INTERMESO

HARI PAHLAWAN

Bukan ‘Hanya’
Bung Tomo

“Jawaban kami tetap: selama darah masih dapat mewarnai secarik kain merah dan putih, kami tak akan menyerah kepada siapa pun.”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Sabtu, 11 November 2017

Menjelang tengah hari pada 27 Oktober 1945, pesawat tentara Sekutu berputar-putar di atas Kota Surabaya. Dari ekornya, pesawat itu memuntahkan ratusan ribu lembar pamflet. Pamflet itulah yang mengawali perang berdarah di Surabaya, 72 tahun lalu.

Lewat pamflet itu, Panglima Pasukan Sekutu di Jawa, Bali, Madura, dan Lombok Mayor Jenderal HC Hawthorn menyebarkan ancaman. “…seluruh rakyat Surabaya harus mengembalikan semua senjata hasil rampasan dari tentara Jepang. Mereka yang menyimpan senjata akan langsung ditembak di tempat.” Padahal belum lewat sehari suhu Kota Surabaya yang memanas setelah kedatangan tentara Sekutu mulai agak dingin.

Sehari sebelumnya, dalam pertemuan di kantor Konsulat Jenderal Inggris, tentara Sekutu, yang diwakili oleh Komandan Brigade Ke-49 Brigadir Jenderal AWS Mallaby, berunding dengan delegasi Indonesia yang diwakili oleh Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawa Timur Mayor Jenderal Moestopo, Residen Surabaya Soedirman, Ketua Komite Nasional Indonesia-Surabaya Doel Arnowo, Komandan TKR Mohammad Mangoendiprodjo dan Wali Kota Surabaya Radjimin Nasution. Tentara Sekutu berjanji akan melucuti tentara Jepang, segera mengangkut warga negara mereka, dan bersama-sama menjaga keamanan Surabaya.

Dalam surat kepada istrinya pada 27 Oktober 1945, Jenderal Mallaby menyatakan kekecewaannya atas tindakan ceroboh atasannya, Jenderal Hawthorn. “Panglima merusak segalanya dengan menyebarkan pamflet berisi ultimatum yang disebar lewat pesawat yang terbang langsung dari Jakarta tanpa memberitahukan isinya kepadaku,” Mallaby menulis, dikutip Des Alwi dalam bukunya, Pertempuran Surabaya November 1945. Des Alwi adalah saksi mata kedahsyatan perang di Surabaya itu. “Pamflet itu adalah tamparan yang amat memalukan bagiku sebagai perwira tinggi.”

Tapi Jenderal Mallaby tak bisa berbuat banyak. Pamflet telanjur tersebar, bak bensin dituang ke atas api, mengobarkan semangat perlawanan rakyat Indonesia. Apalagi, sejak Sekutu mengirimkan tentaranya ke Surabaya, rakyat Indonesia sebenarnya sudah curiga, ada prajurit Belanda membonceng di belakang mereka dan berniat menjajah kembali negara ini.

Laskar rakyat di Surabaya pada 1945
Foto : Imperial War Museum

Bermodal senjata rampasan dari Jepang dan tekad bulat mempertahankan kemerdekaan, Gubernur Jawa Timur RM Ario Soerjo, Jenderal Moestopo, Komandan TKR Surabaya Jonosewojo, dan pimpinan-pimpinan laskar dari Pemuda Republik Indonesia, juga laskar Hizbullah, menolak ultimatum Jenderal Hawthorn. Tepat pukul 17.00 WIB pada 28 Oktober 1945, prajurit TKR dan laskar-laskar rakyat serentak menyerbu markas-markas tentara Sekutu di Surabaya. Meski bersenjata lengkap dan jauh lebih berpengalaman, 6.000 tentara Sekutu—hampir semuanya veteran Perang Dunia II—kewalahan menghadapi serbuan gabungan tentara dan laskar rakyat.

Kapten RC Smith, salah satu perwira Sekutu saat itu, menuliskan bagaimana kondisi mereka, ”…setelah menimbang-nimbang, Jenderal Mallaby memutuskan bahwa pasukannya dalam kondisi sangat buruk…. Jika perang ini dilanjutkan, kami akan terbasmi habis.” Belum sehari baku tembak pecah, Jenderal Mallaby menelepon atasannya di Jakarta dan Singapura, mengabarkan situasi buruk di Surabaya. Menurut Mallaby, hanya satu orang yang bisa menyelamatkan tentara Sekutu di Surabaya: Presiden Sukarno.

Pagi-pagi sekali, Tukimin, pembantu pribadi Bung Karno, terpaksa membangunkan Presiden. Tukimin berbisik di telinga Bung Karno, ada persoalan yang amat genting. Ada utusan dari tentara Sekutu datang mengabarkan bahwa panglimanya ingin berbicara dengan Presiden Sukarno saat itu juga. “Setelah saya bangun, selama tiga puluh menit saya terpaksa bicara lewat telepon,” Bung Karno menuturkan kepada Cindy Adams dalam biografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Dia tak bercerita kepada keluarganya apa isi percakapan dengan Jenderal Hawthorn. “Saya hanya bilang besok pagi akan terbang ke Surabaya.”

Bung Karno terbang ke Surabaya bersama Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin. Pesawat yang mengangkut mereka mendarat di Lapangan Udara Morokrembangan. Sehari kemudian, pada 30 Oktober 1945 pagi, Jenderal Hawthorn menyusul tiba di Surabaya. Dalam perundingan di kantor Gubernur Soerjo, selain Bung Karno, Hatta, dan Amir, hadir juga tokoh-tokoh perlawanan di Surabaya, seperti Ketua Pemuda Republik Indonesia Soemarsono, Sutomo alias Bung Tomo, Roeslan Abdulgani, Des Alwi, Soengkono, Atmadji, dan Mohammad Mangoendiprodjo.

Mobil yang ditumpangi Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby di Surabaya
Foto : Imperial War Museum

Sekarang sudah tak ada lagi keraguan. Sudah tak ada lagi jalan mundur.”

Roeslan Abdulgani

Pada hari itu disepakati gencatan senjata antara tentara Sekutu dan pemerintah Indonesia. Tapi gencatan senjata itu hanya berumur sangat pendek, kurang-lebih setengah hari. Saat berkeliling Kota Surabaya bersama pemimpin-pemimpin perlawanan rakyat, Jenderal Mallaby terjebak dalam baku tembak di depan gedung Internatio dan tewas tertembak. Kematian Mallaby membuat Panglima Sekutu marah besar. Mereka menuduh prajurit Indonesia sebagai pembunuhnya. Pembalasan Sekutu atas kematian Mallaby inilah yang memicu perang besar di Surabaya selama tiga pekan.

* * *

Sudah menjelang tengah malam saat Gubernur Soerjo dengan pengawalan ketat prajurit TKR pergi ke studio RRI Surabaya. Tepat pukul 23.10 WIB, dengan suaranya yang tenang, priayi Jawa itu berpidato. “Semua usaha kita untuk mengajak berunding telah menemui kegagalan. Untuk mempertahankan kedaulatan negara kita, kita harus tetap menegakkan serta memperteguh tekad kita…. Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita lebih baik hancur daripada kembali dijajah. Pertahankan Kota Surabaya, selamat berjuang, Tuhan bersama kita.”

Sehari sebelumnya, Mayor Jenderal RC Mansergh, komandan tentara Sekutu di Surabaya, menyampaikan peringatan dengan nada menghina. Dia memerintahkan agar semua senjata milik laskar diserahkan kepada tentara Sekutu. Jika perintah itu tak dituruti, pada 10 November 1945, tentara Sekutu akan membumihanguskan Surabaya.

Sebagian dari kita, mungkin hanya tahu nama Bung Tomo dalam perang dahsyat di Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan, 72 tahun silam. Bung Tomo sendiri, seperti disampaikan Suhario Padmodiwiryo alias Hario Kecik kepada Frank Palmos dalam bukunya, Surabaya 1945, tak terlibat langsung dalam baku tembak. “Dalam Perang Surabaya, dia tak pernah menembakkan pistol atau senapan apa pun,” kata Hario Kecik.

Prajurit infantri Pasukan Sekutu berlari dalam Perang Surabaya 1945
Foto: Imperial War Museum


Di medan tempur, komandan-komandan yang langsung berhadapan dengan desingan peluru dan hujan meriam dari tentara Sekutu ada banyak sekali. Selain mereka yang memang ‘bermarkas’ di Surabaya, ada banyak sekali prajurit TKR dan anggota laskar yang berdatangan dari daerah sekitar Surabaya, seperti Besuki, Malang, Mojokerto, hingga mereka yang datang dari tempat yang jauh, seperti prajurit dari Yogyakarta, bahkan luar Jawa.

Dari TKR ada dr Moestopo (puluhan tahun kemudian dia menjadi pendiri Universitas Moestopo, Jakarta), Soengkono, Jonosewojo, dan R Mohammad Mangoendiprodjo. Dari kesatuan Polisi Istimewa ada Muhammad Jasin dan Sutjipto Danoekoesoemo. Dari Pemuda Republik Indonesia ada Soemarsono, dari Laskar Hizbullah, ada Yasin Syamsudin dan Abdunnafik.

Melihat situasi genting di Surabaya, bertempat di kantor Hoofdsbestuur Nahdlatul Ulama di Jalan Bubutan, Surabaya, sang pendiri NU, Hasyim Asy’ari, mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Pada intinya, pemimpin NU menyeru segenap umat Islam dan warga nahdliyin berbondong-bondong berangkat ke Surabaya demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kiai As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo berkeliling dari pesantren ke pesantren, sepanjang daerah Tapal Kuda hingga Pulau Madura meminta para kiai mengirimkan santri-santrinya berperang di Surabaya. “Niatkanlah menegakkan agama dan membela negara sehingga, kalau kalian mati, akan syahid dan masuk surga,” kata Kiai As’ad kepada para santri dikutip Syamsul Hasan dalam bukunya, Kharisma Kiai As’ad di Mata Umat. Kiai Abdullah Abbas dari Cirebon ditunjuk Kiai Hasyim sebagai komandan lapangan bagi Laskar Nahdliyin dalam Perang Surabaya.

Warga Surabaya mengungsi saat Perang Surabaya 1945
Foto : Imperial War Museum

Dalam Perang Surabaya, peran Bung Tomo adalah mengobarkan semangat perlawanan rakyat lewat orasi-orasinya di Radio Pemberontak. Lewat Radio Pemberontak, Bung Tomo terus membakar semangat rakyat melawan Sekutu. “Halo, tentara Inggris, dengar jawaban kami sekarang…. Kami tak akan pergi kepadamu dengan membawa bendera putih. Kami tidak akan menyerah kepadamu…. Hancurkan kami dengan segala kekuatan yang ada padamu. Namun jawaban kami tetap: selama darah masih dapat mewarnai secarik kain merah dan putih, kami tak akan menyerah kepada siapa pun.”

Beberapa jam kemudian, persis pukul 06.00 WIB, pada 10 November 1945, di bawah komando Mayor Jenderal RC Mansergh, mesin-mesin perang Sekutu, yang diperkuat hampir 30 ribu prajurit, belasan kapal perang, dan skuadron pesawat Thunderbolt serta Mosquito, mulai membombardir Kota Surabaya dari laut, darat, dan udara. Tembakan meriam dari armada The 5th Cruiser Squadron di bawah komando Laksamana Muda WR Patterson menjadi tanda dimulainya serbuan tentara Sekutu.

Tekad rakyat Surabaya dan laskar pemuda yang datang dari pelbagai daerah sudah bulat. Seperti yang digambarkan oleh Roeslan Abdulgani setelah menyimak pidato Gubernur Soerjo. “Kami merasa bebas, terlepas sepenuhnya dari pikiran-pikiran berat. Sekarang sudah tak ada lagi keraguan. Sudah tak ada lagi jalan mundur,” Roeslan menuliskan perasaannya pada malam menjelang 10 November 1945. Malam itu dia pulang ke rumahnya di Kampung Plampitan dengan hati yang bulat: siap berkorban nyawa untuk Indonesia yang masih sangat muda.


Reporter/Redaktur: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE