INTERMESO

Bukan
Pernikahan Biasa

“Kami ingin resepsi pernikahan kami dimulai dengan, ‘Once upon a time,’ dan diakhiri dengan, ‘…and they live happily ever after.’”

Foto: dok. Vanity Fair

Sabtu, 8 Juli 2017

Sean Parker memang bukan orang biasa. Namanya boleh jadi tak sekondang Mark Zuckerberg. Tapi, tanpa Parker, Zuckerberg mungkin tak akan setajir sekarang. Parker-lah, seperti dituturkan Mark sendiri kepada majalah Forbes, yang membawa Facebook dari proyek kampus menjadi perusahaan riil.

Sean Parker, kini 37 tahun, merupakan presiden direktur pertama Facebook. Ketika masih di bangku SMA, Sean Parker membobol situs Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) dan sempat hendak direkrut Dinas Intelijen Amerika (CIA). Tapi dia memilih magang kerja di beberapa perusahaan teknologi. Bahkan, sebelum lulus SMA pun, Parker sudah berpenghasilan sekitar US$ 80 ribu atau lebih dari Rp 1 miliar setahun.

Dengan kemampuan seperti itu, siapa yang butuh kuliah. Bermodal otaknya yang jenius, setelah lulus SMA, Parker memilih belajar sendiri segala hal yang dia minati. Dari sejumlah perusahaan yang dia dirikan dan investasinya yang bertebaran di mana-mana, majalah Forbes menaksir kekayaan Parker sekarang sekitar US$ 2,6 miliar atau kurang-lebih Rp 35 triliun. Tahun lalu dia mendonasikan sepersepuluh kekayaannya, US$ 250 juta, untuk riset kanker.

Punya duit sebanyak itu, enteng saja Parker merogoh kantong hingga US$ 10 juta atau setara dengan Rp 134 miliar untuk resepsi pernikahannya yang “heboh” dengan penyanyi Alexandra Lenas empat tahun lalu. Dengan bujet sebesar itu, konsep resepsi Parker-Alexandra tentu saja tak sama dengan orang lain.

Dengan bantuan desainer dan dekorator kondang Ken Fulk, Parker menyulap Hutan Big Sur di pesisir California menjadi “ruang resepsi” dan pelaminan ala negeri dongeng di film The Lord of the Rings. Sean Parker dan calon istrinya mengibaratkan Hutan Big Sur sebagai “Katedral buatan Tuhan”. “Kami ingin resepsi pernikahan kami dimulai dengan, ‘Once upon a time,” dan diakhiri dengan, ‘…and they live happily ever after,’” Parker menulis di Techcruch. Untuk urusan “pelaminan” ini saja, dia menghabiskan duit puluhan miliar rupiah.

Pernikahan Sean Parker-Alexandra Lenas pada 2013
Foto: dok. Vanity Fair

“Aku bilang, ‘Maaf, Gandalf tak memberkati pernikahan.’”

Sir Ian McKellen, pemeran Gandalf di film The Lord of the Rings

Belum lagi urusan kostum yang mesti dikenakan para tamunya. Semua tamu mengenakan kostum ala Aragon Elessar, Legolas Greenleaf, dan Arwen Undomiel di The Lord of the Rings. “Berapa kali kamu punya kesempatan mendandani 364 tamu dengan kostum yang gila-gilaan?” Parker menantang Ngila Dickson, perancang kostum asli film The Lord of the Rings, seperti dikutip majalah Vanity Fair.

Di antara 364 undangan yang datang ke Hutan Big Sur, ada Jack Dorsey, salah satu pendiri Twitter; drumer Metallica, Lars Ulrich; penyanyi Sting; pendiri Zynga, Mark Pincus; bintang film Emma Watson dan Olivia Munn; beserta dua pendiri Facebook, Dustin Moskovitz dan Chris Hughes. Mark Zuckerberg sendiri berhalangan hadir.

Ketika perlahan sinar matahari redup dan gelap menyelimuti Hutan Big Sur, lampu temaram mulai menyala dan Sting melantunkan I was Brought to my Senses. Dan anggur yang didatangkan dari Lembah Napa, California, terus mengalir, menghangatkan senja.

Sean Parker ingin resepsi pernikahannya benar-benar sempurna, benar-benar menyerupai Middle-earth. Baru belakangan diketahui, utusan Sean Parker sempat menemui Sir Ian McKellen, pemeran penyihir Gandalf di trilogi The Lord of the Rings. Parker bersedia membayar 1,5 juta pound sterling, lebih dari Rp 25 miliar, jika Sir Ian bersedia mengenakan kostum Gandalf untuk memberkati pernikahannya di Hutan Big Sur. Tapi Sir Ian tak tergiur oleh tawaran Parker. “Aku bilang, ‘Maaf, Gandalf tak memberkati pernikahan,’” Sir Ian menuturkan kepada wartawan Daily Mail setahun lalu.

Foto:  Andy Aupperlee

Resepsi pernikahan Russell dan Kara di Puncak Gunung Shuksan pada 2012
Foto: Andy Aupperlee

Foto: Andy Aupperlee


Dalam soal ongkos, resepsi pernikahan Sean Parker-Alexandra Lenas sebenarnya bukanlah yang paling boros. Lakshmi Mittal, raja baja dari India, konon, menghamburkan lebih dari 50 juta pound sterling, kurang-lebih Rp 840 miliar, untuk menggelar resepsi pernikahan putrinya, Vanisha Mittal, dengan Amit Bhatia pada 2004. Keluarga Mittal tak memilih India sebagai lokasi resepsi, tapi malah menerbangkan 1.200 tamunya ke kompleks tua Vaux le Vicomte, sekitar 45 kilometer ke arah timur dari Kota Paris. Untuk upacara pertunangan, keluarga Mittal menyewa Istana Versailles yang kondang.

Tak harus jadi triliuner seperti Sean Parker dan keluarga Mittal, atau menjadi artis kondang China seperti Angela “Angela Baby” Yeung, untuk menggelar resepsi pernikahan lain dari yang lain. Bukan hutan yang dipilih pasangan Russell dan Kala dari Kota Seattle untuk meresmikan hubungan kasih mereka pada 2012.

Mereka memilih puncak Gunung Shuksan di Taman Nasional North Cascades, Washington, yang tinggi 2.783 meter di atas permukaan laut, untuk menggelar resepsi pernikahan. Biaya resepsi di puncak gunung ini sudah pasti sangat irit. Tak perlu sewa tempat, tak usah menyediakan makanan mewah. Tamu yang diundang pun sudah jelas: tak akan lebih dari 100 orang.

Russell dan Kala mendaki Puncak Shuksan bersama fotografer Andy Aupperlee dan sekitar 20 tamu dan keluarganya. Walaupun Gunung Shuksan tak setinggi Puncak Denali atau Puncak Saint Elias di Alaska, mendaki gunung yang bersalju ini juga bukan perkara enteng. Apalagi mereka mesti menggendong beban tak enteng. Lantaran cuaca buruk, resepsi pernikahan juga sempat tertunda. Pada akhirnya, cuaca cerah dan sah!


Redaktur/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE