INTERMESO

Bachtiar Siagian, Sutradara ‘Kiri’ yang Terlupakan

Kemampuannya dianggap setara dengan Usmar Ismail, bapak film Indonesia. Tapi karya-karya Bachtiar Siagian hilang dimusnahkan.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Minggu, 1 Oktober 2017

Bunga Siagian, kini 29 tahun, lahir saat ayahnya tak lagi muda. Ketika Bunga lahir pada 1988, ayahnya, Bachtiar Siagian, sudah berumur 65 tahun. Gadis itu adalah anak kedua dari empat anak pasangan Bachtiar dan istrinya.

Keluarga mereka, seingat Bunga, selalu hidup dalam kondisi pas-pasan. Terus hidup dari rumah kontrakan ke rumah kontrakan. Anak-anak Bachtiar dari istri sebelumnya dan sejumlah eksil juga banyak membantu keuangan keluarganya. Meski tak lagi muda, Bachtiar bekerja keras menghidupi keluarga. “Dia orang yang perfeksionis,” kata Bunga beberapa hari lalu.

Bachtiar Siagian meninggal pada 19 Maret 2002 dan dimakamkan di Kalimulya, Depok, Jawa Barat. Tak ada media yang menulis, tak ada yang mengingat kecuali keluarga dan kerabat. Saat ayahnya meninggal, Bunga baru 14 tahun. Kalau ada ‘warisan’ yang ditinggalkan ayahnya buat dia, kata Bunga, itu adalah kesukaannya pada film. Sampai sekarang Bunga masih aktif, organisasi nirlaba untuk kajian sosial dan budaya.

Mungkin tinggal sedikit orang yang ingat dan tahu siapa Bachtiar Siagian. Padahal, pada masanya, sebelum 1965, Bachtiar merupakan sutradara film yang kondang. Dia merupakan Ketua Lembaga Film Indonesia, organisasi yang dekat dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Meski secara struktural tak ada kaitan dengan Partai Komunis Indonesia, Lekra dianggap sebagai organisasi sayap kebudayaan dari partai palu-arit itu.

Usmar Ismail, bapak film Indonesia, pernah mengakui kemampuan Bachtiar. Di antara sutradara-sutradara film saat itu, Bachtiar salah satu yang dianggapnya punya kemampuan setara dengannya. Hingga geger pada 30 September 1965, menurut Bunga, ada 13 film yang dibikin oleh ayahnya. “Film terakhirnya berjudul Sekedjap Mata,” Bunga menuturkan.

Bachtiar Siagian 
Foto: dok. Konfrontasi

Beberapa film karya Bachtiar di antaranya Tjorak Dunia, Turang, Piso Surit, Notaris Sulami, dan Violetta. Selain 13 film itu, sebenarnya Bachtiar membuat puluhan film dokumenter dan film pesanan sejumlah instansi. Dari semua film karya sutradara utama kelompok ‘kiri’ ini, hanya tersisa Violetta yang masih bisa ditonton relatif utuh. Sisanya dihancurkan saat huru-hara 1965.

Padahal, rata-rata film itu, termasuk Turang, tak ada bau-bau ‘kiri’ atau komunisnya. “Saya senang dengan film-film Bachtiar yang tak tampak ideologi komunisnya…. Piso Surit adalah film yang manis, kisah tukang kuda di tempat peristirahatan yang jatuh cinta pada mahasiswi yang sedang berlibur. Film Bachtiar sebelumnya, Turang, juga kisah revolusi yang bagus. Kenalan saya, seorang Minang intelek, yang biasanya mengejek film Indonesia, juga memuji film Turang,” sutradara Misbach Yusa Biran (almarhum) menulis dalam bukunya, Kenang-kenangan Orang Bandel.

Yang istimewa dari Turang, pemutaran perdana film ini tak digelar di bioskop, melainkan di Istana Merdeka dan ditonton langsung oleh Presiden Sukarno. Dalam Festival Film Indonesia pada Februari 1960, Turang menyapu lima penghargaan, yakni film terbaik, film drama terbaik, peran pembantu pria terbaik, dekor terbaik, dan sutradara terbaik.

Sungguh sayang, film terbaik Bachtiar Siagian itu tinggal kenangan. Keluarga, kata Indra Porhas Siagian, kakak kandung Bunga, sudah berusaha menelusuri arsip karya Bachtiar yang mungkin masih tersisa. “Sekarang kami baru dapat foto-foto saat syuting film,” kata Indra. Sebagian naskah drama, puisi, dan novel sudah terkumpul, tapi karya-karya terbaik Bachtiar Siagian justru sangat sulit dicari.

* * *

Tak seperti Usmar Ismail, yang pernah belajar sinematografi di Universitas California, Los Angeles, Bachtiar Siagian bukanlah sutradara sekolahan. Ayahnya bekerja di perusahaan kereta api. Pada masa penjajahan Jepang hingga masa-masa awal kemerdekaan, Bachtiar ikut beberapa kelompok sandiwara bersama istrinya. Dia juga menulis naskah-naskah drama, antara lain Rosanti, San Yaru, dan Darah Rakyat. Bachtiar kenal film dari seorang Jepang. Dia diminta membantunya membuat film semidokumenter mengenai Tonari Gumi. “Itu pertama kalinya aku berkenalan dengan media film,” Bachtiar menulis dalam memoarnya.

Kamp Unit XV di Pulau Buru
Foto: dok. VDP

Pak Bachtiar itu orang hebat…. Saya hanya membantu apa yang saya bisa bantu untuk sesama seniman film."

Ray Sahetapy soal Bachtiar Siagian

Untuk memperkaya pengetahuannya, dia belajar dari buku karya sutradara Rusia, Vsevolod Pudovkin. Buku itu beraksara China sehingga dia harus meminta seorang teman membantu membacakan. Meski miskin pengalaman dan pengetahuan, Bachtiar percaya diri membuat film. Atas bantuan Adam Malik, saat itu pemimpin Kantor Berita Antara, Bachtiar mendirikan perusahaan Mutiara Film. Perusahaan inilah yang memproduksi film pertamanya, Kabut Desember, pada 1955.

“Ada orang-orang film senior yang melecehkan aku, karena aku belum pernah jadi sutradara dan tahu-tahu menyutradarai film dengan pemain kelas satu, seperti Dahlia,” dia menuliskan pengalaman pertamanya jadi sutradara. Setelah punya pengalaman jadi sutradara, dia makin percaya diri. Studio Garuda Film menawarinya peluang kedua lewat film Tjorak Dunia dengan bintang Soekarno M Noor dan Mieke Wijaya.

Film itu lumayan sukses di pasar, bahkan sempat diekspor ke China, Vietnam, dan Korea. “Tokoh pendidikan Pak Kasur, yang ketika itu bekerja di Badan Sensor Film, sempat memuji-muji film tersebut sebagai film pendidikan yang bagus,” kata Bachtiar. Tak ada lagi yang meremehkan kemampuan anak Binjai itu.

Bachtiar sempat ’tersandung’ lembaga sensor saat membuat film Daerah Hilang. Film yang mengisahkan kasus penggusuran tanah di pinggiran Jakarta dan dibintangi Soekarno M Noor itu digunting habis-habisan oleh lembaga sensor yang dipimpin Maria Ulfah Santoso, mantan Menteri Sosial. Daerah Hilang dianggap berlawanan dengan kebijakan pemerintah.

Turang, film yang melejitkan nama Bachtiar, dibuat atas kerja sama Rencong Film dengan Yayasan Gedong Pemuda yang diketuai Kolonel Djamin Ginting, Panglima Kodam Bukit Barisan. Film yang mengisahkan perlawanan rakyat Karo terhadap tentara penjajah Belanda ini dibintangi pemain-pemain lokal, seperti Zoubier Lelo dan Nyzmah.

Pemberitaan film Turang di Star Weekly
Foto: dok. Star Weekly

Saat itu, Bachtiar sudah aktif di Lekra, organisasi yang sangat dekat dengan PKI, dan belakangan memimpin sayap film Lekra, Lembaga Film Indonesia. Waktu dan tenaganya makin tersedot untuk kampanye-kampanye politik Lekra.

Saat Jakarta geger oleh penculikan dan pembunuhan para jenderal Angkatan Darat pada 30 September 1965, menurut Indra, Bachtiar sedang ada di Bali mempersiapkan syuting filmnya, Karmapala. “Dalam perjalanan pulang, Bapak melihat kepala orang dipajang di pinggir jalan di Banyuwangi,” Indra menuturkan. Dia mendengar kabar rumahnya di Jakarta sudah digeledah tentara. Atas saran Njoto, salah satu pimpinan Komite Pusat PKI, Bachtiar diminta bersembunyi. Kata Njoto, “Presiden Sukarno sedang berusaha memulihkan situasi.”

Tak lama di persembunyian, Bachtiar terjaring juga dalam operasi penangkapan besar-besaran anggota PKI dan organisasi-organisasi yang dicap sehaluan. Sempat mendekam di Rumah Tahanan Salemba, berpindah ke Tangerang, dipindah lagi ke Pulau Nusakambangan, hingga akhirnya dikirim jauh ke kamp kerja paksa Pulau Buru, Maluku.

Di sana, Bachtiar berkumpul dengan ribuan tahanan politik Golongan B, seperti sutradara Basuki Effendy, sastrawan Pramoedya Ananta Toer, sastrawan Lekra Rivai Apin, wartawan Tom Anwar, dan redaktur Harian Rakjat Amarzan Lubis. Mereka dikirim ke pulau tandus itu dan dipaksa bekerja setengah mati seperti kuli, terpisah dari keluarga, tanpa pernah diadili. Baru pada 1979, Bachtiar dipulangkan dari Pulau Buru bersama gelombang terakhir tahanan.

Bachtiar menikah lagi, putra seorang teman sesama eks Pulau Buru. Tak cuma dihukum tanpa diadili, pintu rezeki para mantan tahanan politik ini juga ditutup rapat-rapat oleh pemerintah Orde Baru. Pelbagai aturan diterbitkan sehingga membuat orang-orang seperti Bachtiar, juga anak keturunannya, susah mencari pekerjaan. “Ayah saya pakai banyak nama samaran untuk bekerja,” kata Indra Siagian.

Poster salah satu film Bachtiar Siagian
Foto: dok. Wikipedia

Apa lagi yang Bachtiar bisa lakukan untuk menghidupi istri dan anak-anaknya yang masih kecil kecuali menulis skenario. Ada lumayan banyak naskah skenario film, film dokumenter, juga drama radio, yang ditulis Bachtiar dan ‘dijual’ dengan nama samaran. Beberapa di antaranya naik ke layar bioskop, seperti film Intan Mendulang Cinta, Busana dalam Mimpi, dan Membelah Kabut Tengger.

Setelah pulang dari Pulau Buru, menurut Bunga, ayahnya tak banyak berhubungan dengan sesama mantan tahanan politik. “Menurut mama saya, Ayah kurang tertarik berkumpul dan berserikat setelah keluar dari penjara. Terutama dengan teman-teman eks tapol. Dia seperti trauma dan menjaga diri demi keluarganya,” kata Bunga. Teman-teman dekat Bachtiar, kata Indra, hanyalah beberapa seniman tak jauh dari rumahnya Depok, seperti perupa Semsar Siahaan dan Gordon Tobing.

Beberapa orang yang lumayan membantu ekonomi keluarga Bachtiar adalah teman-temannya di Teater Oncor, seperti bintang film Ray Sahetapy dan Arjuna Hutagalung, suami Dolorosa Sinaga. “Pak Bachtiar itu orang hebat…. Saya hanya membantu apa yang saya bisa bantu untuk sesama seniman film. Apalagi saat itu Bung Bachtiar sudah berumur dengan anak-anak yang masih kecil,” kata Ray.


Reporter: Melisa Mailoa
Redaktur/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE