Mereka-Dibayar-untuk-Jadi-Gamer

INTERMESO

Mereka ‘Dibayar’ untuk Jadi Gamer

“Giliran menang, kami dikatain hoki saja. Dan kalau kalah, dibilang kami urus dapur saja.”

Ilustrasi: Luthfy Syahban

Jumat, 7 April 2017

Saat remaja, Achmad Fadh pernah punya cita-cita jadi pemain sepak bola. Dia masih sering terkesima menyaksikan Lionel Messi meliuk-liuk melewati bek yang mencoba menghadang pemain dengan julukan Si Kutu itu.

Tapi Fadh, kini 28 tahun, sadar dia tak punya bakat seperti Messi, bahkan kelihaiannya menggiring bola masih jauh dari cukup untuk menjadi pemain di Liga Indonesia sekalipun. Jangankan bermain di Nou Camp—yang ini hanya ada di alam mimpi—di lapangan futsal pun, saat dia bermain sepak bola bersama teman-temannya, Fadh juga tak termasuk pemain jagoan. 

Namun di “lapangan” lain, Messi, Cristiano Ronaldo, atau Luis Suarez sekalipun mungkin bukan lawan Achmad Fadh. Di jenis lapangan yang satu ini, Fadh pernah bertanding hingga tingkat dunia di Paris, Prancis. Bagaimana bisa? “Karena saya nggak bisa main sepak bola sesungguhnya di kehidupan nyata, ya cukup di game saja,” katanya pekan lalu.

Bakat Fadh memang bukan di lapangan rumput. Sejak kecil, Fadh memang kerap menghabiskan waktu dengan konsol Sony PlayStation 1 yang dibelikan orang tuanya. Kalau sudah bermain World Soccer: Winning Eleven, dia bisa lupa segalanya. Setelah mampu mengumpulkan uang sendiri dari hasil berjualan mata uang game, Fadh membeli konsol PlayStation 3. Selain berganti konsol, ia juga beralih ke game sepak bola FIFA buatan EASports.

Jadi muka badak saja. Cewek di dunia game mesti kuat mental.”

Ridha Audrey, gamer perempuan

Achmad Fadh (kanan) menjadi juara I dalam ajang ESWC 2012
Foto: dok. pribadi

Awalnya dia tidak pernah terpikir untuk bertanding sepak bola dalam turnamen. Bagi Fadh, permainan ini hanya sarana untuk melepas penat. Dalam sehari ia mampu bermain selama 4 jam. Belum lagi sesi latihan yang bisa dilakukan selama 2 jam. Biasanya sang adik yang paling sering menjadi lawannya di “lapangan” FIFA.

“Biasanya main buat fun saja. Tapi kalau latihan lebih singkat karena fokus saja untuk membahas kenapa bisa kalah, mengapa nggak bisa bikin gol. Kami harus memikirkan strateginya juga,” kata sarjana ekonomi dari Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta ini. Fadh masih ingat betul bagaimana ia mesti mengumpulkan nyali untuk ikut kompetisi saat masih di bangku SMP. Untuk membeli tiket pendaftaran, dia mesti mengumpulkan duit hasil menyisihkan uang jajan. Pernah satu kali Fadh kehabisan uang karena kalah bertanding. Ia pun harus merelakan salah satu kaset game orisinal favoritnya untuk membeli tiket perlombaan. Untunglah, di pertandingan berikutnya Fadh menang. “Modal”-nya balik kembali.

Achmad Fadh mendapatkan hadiah dari turnamen game FIFA.
Foto: dok. pribadi via Instagram

Merangkak dari kompetisi-kompetisi kecil, akhirnya Fadh berani naik kelas, berlaga di pertandingan game sepak bola yang lebih besar. Tujuh tahun lalu, dia berlaga di Electronic Sports World Cup (ESWC) yang diadakan di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Fadh gugup bukan main. Bagaimana tak gugup, penontonnya merubung saat dia bermain. 

Gara-gara grogi, semua kelihaian yang dia asah bertahun-tahun, juga taktik dan strategi yang dia rancang, sempat macet pada hari pertama. Baru pada hari kedua, Fadh lebih percaya diri. Dengan skor 5-1 dan 3-0, ia menyabet juara satu sekaligus mengalahkan 200 peserta. Hadiahnya, Fadh dikirim berlaga di game FIFA 11 pada ajang Grand Final ESWC 2011 di Paris Expo.

“Saya nggak nyangka bisa ke Paris. Apalagi itu pengalaman pertama saya ke luar negeri. Orang tua juga mulai memahami hobi saya. Senanglah pokoknya,” Fadh menuturkan pengalamannya. Sebagai andalan, Fadh juga memakai tim Madrid, Muenchen, dan Chelsea.

Ajang yang diikuti oleh 48 pemain dari seluruh dunia ini memperebutkan hadiah total US$ 17 ribu atau sekitar Rp 225 juta untuk delapan pemenang. Di Paris, Fadh memakai tim Real Madrid, Bayern Muenchen, dan Chelsea. Sayang, dia kalah pada babak penyisihan grup. Padahal Fadh sempat unggul 1-0 atas wakil tuan rumah, yang menjadi juara dalam ajang tersebut. Meski kalah, dia tak kapok. Fadh jadi ketagihan mengikuti ajang turnamen lokal. Ia bahkan berhasil menjuarai ajang ESWC tiga tahun berturut-turut.

Punya gelar sarjana ekonomi dan sempat kerja kantoran di perusahaan investasi emas, jalan hidup Fadh sepertinya memang bukan di sana. Dia justru memutuskan menjadi gamer profesional. Penghasilan sebagai pemain game ini lumayan juga. Setiap kali memenangi turnamen game sepak bola, Fadh bisa membawa pulang hadiah Rp 6 juta. Belum lagi hadiah dalam bentuk barang, seperti laptop game, televisi, dan sepeda motor.

Dalam sebulan Fadh bisa mengikuti empat kompetisi sekaligus. Pendapatannya dari game pun Fadh kumpulkan sebagai modal untuk membuka bisnis game center di daerah Tebet, Jakarta Selatan. “Sekarang saya ada dua game center PlayStation yang konsolnya bisa online. Pendapatan dari satu game center bisa Rp 20 juta sebulan,” katanya.

Ridha Audrey, Team Manager Female Fighters
Foto: Grandyos Zafna/detikcom


Walaupun duit hadiah dari turnamen lumayan besar, menurut Fadh, gamer di Indonesia tidak bisa hidup hanya bermodal hadiah pertandingan saja. Apalagi bagi pemain seperti Fadh, yang sudah banyak dikenal oleh pemain game FIFA. Panitia penyelenggara lomba kadang “melarang” Fadh ikut turnamen lantaran sudah kelewat sering jadi juara.

“Bro, lu jangan daftar dulu. Nanti turnamen gua jadi sepi,” Fadh menirukan seorang anggota panitia turnamen. Itu sebabnya, kini ikut turnamen bagi Fadh hanya untuk kesenangan. Selain mengelola game center dan kadang jadi penyelenggara turnamen game sepak bola, sekarang Fadh jadi pelatih tim Ultimate Game. Tim bentukan Fadh yang terdiri atas 5 pemain kadang turun bertanding untuk menggantikan Fadh.

“Kalau mau bentuk tim bagus di game FIFA itu butuh modal besar. Di Indonesia, saya lihat belum dijadikan bisnis seserius itu. Makanya pilihan tinggal dua. Mau sebagai gamer yang menjalankan bisnis seperti saya atau mengembangkan diri supaya ada yang mau jadi sponsor,” ujarnya.

Jalan seperti itu pulalah yang ditempuh Ridha Audrey atau akrab dikenal dengan nama Audrey F.F. Pendiri sekaligus manajer dari tim Female Fighters ini juga berpendapat, untuk berkiprah di dunia gaming profesional, mereka harus punya “cadangan” lain untuk bertahan hidup. Selain hidup dari uang hadiah turnamen, Female Fighters memiliki sponsor yang mendukung pilihan karier mereka.

Ridha Audrey bersama tim Female Fighters
Foto: dok. pribadi via Instagram

Beda dengan Fadh, Audrey bukan “pemain” sepak bola. Game Counter Strike 1.6-lah yang menyeret Audrey terjun ke dunia game. Gadis itu tertular kakak dan adik laki-lakinya sehingga jadi nyandu game tembak-menembak itu. Sama juga di game sepak bola, pemain perempuan Counter Strike terbilang langka.

Dalam membentuk tim, misalnya, kehadiran perempuan biasanya kurang disukai. Menurut Audrey, rata-rata gamer laki-laki menganggap kehadiran anggota perempuan sebagai titik kelemahan. Tapi dia tak percaya “mitos” itu. “Di Thailand, ada satu tim cowok tapi justru perempuannya yang jadi pemimpin. Mereka bisa tuh juara bahkan di level Asia,” kata Audrey. Tapi di sini, pemain perempuan Counter Strike dan “game-game cowok” lainnya masih belum dipandang setara. “Di Indonesia, gamer perempuan masih dipandang sebelah mata. Makanya aku kumpulin perempuan untuk membuktikan bahwa cewek juga bisa kok ngalahin cowok.”

Audrey tak setuju jika tim gaming perempuan ini dikatakan cuma memiliki modal tampang. Buktinya, tim E-sport ini juga berlatih keras sebelum mengikuti turnamen. Audrey dan temannya bisa menghabiskan satu bulan penuh untuk latihan menyambut turnamen. Female Fighters, yang dibentuk pada tahun 2010, sudah dua kali rombak pemain.

Audrey telah membuktikan bahwa “game-game cowok” itu bukan hanya milik laki-laki. Audrey dan timnya sudah berulang kali jadi juara turnamen “game cowok”. Salah satunya juara I di pertandingan Point Blank Ladies Championship pada Season 1 dan Season 2 pada tahun 2016. Point Blank Ladies Championship diikuti oleh 36 tim wanita dari 20 lebih kota yang berbeda di seluruh Indonesia. Hal ini membuat Point Blank Ladies Championship menjadi salah satu turnamen game khusus wanita terbesar di Indonesia.

Ridha Audrey ditantang bermain Street Fighter
Foto: dok. pribadi via Instagram

“Setiap kali menang, rasanya senang banget. Tapi giliran menang, kami dikatain hoki saja. Kalau kalah, dibilang kami urus dapur saja. Sudah biasa aku ngadepin omongan seperti itu. Jadi muka badak saja,” kata Audrey. “Cewek di dunia game mesti kuat mental. Dulu nangis atau baper gara-gara diledek itu hal biasa.”

Dalam setiap kompetisi, satu tim bisa mendapatkan hadiah Rp 10 juta. Selain itu, tim Female Fighters mendapat sokongan dari berbagai macam sponsor. Hingga saat ini, diakui Audrey, tim Female Fighters didukung lima sponsor sekaligus. Salah satunya Logitech G, yang menjadi sponsor sekaligus penyedia kebutuhan gaming seperti keyboard, mouse, dan headphone.

Untuk menambah penghasilan di luar kompetisi dan sponsor, Audrey dan anggota tim Female Fighters terkadang menjadi pembicara dalam seminar maupun couching game. Setahun belakangan ini, mereka juga membuka akun YouTube untuk membahas hal seputar game

“Profesi gamer seperti tim kami menurut saya nggak mustahil. Tapi ya mau nggak mau harus bisa mencari sumber pendapatan lain di luar turnamen. Semua rata-rata bekerja penuh sebagai gamer. Cuma untuk saya sendiri kadang di waktu senggang masih bekerja sebagai penata rias,” kata Audrey.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE