INTERMESO

Agen Ganda
Indonesia-Amerika

CIA merekrut warga Indonesia untuk memantau dan mencari informasi dari diplomat-diplomat negara komunis.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 5 Oktober 2017

Namanya Suhaimi Munaf, politikus Partai Persatuan Tarbiyah Islamiyah, partai Islam pendukung Sukarno. Pria asal Sumatera Barat yang lahir pada 1925 ini memiliki kemampuan menulis yang baik. Kemampuan itu dimanfaatkannya untuk menjadi penulis lepas di media-media yang berafiliasi dengan kelompok komunis.

Karena kedekatan dengan kelompok kiri itu, Suhaimi acap kali ditunjuk mewakili delegasi Indonesia dalam sejumlah kunjungan resmi ke negara-negara komunis, seperti Uni Soviet, Kuba, dan China. Hubungan baik dengan kelompok komunis akhirnya menjadi bumerang bagi Suhaimi. Pascaperistiwa G30S pada 1965, ia ikut diciduk. Ikut melakukan kejahatan politik dituduhkan kepadanya.

Mulai Februari 1967, Suhaimi mendekam di penjara. Rupanya sepak terjang Suhaimi masuk dalam pantauan lembaga intelijen Amerika Serikat CIA. Penunjukannya sebagai delegasi Indonesia bersama Sirajuddin Abbas dan Bintang Suradi dalam pertemuan Afro-Asian Peoples Solidarity Organization di Bandung pada April 1961 masuk dalam laporan CIA.

Para diplomat Amerika Serikat pun terkesan pada keluwesan Suhaimi bergaul dengan diplomat dari negara-negara komunis. Profil Suhaimi itu membuat CIA bernafsu merekrutnya menjadi agen. Kepala Stasiun CIA di Jakarta Clarence ‘Ed’ Barbier mengontak koleganya di Polisi Militer Kolonel Nicklany Soedardjo, yang menjabat Asisten Intelijen, secara rahasia. Menjelang masa kebebasannya pada Agustus 1968, Suhaimi harus menghadapi kenyataan pahit. Keluarganya berantakan dan ia kehilangan pekerjaan.

Saat itulah misi perekrutan dijalankan. Serangkaian tes dilakukan terhadap Suhaimi. "Kesimpulannya, Suhaimi memiliki mental baja, keras kepala, dan sukar dipengaruhi," tulis Ken Conboy, dalam bukunya Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia. Hasil tes ini sesuai dengan harapan CIA.

Foto: dok. SullenBell

Kesimpulannya, Suhaimi memiliki mental baja, keras kepala, dan sukar dipengaruhi."

Ken Conboy, penulis buku Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia

Tawaran menjadi agen CIA pun dilayangkan kepadanya berikut ancaman pengasingan ke Pulau Buru kalau menolak. Tak punya pilihan, Suhaimi akhirnya menerima tawaran itu. Ia pun dijanjikan imbalan yang cukup dan perlindungan dari kelompok antikomunis. Nama sandi Friendly/1 dilekatkan kepadanya. Selain rutin memberi informasi kepada CIA, Suhaimi bisa dikontak pejabat tertentu di Bakin dan Polisi Militer.

Tugas pertamanya menjalin kembali kontak dengan sejawatnya di kedutaan negara komunis. Kontak pertamanya dengan Duta Besar Kuba, yang baru saja berkunjung ke Beijing, menghasilkan informasi soal dukungan penuh pemerintah China terhadap Vietnam Utara. Informasi ini segera dilaporkannya kepada CIA. Pada pertengahan April 1970, Suhaimi melaporkan ada bekas simpatisan Partai Komunis Indonesia yang bekerja untuk kantor penerangan National Liberation Front (NLF) Vietnam Utara di Jakarta sebagai penerjemah. Orang ini, kata Suhaimi, layak direkrut.

Tentu saja model perekrutannya setali tiga uang dengan cara CIA mendapatkan Suhaimi. Bakin memberi nama sandi Mawar kepada agen ini. Mawar diberi tugas mengumpulkan daftar riwayat hidup semua diplomat NLF di Jakarta. CIA dan Bakin pun melibatkannya dalam Operasi Kuning untuk memasang alat penyadap di kantor NLF di Kebayoran Baru.

CIA juga merekrut seorang wartawan koran berhaluan nasionalis El Bahar bernama Subandi pada 1968. Subandi, yang merupakan mantan perwira marinir, pernah terpilih mengikuti pendidikan di Quantico, Virginia, Amerika Serikat, pada 1964. Ini membuatnya memiliki koneksi di kantor Atase Pertahanan Kedutaan Amerika Serikat. Atase ini pulalah yang mengenalkannya kepada pejabat CIA di Jakarta.

Foto: dok. BlackVault

Pekerjaan sebagai wartawan membuat Subandi dengan mudah mendapat undangan untuk acara resmi kedutaan negara komunis. Kepada Ken Conboy, Subandi mengaku diberi nama sandi Friendly/2 dari CIA. Selama menjadi agen, Subandi berhasil merekrut seorang diplomat NLF sebagai informan yang diberi nama sandi Kasuari. Subandi juga berperan dalam operasi mata-mata terhadap para diplomat Korea Utara.

Melihat keluwesan dua intel ini di lingkaran diplomat Jakarta, bukan hanya CIA yang berniat memakai jasa Suhaimi dan Subandi. Intelijen Uni Soviet KGB pun mendekati dua agen ini. Sering muncul di resepsi diplomatik negara-negara komunis membuat keduanya menjadi incaran KGB. Subandi diberi tugas mengumpulkan sebanyak-banyaknya data pribadi warga Tionghoa yang sudah meninggal dunia. CIA, yang menerima laporan penugasan KGB itu, menduga data yang diminta Moskow tersebut akan dipakai merancang riwayat hidup palsu bagi para agen yang sudah direkrut KGB. Subandi akhirnya diminta memutus kontak dengan KGB.


Reporter/Redaktur: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE