INTERMESO

MEMBURU HARTA KARUN NUSANTARA

Dari Bangka sampai New York

“Di luar sana ada banyak orang gila yang mau berinvestasi dalam pencarian harta karun.”

Ilustrasi : Fuad

Selasa, 7 Maret 2017

Untuk kesekian kalinya, harta karun dari Selat Gaspar, Kepulauan Bangka Belitung, bikin ribut. Jika semua sesuai dengan rencana, hari ini Museum Asia Society di Kota New York, Amerika Serikat, bakal mulai memamerkan harta karun yang diangkat dari Selat Gaspar hampir 20 tahun lalu itu.

Belum juga dibuka pameran, sudah banyak suara miring mengkritik rencana Museum Asia Society. Pada awal Februari lalu, Advisory Council on Underwater Archaeology melayangkan surat kepada pengurus Museum Asia. Badan Penasihat Arkeologi Bawah Air berpendapat pameran rupa-rupa keramik dan perabot emas dari abad ke-9 itu bakal jadi pendorong perburuan harta karun.

“Museum Asia barangkali tak punya niat seperti itu, tapi pameran itu bakal menjadi pendorong perburuan harta karun untuk mengejar keuntungan semata,” kata Marco Meniketti, arkeolog dari Universitas Negeri San Jose, California, sekaligus Ketua Badan Penasihat, kepada Nature

Para arkeolog boleh keberatan, tapi sepertinya pameran bakal jalan terus. Boon Hui Tan, Direktur Museum Asia Society, berdalih masyarakat perlu tahu soal fakta-fakta sejarah penting di balik harta karun dari Selat Gaspar itu. “Penemuan itu menunjukkan, seribu tahun lalu, setelah runtuhnya imperium Romawi, ada dua peradaban besar yang terlibat dalam hubungan dagang dalam skala yang luar biasa,” kata Boon Hui kepada New York Times.

Galeri benda muatan kapal tenggelam di gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta
Foto : Grandyos Zafna/detikcom

Protes dan kritik seperti ini bukan pertama kali terhadap pameran harta karun dari masa Dinasti Tang di Daratan Cina itu. Persis lima tahun lalu, Galeri Arthur M. Sackler di Washington, DC, yang berada di bawah payung lembaga pemerintah Amerika, Smithsonian Institution, juga berniat memamerkan koleksi harta karun Dinasti Tang tersebut.

Para arkeolog, bahkan mereka yang bekerja di Smithsonian, mengkritik rencana pameran itu. Julian Raby, Direktur Galeri Arthur Sackler, menyampaikan pembelaan sama persis dengan pertimbangan Direktur Boon Hui dari Museum Asia Society. “Jika kita amati komposisi semua barang di kapal itu, faktanya sungguh mengejutkan,” kata Julian, dikutip CNN. Menurut dia, temuan harta karun di lepas pantai Pulau Bangka itu sangat bernilai.

Paul Johnston, kurator sejarah maritim di National Museum of American History, ragu proses pengangkatan harta karun Dinasti Tang itu dikerjakan sesuai dengan kaidah yang patut. “Aku tak yakin, hanya dalam dua musim, mereka bisa mengangkat sekitar 60 ribu item benda dengan cara yang benar,” kata Paul Johnston.

Kendati ditemukan di perairan Nusantara, harta karun yang akan dipamerkan di Museum Asia Society ini bukanlah milik pemerintah Indonesia. Pada 2005, Tilman Walterfang, pemilik Seabed Explorations asal Jerman, perusahaan yang mengantongi izin dari pemerintah Indonesia untuk mengangkat muatan kapal di dasar laut itu, telah menjualnya kepada pemerintah Singapura senilai US$ 32 juta, atau hampir Rp 430 miliar. Belakangan, setelah melewati negosiasi yang alot dengan Tilman, pemerintah Indonesia hanya kebagian jatah US$ 2,5 juta atau Rp 33 miliar.

Memetakan dasar laut dengan menarik sidescan sonar dan magnetometer
Foto : pt Bangun Bahari Nusantara

Kolektor besar yang punya museum bilang, kalau Hatcher yang ngomong, kita percaya deh.”

Harry Satrio, Sekretaris Jenderal APP BMKT

Sebenarnya bukan cuma sekali pemerintah diakali oleh para pemburu harta karun. Pada 2010, kepolisian Indonesia menetapkan Michael Hatcher, pemburu harta karun kondang asal Inggris, sebagai buron. Polisi menuding Hatcher sebagai orang di balik upaya penyelundupan keramik-keramik kuno yang diangkat dari perairan Blanakan di sebelah utara Jawa Barat.

Bukan kali itu saja Hatcher bikin ulah. Tiga puluh tahun lalu, pemerintah Indonesia dikejutkan oleh lelang harta karun dari kapal Geldermalsen, kapal milik perusahaan dagang Hindia Belanda (VOC). Balai Lelang Christie’s di Amsterdam, Belanda, menawarkan rupa-rupa barang berharga dari kapal Geldermalsen yang tenggelam di perairan Riau pada Januari 1752. Nilai lelang itu ratusan miliar rupiah. Hatcher-lah yang mengangkut harta karun dari perairan Nusantara itu ke Belanda.

Dalam urusan harta karun, Hatcher memang jago. “Suka atau tidak, Hatcher diakui dunia.… Kolektor besar yang punya museum bilang, kalau Hatcher yang ngomong, kita percaya, deh. Barang yang mungkin hanya bisa saya jual Rp 200 ribu dia bisa jual Rp 2 juta,” kata Harry Satrio, Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Pengangkatan Barang Muatan Kapal Tenggelam (APPBMKT), kepada detikX. Soal status Hatcher sebagai buron, Harry agak ragu. “Dia sering mondar-mandir ke Jakarta. Saya dua kali bertemu dia tahun lalu. Dia juga tidak merasa sebagai buron.”

* * *

Konon, ada lebih dari 460 titik lokasi kapal tenggelam yang memuat barang-barang berharga dari ujung barat perairan Indonesia hingga perairan Papua di timur sana. Asosiasi Perusahaan Pengangkatan Barang Muatan Kapal Tenggelam menaksir nilai harta karun yang terkubur di perairan Nusantara bisa lebih dari Rp 100 triliun.

Kapal milik Kerajaan Portugis, Flor de la Mar, misalnya, diduga mengangkut ratusan ton emas saat tenggelam di wilayah perairan Kerajaan Samudera Pasai (kini Aceh) pada 20 November 1511. Alfonso de Albuquerque, komandan tentara Portugis, berniat mengangkut harta jarahan dari Kerajaan Malaka untuk dipersembahkan kepada Raja Portugis.

Pemburu harta karun Robert F. Marx dan istrinya, Jenifer Marx, menggambarkan dalam buku mereka, Treasure Lost at Sea: Diving to the World’s Great Shipwrecks, betapa banyak harta rampasan yang hendak diangkut Alfonso. “Anak buahnya sampai kesulitan menjejalkan muatan emas permata itu,” pasangan Marx menulis. Robert Marx menaksir nilai seluruh muatan kapal ini bisa puluhan triliun rupiah. Sampai detik ini, belum ada pemburu harta karun yang menemukan “gunung emas” Flor de la Mar.

Barangkali bisnis harta karun ini memang menggiurkan. Hingga pemerintah menutup izin pengangkatan harta karun di laut pada 2011, sudah ada beberapa perusahaan yang berhasil menemukan dan memindahkan harta karun ke darat. Pada 1990, Muara Wisesa Samudera, perusahaan yang dimiliki tak langsung oleh Grup Agung Podomoro dan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, berhasil mengangkat 16 ribu item harta karun dari perairan Pulau Buaya, Riau.

Pada 2002, Tuban Oceanic Research and Recovery (TORR), perusahaan milik Budi Prakoso, adik pengusaha Setiawan Djody, mengangkat lebih dari 30 ribu item keramik dari Dinasti Yuan, Tiongkok, dari dasar Selat Karimata. Di APPBMKT, tercatat ada lebih dari 50 perusahaan. Tapi banyak di antara perusahaan ini yang tak lagi aktif, apalagi setelah pemerintah menutup pintu usaha pengangkatan harta karun di laut.

Mohamad Firman Santoso
Foto : pt Bangun Bahari Nusantara

Setelah sempat bekerja untuk Budi Prakoso, Harry Satrio mendirikan Cosmix Asia pada 2010. “Saya belum dapat apa-apa,” kata Harry. Menurut Harry, sebenarnya dia punya informasi 10 lokasi tempat tenggelamnya kapal pengangkut harta karun. “Ini informasi A1, bukan katanya lagi.”

Soal sokongan modal, dia tak lagi pusing mencari. “Di luar sana ada banyak orang gila yang mau berinvestasi dalam pencarian harta karun.” Dua tahun lalu, sebelum ditutup kembali oleh pemerintah, perusahaannya sempat mengantongi izin pengangkatan harta karun. Lantaran informasi lokasinya bocor, harta di dasar laut itu keburu dijarah orang.

Sudah enam tahun pemerintah menutup izin pengangkatan harta karun. PT Bangun Bahari Nusantara adalah salah satu “korban” dari kebijakan itu. Sekarang manajemen perusahaan asal Jakarta itu membekukan sementara kegiatannya. Padahal, sebelum 2011, Bangun Bahari sudah menyurvei 23 titik yang diduga menjadi lokasi tenggelamnya kapal harta karun. Tak satu pun dari titik-titik itu steril dari penjarahan.

Ongkos survei ini jauh dari murah. Sekali survei, kata Mohammad Firman Santoso, Direktur Bangun Bahari, mereka bisa menghabiskan dana Rp 2-3 miliar. “Jangan anggap survei itu pekerjaan gampang…. Sekali survei bisa makan waktu hingga tiga bulan,” kata Firman.


Reporter: Melisa Mailoa, Pasti Liberti
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE