INTERMESO

BENYAMIN SUEB, MUKA KAMPUNG REZEKI KOTA

Babe yang Tak Tergantikan

“Jujur ya, setelah Babe nggak ada, saya bingung mau bikin apa
dengan Si Doel."

Foto: screenshot YouTube

Sabtu, 16 September 2017

Rano Karno masih berada di Yogyakarta saat pagi-pagi sudah ada panggilan telepon untuknya. Sedikit enggan ia menerima telepon itu dengan rasa kantuk yang luar biasa. Pasalnya, Rano baru bisa tertidur setelah salat subuh.

Rupanya Benyamin Sueb meneleponnya dari Jakarta. "Dia hanya ngomong, ‘Doel, pokoknya kalau ada apa-apa sama gue, Si Doel lu terusin," ujar Rano Karno kepada detikX, Senin lalu. "Saya bilang, 'Be, gue belum tidur nih…. Kita omongin saja kalau gue sudah pulang.’"

Itulah percakapan terakhir Rano Karno dengan Benyamin, ayahnya di layar kaca. Setelah menelepon, Ben bermain bola di lapangan dekat rumahnya di Cinere, Depok. Di lapangan hijau itu pula Ben terkena serangan jantung dan akhirnya wafat di rumah sakit beberapa hari kemudian. "Siang hari, ketika sampai Jakarta, saya benar-benar kaget mendapat kabar Babe masuk rumah sakit," ujar Rano.

Meninggalnya Ben pada 5 September 1995 itu tentu memukul Rano Karno. Kelanjutan produksi sinetron Si Doel Anak Sekolahan, yang saat itu memasuki musim ketiga, pun dipertaruhkan. Banyak yang mengusulkan agar Rano mencari pengganti Ben dengan aktor yang memiliki wajah serupa untuk memerankan tokoh Haji Sabeni, ayah si Doel. "Saya tidak bisa mengganti Babe dengan yang lain. Itulah penghargaan saya terhadap beliau," kata Rano. "Makanya saya ceritakan Sabeni meninggal."

Salah satu adegan di film Si Doel Snsk Sekolahan
Foto: screenshot YouTube

"Saya menulis skrip kadang tak terpakai. Tapi hebatnya, tetap nyambung dengan skenario. Benyamin itu gila.”

Rano Karno soal Benyamin Sueb

Mereka berdua sudah sangat lama saling kenal. Rano mengenal Ben sebagai sesama orang Kemayoran, Jakarta Pusat. Keluarga Rano tinggal di Kepu, sementara Ben berdomisili di Jiung. "Saat masih kecil, saya sudah sering lihat Babe menyanyi," kata Rano. Pada 1970, Soekarno M. Noor, ayah Rano Karno, terlibat dalam pembuatan film yang berjudul Honey, Money, and Djakarta Fair sebagai produser. "Ayah mengajak Babe ikut main sebagai penyanyi di Jakarta Fair," ujar mantan Gubernur Banten itu. Film itu menjadi pengalaman pertama Ben main di layar lebar.

Setelah proses pembuatan film itu, Rano lama tak bertemu dengan Ben. Baru tiga tahun kemudian keduanya akhirnya main bersama dalam film Si Doel Anak Betawi. Dalam film yang disutradarai Sjumandjaja itu Rano berperan sebagai si Doel kecil, sementara Ben memerankan Haji Sabeni, ayah si Doel. "Itulah pertama kali saya kerja sama dengan Babe. Dari awalnya sekadar kenal, jadi dekat," kata Rano. Pada tahun yang sama, keduanya kembali satu layar dalam film Si Rano, yang disutradarai Motinggo Boesje. "Setelah itu kami jarang bertemu."

Pada 1993, muncul niat Rano mengangkat kembali kisah si Doel. Kali ini bukan melalui layar bioskop, melainkan lewat sinetron untuk layar televisi yang saat itu mulai digandrungi. Rano hakulyakin Benyamin merupakan figur yang paling pas memerankan Haji Sabeni, persis saat mereka pertama kali bertemu di dunia akting 20 tahun sebelumnya.

Namun situasi sangat berbeda saat itu. Ben sudah sangat mapan dan berada di puncak ketenarannya sebagai aktor, penyanyi, seniman Betawi, sekaligus pengusaha. "Saya tahu saya tidak mungkin sanggup bayar sesuai ukuran honor dia," ujar Rano. Rano kemudian menemui Ben. "Saya bicara sama dia, 'Be, saya minta tolong…. Saya ada cerita, judulnya Si Doel Anak Sekolahan. Tapi saya nggak sanggup bayar.’"

Akhirnya Ben tertarik ikut dalam proyek sinetron tersebut. Rano menuturkan saat itu Ben sama sekali tak menyinggung soal besar honornya. "Tinggal bagaimana saya menghargai dia," ujar Rano. Walau tak mempersoalkan honor yang diterimanya, Ben selalu menunjukkan totalitasnya. "Babe bekerja sangat profesional. Selalu on time. Disiplin saat syuting. Makanya si Mandra kadang malu banget karena sering telat."

Bukan hanya disiplin, Ben pun memperlihatkan kepiawaiannya dalam berakting. Tak jarang muncul ide-ide baru dalam naskah berkat improvisasi Benyamin. "Saya menulis skrip kadang tak terpakai. Tapi hebatnya, tetap nyambung dengan skenario. Benyamin itu gila," ujar Rano. "Celetukannya yang terkenal tukang insinyur itu pun tak ada dalam skenario. Tiba-tiba dia teriak saja, ‘Wooi, anakku jadi tukang insinyur."

Rano mengakui meninggalnya Ben membuat sinetron Si Doel seperti kehilangan roh. "Jujur ya, setelah Babe nggak ada, saya bingung mau bikin apa dengan Si Doel. Hilang semua konsep. Tapi ya terngiang kembali keinginan dia meneruskan cerita ini," kata Rano. "Benyamin sulit dan nggak akan pernah tergantikan. Seorang legenda memang tak bisa digantikan."

Maudy Koesnadi, pemeran Zaenab dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan, memiliki kesan mendalam bisa beradu akting dengan Ben. Saat itu Maudy memang bisa dikategorikan orang baru di dunia peran. "Waktu itu aku masih anak bawang banget, jadi tak berani. Tapi yang aku lihat, kalau ada Babe, situasi jauh lebih hangat," ujar Maudy kepada detikX di sela-sela persiapan Teater Abnon mementaskan lakon "BABE, Muka Kampung Rejeki Kota" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa lalu.

Bagi Maudy, adegan dengan Ben tentunya merupakan tantangan terberat. Mengingat Ben yang selalu berimprovisasi. "Kalau Babe bikin adegan di luar skrip, ya lumayan mencekam," katanya. Namun tak selamanya situasi mencekam dihadapi Maudy kala berhadapan dengan Ben.

Foto : repro dok. pribadi

Maudy mengisahkan ia pernah satu panggung dengan Ben saat menjadi pembawa acara perayaan tahun baru 1995 di Hotel Shangri-La Jakarta. "Sebagai senior, Babe bisa menyeimbangkan. Beliau bisa menuntun dan saya merasa tak terintimidasi," kata Maudy. "Menyiapkan teater ini untuk mengenang Babe membuat saya semakin mantap bilang Babe adalah seorang seniman legendaris."

Sejak pertama tampil di layar lebar dalam film Honey, Money, and Djakarta Fair hingga akhir hayatnya, Benyamin bermain di lebih dari 50 film layar lebar. Hampir semua film Ben memang film komedi. Makanya nama Benyamin sangat lekat dengan citranya sebagai pelawak, bukan “bintang film serius”. Tapi bukan berarti Benyamin tak bisa main “film serius”. Dua kali dia mendapatkan penghargaan Piala Citra lewat film Intan Berduri pada 1973 dan Si Doel Anak Modern pada 1975. 

Saat syuting Intan Berduri, sutradara Turino Djunaidy harus mati-matian mengerem Ben agar tak kelewat ngebanyol. “Meskipun kau seorang komedian, dalam cerita ini aku harap kau lebih melihat dirimu sebagai pembawa jalinan cerita,” kata Turino kepada Benyamin dikutip dalam buku H. Benyamin S: Seniman Serba Bisa. Terbukti, berkat totalitasnya, Benyamin menunjukkan dia tak hanya jago membuat orang tertawa.


Reporter/Redaktur: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE