INTERMESO

Dari Kentut Jadi Dolar

Sempat dikira jadi bandar narkoba, Anton berhasil menjadikan Touchten salah satu perusahaan game lokal paling sukses.

Foto: Screenshot Warung Chain

Jumat, 7 April 2017

Ketika sebagian besar orang sudah menyingkap selimut, bergegas bangun, mandi, dan segera berangkat bekerja, Anton Soeharyo justru sebaliknya. Ia baru bangun jika jarum pendek jam sudah menunjuk angka 11. Melihat kebiasaan anaknya, sang ibu, Peggy Puger, benar-benar gundah.

Bagaimana Peggy tak gundah dan cemas. Putranya punya gelar dari kampus top di Tokyo, Jepang, Universitas Waseda. Tapi Anton tak kunjung tampak bekerja. Setiap hari dia bangun siang. Dan jika ada tawaran pekerjaan datang, Anton malah menolaknya.

Anton sendiri bukannya tutup telinga. Terus ditanya oleh ibunya soal pekerjaan membuatnya senewen pula. Dia mengambil buku rekening bank dari dalam kamar dan membuka lembar demi lembar di hadapan ibunya. “Karena capek berdebat, saya kasih lihat saja. Mama kira saya jualan narkoba atau paling nggak DVD porno,” Anton menuturkan sambil tertawa geli mengingat reaksi ibunya.

Melihat deretan angka di dalam buku rekening putranya, Peggy tercengang. Dia terheran-heran melihat isi rekening bank anaknya yang selalu bangun siang seperti pengangguran itu demikian gendut. Jangan-jangan Anton terlibat jaringan bandar narkotik, Peggy berpikir.

Anton memang sengaja tak memberi tahu kedua orang tuanya mengenai usaha yang sembunyi-sembunyi dia jalankan. Sebab, Anton berkukuh, jika belum berhasil, dia tak mau gembar-gembor soal usahanya kepada semua orang, termasuk kepada kedua orang tuanya. Ternyata, menjelang akhir masa perkuliahan di Jepang, Anton sedang mengembangkan aplikasi game di ponsel. Usaha diam-diam saat masih kuliah inilah yang kini jadi perusahaan pembuat game kondang di Indonesia, Touchten Games.

Setelah tahu, ibunya menyambut positif usaha Anton. Tapi tetap ada saja kerabat Anton yang memandang sebelah mata. Bahkan ada yang menyangka Anton membuka bisnis warung internet untuk bermain online game. Kala itu online game memang jauh lebih populer dibanding game berbasis Apple iOS dan Google Android.

Anton Soeharyo, pendiri Touchten Games
Foto: Ari Saputra/detikcom

Dulu kami diketawain. Mereka bilang, ‘Lu lagi bikin game iPhone…. Di Indonesia kan pakainya BlackBerry semua.”

Anton Soeharyo, pendiri Touchten Games

“Dulu kami diketawain. Mereka bilang, ‘Lu lagi bikin game iPhone…. Di Indonesia kan pakainya BlackBerry semua.’ Sayangnya, mereka nggak dengar cerita saya sampai habis,” kata Anton.

Kentutlah yang jadi sumber inspirasi Anton. Ya, benar… kentut. Saat masih tinggal di Mejirodai, Tokyo, dia menemukan aplikasi iFart di Apple AppStore. Aplikasi usil bikinan Joel Comm itu bisa mengeluarkan beraneka ragam bunyi kentut. Namun siapa sangka, dengan menjual aplikasi kentut itu saja, Joel bisa menghasilkan jutaan dolar AS.

Hanya dalam 14 hari sejak dipasang di AppStore pada Desember 2008, iFart, yang dijual US$ 0,99, diunduh 100 ribu kali. Sampai hari ini, aplikasi kentut itu sudah diunduh jutaan kali. Hitung saja berapa duit yang mengalir ke rekening Joel Comm. Melihat aplikasi kentut saja bisa mendatangkan banyak duit, terbayang di benak Anton pundi-pundi uang yang dapat ia kumpulkan jika terjun di industri ini. Apalagi kala itu, sembilan tahun silam, aplikasi di iOS dan Android belum banyak pengembangnya.

Bukan tanpa alasan Anton bersama adiknya, Rokimas Soeharyo, dan saudaranya, Dede Indrapurna, memilih berfokus menggarap aplikasi game. Rupanya sejak kecil Anton sangat gemar bermain game. Segala macam game di Sony PlayStation 1 hingga beralih ke PlayStation 4 dia mainkan. Bahkan, saat menempuh pendidikan di Jepang, Anton tetap tak bisa jauh dari game. Anton bahkan menjuluki dirinya sebagai Hikomori, istilah Jepang untuk pemuda yang terus mengurung diri di rumah.

“Mainnya di kamar melulu, berat badan sampai naik 40 kg. Sudah kayak Hikomori. Sekalinya keluar buat main game mesin capit yang hadiahnya boneka…. Dulu gila, lo. Saya pernah ngabisin 5.000 yen sehari cuma buat main game itu,” Anton menuturkan masa-masa kuliah di Jepang. Demi memenuhi kebutuhan, Anton terpaksa cari tambahan penghasilan. Mulai menjadi pengantar susu di pagi hari hingga bekerja sebagai tukang dekor di mal, bahkan menjadi petugas kebersihan di stasiun bawah tanah.

Kantor Touchten Games
Foto: Ari Saputra/detikcom


Suatu hari sang ayah memberikan duit masing-masing US$ 1.000 kepada Anton dan adiknya. Roki kuliah di Universitas Michigan, Amerika Serikat. Anton dan Roki tak ingin duit itu amblas. Mereka Ingin melipatgandakannya dengan mengembangkan game. Tapi ada satu masalah. Baik Anton maupun Roki tak jago bikin aplikasi. Mereka mengajak Dede, saudara sepupu yang kuliah ilmu komputer di Universitas Monash, Australia.

Modal itu langsung tandas untuk membeli Apple MacBook dan buku bacaan mengenai teknis pembuatan game. Terpisah di tiga benua, Anton, Roki, dan Dede hanya mengandalkan Skype setiap kali ingin berdiskusi. Hanya butuh 6 bulan hingga mereka menuntaskan aplikasi game Sushi Chain. Di luar dugaan, game pertama Touchten ini cukup digemari hingga diunduh 3 juta pengguna. Anton pasang harga US$ 0,9.

“Itu awal cikal bakal kami, bak cinta pertama…. Saya pilih sushi karena saya gemar makan dan saya lihat kultur Jepang sudah mendunia,” kata Anton. Sushi Chain menghasilkan duit lumayan juga bagi mereka bertiga. “Lumayan, pada masa awal kami bisa dapat US$ 10 ribu per bulan.”

Saat jadi pembicara utama di Regional Entrepreneur Summit di Bali pada 2011, Eric Schmidt, bos Google, memuji Hachiko, game buatan Anton dan teman-temannya. Menurut Eric, game itu sangat digemari di Amerika Serikat, juga di Jepang. Eric tentu saja tak asal omong.

Game demi game yang dibuat Touchten, seperti Ramen Chain dan InfiniteSky, membuat namanya makin diperhitungkan. Beberapa investor tak ragu lagi menyuntikkan duit untuk modal Anton dan timnya. Setelah investor lokal, Ideosource, menyuntikkan dana pada 2011, beberapa investor lain, seperti CyberAgent Ventures, TMS Entertainment, UOB Venture Management, dan belakangan, perusahaan investasi asal Jepang, Gree Corp, menyusul.

Touchten juga bekerja sama dengan 9gag, situs meme internasional untuk membuat game bertajuk Redhead Redemption. Jalinan pertemanan antara Anton dan Ray Chan, CEO 9gag, pun terbilang unik. Sewaktu menghadiri sebuah acara diskusi yang sama di Jakarta, Anton menawari Ray tumpangan menuju hotel. Pasalnya, ketika hendak pulang, Anton melihat Ray kesulitan mencari taksi.

Game Warung Chain buatan Touchten
Foto: Screenshot Warung Chain

“Waktu pulang dari restoran ke hotel nggak ada yang antar. Saya lihat Ray lagi menunggu taksi. Mana hujan lagi, makanya saya tawari ikut mobil saya saja, toh satu arah,” Anton mengenang perkenalannya dengan Ray. Dari memberi tumpangan, akhirnya mereka berteman dan berujung kerja sama. “Dia nawarin saya bikin game. Padahal niat awalnya memang tulus mau nolong orang.” Baru seminggu diluncurkan pada akhir 2014, game Redhead Redemption hasil kerja sama Touchten dan 9gag sudah diunduh 250 ribu kali.

Meski awalnya pengunduh game Touchten kebanyakan berasal dari luar negeri. Anton tak mungkin mengabaikan kenyataan bahwa sebagian besar pemain game buatannya merupakan gamer lokal. Makanya, Touchten juga bikin SushiChain dan RamenChain “versi lokal”, yakni Warung Chain. Pertengahan tahun lalu. Warung Chain sempat duduk di posisi ketiga game gratis yang paling banyak diunduh di Google Play.

Menurut firma riset game Newzoo, Asia Tenggara merupakan wilayah paling panas dengan pertumbuhan pasar game paling tinggi di dunia. Dan Indonesia merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara. Newzoo menaksir, ada duit US$ 840 juta atau lebih dari Rp 10 triliun yang berputar dalam bisnis game di negeri ini. Dan lebih dari separuhnya, US$ 542 juta, bersumber dari mobile game.

Kue itulah yang diperebutkan oleh perusahaan-perusahaan game global, seperti GameLoft, Konami, Sega, dan ElectronicArts, bersama pemain-pemain lokal, seperti Touchten, Toge Productions, Agate Studio, dan Alegrium. Bersama 55 anggota kazoku, sebutan untuk karyawan Touchten, yang artinya keluarga, Anton punya strategi untuk merebut kue bisnis game yang menggiurkan.

“Jangan pernah mengorbankan user experience, jangan menempatkan pendapatan di atas pengguna, dan selalu fokus pada pengguna, maka uang akan datang,” kata Anton. Bersama para kazoku, Anton telah menelurkan sekitar 40 game.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE