Megawati yang mau bercerita soal kisah ini. “Waduh, itu urusan pribadi. Saya sangat tahu, tapi saya tak mau ngomong,” kata Eros Djarot, sahabat lama Megawati dan Taufiq Kiemas. Demikian pula Sukmawati, adik Megawati, saat ditanyai detikX soal kisah asmara kakaknya. “Saya tak mau jawab. Itu urusan pribadi Bu Mega.” Hanya berita-berita lama yang bisa “bercerita”.

Sidang gugatan Guntur atas perkawinan Megawati-Hassan Gamal di  Pengadilan Agama Jakarta.
Foto: dok. Perpustakaan Nasional

Foto: dok. Perpustakaan Nasional

Foto: dok. Perpustakaan Nasional

Mula-mula adalah iklan kecil di sebuah harian di Ibu Kota Jakarta. “TELAH MENIKAH. Hassan Gamal A.H. dengan Ny. Megawati Soekarnoputri pada tanggal 27 Juni 1972 di Sukabumi”. Iklan kecil itu jadi perkara besar. Fatmawati Sukarno, ibunda Megawati, menolak mengakui pernikahan tersebut. Demikian pula keluarga besar Bung Karno.

Pada pagar rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya dipasang papan larangan masuk. “Larangan itu hanya ditujukan untuk si Hassan, bukan orang lain,” kata adik Megawati, Rachmawati, dikutip majalah Tempo edisi 22 Juli 1972. Diwakili oleh si sulung, Guntur Soekarnoputra, keluarga Fatmawati menggugat keabsahan pernikahan itu ke Pengadilan Agama Jakarta.

Wajar jika keluarga besar Fatmawati sewot kepada Hassan. Laki-laki Mesir yang tinggal tak jauh dari rumah Fatmawati itu memang bukan orang asing bagi keluarga Bung Karno. Hassan pertama kali datang sebagai wakil Kedutaan Mesir menyampaikan dukacita atas wafatnya Bung Karno. “Kami enggak curiga…. Dia datang mau menyampaikan dukacita. Lagi pula dia datang mewakili Kedutaan Mesir,” kata Guntur kala itu. Setelah kedatangan pertama, Hassan makin sering bertamu. “Kira-kira dia sudah berkunjung 50 kali selama kami kenal.”

Rupanya kedatangan Hassan punya maksud lain, yakni mendekati Megawati. Saat itu Megawati tengah berduka. Sudah berbulan-bulan tak ada kabar berita soal sang suami, Surindro Supjarso, yang hilang di perairan Biak. “Mulutnya selalu manis, apalagi ditambah muka yang tampan…. Rupanya itulah yang dia jual,” kata Fatmawati kesal. Mulut manis itulah yang berhasil membawa Megawati ke depan H Cholil Fathurrohman dari Kantor Urusan Agama Sukabumi. H Cholil-lah yang menikahkan mereka.

Megawati dan Taufiq Kiemas
Foto: repro buku Gerak dan Langkah Megawati

Sejak awal menikah, aku sudah menganggap Tatam dan Nanan sebagai anak kandungku.”

Taufiq Kiemas (almarhum), soal dua anak tirinya

Keluarga Fatmawati tak setuju lantaran nasib Surindro belum jelas kabarnya, sementara Hassan Gamal merasa tak ada yang salah dengan pernikahan itu. Dia hanya mau membatalkan pernikahan jika Megawati sendiri yang menghendaki. Perbedaan pendapat inilah yang berujung sidang di Pengadilan Agama Jakarta. Ulama besar Hamka dan ahli hukum Tengku Jafizham sempat menulis buku soal kasus ini, Kasus Nikah Megawati Sukarnoputeri dengan Hassan Gamal, pada 1973.

Seorang istri yang ditinggal suami tanpa kabar, menurut Hamka seperti dikutip Angus McIntyre dalam bukunya, The Indonesian Presidency, hanya punya kewajiban menunggu selama 4 bulan 10 hari hingga diperkenankan menikah kembali. Tapi, seperti kita tahu hari ini, Pengadilan Agama membatalkan pernikahan itu. Usia hubungan Megawati-Hassan hanya berumur kurang dari tiga bulan.

Kurang dari setahun kemudian, pada 25 Maret 1973, bertempat di Panti Perwira (kini Graha Marinir), Jalan Prapatan, Jakarta Pusat, Megawati menikah kembali untuk ketiga kalinya, dengan Taufiq Kiemas. “Namanya juga riwayat hidup,” kata Megawati pelan kepada Tempo, puluhan tahun kemudian, mengenang kisahnya dengan Hassan itu.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE