INTERMESO

Melacak Robot dan Rawing di Ujung Kulon (2)

Jejak badak Jawa berupa kotoran kami temukan. Telapak kaki badak juga masih terlihat jelas di area yang ditumbuhi bisoro, pohon makanan favorit mereka.

Foto: Tri Aljumanto/detikX

Senin, 17 Juli 2017

Selepas salat subuh Rabu, 31 Mei 2017, Tim Spesies dan Habitat dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), World Wildlife Found (WWF) Ujung Kulon Project, Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA), plus lima warga Kampung Cegog, Desa Rancapinang, Kabupaten Pandeglang, sudah sibuk. Mereka mengemasi sejumlah perlengkapan ke dalam tas ransel berkapasitas 50 liter.

Rain coat, senter, logistik, termasuk peralatan camera/video trap, tak lupa dibawa. Selain mencari jejak Robot dan Rawing, dua badak Jawa yang dikabarkan keluar dari batas pagar JRSCA di Cegog, tim akan melakukan pemetaan bakal lokasi pemasangan camera/video trap. Juga akan dilakukan penanaman sejumlah bibit pohon pakan badak di lahan eks Kampung Aermokla, yang kini masuk kawasan Taman Nasional.

Saat jarum jam menunjukkan pukul 07.30 WIB, setelah Species Coordinator WWF Ujung Kulon Project Ridwan Setiawan, yang disapa Iwan Podol, memberikan pengarahan, tim pun meninggalkan Kampung Cegog. Tim yang beranggotakan 10 orang, termasuk anggota tim detikXpedition M. Rizal dan kamerawan Tri Aljumanto, ini berangkat menuju hutan lindung Ujung Kulon bagian selatan dengan berjalan kaki.

Perjalanan menyusuri bibir pantai menuju kawasan TNUK.
Foto : Tri Aljumanto/detikX

Kami melewati perumahan penduduk yang berbentuk rumah panggung dan jalan berbatu menuju luar kampung. Sungai dan pantai kami lewati hampir 800 meter menuju Pos Resor TNUK Cegog. Di sini kami mampir untuk berkoordinasi dengan petugas pos TNUK sejenak sebelum menuju pos JRSCA dan TNUK di eks Kampung Aermokla, yang berjarak sekitar 8 kilometer melewati hutan lindung.

Nah, ini kotoran badak! Ini kayaknya sudah lama, sudah menyatu dengan tanah. Ini juga ada tapak badaknya. Ini yang dulu diperkirakan muncul di sini tanggal 18 Mei lalu.”

Di Pos Resor TNUK Cegog pada April 2017, petugas yang berjaga melihat penampakan badak Jawa dari jarak 30 meter. “Dia makan rumput dua bulan lalu pas di situ. Jaraknya 30 meter dari sini. Kalau nggak salah badak itu yang namanya si Robot,” terang Kato, salah seorang petugas JRSCA, kepada rombongan.

Bahkan, menurut Kato, pada tahun 2000 ada seekor badak Jawa jauh melintas hingga ke Kampung Aerjeruk. Untungnya, badak itu tak merusak tanaman kebun atau merusak sawah milik warga. “Badak tahu makanannya sendiri. Nggak semua jenis pohon dimakan. Ke sawah juga nggak nginjak. Badak mungkin tahu itu sawah,” ujar Kato sambil terbahak.

Bagi kami, tim detikXpedition, tentu menjadi harapan bisa melihat secara langsung sosok hewan langka yang bernama latin Rhinoceros sondaicus itu. Tapi kami juga cukup waswas bagaimana bila berhadapan langsung dengan makhluk semipurba tersebut.

Species Coordinator WWF Ujung Kulon Project Ridwan Setiawan menunjukkan jejak kaki badak Jawa.
Foto : Tri Aljumanto/detikX

“Tenang, kalau kita ketemu badak, dia akan kabur sendiri,” kata Iwan Podol. Kami bertanya, kenapa bisa begitu? “Kan waktu ketemu kita kaget dan pasti teriak, ‘Ada badak!’. Badak juga gitu, kaget, ‘Ada manusia!’. Dia juga lari lihat kita, ha-ha-ha…,” canda Iwan Podol, yang dikenal sebagai “Bapak Badak Indonesia” saat rehat di pos itu.

Setelah pamit kepada petugas pos jaga, kami melanjutkan perjalanan menuju hutan. Kami melewati area padang rumput yang luas sepanjang sekitar 300 meter sebelum menyusuri pantai Cegog. Setelah 1 kilometer menyusuri pantai yang dipenuhi bebatuan itu, khususnya sebelum Tanjung Sodong, kami kembali mengambil arah memasuki kawasan hutan. Ini merupakan titik awal kami akan menyusuri jejak badak hingga ke dalam hutan yang ditumbuhi pepohonan sekunder.

Kondisi jalan memang tak seekstrem kalau kita mendaki gunung. Namun beberapa kali kami harus melewati medan menanjak atau menurun, dengan tanah yang lembek. Belum lagi akar-akaran pepohonan yang merambat, yang membuat kami harus hati-hati melangkah. Bila salah langkah, bisa saja kami terjerembap karena kaki tersangkut akar di tanah itu.

image for mobile / touch device
image 1 for background / image background

Tak terasa lebih dari 1 kilometer berjalan kaki, tiba-tiba Iwan Podol, yang berjalan di depan, berhenti sejenak. Ia membungkuk, lalu berjongkok, mencukil sesuatu dari tanah menggunakan ranting pohon. “Nah, ini kotoran badak! Ini kayaknya sudah lama, sudah menyatu dengan tanah. Ini juga ada tapak badaknya. Ini yang dulu diperkirakan muncul di sini tanggal 18 Mei lalu,” ujarnya.

Bukan hanya itu. Sekitar 100 meter kemudian, ditemukan juga pohon-berukuran-sedang tumbang. Setelah diselidiki, ternyata itu jenis pohon bisoro, yang memang menjadi makanan favorit badak Jawa. Di area itu memang banyak ditumbuhi pohon bisoro, jahe-jahean, dan citepus, yang juga menjadi makanan badak. Sejumlah tapak kaki badak, berupa tiga cabang jari, dengan ukuran besar masih terlihat jelas di sekitar area itu.

Pepohonan yang tumbang dirobohkan oleh Robot atau Rawing saat mencari makan di zona taman nasional dekat Kampung Cegog. 
Foto : Tri Aljumanto/detikX

Lalu Iwan Podol meminta Oji Paoji (Community Organizer WWF Ujung Kulon Project), Mochamad Syamsuddin (Koordinator Rhino Monitoring Unit/Rhino Health Unit Balai TNUK), serta dua petugas JRSCA, Kato dan Madsupi, mencatat dan mendokumentasikan temuan itu. Jumlah daun dan ranting yang dimakan badak, jenis pohon, ukuran pohon, serta titik koordinatnya pun dicatat.

Bersambung.....

Simak terus kisah perjalanan detikXpedition lainnya di sini:



SHARE