INTERMESO

Demi Keluarga,
Demi Agama

“Mereka bilang kuliah tinggi-tinggi kok sekarang malah jadi pembantu.”

Foto: Ari Saputra/detikcom

Sabtu, 10 Juni 2017

Bagi seorang pemuda asal Hong Kong seperti Leo Thang, mempelajari bahasa Indonesia bukan perkara gampang, bahkan hanya untuk mengatakan /pulang/ sekalipun. Buktinya, sudah hampir satu jam berlalu, ia masih saja kesulitan mengucapkan kata /pulang/.

Padahal pengajarnya, Rina Tri Sulistyoningrum, sudah puluhan kali menuntun Leo untuk mengucapkan lafal dengan benar. Namun lidah Kanton Leo selalu memelesetkan huruf konsonan /p/ menjadi /b/. “Dilafalkannya /pulang/, bukan /bulang/. Ayo, terus dibaca keras-keras,” perintah Rina kepada Leo dalam bahasa setengah Kanton dan Indonesia.

Rina bukan tenaga pengajar profesional bersertifikat, makanya ia tak memiliki kelas khusus. Rina hanyalah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dibayar HK$ 4.200 per bulan. Maklum saja jika ia memilih tempat gratisan seperti taman di daerah Mong Kong. Rina juga tak meminta honor atas jerih payahnya mengajar Leo. Bukan uang yang dicari Rina, dia memang bercita-cita jadi guru.

Ribuan kilometer jarak memisahkan antara Hong Kong dan kampung halamannya di Trenggalek, Jawa Timur. Salah satu sosok yang begitu Rina rindukan adalah sang ayah. Karena ayahnyalah Rina jatuh cinta pada profesi guru. Ayah Rina sudah pensiun sebagai guru. Kegigihan sang ayah mendidik murid-muridnya membuat Rina memantapkan pilihan menjadi seorang guru.

Sembari kuliah di Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas PGRI, Madiun, Rina bekerja sebagai guru honorer di sebuah sekolah dasar di Kabupaten Ponorogo. Setiap Jumat dan Sabtu, dengan sepeda motor, dia menembus jalan menanjak dan berbatu puluhan kilometer demi mengajar murid-muridnya. Bahkan kadang dia juga mesti datang ke sekolah pada hari Ahad untuk membina Pramuka.

Akhir bulan ketika menerima gaji pertamanya, Rina amat terkejut. Bukan karena uang yang diterima melampaui harapannya, justru jauh dari yang dia bayangkan. Honor yang dia dapat setiap bulan hanya Rp 125 ribu. Dalam hati Rina berhitung, untuk ongkos yang dia keluarkan buat perjalanan ke sekolahnya pun honor itu tak mencukupi.

Rina Tri Sulistyoningrum
Foto: dok. pribadi

“Kalau begini, namanya saya tekor. Tapi Bapak bilang menjadi guru itu pengabdian, nggak bisa dilihat hanya dari segi materi,” Rina menirukan ayahnya. Cita-cita Rina jadi guru memudar saat menjelang hari kelulusan, ibunya jatuh sakit, sementara ayahnya sudah pensiun. Padahal di rumah masih ada adiknya yang baru mau kuliah.

“Saat itu saya baca surat kabar, isinya iklan lowongan kerja TKI. Ada tulisan gaji di atas Rp 5 juta. Nggak pakai pikir panjang, saya langsung kontak nomor yang tertera di sana,” Rina menuturkan kisahnya. Orang tuanya tentu tak memberikan izin kepada Rina. Apalagi Rina merupakan anak perempuan satu-satunya. Namun, demi menyelamatkan keuangan keluarga, Rina terus membujuk sang ayah. Pada 2014, Rina pertama kali terbang jauh meninggalkan rumah, keluarga, dan cita-citanya.

Meski bergelar sarjana, Rina tak malu menjadi TKI di Hong Kong. Hanya satu hal yang dipikirkan Rina, yakni bagaimana mengumpulkan uang untuk keluarganya. Dia tutup telinga meski dicibir teman-teman kuliahnya. “Mereka bilang kuliah tinggi-tinggi kok sekarang malah jadi pembantu,” ujar lulusan sarjana (S-1 PGSD) Universitas PGRI Madiun ini.

Sempat mendapat perlakuan buruk dari majikan pertama, sekarang Rina punya bos yang baik hati. Majikan barunya memberi keleluasaan kepada Rina untuk aktif di pelbagai organisasi, salah satunya Forum Lingkar Pena Hong Kong. Di sela-sela waktunya, dia juga mengajar bahasa Indonesia gratis bagi teman-temannya warga Hong Kong dan Filipina.

“Ada rasa bangga sendiri bahasa Indonesia dikenal orang asing. Mereka saja mau susah-susah belajar bahasa Indonesia. Padahal mereka bisa saja belajar bahasa lain yang lebih universal,” kata Rina, kini 25 tahun. Meski kini menikmati kerja di Hong Kong, dia tak melupakan cita-citanya jadi guru.

Rina bersama Mario Teguh
Foto: dok. pribadi

Kejadian seperti ini di mana saya dilarang pakai jilbab bukan cuma sekali terjadi dalam hidup saya.”

Ranti Aryani, dokter gigi asal Indonesia di Amerika Serikat

Ketika Presiden Joko Widodo menyapa warga Indonesia di Hong Kong pada akhir April lalu, Rina tak melewatkan kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya. Di antara 5.600 warga yang berdesakan di gedung Asia World Expo, Rina membawa pesan untuk Presiden.

“Saya tidak minta sepeda, tapi untuk teman-teman yang masih jadi guru honorer, tolong segera diangkat jadi PNS, biar mereka mengabdi lebih baik. Gaji Rp 100 ribu per bulan itu benar-benar menyakitkan,” ujar Rina mengeluh.

* * *

Kata-kata filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche, ini barangkali benar belaka. “What doesn’t kill you makes you stronger,” Ranti Aryani mengutip kata-kata Nietzsche untuk menggambarkan cobaan bertubi-tubi yang mesti dia lalui untuk mempertahankan hijabnya.

Ranti masih ingat masa-masa itu. Berdiri tegap di belakang bendera Amerika Serikat, The Stars and Stripes, mengenakan seragam biru gelap, dia bersiap untuk melakukan foto perdana sebagai perwira di Angkatan Udara Amerika Serikat atau United States Air Force (USAF) di Pangkalan Udara Maxwell-Gunter, Montgomery, Alabama. Begitu melihat hasil jepretan sang fotografer, Ranti tersenyum semringah.

Sebagai anggota militer yang bertugas sebagai dental officer atau perawat gigi para tentara, memperoleh izin menggunakan jilbab di negara nonmuslim itu merupakan sebuah usaha yang luar biasa. Sejak hari pertama masuk pangkalan pada Juli 2003, dia menghadapi rupa-rupa cobaan. Dia sempat tak diberi izin berpraktek dan dipaksa mengenakan baju lengan pendek.

Ranti Aryani di antara keluarga besarnya di Amerika Serikat.
Foto: dok. pribadi

Buku yang ditulis Ranti tentang perjalanan hidupnya.
Foto: dok. pribadi

Bersama sang suami
Foto: dok. pribadi

“Kejadian seperti ini di mana saya dilarang pakai jilbab bukan cuma sekali terjadi dalam hidup saya,” ungkap Ranti. Peristiwa serangan teroris ke gedung World Trade Center pada 11 September 2001 membuat fobia terhadap Islam meruyak di Amerika. Ketika teman-temannya menyelesaikan dinas hanya dalam 1 bulan, Ranti butuh 14 bulan. Tapi pada akhirnya Ranti harus menerima kenyataan pahit. Dia diberhentikan secara terhormat oleh USAF.

Suami Ranti, Richard J. Bennett Jr., merupakan muslim warga negara Amerika Serikat. Setelah menikah, Ranti dan sang suami berencana membangun keluarga di Indonesia. Richard sudah berikhtiar untuk mengganti kewarganegaraannya. Namun, setelah krisis ekonomi 1998, peluang Richard menjadi WNI tertutup. Padahal visanya hampir habis, sehingga ia harus segera kembali ke negaranya. Bersama suami, Ranti terpaksa hijrah ke Amerika. Alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Moestopo ini melanjutkan pendidikan penyetaraan di New York University.

Bagai makan nasi sehari tiga kali, diskriminasi terhadap penggunaan jilbab sudah sering dialami oleh wanita asal Bogor yang kini berusia 45 tahun itu. Namun selama itu pula Ranti tetap bertahan dengan idealismenya. Padahal dulu, sewaktu masih remaja, Ranti memandang aneh wanita yang bepergian dengan memakai jilbab. Sebab, pada masa Orde Baru pemakaian jilbab di sekolah memang ditentang oleh pemerintah.

Salah seorang saudaranya yang kuliah di Institut Pertanian Bogor pertama kali memperkenalkan jilbab kepada Ranti. Ia pun bertekad mengenakan jilbab semenjak menjadi siswi di SMPN 4 Bogor. Untuk mengakalinya, Ranti memakai jilbab dari rumah dan melepasnya di sekolah. Namun, ketika menjadi murid di SMA 1 Bogor, posisi Ranti makin terpojok.

“Saya sempat dikeluarkan dari sekolah karena dianggap sebagai pemberontak karena tidak mau mematuhi aturan seragam,” Ranti mengenang. Dibantu keluarga dan lembaga bantuan hukum, Ranti menggugat sekolahnya ke pengadilan. Selama persidangan berjalan, Wali Kota Bogor hingga Majelis Ulama Indonesia turun tangan. Pada akhirnya sekolah mau mengakomodasi keinginan Ranti dan teman-teman sebayanya yang berjilbab.


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE