INTERMESO

Siapa Takut
Nikah Muda

“Saya nggak pernah menyesal menikah muda. Tapi jujur, menikah muda itu buat saya lebih banyak susah daripada senangnya.”

Foto: dok. Thinkstock

Sabtu, 8 Juli 2017

Putri Ehara bukan psikolog, tak ahli pula soal cinta-cintaan. Tetapi ia kerap menerima puluhan e-mail dari remaja-remaja tanggung yang sedang galau dengan kisah asmara mereka. Kerja gratisan sebagai konsultan cinta itu dia jalani sejak Putri mengelola sebuah blog mengenai keluarga dan gaya hidup, ibumudabijak.com.

Sekian lama jadi tempat curhat, curahan hati, remaja-remaja galau itu, Putri tak habis pikir dengan fenomena belakangan ini. Ada lumayan banyak anak yang baru beranjak gede itu yang mengungkapkan keinginan kepadanya untuk menikah pada usia muda.

“Lima tahun lalu saya memang pernah tulis pengalaman pribadi menikah muda. Mereka tanya banyak hal tentang itu…. Saya bingung, kok akhir-akhir ini tulisan itu masuk tujuh pencarian teratas melulu,” kata Putri. Wanita asal Sumedang, Jawa Barat, ini menikah ketika duduk di bangku SMA, saat umurnya baru 16 tahun. Tak jauh berbeda dengan dua siswa SMP di Baturaja, Sumatera Selatan, Amanda Safitri dan Muhammad Fitrah Rizky, yang belum lama mengejutkan netizen karena menikah pada usia 15 tahun.

Putri Ehara dan keluarga
Foto: dok. pribadi

Bedanya, ketika mengikat janji sehidup-semati, suami Putri, Muhammad Iqbal, sudah berusia 21 tahun. Putri menyayangkan pasangan muda yang menikah karena ikut-ikutan semata. Sebab, nikah muda seperti yang dia alami sendiri bersama suaminya tak melulu berisi kisah-kisah indah. Jatuh, bangun, jatuh, dan jatuh tersandung lagi sudah jadi hal biasa bagi keluarga Putri.

“Saya nggak pernah menyesal menikah muda. Tapi jujur, menikah muda itu buat saya lebih banyak susah daripada senangnya,” Putri menuturkan. Saat tamu-tamu resepsi pernikahannya pulang, saat itu pula dia dan suaminya mulai merasakan betapa beratnya nikah muda. “Habis nikah, istilahnya masih anget ngomongin yang indah-indah, ternyata setelah dijalani nggak seindah itu. Karena kami berdua sama-sama mulai dari nol.”

Sang suami merupakan kakak teman sekolahnya. Ketimbang berpacaran, Putri menyebut hubungan keduanya dengan istilah TTM alias teman tapi mesra. Setelah satu tahun Putri menjalin hubungan tanpa status jelas, orang tuanya mengajak Putri pindah ke Jepang. Namun dia menolak karena tak ingin putus hubungan dengan Iqbal. Dengan nada bercanda, sang orang tua menyarankan Putri untuk menikah. Tujuannya agar ketika ditinggal ke Jepang, Putri, yang merupakan anak tunggal, ada yang menjaga. Tak disangka, Iqbal menanggapi guyonan itu dengan serius. 

Selain karena ingin menyelamatkan hubungan keduanya agar dapat terus berjalan, Putri dan sang suami tak terlalu berpikir panjang. Setelah satu tahun saling mengenal, mereka menggelar pesta pernikahan dengan biaya patungan orang tua dari kedua belah pihak pada 2002. Sang suami tak bisa ikut saweran karena masih menjadi mahasiswa dan belum memiliki penghasilan. Dari pesta pernikahan itu, Putri dan suami diberi “modal” Rp 2,5 juta, uang dari keluarga dan kerabat yang memberikan amplop pernikahan.

Putri Ehara
Foto: dok. pribadi

Tiga bulan pertama setelah pernikahannya, Putri masih tinggal di rumah mertua. Setelah itu mereka nekat berpisah dan mengontrak rumah. “Banyak yang omong jelek soal kami. Hubungan kami dibilang hanya akan seumur jagung, “Ini mah cinta monyet. Bukan cuma tetangga, tapi saudara juga bicara seperti itu,” kata Putri. Omongan-omongan jelek itu justru jadi pelecut Putri dan Iqbal. “Kami terpacu untuk membuktikan bahwa omongan mereka salah. Nggak semua orang nikah muda karena alasan negatif.”

Bagi Putri, waktu tiga tahun yang ia lalui setelah pernikahan merupakan masa-masa terberat dalam hidupnya. Selain menjalankan tugasnya sebagai istri dan siswi SMA, dia mendadak mesti merangkap sebagai ibu. Rencananya menunda kehamilan batal karena, tiga bulan setelah menikah, ia mengandung anak pertama. Sementara itu, sang suami bekerja di bengkel milik orang tua dengan penghasilan maksimal hanya Rp 10 ribu per hari.

Untuk menambal kebutuhan rumah, Putri menjadi pedagang. Apa saja dia jual, mulai gorengan, es mambo, hingga baju kreditan. “Apalagi sejak punya anak, penghasilan habis cuma buat kebutuhan bayi saja. Saking hematnya, saya dan suami pernah makan cuma nasi dengan garam. Atau makan nasi digoreng hanya pakai bawang putih,” Putri mengenang. Sekarang Putri sudah 30 tahun dan dikaruniai dua anak laki-laki berusia 14 tahun dan 12 tahun. 

Titik terang dalam hidup Putri dan Iqbal mulai terlihat ketika sebuah bank pemerintah menawarkan kredit tanpa agunan untuk pengusaha kecil. Putri dan suami mendaftar dan diberi modal usaha Rp 5 juta. Uang itu mereka pakai untuk berwirausaha dengan membuka toko kaca film mobil. Sepuluh tahun pernikahan, Putri dan suami bisa membeli satu ruko tempat berjualan sekaligus rumah tinggal.

“Makanya ada istilah tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Walaupun menikah muda, kami punya komitmen. Karena saya nikah niatnya serius, bukan buat main-main. Susah-senang bisa kami lalui bersama sampai sekarang,” kata Putri.

* * *

Setelah ketemu, dia bilang, ‘Lagi cari istri, nih.’ Dia tanya, ‘Kamu mau nggak jadi istri saya?’”

Mutiara Hikma, warga Indonesia tinggal di Korea Selatan

Mutiara Hikma  dan Permata Nur Miftahur, sekarang tinggal di Korea Selatan.
Foto: dok. pribadi

Nikah muda memang tak seindah dan semudah kisah-kisah di drama Korea atau di novel roman. Mutiara Hikma bertemu dengan suaminya kini, Permata Nur Miftahur, empat tahun lalu saat mereka menempuh kuliah di Korea Selatan. Saat itu Mutiara baru 20 tahun dan sang suami 27 tahun. Mereka saling mengenal saat bertemu di sebuah acara yang diselenggarakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia di Korea atau Perpika. Kebetulan sang suami menjabat Ketua Perpika.

“Setelah ketemu, dia bilang, ‘Lagi cari istri, nih.’ Dia tanya, ‘Kamu mau nggak jadi istri saya?’ Kaget banget sih. Soalnya, baru kenal tapi kami sudah lumayan sering komunikasi. Sejujurnya saya kagum dengan sosoknya…. Alhamdulillah, orang tua merestui,” Mutiara menuturkan. Semua prosesnya serbakilat. “Lamarannya pun lewat Skype. Habis itu langsung nikah di Indonesia. Orang tua pun baru bertemu suami di acara ijab-kabul itu.” 

Pernikahan yang dilangsungkan dalam waktu yang singkat itu sempat membuat dosen dan teman-teman Mutiara di Korea kaget. Sebab, pernikahan pada usia muda tak biasa bagi orang Korea Selatan, yang memilih menikah setelah usia 30 tahun. Namun setahun setelah pernikahan mereka dan dikaruniai seorang anak, justru teman-temannya ikut membantu menjaga sang anak ketika Mutiara dan suami disibukkan urusan perkuliahan.

Mutiara Hikma menikah muda dan sekarang tinggal di Korea Selatan.
Foto: dok. pribadi

Selama tinggal di Korea, Mutiara dan suami mengontrak sebuah kamar termurah di lantai bawah tanah apartemen yang terletak di Kota Suwon. Kamar seharga Rp 5 juta per bulan itu dibayar dari uang saku beasiswa kuliah mereka. “Kami menekan habis biaya rumah tangga. Kalau keluarga Korea di sini buat hidup sebulan bisa habis Rp 30 juta, kami bisa tekan sampai Rp 15-20 juta sebulan dengan dua anak,” tutur Mutiara, kini 24 tahun.

Untuk mendapatkan tambahan penghasilan, Mutiara dan suami, yang kini masih menjadi mahasiswa S-3 yang mendalami bidang teknologi informatika, menjajal bisnis startup. Karena sama-sama memiliki hobi travelling, keduanya memutuskan membuat startup untuk membantu segala kebutuhan akomodasi turis asing di Korea, juga melayani kebutuhan warga lokal di sana untuk memesan hotel atau membeli tiket pesawat. Setelah empat tahun berjalan, aplikasi yang diberi nama Maleo Korea ini telah masuk kategori 41 startup terbaik di Seoul.

“Buat saya sih nggak perlu khawatir menikah muda karena masalah rezeki pasti akan selalu dibukain jalannya. Kalau di Korea anak jadi seperti musibah buat mereka yang lagi mengejar karier. Menikah pada usia muda malah membawa keberkahan sendiri,” kata Mutiara. “Meski awalnya kami cuma mengandalkan uang beasiswa yang nggak banyak. Logika matematikanya, kebutuhan hidup dengan uang saku beasiswa nggak nyambung…. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa umrah sekeluarga dan sudah beli rumah di Indonesia.”

Tetty Hermawati
Foto: dok. pribadi

Nikah muda atau menikah setelah cukup umur memang bukan jaminan langgengnya hubungan. Punya anak saat kuliah justru membuat Tetty Hermawati sangat fokus. “Justru saya merasa, karena punya anak, skripsi jadi cepat kelar. Nyusun jadwal benar-benar dikerjain. Soalnya, nanti takut anaknya nangis. Makin banyak deadline, jadi makin cepat,” Tetty mengisahkan. Dia berhasil lulus S-1 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, dengan predikat cum laude. Sang suami, yang kala itu berusia 21 tahun, merupakan senior Tetty di UPI. Mereka juga sama-sama berorganisasi di Badan Eksekutif Mahasiswa.

Ketika suami mengutarakan niat menikahinya, Tetty menantangnya bertemu dengan kedua orang tuanya lebih dulu. “Ternyata dia benar datang bersama seorang temannya. Dia minta izin untuk melamar saya,” kata Tetty. Awalnya calon mertua juga ragu. Selain ada seorang kakaknya yang belum menikah, mereka belum punya pekerjaan tetap. “Tapi suami kasih pengertian. Waktu itu memang belum punya pekerjaan tetap, tapi dia punya usaha fotografi.”

Sambil mengurus anaknya, Tetty harus pandai membagi waktu dengan urusan perkuliahan. Biasanya Tetty mencicil skripsi ketika sang anak sudah tidur. Sementara pagi dan siang hari ia pergi menemui dosen untuk berkonsultasi, sang mertua atau suami membantu mengurus anak. “Suami saya kerja lepas, bisa bantu urus anak di rumah,” kata Tetty. Sekarang suaminya bekerja sebagai pegawai negeri sipil, sementara Tetty menikmati perannya sebagai istri dan ibu dua anak. Di sela-sela waktunya, ia juga menuangkan hobi menulis lewat blog tettyharyono.com sejak tiga tahun silam.


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE