INTERMESO

70 TAHUN MEGAWATI

Mereka yang Loyal dan yang Pergi

Banyak orang yang setia kepada Megawati. Tapi tidak sedikit pula yang tak sepaham lantas hengkang dari PDI Perjuangan.

Ilustrasi: Luthfy Syahban

Rabu, 25 Januari 2017

Tiga tokoh senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini mendapatkan tempat khusus di hati Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat partai berlambang kepala banteng bermoncong putih tersebut, Megawati Soekarnoputri. Ketiganya adalah Jacob Nuwa Wea, Alexander Litaay, serta Mangara Siahaan.

Jacob, Alex Litaay, dan Mangara disebut Megawati sebagai kader PDI Perjuangan yang selalu ada ketika partai dalam kondisi apa pun. Mereka memperlihatkan kesetiaannya saat partai mengarungi masa-masa sulit.

Saat berpidato dalam perayaan ulang tahun ke-44 PDI Perjuangan pada Selasa, 10 Januari 2017, Megawati memberikan penghormatan dan penghargaan kepada ketiganya. “Mereka tidak hanya ada dalam sejarah hidup saya, namun juga tokoh-tokoh yang berjuang mempertahankan partai ini sebagai partai ideologis,” kata Megawati.

Jacob, Alex Litaay, dan Mangara meninggal pada 2016. Jacob adalah kader PDI Perjuangan sejak partai itu masih bernama Partai Demokrasi Indonesia. Ia memilih bergabung dengan Megawati, yang mendirikan PDI Perjuangan ketika PDI terbelah pada 1996.

Presiden Joko Widodo (kiri) menyaksikan presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri mengacungkan dua jari ketika memberikan buku bertajuk Megawati dalam Catatan Wartawan: Bukan Media Darling Biasa kepada cagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama saat perayaan ulang tahun ke-70 Mega di Teater Jakarta, TIM, Jakarta, Senin (23/1).
Foto: Rosa Panggabean/Antara Foto


Saya merasa tenaga saya tidak dibutuhkan lagi di partai ini dan saya kecewa terhadap kondisi partai."

Saat menggantikan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada 2002, Megawati mengangkat Jacob sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Megawati tak mampu membendung air mata saat mengenang militansi Jacob, yang meninggal pada 9 April 2016.

Alex Litaay juga tokoh PDI Perjuangan yang setia kepada Megawati. Ia merupakan sekretaris jenderal pertama partai itu. Alex meninggal pada 26 Juni 2016 ketika menjabat Duta Besar RI untuk Kroasia. PDI Perjuangan pun mengibarkan bendera setengah tiang selama tujuh hari sebagai tanda berduka.

Sedangkan Mangara mendampingi Megawati sejak memutuskan bergabung dengan PDI pada awal 1987. Mangara pulalah yang menemani Megawati ketika berkunjung ke sesepuh Partai Nasionalis Indonesia (PNI), partai bentukan Sukarno, Supeni. Saat itu Supeni menanyakan mengapa ia masuk PDI.

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan Mangara Siahaan adalah sosok yang membentengi Megawati ketika menghadapi tekanan Orde Baru. Mangara jugalah yang memiliki pemahaman paling komprehensif tentang perjuangan Megawati.

“Pak Mangara saksi pertemuan-pertemuan penting serta menjadi teman seperjalanan Ketua Umum ketika berkeliling Indonesia, melantik koordinator kecamatan,” kata Hasto mengenang Mangara, yang meninggal pada 3 Juni 2016.

Alexander Litaay
Foto: dok. detikcom

Jacob Nuwa Wea
Foto: dok. pribadi

Soetardjo Soerjogoeritno
Foto: dok. detikcom

Masih banyak tokoh kawakan PDI Perjuangan lainnya yang tidak meninggalkan Megawati hingga akhir hayatnya. Mereka seperti halnya Soetardjo Soerjogoeritno (Mbah Tarjo), Sutjipto, Mayjen (Purnawirawan) Theo Syafei, Sabam Sirait, dan tentu saja Taufiq Kiemas, suami Megawati sendiri. Taufiq meninggal pada 8 Juni 2013.

Di sisi lain, banyak pula figur di PDI Perjuangan yang berseberangan dengan putri presiden pertama Indonesia, Sukarno, itu, maupun dengan kebijakan partai secara umum. Sebagian dari mereka memilih mengundurkan diri dari partai dan mendirikan parpol baru.

Aktor dan sutradara film Sophan Sophiaan mengundurkan diri sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan pada 2002. Ia tak setuju dengan sikap Megawati membawa kasus dana nonbujeter Bulog (Buloggate II), yang melibatkan Ketua DPR saat itu, Akbar Tandjung, ke proses hukum. Kala itu Sophan ingin agar dibentuk Panitia Kerja DPR untuk mengungkap kasus itu.

Kekecewaan putra tokoh PNI, Manai Sophiaan, ini bukan hanya itu. Sophan kerap berseberangan dengan sikap pimpinan partainya, yang dianggap terlalu kompromistis. Misalnya dalam penyelesaian kasus Buloggate I dan penuntasan kasus pelanggaran hak asasi manusia Trisakti.

Rustriningsih
Foto: Hasan Alhabshy/detikcom

Sophan Sophiaan
Foto: dok. detikcom

Laksamana Sukardi
Foto: dok. detikcom

Jejak Sophan diikuti Dimyati Hartono pada tahun yang sama. Tokoh yang dikenal sebagai pengagum Bung Karno ini mundur dari DPR sekaligus mundur sebagai anggota Dewan Penasihat PDI Perjuangan pada Februari 2002.

Apalagi saat itu Dimyati sempat mencalonkan diri sebagai Ketua Umum DPP PDI Perjuangan pada tahun 2000. "Saya merasa tenaga saya tidak dibutuhkan lagi di partai ini dan saya kecewa terhadap kondisi partai,” kata Dimyati saat itu kepada sejumlah wartawan.

Lantas guru besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, yang juga pengacara ini membidani pembentukan Partai Indonesia Tanah Air Kita pada tahun itu juga. Sementara itu, Sophan ikut bergabung dengan Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) besutan Laksamana Sukardi dan Roy B.B. Janis pada 2005.

Pendirian PDP merupakan puncak dari konflik di kalangan internal PDI Perjuangan pada kongres di Bali, April 2005. Banyak kader senior membentuk Gerakan Pembaruan PDI Perjuangan. Kader-kader ini kecewa dan tak sepaham dengan proses demokrasi di dalam partai yang hanya terpaku pada keputusan ketua umum.

Langkah politik yang sama diambil Eros Djarot, yang keluar dari PDIP pada awal 2002. Eros memang dikenal sangat dekat dengan Megawati. Ia mundur karena merasa sudah tak lagi sepaham dengan pemikiran Taufiq Kiemas.

“Permasalahannya, pemikiran saya dengan TK (Taufiq Kiemas) itu beda. Tapi, karena TK suami Mega, masak saya mau acak-acak. Akhirnya saya memilih berpisah," ujar Eros, yang memiliki nama lengkap Sugeng Waluyo Djarot, kepada detikX.

Eros Djarot
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Eros mengatakan ideologi yang dianut Taufiq sangat pragmatis. Ia mengakui tak ada yang salah dengan cara berpikir Taufiq dalam hal politik. "Tapi, karena pragmatis, itu menghidupkan budaya transaksional," imbuhnya.

Mantan bos tabloid Detik itu lantas pada 27 Juli 2002 mendirikan Partai Nasionalis Bung Karno. Partai ini bersama Partai Indonesia Tanah Air Kita memang maju dalam Pemilu 2009. Walau tak mencapai electoral threshold dan kalah unggul dengan PDI Perjuangan, partai tersebut lumayan menggerogoti suara partai banteng moncong putih tersebut.

Kisah hengkangnya para kader PDI Perjuangan masih berlanjut hingga tahun-tahun belakangan ini. Sebut saja Rustriningsih dan Boy Sadikin. Rustriningsih banyak mengkritik gaya Megawati yang terlalu sentral. Rustriningsih tidak dicalonkan PDI Perjuangan dalam pemilihan Gubernur Jawa Tengah. Sedangkan Boy tak setuju dengan kebijakan partainya mengusung Basuki Tjahaja Purnama sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.

Memang, tidak semua kader PDI Perjuangan yang mundur itu lantas memutus hubungan dengan Megawati. Sebagian masih menjaga hubungan baik. Misalnya Eror Djarot yang terlihat hadir pada peringatan ulang tahun ke-70 Megawati, Senin 23 Januari 2017. Begitu juga dengan Susaningtyas, mantan politikus PDI Perjuangan yang pindah ke Partai Hanura.

"Bu Mega banyak mengajarkan saya tentang politik dan seputar kehidupan. Saya sering kok (bertemu) dan masih berhubungan baik dengan Bu Mega," katanya kepada detikX


Reporter: Pasti Liberti Mappapa, Ibad Durohman
Penulis: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE