Fitnah-pun-Jadilah

INTERMESO

Fitnah Pun Jadilah

“Selain diajari bertahan, kita harus bisa menyerang. Ini yang namanya keseimbangan. Kalau bertahan terus, bisa bonyok kita.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 17 Februari 2017

Harvey LeRoy “Lee” Atwater adalah tokoh kontroversial dalam sejarah politik Amerika Serikat. Atwater dikenal sebagai konsultan politik ulung, tukang pelintir yang sangat jago, dan lihai bikin intrik. Bagi Lee Atwater, tak ada yang tak halal dalam politik.

“Aku memang bukan penemu kampanye negatif, tapi aku salah satu yang paling bersemangat mempraktekkannya,” Lee mengakui kepada CNN menjelang akhir hayatnya. “Dia seorang manipulator,” seorang teman kuliahnya, dikutip Washington Post, mengenang.

Lee Atwater mati muda. Dia meninggal saat usianya baru 40 tahun lantaran kanker otak. Sebelum meninggal, dia sempat meminta maaf kepada beberapa mantan lawan politiknya yang pernah dia hajar habis-habisan dalam kampanye.

Dua Presiden Amerika dari kubu Republiken, Ronald Reagan dan George H.W. Bush, “berutang” banyak kepada Lee Atwater. Walaupun pernah menjabat Wakil Presiden Amerika selama dua periode, dalam pemilihan presiden pada 1988, Bush berada dalam posisi underdog. Opini publik bahkan menunjukkan dukungan lebih besar kepada lawannya, Gubernur Negara Bagian Massachusetts Michael Dukakis. Atwater, yang ditunjuk sebagai manajer kampanye Bush, merancang taktik kampanye yang bisa dibilang kotor. Pria kelahiran 1951 itu memproduksi iklan televisi menggambarkan posisi Bush dan Dukakis menyikapi kejahatan.

Lewat iklan itu digambarkan Bush sebagai orang yang pro-hukuman mati, sementara Dukakis adalah anti-hukuman mati. Dukakis disebutkan mendukung program yang membolehkan tahanan keluar dari penjara saat akhir pekan atau felon furlough program.

Kampanye Joko Widodo dalam pemilihan Presiden RI pada 2014
Foto: Jhoni Hutapea/detikcom

Atwater sengaja memasang Willie Horton, seorang terpidana seumur hidup, sebagai bintang iklan. Pria kulit hitam ini disebut melakukan kejahatan saat menikmati liburan akhir pekan keluar dari penjara. Horton menyerang sepasang kekasih, menikam sang pria dan memperkosa perempuan itu. Pesan iklan itu sangat gamblang: inilah dosa Dukakis.

Efek iklan Willie Horton itu sangat fenomenal. Iklan pendek ini mampu memainkan emosi dan ketakutan tidak beralasan warga kulit putih terhadap kulit hitam. Bahkan mampu menghimpun orang kulit putih untuk berbondong-bondong memilih Bush, lawan Dukakis. Publik pun mempersepsikan Dukakis sebagai sosok sangat liberal. Bush memenangi pertarungan dengan selisih dukungan sangat lebar, sekitar 17 persen.

Karier Atwater sebagai konsultan dimulai sejak 1974. Mendampingi senator-senator dari Partai Republik, termasuk berjasa membawa Ronald Reagan meraih kursi presiden pada 1980. Saat mendampingi Floyd Spence merebut kursi Kongres Amerika, Atwater menggunakan survei-survei palsu untuk menyerang lawan Spence, Tom Turnipseed.

Dia juga tak sungkan mengirim wartawan palsu untuk mengacaukan konferensi pers Turnipseed. “Lee sepertinya sangat menikmati olok-olok terhadap seorang remaja 16 tahun yang sedang menjalani terapi depresi,” Turnipseed mengenang taktik-taktik kampanye Lee Atwater untuk memojokkannya.

Karier Atwater terhenti setelah dia divonis mengidap kanker otak dan akhirnya meninggal pada usia 40 tahun. Atwater, menurut Bush, mempraktekkan seni berpolitik dengan penuh kegigihan dan kegairahan. Kata Bush kepada New York Times, "Saya sangat bangga kepadanya, dan bangga bisa kerja bersamanya."

* * *

Warga menghadiri kampanye pasangan calon Gubernur DKI Jakarta Anies-Sandiaga di permukiman nelayan Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (8/2).
Foto: Safir Makki/CNN Indonesia


Strategi menyerang lawan politik dengan memanfaatkan isu-isu sektarian, juga dengan “menggoreng” isu lama, seperti komunisme, bukan barang asing lagi di negeri ini. Saat berlangsungnya pemilihan presiden 2014, muncul tabloid Obor Rakyat. Edisi pertama tabloid ini pada 5-11 Mei 2014 tak tanggung-tanggung, langsung menyerang salah satu kandidat.

Beberapa judul di antaranya “Capres Boneka”, “Jokowi Anak Tionghoa”, “Putra Cina asal Solo”, “Ayah Jokowi adalah Oey Hong Liong”, dan “Status Perkawinan Ibunda Jokowi dengan Oey Hong Liong?”. “Ayah Jokowi adalah Oey Hong Liong, pengusaha Solo yang ganti nama menjadi Nitimiharjo,” tabloid itu menulis. Pemimpin redaksi Obor Rakyat, Setyardi Budiono, berdalih semua yang ditulis Obor Rakyat adalah fakta-fakta jurnalistik.

Direktur Eksekutif Cyrus Network Hasan Nasbi mengatakan konsultan-konsultan politik yang menawarkan atau menggunakan cara-cara fitnah dalam memenangkan kliennya tak akan bertahan lama. Mayoritas publik, kata Hasan, sudah pandai menilai sebuah fakta atau fitnah. "Orang yang menggunakan fitnah atau pelintiran akan hancur kredibilitasnya," kata Hasan kepada detikX pekan lalu.

Padahal, kata Hasan, kepercayaan publik adalah kunci sebuah konsultan politik agar bisa langgeng. Dia meyakini, dalam waktu dekat sejumlah lembaga survei maupun konsultan politik akan gulung tikar. "Mereka sudah mengambil posisi tidak menjaga martabat sebagai konsultan politik dan pollster untuk jangka panjang," ujarnya.

Basuki Tjahaja Purnama berkampanye untuk kursi Gubernur DKI Jakarta.
Foto: dok. detikcom

Rumor atau gosip tidak akan kami gunakan.”

Ade Mulyana, Direktur LSI Network

Namun, meski mengharamkan fitnah, Hasan masih mengizinkan pemakaian kampanye negatif dalam menghadapi kandidat lawan. Memunculkan kampanye negatif sebagai alat untuk menyerang sah sepanjang isu yang digunakan adalah fakta. "Ibarat belajar bela diri. Selain diajari bertahan, kita harus bisa menyerang. Ini yang namanya keseimbangan. Kalau bertahan terus, bisa bonyok kita," kata Hasan.

Direktur Citra Publik Adv-Lingkaran Survei Indonesia Network Ade Mulyana mengatakan menyerang lawan politik dengan memberi tahu publik sisi negatifnya biasanya lebih efektif ketimbang mengabarkan program-program positif klien. "Ini memang diperlukan untuk mengikis suara kandidat lawan," ujar Ade.

Tapi tetap ada rambu-rambu dalam mempublikasikan kasus-kasus tersebut. Paling tidak kasus tersebut sudah pernah diberitakan oleh media. "Kasusnya sudah lama terkubur, bisa kami blow up lagi. Rumor atau gosip tidak akan kami gunakan," kata Ade.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE