INTERMESO

SKANDAL EMAS BUSANG

Teka-teki Matinya Guzman

“Buat apa dia merancang penipuan itu susah-susah dan setelah mendapatkan duit jutaan dolar malah bunuh diri.”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Jumat, 31 Maret 2017

Pada 18 Maret 1997 siang, Michael de Guzman menelepon istrinya, Lilis de Guzman. Laki-laki asal Filipina itu mengajak bersantap malam untuk merayakan ulang tahun pernikahan sekaligus ulang tahun istrinya yang ke-22. Guzman meminta Lilis memesan tempat duduk di sebuah restoran di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Tapi malam itu Guzman tak kunjung pulang. Bahkan keesokan harinya, Lilis mendapat kabar tak disangka. Beredar berita bahwa Guzman, kepala geolog di perusahaan tambang emas asal Calgary, Kanada, Bre-X Minerals, bunuh diri dengan melompat dari helikopter saat dalam penerbangan dari Samarinda menuju Busang di Kabupaten Kutai Timur. Hingga kabar itu didengar Lilis, jenazah Guzman belum ditemukan.

Bertubi-tubi datang berita, selapis demi selapis, mengupas hidup Guzman. Sejumlah surat kabar menulis berita soal tiga perempuan lain yang masih berstatus istrinya. Satu istrinya tinggal di Manila, Filipina. Istrinya yang lain tinggal di Bogor, Jawa Barat. Susani Mawengkang, satu lagi istrinya, punya rumah di Manado, Sulawesi Utara. Padahal, sepengetahuan Lilis, dialah satu-satunya istri Michael de Guzman.

Sampai sekarang saya percaya dia masih hidup.”

Simon Sembiring, mantan ketua tim Busang di Departemen Pertambangan dan Energi

Michael de Guzman, tengah.
Foto : Calgary Herald

Kata polisi waktu itu, besar kemungkinan Guzman bunuh diri lantaran menderita sakit hepatitis B. Polisi menyodorkan bukti surat yang ditinggalkannya. “Aku tak tahu apakah dia bunuh diri,” kata Lilis, kepada CNN, bertahun-tahun lalu. Butuh waktu beberapa hari hingga jenazah itu ditemukan dalam kondisi hancur di tengah belantara. Wajahnya rusak. Semua jari tangannya sudah tak ada. Lilis, yang diminta mengenali jenazah itu, percaya bahwa dia adalah suaminya. “Tak ada keraguan.”

Tapi tidak sedikit pula kenalan Guzman yang tak percaya dia telah bunuh diri. “Buat apa dia merancang penipuan itu susah-susah dan setelah mendapatkan duit jutaan dolar malah bunuh diri,” kata Wahyu Sunyoto, kini Senior Vice President GeoEngineering PT Freeport Indonesia, kepada detikX dua pekan lalu.

Wahyu kenal Guzman lumayan baik. “Saya pernah kerja bareng, bahkan tidur satu tenda dengan dia di Kalimantan Selatan,” Wahyu menuturkan. Sebelum menjadi Kepala Geolog di Bre-X, Guzman, yang lahir dan besar di Filipina, pernah bekerja untuk anak perusahaan Jason Mining di Kalimantan Tengah. Wahyu bekerja di anak perusahaan Pelsart International. Dua perusahaan ini punya kerja sama dalam proyek eksplorasi tambang emas dan intan. “Dia seorang geolog yang cerdas dan andal…. Impiannya juga besar sekali.”

Michael de Guzman inilah, satu dari tiga tokoh utama skandal tambang emas Bre-X Minerals Limited di Busang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, yang mengguncang dunia 20 tahun lalu. Kisah skandal tambang emas Bre-X Minerals itu kini menjadi sumber inspirasi film produksi Hollywood, Gold, yang dibintangi Matthew McConaughey, Édgar Ramírez, dan Bryce Dallas Howard.

Tambang Emas (ilustrasi)
Foto : Luc Forsyth/Getty Images

Lahir di Manila, Filipina, pada 14 Februari 1956, Guzman merupakan anak kelima dari 12 bersaudara. Ayahnya, Simplicio de Guzman, seorang insinyur geodesi. Guzman berkuliah di Jurusan Geologi Universitas Adamson dan lulus pada 1977. Selama sepuluh tahun, dia bekerja di tambang emas milik Benguet Corporation.

Tapi godaan dolar dan gaji besar membuat Guzman memutuskan meninggalkan istrinya, Teresa de Guzman, dan enam anak mereka untuk merantau ke negeri seberang. Sebelum nyangkut menjadi Kepala Geolog di Bre-X Minerals sejak pertengahan 1993, dia loncat dari satu perusahaan ke perusahaan lain di Indonesia.

Guzman, menurut Laurence de Guzman, adik laki-lakinya, sangat menikmati kerja di hutan belantara Kalimantan, mencari emas dan intan berlian. “Setiap kali pulang dari Indonesia, dia selalu bercerita soal pekerjaannya. Dia tampak sangat senang,” kata Laurence kepada Calgary Herald beberapa tahun lalu.

* * *

Beberapa bulan mengebor tanah di Busang tanpa hasil dari September 1993, John Felderhof, orang kedua di Bre-X Minerals, sudah hampir memutuskan angkat kaki dari tempat itu. Guzman, yang jadi bos di lapangan, minta perpanjangan waktu beberapa minggu.

“Pada Desember 1993, John sudah memerintahkan menutup kamp dan tiba-tiba kami menemukan sesuatu,” kata Guzman kepada majalah Fortune kala itu. Apa yang ditemukan Guzman bersama anak buahnya dalam tanah Busang benar-benar dahsyat.


Tambang Emas (ilustrasi)
Foto : Luc Forsyth/Getty Images

Pada mulanya, Guzman menaksir ada 1 juta ounce atau 28,3 ton emas di perut Busang. Tapi angka itu, dari waktu ke waktu, makin besar dan tambah besar lagi. Pada Januari 1996, David Walsh, bos besar Bre-X, menyampaikan kabar bahwa ada potensi emas sebesar 30 juta ounce atau 850,5 ton di tambang mereka. “Ini seekor monster…. Hanya itu yang bisa aku bilang,” John Felderhoff dikutip New York Times menggambarkan besarnya potensi emas Busang.

Bahkan beberapa bulan kemudian, angka itu melompat lagi menjadi 200 juta ounce atau 5.670 ton, melampaui gunung emas di Papua, Grasberg, yang dikuasai Freeport McMoran. Klaim itu menjadikan Busang tambang emas terbesar di dunia. Bre-X, yang semula hanya perusahaan gurem, seketika lompat kelas menjadi perusahaan primadona yang sahamnya diburu semua orang di Kanada dan perusahaan-perusahaan tambang. John dan Michael de Guzman tiba-tiba jadi selebritas di antara ahli ilmu kebumian.

Bre-X cepat sekali meroket ke langit, tapi juga cepat sekali menghunjam ke dasar jurang. Para geolog Freeport yang menguji sampel Bre-X tak menemukan emas seperti yang digembar-gemborkan Guzman dan bos Bre-X. Kalaupun ada emas di Busang, kandungan logam mulia itu sama sekali tak menguntungkan untuk dikeruk. Saham Bre-X yang sempat terbang tinggi kontan rontok. Tak ada lagi nilainya.

Geolog Michael de Guzman, saat akan naik helikopter Alouette III milik Indonesian Air Transport pada bulan Maret 1997. -- Foto : Calgary Herald

Strathcona Mineral Services, perusahaan Kanada yang diminta menguji ulang sampel Bre-X, malah menemukan bukti mengejutkan. Tim Strathcona yakin para geolog Bre-X sengaja memalsukan sampel dengan menambahkan emas ke dalam sampel yang diuji oleh Indo Assay. “Skala pemalsuan sampel seperti ini belum pernah kami temui sepanjang sejarah pertambangan,” Strathcona menulis kesimpulan.

Siapa orang yang merancang tipu-tipu tambang emas Busang ini tak pernah terjawab tuntas hingga detik ini. Dua dari tiga tokoh utama “drama” Bre-X, yakni Michael de Guzman dan David Walsh, sudah meninggal. David, pendiri Bre-X, asal Kanada, meninggal di Bahama, setahun setelah Guzman dikabarkan bunuh diri. Hanya tinggal John Felderhof yang masih hidup. Sekarang John tinggal di Filipina. Dia mengunci mulutnya rapat-rapat soal apa yang sebenarnya terjadi di Busang.

Pada 18 Maret 1997, Michael de Guzman tiba di Balikpapan. Pada hari itu, dia masih sempat begadang di sebuah tempat karaoke hingga larut malam. Keesokan harinya, dengan menumpang helikopter sewaan milik Indonesia Air Transport yang dikemudikan Edy Tursono, Guzman berniat bertemu dengan David Potter, kala itu Wakil Presiden Eksplorasi Freeport, di Busang, untuk menjelaskan “keanehan” sampel-sampel Bre-X.

Tapi Guzman tak pernah sampai di Busang. Menurut kesimpulan polisi, Guzman sengaja lompat dari helikopter. Dia mengakhiri hidupnya sendiri. “Secara mental, kondisinya memang sedang kurang baik,” ujar Bernhard Leode, teman Guzman di Bre-X, kepada Calgary Herald. Tapi apakah benar dia bunuh diri? Edy Tursono, sang pilot helikopter, mengatakan penumpangnya itu tak tampak sakit. “Dia terlihat normal, tak tampak sakit sama sekali,” kata Edy.


Emas (ilustrasi)
Foto : David Paul Morris/Getty Images

Sorry, I have to leave. I can’t think of myself as a carrier of hepatitis B,” Guzman menulis dalam secarik kertas yang ditemukan polisi di helikopter. Simplicio “Jojo” de Guzman Jr., adik Guzman, tak percaya kakaknya bunuh diri. “Itu bukan gayanya dan dia sedang ada di puncak dunia,” kata Jojo dikutip Calgary Sun dua bulan lalu. Dia juga menunjuk satu kejanggalan. Dalam surat itu, Guzman menulis nama panggilan istri pertamanya, Teresa, dengan “Thess”. “Padahal dia selalu menulisnya Tess atau Mahal.”

Pada 2005, delapan tahun setelah Guzman diberitakan tewas di belantara Kalimantan, salah satu istri Guzman—dia punya empat istri—Genie de Guzman, mengaku masih menerima kiriman uang dari suaminya. Sang suami kabarnya tinggal di Brasil. Bahkan Simon Sembiring, mantan ketua tim Busang di Departemen Pertambangan dan Energi, pun percaya bukan Guzman yang mati di hutan Kalimantan pada 20 tahun silam itu. “Sampai sekarang saya percaya dia masih hidup,” kata Simon kepada detikX beberapa hari lalu.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE