INTERMESO

Mereka Buktikan
Hantu Itu Ada

“Biasanya, kalau anggota yang penakut ini kepikiran sosok vampire, nanti yang muncul di kamera juga sosok vampire. Kami pernah buktikan.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 12 Agustus 2017

“M  onsters are real, and ghosts are real too. They live inside us,” kata Stephen King, penulis novel horor paling kondang saat ini. Apakah hantu benar-benar nyata?

Hantu, paling tidak menurut Mickey Oxcygentri, dosen fotografi di FISIP Universitas Singaperbangsa, Karawang, Jawa Barat, bisa dijelaskan dengan sains. Sebelum mengajar di Singaperbangsa, Mickey pernah jadi dosen sosiologi komunikasi di Diploma-3 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.

“Bedanya dengan manusia, mereka tidak punya fisik. Manusia berenergi positif, sedangkan mereka berenergi negatif. Karena bumi juga negatif, mereka tidak bisa menapak di bumi,” Mickey menjelaskan “teori”-nya soal hantu kepada detikX beberapa hari lalu.

Lantaran hantu tak terlihat tapi ada banyak sekali cerita seram beredar turun-temurun soal keberadaannya, rata-rata orang pasti merinding jika harus bertemu dengan makhluk dunia lain ini. Namun Mickey dan teman-temannya justru malah rutin “mencari” hantu. Ketika malam sudah sangat larut dan orang-orang lebih suka meringkuk di atas kasur, dia malah menyambangi pemakaman umum. Mickey memang sengaja mengunjungi tempat-tempat angker untuk membuktikan keberadaan makhluk dari dunia astral ini.

Ghost Photography Community
Foto: dok. Ghost Photography Community

Mungkin banyak yang menganggap Mickey sinting. Tetapi ia tak peduli. Berbekal sebuah kamera digital, Mickey membidik ke arah pohon kemboja di tengah makam. Bunyi kamera dan cahaya lampu kilat memecah keheningan malam. Bulu kuduknya perlahan berdiri. Setelah mengambil beberapa gambar, Mickey memeriksa hasil jepretannya.

Meski samar, terlihat ada sosok bayangan berjubah putih berdiri di antara makam. Mickey menduga makhluk tersebut adalah kuntilanak. Bukan lari tunggang langgang, ia malah tersenyum gembira. “Ya, jelas saya senang sekali. Karena ternyata usaha saya satu tahun mencari teknik yang pas supaya bisa memotret hantu itu nggak sia-sia,” ujar Mickey. 

Sebagai dosen yang mengajar kelas fotografi, membidik objek keindahan panorama alam atau model sudah biasa. Karena jenuh, Mickey malah kepikiran ide nyeleneh, yakni mengembangkan teknik fotografi hantu. Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan mengilmiahkan hal yang berbau gaib itu. Mickey yakin hantu bisa dideteksi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, salah satunya melalui kamera digital.

Itu sebabnya, Mickey tak suka program televisi horor yang berbau klenik. Untuk meluruskan pemahaman orang terhadap hantu, Mickey pun membentuk Komunitas Fotografi Hantu atau Ghost Photography Community (GPC). Awalnya anggota GPC hanya diisi oleh mahasiswa Mickey yang pernah membantunya dalam proyek uji coba fotografi hantu.

Seperti Andhika, mantan mahasiswa Mickey yang dari awal mengikuti perjalanan GPC. Jauh hari sebelum GPC terbentuk, Andhika pernah mempraktikkan teknik fotografi hantu seorang diri. Menurut gosip yang beredar di kalangan mahasiswa UI, pada malam hari banyak penampakan hantu. Bermodal nekat dan sejumput keberanian, Andhika menyambangi hutan kota di Universitas Indonesia.

Saat itu Andhika membawa sebuah kamera DSLR. Jenis kamera ini yang dapat menampakkan hantu dengan baik. Tetapi banyak juga anggota GPC yang mengandalkan kamera ponsel. Satu kelemahan kamera ponsel adalah kerap menangkap bias cahaya dari partikel debu yang kerap disebut orbs. Banyak yang salah mempersepsikan orbs sebagai bentuk penampakan hantu.


Foto: dok. Ghost Photography Community

Foto: dok. Ghost Photography Community


Foto: dok. Ghost Photography Community

Foto: dok. Ghost Photography Community

“Pakai kamera DSLR dengan bantuan lampu kilat membuat objek yang kita tangkap jadi lebih jelas. Terbukti sewaktu saya pertama percobaan di UI dapat salah satunya penampakan pocong,” Sekretaris Jenderal GPC, yang bermarkas di Depok, ini bercerita.

Fotografi hantu ini sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. William H Mumler, fotografer amatir asal Boston, Amerika Serikat, yang meninggal pada 1884, barangkali adalah orang pertama yang memakai kamera untuk “menangkap” sosok hantu. Gara-gara foto “arwah” saudara sepupunya, nama Mumler jadi kondang.

Banyak orang menyewa jasanya untuk memotret “arwah” orang-orang yang mereka sayangi. Salah satunya adalah Mary Todd Lincoln, janda Presiden Amerika Abraham Lincoln. Dalam satu foto Mary karya Mumler pada 1872, ada bayangan almarhum Presiden Lincoln di belakangnya. Presiden Lincoln tewas dibunuh John Wilkes Booth tujuh tahun sebelum foto itu dibuat. Sebagian orang menuduh foto itu hanya hasil rekayasa Mumler. Mereka, salah satunya PT Barnum, menggugat Mumler ke pengadilan.

Di Inggris, pada 1862, sejumlah orang mendirikan komunitas “detektif hantu” Ghost Club. Belakangan, beberapa nama kondang, seperti sastrawan WB Yeats dan penulis novel detektif Sir Arthur Conan Doyle, ikut bergabung dengan Ghost Club. Salah satu detektif hantu itu adalah William Stainton Moses. Dia meneliti lebih dari 600 foto yang diduga menampilkan sosok supranatural. Hasilnya, kata Alan Murdie, Ketua Ghost Club, dikutip oleh BBC beberapa waktu lalu, hanya ada belasan foto yang menurut dia layak masuk kategori “berbau gaib”.

Salah satu foto “hantu” yang sangat kondang itu adalah foto “hantu” Lord Combermere karya Sybell Corbet pada 1891. Foto “hantu” lain yang sangat kondang dibuat tak sengaja oleh Hubert Provand dan asistennya, Indre Shira. Hubert, yang berniat memotret tangga di Raynham Hall di Norfolk, Inggris, melihat bayangan putih berdiri di tengah tangga. Bayangan itu konon adalah Lady Dorothy Townshend, yang meninggal misterius dua abad sebelumnya.

Foto: dok. Ghost Photography Community

Pada dasarnya, menurut Mickey, makhluk astral memiliki pencitraan yang hampir serupa dengan inframerah. Sinar inframerah tak dapat dilihat langsung oleh mata manusia, tapi kamera dapat menangkap pancaran cahaya tersebut. Itu sebabnya, kamera mampu menangkap wujud makhluk gaib ini lebih detail. Andhika pernah menantang beberapa paranormal ternama untuk memunculkan hantu. Namun ilmu supranatural yang diandalkan paranormal pun tak sepenuhnya terbukti.

“Makanya saya sering heran sama orang yang datang ke paranormal minta lihat hantu atau minta wangsit dari hantu. Masak hantunya harus disuguhi kopi dulu. Sedangkan kita dengan teknologi kamera saja bisa membuktikan keberadaan mereka,” ujar Andhika. Itulah mengapa GPC tidak pernah melakukan perburuan foto hantu bersama paranormal.

Sebelum memulai perburuan, tak ada ritual khusus yang dilakukan GPC. Biasanya 15-30 orang mengikuti kegiatan ini. Namun yang benar-benar masuk ke dalam lokasi dan melakukan perburuan foto hantu dibatasi hanya tiga orang. Sisanya berbagi tugas. Ada yang bertugas menjaga di luar lokasi agar tidak terjadi gangguan. Tidak semua anggota GPC berani melakukan perburuan ini. Tetapi anggota yang penakut justru dibutuhkan agar hantu dapat muncul dan tertangkap kamera.

“Biasanya, kalau anggota yang penakut ini kepikiran sosok vampire, nanti yang muncul di kamera juga sosok vampire. Kami pernah buktikan,” kata Mickey. “Pola pikir si fotografer sudah otomatis terpengaruhi suasana. Hantu itu menangkap energi takut dari fotografer dan menampakkan wujudnya. Makanya semua foto yang kita tangkap itu sebetulnya bukan wujud asli mereka.”

Bagi anggota GPC, kegiatan malam mencari hantu ini malah membantu menghilangkan rasa takut. Sebelum bergabung dengan GPC, Shafar Yulianto Nugroho beberapa kali diganggu makhluk halus di rumahnya sendiri. “Sebagai sesama ciptaan Tuhan, kalau kita saling menghormati, tentu mereka nggak akan ganggu. Malah menurut saya, ini seru. Karena setiap hunting di tempat berbeda, adrenalin kita jadi terpacu,” kata Shafar. 


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE