INTERMESO

HARI PAHLAWAN

Dari Perang Surabaya
ke Penjara

Hario Kecik ikut menyabung nyawa dalam Perang Surabaya. Pulang dari Uni Soviet, dia dijebloskan ke penjara tanpa pernah diadili.

Ilustrasi : Edi Wahyono
Foto: Dok. Keluarga

Sabtu, 11 November 2017

Markas Besar Kempeitai Jepang di Pasar Besar itu tampak megah, gagah dan menyeramkan. Selama masa penjajahan Jepang, Kempeitai memang masyhur dengan kekejamannya. Hingga September 1945 lewat, hanya gedung ini yang belum tersentuh penjarahan senjata oleh laskar rakyat Indonesia.

Tepat pada 1 Oktober 1945, gedung itu mendapat giliran. Hari itu massa rakyat dan prajurit Badan Keamanan Rakyat (BKR) mengepung Markas Kempeitai. Soehario Padmodiwirio yang tergabung dalam BKR Kaliasin mengambil posisi menyerang bagian belakang kompleks.

"Campuran rasa benci dan takut bersarang di benak saya," ujar Soehario yang lebih dikenal dengan sebutan Hario Kecik dalam bukunya, Memoar Hario Kecik : Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit. Senapan Arisaka dipegangnya erat-erat. Sementara sangkur dan pistol Colt 32 tergantung di pinggang. Senjata-senjata itu hasil rampasan dari Markas Katsura Butai di Gedung Don Bosco, Sawahan, Surabaya, lima hari sebelumnya.

Tembakan bertubi-tubi datang dari arah depan gedung. Namun pasukan Jepang tak membalas. Massa dan pemuda berdatangan dari arah belakang Hario Kecik dengan segala macam senjata. Ada yang memanggul senapan, ada yang menghunus golok, tapi ada pula yang hanya bermodal bambu runcing. Baru ketika mereka merangsek masuk ke dalam kompleks disertai teriakan "maju!", tembakan balasan datang dari dalam gedung. Komandan BKR Surabaya, Abdul Wahab tertembak di bagian paha ketika berusaha masuk dari sisi samping gedung.

Hario yang sudah merapat di sisi gedung memasang sangkur. Siap-siap untuk pertarungan jarak dekat dengan kempeitai yang bertahan dalam gedung. Tiba-tiba tembakan dari arah pemuda dan massa di depan gedung berhenti. Teriakan "Jangan tembak!" terdengar bersahutan dari arah depan gedung. Rupanya ada perundingan dengan pihak militer Jepang.

Semasa tahun 2000-an.

Saat masa tenang itu Hario baru memperhatikan massa di sekelilingnya. "Saat itu saya sadar sepenuhnya bahwa saya bukanlah apa-apa, hanya salah seorang prajurit kecil di tengah massa rakyat yang besar dan nekat. Tidak ada komandan atau pemimpin, yang ada hanya niat maju bersama untuk mengalahkan musuh," ujar Hario. "Hampir semua adalah pemuda kampung. Pakaian mereka jelas mencerminkan kemiskinan."

Menjelang malam belum ada kepastian rencana perebutan gedung itu akan dilanjutkan atau tidak. Hario kehilangan rekannya Abdul Wahab yang tertembak. Ia akhirnya memutuskan tetap tinggal bersama 15 pemuda lainnya yang bersenjata lengkap. Untung datang Hasanuddin Pasoepati, bekas Chudanco Pembela Tanah Air (PETA). Orang Madura yang sebelumnya berprofesi sebagai guru ini memutuskan untuk menduduki gedung tersebut. Hasanuddin dan Hario sepakat untuk masuk lewat sayap kanan gedung karena tentara Jepang berkumpul di sisi kiri.

Baru dua hari kemudian prajurit-prajurit Kempeitai dipindahkan ke Kompleks Pasar Malam Surabaya di Ketabang sesuai kesepakatan dengan Panglima Pertahanan Angkatan Darat Jawa Timur Mayor Jenderal Iwabe. Mereka meninggalkan markas tanpa membawa senjata apapun. Seluruh gedung beserta isinya berpindah tangan. Kekuatan personel yang menguasai gedung itu bertambah dengan bergabungnya beberapa orang bekas PETA dan para pelajar.

Jumlah dan jenis senjata yang bisa dikumpulkan dari gedung itu cukup untuk mempersenjatai satu kesatuan infantri yang terdiri dari 300 prajurit. Senapan mesin ringan, karaben, pistol dan tekidanto semua ditinggalkan oleh Jepang dalam keadaan bersih, diminyaki, dan tersusun rapi. Begitu juga peti-peti amunisi dan minyak senjata. Di markas tersebut juga terdapat kamar besar berisi pedang samurai para perwira.

Girindro Hananto Seno, putra kedua Hario Kecik menuturkan ayahnya mencari pedang terbaik diantara ratusan pedang di dalam gudang. Satu per satu pedang dicek dan diuji kekerasan logamnya serta ketajamannya. "Digoreskan pada kaca dan diadu antar pedang," kata Hananto pada DetikX di rumahnya di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan. Hananto ahli aeronotika lulusan Uni Soviet itu mengatakan ayahnya mengambil dua pedang terbaik. Salah satunya memiliki gagang berlapis emas. "Papi sodorkan dua pedang itu kepada Hasanuddin,’ Mau pilih yang mana?’ Dipilih yang ada emasnya sesuai perkiraan papi."

Potret Soehario “Kecik” Padmodiwirio semasa Revolusi Fisik 1946-1949.

Sebagai Panglima Kodam IX Mulawarman, Kalimantan Timur (1959 – Feb.1965).

Setelah menguasai gedung dan persenjataan, Hasanuddin dan Hario sependapat dengan gagasan untuk membentuk kesatuan Polisi Tentara. Hario mengakui pikiran itu tidak datang dari kajian mendalam. "Karena yang kami duduki markas dan memperoleh senjata dari Kempeitai, organisasi keamanan yang mempunyai unsur kepolisian militer," ujar Hario. Mereka tak kesulitan merekrut anggota. Para pemuda datang berbondong-bondong mendaftar. Bahkan banyak yang ditolak karena masih di bawah umur.

Esok harinya ketika pemerintah Republik Indonesia mengumumkan terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR), menggantikan BKR, keduanya mengubah nama organisasi tersebut menjadi Polisi Tentara Keamanan Rakyat (PTKR) atas persetujuan pimpinan BKR Jawa Timur. Markas PTKR yang terletak di seberang kantor Gubernur Jawa Timur akhirnya hancur lebur dihujani tembakan meriam dari kapal perang dalam dua hari pertama pertempuran yang dimulai pada 10 November 1945.

Menurut Satrio Bimo, putra ketiga Hario Kecik, markas PTKR dipilih menjadi sasaran tembakan artileri berat Inggris karena gedung tersebut disangka markas besar TKR di Surabaya. "Papi bilang waktu Inggris pertama kali masuk Surabaya pada 26 Oktober, mereka sengaja mempertontonkan persenjataan lengkap PTKR di semua sudut kompleks gedung," ujar Satrio. Gedung yang awalnya sangat megah itu akhirnya hanya tersisa puing belaka.

Hario Kecik sendiri terluka terkena pecahan mortir yang berjatuhan di markas PTKR. Setelah pertempuran selama hampir tiga minggu, pasukan PTKR Jawa Timur mundur ke daerah Mojokerto. Setelah dilakukan operasi pengangkatan serpihan baja yang bersarang di belakang telinga, Hario memutuskan mundur dari PTKR Jawa Timur. Ia bergabung dengan Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI), satuan intelijen di bawah Kementerian Pertahanan yang baru dibentuk Letnan Kolonel Zulkifli Lubis di Yogyakarta. Zulkifli memberinya tugas sebagai Komandan Kontra Intelijen Daerah Besar III Jawa Timur.

* * *

Semasa menjabat sebagai Panglima Kodam IX Mulawarman (tahun 1960-an).

Papi merasa setelah peristiwa 1965, tidak ada yang menghubunginya. Ibaratnya, seperti layangan putus"

Satrio Bimo, putra Hario Kecik

Tak ada firasat apapun di benak Hario Kecik saat dia memasuki pesawat Aeroflot dan siap terbang ke Moskow, Uni Soviet, pada akhir Januari 1965. Dia menikmati betul penerbangan itu. Apalagi, semua hidangan yang ditawarkan pramugari sepanjang penerbangan cocok dengan seleranya, mulai dari kaviar sampai ikan sturgeon asap dari Laut Hitam. Setelah perut kenyang, beberapa teguk Vodka Stolitsnaya membuat Hario terlelap hingga mendarat di Moskow.

Tugas belajar ke Moskow ini bukan penugasan pertama bagi Hario. Mayor Jenderal Soehario pernah dikirim belajar ke Soviet, juga ke Amerika Serikat. Sebelum dikirim ke Soviet oleh Menteri Panglima Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani, Hario pernah menjabat Panglima Kodam Mulawarman di Kalimantan. Jenderal Yani menjanjikan dia akan mendapatkan kenaikan pangkat setelah pulang dari Soviet. Hario tak tahu, penerbangan kali itu akan mengubah jalan hidupnya dan keluarganya untuk selamanya.

Hario Kecik lahir di Surabaya dari keluarga priyayi Jawa, RM. Koesnendar Padmodiwirio dan RA. Siti Hindiah Notoprawiro pada 12 Mei 1921. Keluarganya termasuk berkecukupan. Koesnendar lulusan Hoogere Kweek School bekerja sebagai guru matematika di Sekolah Masinis dan Bintara Marine milik Angkatan Laut Belanda di Marine Etablissement di Ujung, Surabaya. Selain mengajar matematika Koesnendar juga mengajar fisika dan bahasa Belanda. Hario kecil disekolahkan di Instituut Buys di Surabaya yang terkenal mahal.

Orang tuanya sebenarnya tak menghendaki dia masuk tentara. Sebelum tercemplung di dunia militer, Hario sempat kuliah kedokteran di Jakarta. Menurut Hananto, Hario terinspirasi dokter Albert Scheweitzer dokter asal Perancis yang mengabdi di Afrika. "Papi itu seorang avontorir. Pikirannya nanti setelah jadi dokter dia bisa berkelana di Sumatera dan Kalimantan," ujar Hananto. Tapi Hario tak pernah menamatkan kuliahnya.

Baru delapan bulan menempuh pendidikan di General Staff Academy Suworov, Hario mendengar kabar ada geger di Jakarta pada 30 September 1965. Sejumlah pimpinan Angkatan Darat, termasuk Jenderal Yani, tewas dibunuh. Badai politik di Jakarta, memporakporandakan nasib banyak warga Indonesia yang sedang belajar di Uni Soviet, termasuk Mayor Jenderal Hario dan keluarganya.

Mendampingi Tamu Negara dari VietNam, Ho Chi Minh (Paman Ho), sebagai Ajudant. Event : Pemberian gelar HC di Univ. Indonesia (1959).

"Papi merasa setelah peristiwa 1965, tidak ada yang menghubunginya. Ibaratnya, seperti layangan putus," ujar putra kedua Hario Kecik, Satrio Bimo. Bahkan ketika pendidikan militernya selesai pada 1967, tak ada perintah untuk kembali ke Indonesia.

Tak boleh kembali ke tanah air membuat status kewarganegaraan Hario dan keluarganya tak jelas. "Kami stateless, tak punya negara, tapi kami tidak meminta status warga negara ke negara lain," ujar Satrio. Mereka akhirnya berada dalam perlindungan Komite Internasional Palang Merah. Untuk menghidupi keluarga, Hario menjadi peneliti di USSR Academy of Science.

Pada pertengahan 1970an, Menteri Luar Negeri Adam Malik berkunjung ke Moskow. Agenda utamanya adalah menegosiasikan pembayaran utang Indonesia dengan pemerintah Soviet. Lewat Atase Militer Kolonel Soehardjo, Adam Malik meminta Hario datang ke Kedutaan. Keduanya memang sudah kenal lama, sejak Hario masih mahasiswa kedokteran di Jakarta. Saat itu, Hario mengenal Adam Malik sebagai aktivisi Murba.

Sambutan Adam Malik masih ramah seperti dulu. Dia membuka pembicaraan. “Hario, Pak Harto memberi izin kepada saya untuk menemui kamu. Saya bilang bagaimana kalau saya mengajak kamu pulang. Beliau berkata kamu tak tersangkut masalah politik. Bagaimana pendapatmu?”

Hario mengatakan, saat itu dia hanya memikirkan masa depan pendidikan anak-anaknya. “Mengapa tak menyekolahkan mereka ke Eropa?” Menteri Adam bertanya. Hario langsung menjawab tanpa basa-basi. “Bung tentu tahu saya tak punya kemampuan dana menyekolahkan mereka ke Eropa? Tapi kalau bung bisa menjamin mereka sekolah di mana saja di Eropa atau Amerika, saya akan pulang bersama Bung. “ Adam Malik hanya tertawa. Sikapnya tetap santai, padahal orang-orang di sekelilingnya mulai gelisah.

Semasa Operasi Pembebasan Irian Barat (sekarang Papua), sekitar tahun 1960-an.

Akhirnya, pada Juni 1977, setelah lebih dari 12 tahun tinggal di Moskow, Hario dan keluarganya pulang ke Indonesia. Begitu keluar dari pintu pesawat ternyata sudah menunggu Ali Murtopo, salah satu orang kepercayaan Presiden Soeharto. Hario langsung dikirim ke Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, Jakarta. Tak jelas benar apa kesalahan Hario. "Dianggap anggota Partai Komunis Indonesia sih tidak. Cuma rumornya papi dianggap dekat dengan Bung Karno," ujar putranya, Satrio.

Kebetulan Komandan RTM Budi Utomo kenal baik dengan Hario. “Bapak menowo sampun kesupen kaliyan kulo? Apakah Bapak sudah lupa dengan saya?” Mayor Soemarno bertanya kepada Hario. Rupanya Soemarno pernah menjadi anak buahnya. Dia memperlakukan Hario dengan penuh hormat.

Beberapa hari setelah jadi penghuni RTM Budi Utomo, datang Kolonel Usman Syarief untuk menginterogasinya. “Wah, rupanya Pak Hario jadi profesor di sana? Memberi kuliah apa? Marxisme?” Kolonel Usman memancing. Selain berkali-kali mesti melewati interogasi, Hario juga mesti menjadi tes psikologi. Di RTM Budi Utomo, dia bertemu dengan teman-teman senasib, sesama tahanan politik, seperti mantan Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Soebandrio dan mantan Panglima Angkatan Udara Marsekal Omar Dhani.

Lebih dari empat tahun Hario yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia menjadi tahanan politik tanpa pernah diadili. Pada pukul 07.00 pada September 1981, bertempat di Markas Kodam Jaya, Hario bersama dua sesama tahanan politik, Mayor Jenderal Pranoto Reksosamodra dan Rukman, menjalani upacara pelepasan dari tahanan. Jenderal Pranoto, mewakili mereka, membacakan sumpah bahwa mereka tak akan menceritakan apa yang mereka alami selama dalam tahanan. Hario bebas dengan jaminan putri sulungnya, Hera Diana.


Reporter/Redaktur: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE