image for mobile / touch device
image 1 for background / image background
image 2
image 3

INTERMESO

Karena Boy Bolang

"Dunia saya adalah tinju. Apa pun yang terjadi, saya tak bisa dipisahkan dari tinju.”

Ilustrasi: Kiagoos Aulianshah

Jumat, 28 April 2017

Tangis Boy Bolang meledak ketika wasit Joe Cortez mengangkat tangan Ellyas Pical di atas ring sesaat setelah petinju Korea Selatan, Ju Do-chun, terjatuh di ronde ke-8. Ia memeluk anak lelakinya yang menemaninya menyaksikan peristiwa bersejarah tersebut di Istora Senayan, Jakarta. Keduanya larut dalam tangis haru bahagia. Malam 3 Mei 1985 itu, Boy menjadi promotor yang berhasil membawa Elly merebut gelar juara dunia versi IBF.

Setelah perayaan selesai di atas ring, Boy bergegas menyusul sang juara baru dan tim pelatihnya ke ruang ganti. Ia meloloskan sebuah cincin bertatah berlian dari jari manis kanannya, lalu diserahkan kepada petinju kidal asal Saparua itu. "Itu bagian dari janjinya kepada Elly," ujar pelatih Elly saat itu, Khairus Sahel, kepada detikX. "Pak Boy bilang, ‘Elly kalau ose (kamu) juara, beta kasih cincin ini.’" Konon, cincin kesayangan Boy Bolang tersebut berharga Rp 4 juta saat itu.

Tambunan bersaudara, Rio dan Simson, adalah orang yang mengenalkan Elly dengan Boy Bolang. Boy memang dekat dengan Rio sebagai sesama pendiri Sasana Garuda Jaya, Jakarta. Setelah malang melintang sebagai petinju, pria kelahiran Surabaya itu kemudian merintis karier menjadi promotor tinju profesional sejak 1979.

Boy Bolang
Foto: dok. pribadi Boy Bolang

Untuk ini semua, harus ada yang berani berkorban. Anda tahu, saya tak pernah membayar murah petinju kita.”

Boy Bolang, promotor tinju 

"Pak Boy promotor yang royal," ujar Khairus mengenang. Boy berani membayar mahal petinju-petinju yang dipromotorinya. "Banyak insan tinju di Indonesia yang hidup dari beliau."

Tinju bisa dibilang mengalir dalam darah Boy. Ayahnya, Johanes Estafanus Bolang, salah satu pendiri Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina). Abang kandungnya, Johny Bolang, seorang petinju amatir kelas bulu yang pernah bertarung di Olimpiade Roma, Italia, pada 1960.

Boy sendiri pernah merajai dunia tinju amatir Indonesia mulai akhir 1960-an sampai pertengahan 1970-an. Dia pernah menjadi juara nasional untuk kelas menengah ringan dan meraih emas di Pekan Olahraga Nasional pada 1973.

"Dunia saya adalah tinju. Apa pun yang terjadi, saya tak bisa dipisahkan dari tinju. Kalau dulu sebagai petinju, sekarang mencoba bisnis tinju," kata Boy, dikutip tabloid Bola, pada pertengahan 1980-an. Ia punya cita-cita, di kemudian hari petinju profesional Indonesia bisa hidup secara terhormat dari hasil kepalannya. "Untuk ini semua, harus ada yang berani berkorban. Anda tahu, saya tak pernah membayar murah petinju kita.”

Ellyas Pical dielu-elukan pendukungnya
Foto: dok. pribadi Boy Bolang

Jalannya menjadi promotor tak mulus. Saat baru saja menjadi promotor, Boy bertikai dengan Herman Sarens Sudiro, purnawirawan jenderal TNI, yang juga pemilik sasana tinju Satria Kinayungan, Jakarta. Keduanya berselisih saat mendatangkan juara kelas welter ringan WBC Saoul Mamby untuk bertarung dengan Thomas Americo pada 29 Agustus 1981 di Senayan. Herman sebagai promotor diperkirakan merugi lebih dari Rp 200 juta saat itu. Tak tanggung-tanggung, Panglima Komando Pengendalian Keamanan dan Ketertiban Laksamana Sudomo turun tangan menengahi.

Sudomo mengungsikan Boy dan keluarganya ke Los Angeles, Amerika Serikat. Di kota ini, Boy dan keluarganya sempat tinggal selama dua tahun. Ia sempat bekerja sebagai staf di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di sana. Sebelumnya, Boy pernah bertualang 6 bulan di New York. Saat uangnya habis, ia menjual arloji dan jasnya di tukang loak untuk membeli makan.

Ia juga sempat mengambil pekerjaan sebagai pencuci piring di sebuah restoran dalam perjalanannya tersebut. Gajinya USD 175 seminggu ditambah makan tiga kali sehari. Karena tak punya izin kerja, Boy harus hidup berpindah-pindah kota. Pernah suatu saat, pria keturunan Minahasa itu terdampar di Philadelphia.

Boy Bolang bersama promotor Don King
Foto: dok. pribadi Boy Bolang

Untuk menyambung hidup, Boy mendatangi salah satu sasana tinju. Berbekal pengalaman sebagai petinju, ia melamar menjadi sparring partner petinju-petinju sasana tersebut. Saat bermukim di Amerika Serikat itu, Boy memperdalam ilmunya soal dunia tinju profesional.

Saat pulang kampung ke Jakarta, Boy akhirnya memperoleh izin kembali menjadi promotor dari Ketua Umum Komisi Tinju Indonesia Solihin G.P. pada pertengahan Juni 1984. Bersama Benny Tengker, pemilik Sasana Benteng AMI-ASMI, Boy mendirikan perusahaan promotor PT Arena Coliseum. Angan-angannya adalah mempertemukan Elly Pical, yang saat itu juara Orient Pacific Boxing Federation (OPBF), dengan juara dunia tinju versi IBF dari Korea Selatan, Ju Do-chun. 

Partner bisnisnya, Benny, rupanya tak sepakat dengan ide itu. Mereka akhirnya pecah kongsi. Boy, yang selalu berpenampilan necis dan klimis, akhirnya memutuskan bekerja dengan Dali Sofari, yang saat itu juga merupakan manajer Ellyas Pical. Duet ini kemudian berhasil mendatangkan Ju Do-chun dan membuat petinju Indonesia merebut gelar juara dunia tinju untuk pertama kalinya.

Presiden Soeharto menerima juara dunia baru versi IBF Ellyas Pical yang didampingi promotornya Boy Bolang.
Foto: dok. pribadi Boy Bolang

Elly Pical tak pernah melupakan jasa Boy, yang melejitkan namanya di pentas tinju dunia. Anak bungsu Elly, Matheuw Leosio Yunior Pical, mengatakan ayahnya selalu menjaga hubungan baik dengan keluarga Boy Bolang. Ketika Boy meninggal pada 19 April 2004 dan dikubur di pemakaman Menteng Pulo, Jakarta Selatan, sedianya Ellyas Pical akan membacakan sambutan. Namun Elly tak kuasa menahan isak dan air mata. Suaranya tercekat. "Hubungan keluarga kami dengan keluarga Om Boy selalu baik," kata Matheuw.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti M.
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.





SHARE