INTERMESO

MEMORI FILM PENGKHIANATAN G30S/PKI

Musik The Beatles dan Syuting di Malam Jumat

“Tentara itu cuma mengawasi keamanan syuting, bukan mengawasi penyutradaraan.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 30 September 2017

Film Pengkhianatan G30S/PKI bisa dikategorikan sebagai film sejarah kolosal dan memiliki durasi terpanjang: empat setengah jam. Bukan hanya itu, penggarapannya pun kompleks, rumit, termasuk dalam pencarian pemain-pemainnya. Tak aneh bila produksinya saja butuh dua tahun.

Penataan musik di beberapa adegan film tersebut juga bisa dibilang rumit. Embie C Noer-lah orang yang berada di balik musik film Pengkhianatan G30S/PKI. Embie tak lain adalah adik kandung Arifin C Noer.

Embie mengisahkan, 35 tahun yang lalu itu, ia hanya diberi tahu oleh sang kakak bahwa akan membuat sebuah film horor. Embie ditugasi membuat ilustrasi musik yang menggambarkan keseraman dan ketakutan dalam film itu.

Awalnya, Embie mencoba menggunakan latar suara film horor Barat, namun unsur lokal dan etnisnya tidak nyambung dengan film itu. Akhirnya diputuskan lagu Genjer-genjer dibuat menjadi ilustrasi dengan seruling bambu (Jawa Barat). Dia juga mencari beberapa alat musik atau sumber-sumber bunyi yang dieksplor kembali supaya pas sebagai latar suara di film tersebut.

“Sistem pemilihan lagu selalu berkoordinasi dengan sutradara karena penanggung jawab artistik tertinggi. Jadi setiap karya musik dikonfirmasi dulu mana yang mau dimasukkan,” ungkap Embie dalam obrolan dengan detikX di kediamannya di Cipete, Jakarta Selatan, Kamis, 28 September 2017.

Arifin C Noer
Foto: dok. Kemendiknas

Embie C Noer
Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Diakui Embie, dalam pembuatan musik untuk latar suara film itu, banyak sekali revisi atau perubahan, bahkan ada yang ditolak. Misalnya pada pembukaan film Pengkhianatan G30S/PKI, ada adegan pemutaran piringan hitam dengan lagu Help milik The Beatles. Oleh Badan Sensor Film (BSF), lagu itu dilarang diputar.

“Kita tak terlalu mempermasalahkan dan langsung mencari solusi dengan mencari lagu yang ekspresinya mirip dengan lagu Help, yaitu Bis Sekolah yang Kutunggu punya Koes Plus,” tutur Embie, yang sempat mendapat nominasi Penata Musik Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 1984, juga peraih Citra FFI dalam film Serangan Fajar pada 1982.

Embie mengaku jarang ikut berdiskusi dengan tim terkait pembuatan film tersebut karena ia sebagai adik Arifin langsung berdiskusi berdua. Keduanya berdiskusi saat perjalanan pulang dalam satu mobil atau di rumah karena mereka berdua tinggal bersama. Selain sebagai kakak, Arifin dianggap Embie sebagai orang tua pengganti ayahnya yang sudah meninggal.

“Juga sebagai guru karena pada saat dia memberikan pekerjaan itu, ia juga memberikan pelajaran, ilmu, bimbingan dan sebagainya,” Embie menambahkan.

Menurut Embie, Arifin sangat tegas dan tak dapat didikte pada saat bekerja. Dan dia paling marah pada orang yang malas. Arifin memiliki prinsip, lebih baik bekerja dengan orang yang tidak tahu karena bisa belajar nantinya. Tapi orang malas biasanya tidak mau bekerja.

“Jadi ia merasa tersiksa jika bekerja dengan orang yang malas, sementara dia pola kerjanya sangat teliti, cepat, dan efektif,” tuturnya.

Naskah asli film Pengkhianatan G30S/PKI
Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Jajang C Noer, istri Arifin C Noer (almarhum), membenarkan kompleksitas dan kerumitan pembuatan film Pengkhianatan G30S/PKI. Bukan hanya di bagian musik, tapi juga saat pencarian data, wawancara keluarga korban PKI, riset-riset yang dilakukan, termasuk bagian properti. “Itu juga lama, semuanya itu pokoknya dua tahun, karena kami mengalami dua kali Lebaran. Yang membuat lama itu persiapan mencari data dan syutingnya,” ujar Jajang kepada detikX.

Bahkan syuting di setiap rumah keluarga jenderal itu masing-masing memakan waktu satu minggu. Sebab, di setiap rumah tujuh jenderal itu berbeda-beda properti dan pengambilan adegan gambarnya. Anehnya, pengambilan gambar setiap adegan penculikan dan penembakan selalu terjadi pada malam Jumat.

“Tiap ambil adegan ditembak, diseret, itu malam Jumat. Kan pas setting bagian itu butuh tiga hari, mulai tentara turun, apa, kan lama. Tapi pas adegan ditembak atau diseret, itu pasti malam Jumat, nggak tahu kenapa bisa begitu,” ucap Jajang mengenang pembuatan film itu dengan heran.

Data yang dijadikan dasar pembuatan naskah skenario film, menurut Jajang, berasal dari pemerintah. Data dikumpulkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang saat itu dijabat Nugroho Notosusanto, yang juga sebagai sejarawan militer. Target pembuatan film itu memang agar masyarakat tahu bahwa Partai Komunis Indonesia itu jahat.

“Jadi itulah targetnya. Film ini dibuat horor supaya orang nangkep bahwa ini peristiwa horor, peristiwa yang tragis, memang begitu,” ujar Jajang, yang dalam produksi film itu sebagai pencatat adegan.

Jajang C Noer
Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikX

Dari data itulah Arifin C Noer langsung membuat skenario yang sebelumnya disetujui Presiden Soeharto. Jajang membantah bila dikatakan bahwa syuting selalu dijaga oleh tentara karena takut ada adegan yang menyimpang. “Tentara itu cuma mengawasi keamanan syuting, bukan mengawasi penyutradaraan,” tuturnya.

Tentara menjaga ketika tim properti membuat bendera PKI. Sebab, saat itu tim properti membuat bendera PKI yang disablon dan dijemur sebagai persiapan membuat film. Tapi tiba-tiba mereka ditangkap polisi atas laporan ketua RT karena disangka anggota PKI. Pada 1980-an itu, jangankan menyebut PKI, memasang foto Bung Karno saja tak ada yang berani karena dinilai Sukarnois, yang dianggap berafiliasi ke PKI.

“Nah, karena ada kejadian tim properti kami ditangkap itulah akhirnya kami dijaga tentara dan kami diberi kartu pengenal bahwa kami sedang membuat film. Akhirnya kami semua dan kru pakai itu, kartu pengenal itu dari Setneg (Sekretariat Negara),” ujar Jajang.


Reporter: Ibad Durohman, Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE