Dulu-Mereka-Mengamankan-Garis-Belakang

INTERMESO

DULU AKTIVIS, SEKARANG…

Dulu Mereka Mengamankan
Garis Belakang

"Dalam perjuangan saat itu, tak pernah ada yang tanya agamamu apa."

Ilustrasi: Edi Wahyono

Foto-foto: M. Firman/Forkot

Jumat, 19 Mei 2017

Mereka adalah massa yang kalap. Segala hal yang “berbau” Presiden Soeharto, bahkan yang “bau”-nya sangat samar sekalipun, lantas dianggap sebagai musuh. Saat itu, pada 1998, Soeharto memang jadi musuh bersama mahasiswa.

Entah siapa yang memprovokasi, massa mahasiswa yang sedang gelap mata itu mulai mencari-cari mobil merek Bimantara Citra dan Timor, dua merek mobil yang dikuasai putra-putra Presiden Soeharto. Dan sial-lah pasangan ekspatriat yang tengah melintas dengan mobil buatan pabrik Jepang di persimpangan Cawang, Jakarta Timur, pada hari itu. Massa memaksa mereka keluar dari mobil.

Muhammad Firman, yang melihat kejadian itu, segera berlari keluar dari kampusnya, Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cawang, Jakarta Timur. Kamera Nikon FM tahun 1978 dikeluarkannya dari tas. Dia dengan sigap mengabadikan detik-detik massa mendorong mobil nahas itu dari atas jembatan sampai jatuh, meledak, dan terbakar.

"Saya potret dengan empat film terakhir," ujar pria berdarah Madura itu kepada detikX di sela-sela penutupan pameran foto Peringatan 19 Tahun Reformasi di Jakarta beberapa hari lalu.

Namanya darah muda, Firman juga tak mau berpangku tangan melihat teman-temannya turun ke jalan, berjuang melawan rezim Orde Baru. Dia memutuskan bergabung dengan organ Komunitas Mahasiswa Se-Jabodetabek, yang selanjutnya bersalin nama menjadi Forum Kota. Saat itu setiap mahasiswa ditanyai satu per satu tentang sikap mereka terhadap situasi nasional dan peran yang dipilih dalam tiap aksi. "Dalam perjuangan saat itu, tak pernah ada yang tanya agamamu apa," katanya. Firman, yang merasa tak punya kemampuan berorasi atau kekuatan fisik di garis depan, memilih jadi fotografer. "Modal saya hanya kamera punya ayah dan sedikit tabungan untuk beli film," ujarnya sambil tertawa.

Demo mahasiswa 1998

Aktivis Forum Kota, 1998 

M. Firman, aktivis Forum Kota yang mengabadikan momen kejatuhan Orde Baru

No man left behind. Tidak boleh ada yang tertinggal.”

Arnold Seworwora, mantan aktivis Forkot

Dalam benaknya, momen-momen perjuangan rakyat menumbangkan rezim itu harus diabadikan. "Harus ada bukti atau jejak sejarah saat terjadi perubahan," katanya. Sembari menenteng kamera ayahnya, Firman selalu setia mendampingi aksi kawan-kawannya. Supaya tak diincar aparat, "Saya menyaru sebagai wartawan foto media."

Meski sudah menyaru dan tak memakai jas almamater atau tali sebagai penanda, peran Firman sebagai fotografer aksi tak luput dari ancaman kekerasan yang dilakukan aparat. Beberapa kali dia diselamatkan fotografer-fotografer media kala itu. "Saya banyak berutang kepada solidaritas mereka," ujar Firman sambil menyebut satu per satu fotografer yang kini sudah menjadi fotografer senior di media masing-masing.

Hubungan erat dengan para fotografer media dipupuknya sejak aksi pertama. Firman selalu memberikan informasi lokasi-lokasi aksi kepada para fotografer. "Saya kasih info lewat pager dengan bahasa sandi," katanya. Fotografer media tak jarang memberi imbalan rol film bagi informasi tersebut. "Kadang-kadang isinya sudah nggak utuh, tapi itu berharga sekali karena rol film sangat mahal waktu itu."

Tak selamanya Firman beruntung berada dalam perlindungan fotografer lain. Suatu waktu, sesaat setelah Soeharto jatuh, berlangsung aksi di kawasan Semanggi. Firman mengabadikan aksi yang berlangsung sampai menjelang tengah malam dari atas jembatan penyeberangan dekat Universitas Atma Jaya. Sekelompok tentara memergokinya mengambil gambar bentrokan antara kelompok mahasiswa dan aparat. Begitu melihat tentara datang dan tak ada jalan untuk lari, Firman segera memasukkan kameranya dalam tas.

Firman pasrah ketika tendangan dan pukulan mendarat di kepalanya. "Saya hanya bisa peluk erat tas dan berdoa kamera tak rusak. Wajah saya serasa disiram cairan hangat, ternyata darah," ujarnya. Untungnya, seorang anggota Polisi Militer menghentikan pengeroyokan tersebut. "Saya dibawa anggota Palang Merah ke rumah sakit memakai ojek.” Perlu 18 jahitan untuk menutup dua luka menganga di kepalanya.

Demo mahasiswa menuntut lengsernya Presiden Soeharto, 1998


Rupanya, meskipun Firman sudah masuk rumah sakit, ancaman dari aparat keamanan masih ada. Anggota kepolisian sudah mengepung rumah sakit tersebut. Mereka berencana menangkap mahasiswa-mahasiswa yang sedang mendapatkan perawatan. Tak diduga Matori Abdul Djalil, Wakil Ketua MPR saat itu, bersama Khofifah Indar Parawansa datang membesuk mahasiswa. "Makanya kami saat itu merasa berutang nyawa kepada Pengurus Besar NU," ujarnya.

Firman pertama kali belajar memotret saat berusia 10 tahun. Diam-diam dia memakai kamera ayahnya, prajurit TNI Angkatan Udara, yang memiliki hobi fotografi. "Awalnya saya dilarang, mungkin karena barang mahal sampai akhirnya tak bisa dilarang," ujar Firman. Hobi fotografi tak dilanjutkan setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum. Firman sempat manggung dari kafe ke kafe sebagai vokalis band lagu-lagu Top 40. "Setelah tiga tahun nyanyi, saya akhirnya memutuskan kerja kantoran sebagai staf bagian hukum.”

Sementara Firman jago motret, Arnold Seworwora, seorang calon dokter di UKI, memilih berjaga di “garis belakang”. Bersama kawan-kawannya yang lain, Arnold menolong peserta aksi yang terluka saat bentrokan dengan aparat. "Siapa lagi yang mau menolong mereka kalau bukan kami. Masuk rumah sakit pasti sulit karena akan ditanya macam-macam," katanya.

Arnold, kini dokter spesialis kandungan di satu rumah sakit di Jakarta, mengatakan tak mudah menolong korban bentrokan mahasiswa dengan aparat. Salah-salah, bukannya menolong, mereka malah bisa ikut kena gebukan aparat. Biasanya Arnold dan teman-temannya menunggu bentrokan reda, baru turun tangan. "No man left behind. Tidak boleh ada yang tertinggal. Ada yang luka kami angkut. Sampai masuk area tentara pun akan kami ambil," katanya.

Demokrasi menuntut Presiden Soeharto lengser, 1998

Perlawanan Syafiq Ali tak berhenti. Dulu ia menantang rezim Soeharto, tapi kini perlawanannya berada dalam tataran informasi. Kekhawatiran masifnya informasi-informasi yang berpotensi memicu perpecahan membuatnya terpanggil untuk melawan. "Saya tidak akan membiarkan Islam dibajak. Kebetulan saya punya latar belakang aktivis, jadi masih maulah," ujar Direktur NU Online itu kepada detikX di kantor Nutizen, Jakarta, dua pekan lalu.

Bersama kawan-kawannya lulusan pesantren, Syafiq membuat portal berita berbasis Islam dengan nama Islami.co. Portal ini ditujukan untuk mengisi kebutuhan informasi masyarakat muslim di perkotaan. "Kita melakukan counter narasi atas informasi yang disebarkan kelompok-kelompok tertentu. Ini perlawanan yang kami mampu dan sesuai dengan koridor demokrasi," kata Syafiq.

Bersama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Syafiq juga membangun startup Nutizen sejak Januari 2016. Sebuah aplikasi yang berisi video dan audio bagi yang ingin belajar keislaman dari kiai dan ulama berpengaruh. "Ini untuk generasi muda yang lebih senang video."

Syafiq pernah menempuh studi di Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pada 1993. Di Kota Pelajar, Syafiq menceburkan diri dalam dunia gerakan melalui pers mahasiswa Amanah. Melalui bacaan-bacaan, Syafiq disadarkan bahwa negara ini tidak dikelola dengan benar. "Pemerintahan otoriter dan kemiskinan struktural mendorong saya menyuarakan kekecewaan. Saya menulis untuk melawan," ujarnya.

Tanpa menyelesaikan kuliahnya di Yogyakarta, Syafiq hijrah ke Jakarta pada 1996. Pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, itu masuk ke Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Bersama aktivis-aktivis muda Nahdlatul Ulama lainnya, Syafiq mengontrak rumah di bilangan Matraman, Jakarta Timur. Mereka lalu membentuk kelompok diskusi 164, mengacu pada alamat gedung PBNU, Kramat 164. "Dari situ saya berkenalan dengan aktivis-aktivis kampus di Jakarta yang ikut diskusi."

Demo mahasiswa menuntut Presiden Soeharto lengser di Jakarta, 1998

Melalui diskusi yang intens, aktivis-aktivis kampus ini membangun Komunitas Mahasiswa Se-Jabodetabek, yang kemudian berganti menjadi Forum Kota. "Dari sini saya belajar menjadi aktivis jalanan," kata Syafiq. Mereka menggagas mimbar-mimbar bebas dalam kampus. "Saya diundang untuk berorasi, dari dikira orang gila sampai diusir."

Militansi Forkot melahirkan friksi. Syafiq memutuskan keluar dan membentuk Forum Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred) pada September 1998. Dia melihat Forkot mulai tak independen. "Ada teman yang terima sumbangan dari luar atas nama Forkot. Ini tidak kita benarkan. Kita itu dulu patungan saja dapatnya banyak. Kalau untuk sekadar sewa bus, enteng banget," ujarnya. 

Setelah masuk reformasi, Syafiq mendirikan Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) sebagai salah satu aliansi nasional aktivis-aktivis pada 2001. Dia kemudian menjadi Ketua FPPI pada 2003. "Tahun itu juga saya menjadi Wakil Pemred NU Online," ujarnya. Keterlibatannya di redaksi NU Online terus berlanjut sampai akhirnya pada 2009 diangkat menjadi Pemred NU Online.


Reporter/Redaktur: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE