INTERMESO

Risa yang Berteman dengan Hantu

“Karena, buat mereka, berbicara dengan manusia rasanya kayak bikin mereka hidup kembali.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 12 Agustus 2017

Umur Risa Saraswati baru 9 tahun saat dia dititipkan orang tua di rumah neneknya di Kota Bandung. Di rumah sang nenek inilah Risa berkenalan dengan lima “sahabat”-nya. Lima bocah kecil sahabat Risa itu adalah Peter, William, Jansen, Hans, dan Hendrick. Risa bertemu dengan Peter di loteng rumah sang nenek yang sepi.

Peter punya kulit putih pias dan berambut pirang, mengenakan kemeja serta celana pendek cokelat. Demikian pula William, Jansen, Hans, dan Hendrick. Awalnya Peter mengaku sebagai tetangga di kompleks rumahnya. Baru setelah dua tahun menjalin persahabatan dengan kelima anak Belanda itu, Risa sadar bahwa mereka bukan manusia.

Sejak kecil, dara kelahiran Bandung ini kerap menunjukkan tingkah laku aneh dengan berbicara seorang diri. Rupanya Risa mampu melihat dan berkomunikasi dengan makhluk tak kasatmata. Bahkan Risa sempat tak bisa membedakan antara manusia dan makhluk halus.

“Setelah tahu, saya nggak menghindar dari mereka. Karena mereka juga punya sisi manusiawi. Mereka takut malam hari, takut hujan, takut petir. Itu sisi lain yang nggak semua orang tahu dan ingin saya sampaikan dalam bentuk tulisan,” tutur sarjana Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, ini.

Foto: dok. pribadi via instagram

Melihat perilaku ganjil Risa, orang tuanya sempat merasa khawatir. Mereka membawa Risa berkonsultasi dengan psikiater, bahkan sampai menemui “orang pintar”. Lantaran perilakunya dianggap aneh, Risa sering kali dikucilkan oleh teman sekolahnya. Ia sempat beberapa kali mengalami depresi dan berpikir untuk mencoba bunuh diri. Justru kelima sahabat kecil yang tak kasatmata itulah yang selalu memberikan dukungan setiap kali Risa merasa sedih dan frustrasi.

Selama bertahun-tahun, Risa menyimpan cerita soal persahabatannya dengan lima hantu anak Belanda itu rapat-rapat. Dia tak mau menambah keributan. “Saya nggak pernah cerita dan nggak mau keluarga tahu,” Risa menuturkan kepada detikX beberapa hari lalu. Keluarganya memang tak suka dan tak ingin dia bergaul, apalagi sampai bersahabat, dengan orang-orang dari dunia lain itu. Tak ada cerita soal persahabatannya dengan Peter dan teman-temannya di catatan harian Risa. “Karena saya tahu Ibu suka membaca diary saya.”

Melalui buku harian itu, Risa perlahan mengasah bakatnya menulis. Dia juga suka membaca novel-novel horor karya R.L. Stine. Salah satunya novel Goosebumps, yang lebih banyak menceritakan soal sosok monster. R.L. Stine sering dijuluki sebagai “Stephen King untuk anak-anak”. Karya-karyanya memang lebih populer di kalangan anak-anak dan remaja.

Risa baru menceritakan perihal sahabat gaibnya ini melalui situs jejaring sosial Friendster. Hingga akhirnya Risa beralih menulis di blog pribadi. Tak punya “modal” sebagai sastrawan, awalnya Risa agak minder juga saat ada penerbit yang datang berniat membukukan kisah persahabatannya dengan “hantu-hantu” kecil itu dalam novel.

Saya tidak pernah memaksa orang untuk percaya apa yang saya tulis.”

Risa Saraswati, penulis novel horor Gerbang Dialog Danur

Risa Saraswati
Foto: dok. pribadi via Instagram

Ketika akhirnya novel pertamanya, Gerbang Dialog Danur, naik cetak, dia sempat minta kepada penerbit tak usah mencetak banyak buku. Tetapi Risa tak menyangka, dalam waktu seminggu, 3.000 buku ludes terjual. Pada Maret lalu, novel horor karya Risa ini baru saja diangkat ke layar bioskop dengan judul Danur: I Can See Ghost. Film horor memang tak ada matinya. Film perdana dari novel Risa itu berhasil menembus rekor 2 juta penonton.

Prestasi ini sungguh jauh di luar dugaan Risa. Seakan tak percaya, Risa sempat menanyakan testimoni kepada pembaca yang menikmati hasil karyanya. “Mereka antusias karena, melalui buku yang saya tulis, mereka jadi punya mata tersendiri. Seolah saya bisa mewakili keinginan mereka melihat hal-hal semacam hantu itu. Mereka jadi bisa merasakan juga apa yang saya lihat,” kata Risa.

Dulu Indonesia punya Abdullah Harahap, “Stephen King-nya Indonesia”. Sudah puluhan novel horor lahir dari tangan Harahap. Lain kisah dengan layar bioskop-bioskop Indonesia yang tak pernah sepi dari film-film horor asli negeri ini, entah kenapa sangat sedikit penulis Indonesia yang menekuni genre horor. Di rak toko buku Gramedia di Jalan Matraman, Jakarta, bisa dihitung dengan jari novel horor karya penulis Indonesia di antara ratusan judul novel genre lain.

Tiga sastrawan muda—Eka Kurniawan, Ugoran Prasad, dan Intan Paramaditha—pernah “bereksperimen” menulis kumpulan cerita pendek horor Kumpulan Budak Setan mengadaptasi gaya Harahap. Selain Risa, ada Eve Shi, penulis asal Bogor, yang sudah menelurkan beberapa novel horor.

Padahal di luar sana, ada lumayan banyak penulis soal hal-hal gaib ini. Siapa tak kenal triliuner dan raja novel horor Stephen King? Duit yang didapat King dari novel dan puluhan film yang diangkat dari novel-novelnya hanya kalah dari J.K. Rowling, penulis serial Harry Potter. Tahun ini saja, paling tidak akan ada lima film produksi Hollywood yang diadaptasi dari novel King. “Film horor adalah komoditas yang sedang panas hari-hari ini,” kata Paul Dergarabedian, analis film dari ComScore, dikutip MarketWatch beberapa hari lalu.

* * *

image for mobile / touch device
image 1 for background / image background



Foto: dok. pribadi via Instagram

Bagi Risa, menulis novel horor memang bukan satu-satunya “dunia”. Sehari-hari dia masih ngantor di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung. Sebelum kondang sebagai penulis Danur, Risa sudah punya penggemar sendiri di dunia tarik suara. Bersama band Homogenic, Risa, sang vokalis, telah melahirkan tiga album dalam kurun waktu 7 tahun. Setelah mundur dari Homogenic, Risa membentuk band Sarasvati dan masih berjalan hingga saat ini. Dalam salah satu lagunya, Story of Peter, Risa menceritakan pengalamannya bersahabat dengan hantu.

Sad eyed boy in his silly pants

Sometimes he is there, sometimes he hides

Pale fair skin and his tinny hands

Waving from distance in black and white

Nobody sees him when he’s around

But he is beside me whenever I’m down

Selama proses penggarapan novel Gerbang Dialog Danur, Risa berusaha menggali sedalam mungkin kisah kelima sahabatnya. Supaya ceritanya benar-benar hidup, Risa menghabiskan banyak waktu “wawancara” dengan sahabat-sahabat dari dunia lain itu. Ternyata mereka merupakan korban pembantaian tentara Jepang di Indonesia.

“Karena, buat mereka, berbicara dengan manusia rasanya kayak bikin mereka hidup kembali. Karena jarang ada manusia yang punya kemampuan melihat tapi mau berbicara dan ngobrol dengan mereka. Orang biasanya ketakutan duluan,” kata Risa. Meski sudah terbiasa melihat sosok astral, bukan berarti Risa tak pernah merasa takut. Selama penulisan naskah novel Danur, Risa juga kerap diganggu oleh makhluk lain yang secara tiba-tiba muncul di hadapannya. Belum lagi jika alur cerita yang Risa susun tidak sesuai dengan keinginan para sahabatnya itu.

Foto: dok. pribadi via Instagram

“Peter cs juga, kalau lagi marah, akan menampakkan wujud yang kurang menyenangkan. Makanya ada enak dan nggak enaknya juga punya kemampuan seperti saya. Enaknya ya mungkin lewat cerita mereka saya bisa berkarya dan bisa menghasilkan sesuatu yang orang lain suka. Tapi, ketika teman saya ini marah, saya harus bisa menerima konsekuensinya,” tutur Risa.

Sekarang, Risa sudah menulis beberapa novel horor. Dia tak ambil pusing jika ada orang yang tak percaya pada ceritanya. “Makanya saya selalu menulis di buku, seandainya kalian tidak percaya, anggap saja ini sebagai sebuah karya fiksi. Saya tidak pernah memaksa orang untuk percaya apa yang saya tulis,” kata Risa.


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE