INTERMESO

Pelukis Para Raja dan Presiden

Basoeki Abdullah tak hanya dekat dengan Bung Karno dan Keluarga Cendana. Dia pernah juga jadi pelukis Kerajaan Thailand.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 18 November 2017

Meski lahir di Solo, Jawa Tengah, Raden Basoeki Abdullah punya banyak cerita di Thailand. Negeri itu pernah jadi rumahnya selama bertahun-tahun. Di Thailand pula, Basoeki menemukan dua istrinya, Somwang Noi dan Nataya Nareerat. Hubungan dengan Noi hanya bertahan sangat singkat, sementara Nataya mendampingi pelukis kondang itu sampai akhir hayatnya.

Kisah Basoeki di Thailand bermula di Singapura. Pada Februari 1958, Basoeki menggelar pameran tunggal di Victoria Memorial Hall, Singapura. Saat itu, putra Raden Abdullah Suriosubroto dari istri keduanya, Ngadisah, ini sudah jadi pelukis potret yang lumayan kondang. Dia dekat dengan Presiden Sukarno. Meski tak resmi jadi pelukis Istana, oleh Bung Karno, Basoeki diangkat sebagai ‘Kerabat Istana Kepresidenan’.

Sejak muda, Basoeki memang tak pernah menetap lama di satu tempat. Bak kumbang di taman, dia hinggap dari satu pohon ke pohon lain. Pada tahun itu, Basoeki lebih banyak tinggal di Singapura. Studionya di Singapura, saat itu masih bagian dari Federasi Malaya, selalu ramai dikunjungi orang-orang yang hendak memesan lukisannya.

Pameran di Victoria Memorial tersebut sukses besar. Banyak pejabat negara dan orang kaya yang datang berkunjung, bahkan ada pula yang terbang dari negeri seberang. Tan Puying Manilat dan saudaranya, Surathun, datang jauh-jauh dari Bangkok, Thailand, hanya untuk menyaksikan pameran Basoeki. Terpikat oleh goresan kuas cucu Dr Wahidin Sudirohusodo ini, Manilat mengundang Basoeki untuk melukis keluarganya di Thailand.

Dia sangat menghormati saya sebagai pelukis, sebagai manusia. Padahal saya ada di situ sebagai pelukis panggilan yang dibayar.”

Basoeki Abdullah soal Presiden Filipina Ferdinand Marcos

Basoeki Abdullah bersama Raja Thailand Bhumibol Adulyadej
Foto: repro koleksi Museum Basoeki Abdullah

Semula Basoeki enggan terbang ke Bangkok lantaran masih banyak pekerjaan tersisa di Singapura. Tapi Manilat dan Surathun setengah memaksa. “Saya dan Manilat adalah keluarga Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej,” akhirnya Surathun, dikutip Agus Dermawan dalam bukunya, Basoeki Abdullah: Sang Hanoman Keloyongan, memperkenalkan siapa mereka sebenarnya. Basoeki terperanjat. Jika keluarga Raja yang meminta, mana tega Basoeki menolaknya.

Di Thailand, orang Jawa itu diterima dengan hormat oleh Raja Bhumibol dan Ratu Sirikit. Ratu Sirikit meminta Basoeki melukis dia dan Raja Bhumibol. Bukannya langsung mengiyakan, Basoeki malah jual mahal. Dia meminta diberi izin untuk menggelar pameran tunggal di Bangkok lebih dulu sebelum melukis Raja dan Ratu Thailand. Basoeki tentu tak asal jual mahal. Tapi dia mengajukan alasan yang tak bisa ditolak Ratu Sirikit. 

“Agar masyarakat Thailand tahu siapa dan bagaimana kualitas pelukis yang akan menggambar keluarga Kerajaan,” kata Basoeki. Maka jadilah dia berpameran tunggal di Gymnasium of the National Stadium. Demi pameran itu, Basoeki memboyong puluhan lukisan yang dia garap sewaktu tinggal di Indonesia dan Singapura. Raja Bhumibol dan Ratu Sirikit puas, maka sejak hari itu Basoeki resmi menjadi pelukis Istana Kerajaan Thailand. Segala keperluan Basoeki dipenuhi oleh Raja. Bukan cuma jadi ‘tukang gambar’ Kerajaan, Basoeki yang suka melucu dan biasa hidup bebas juga jadi teman ngobrol dan penghibur bagi Raja Bhumibol.

Hubungan dekat dengan Raja Bhumibol inilah yang membukakan pintu bagi Basoeki untuk berkenalan dengan pemimpin-pemimpin negara lain. Saat Pangeran Norodom Sihanouk berkunjung ke Istana Chitralada, kediaman resmi Raja Thailand, pada 1963, Raja Bhumibol memperkenalkannya dengan Basoeki. Setelah mengamati beberapa lukisan karya Basoeki, Pangeran Norodom menawarinya melukis keluarga Kerajaan Kamboja.

Bernadetta (kiri) sekretaris Basoeki Abdullah
Foto: dok Bernadetta

Basoeki, setelah mendapat izin dari Raja Bhumibol, dengan senang hati berangkat ke Phnom Penh. Sama persis dengan syarat yang dia minta saat hendak melukis keluarga Kerajaan Thailand, Basoeki mengajukan proposal yang sama kepada Pangeran Sihanouk, yakni pameran tunggal di Phnom Penh. Pada akhir tahun itu pula Basoeki menggelar pameran tunggal di Istana Kamboja. “Pulang dari sana saya mendapat Bintang Kebudayaan Kerajaan Kamboja,” Basoeki menuturkan dengan bangga. Bintang kehormatan yang sama dia peroleh dari Kerajaan Thailand.

Tak semua tawaran melukis dari seorang pemimpin negara langsung diterima Basoeki. Ketika Presiden Filipina Ferdinand Marcos dan istrinya yang glamor, Imelda, minta izin kepada Raja Bhumibol untuk memboyong pelukisnya ke Manila pada 1968, Basoeki minta waktu untuk pikir-pikir. Entah apa yang dipikirkan Basoeki kala itu. Selama bertahun-tahun, Presiden Marcos, orang yang sangat berkuasa di Filipina—dia berkuasa dari 1965 hingga 1986—menagih janji Basoeki.

Janji itu baru dilunasi Basoeki setelah Presiden Marcos dan Imelda menagihnya kembali pada 1977. Selama tiga bulan Basoeki tinggal di Manila dan bolak-balik ke Istana Malacanang, kediaman resmi Presiden Filipina. Presiden Marcos, yang di kemudian hari dikenang sebagai diktator yang korup dan brutal, di mata Basoeki adalah seorang suami yang sangat hormat kepada istrinya, Imelda.

Dia juga memperlakukan orang-orang di sekelilingnya dengan baik, termasuk Basoeki. “Dia sangat menghormati saya sebagai pelukis, sebagai manusia. Padahal saya ada di situ sebagai pelukis panggilan yang dibayar,” Basoeki mengenang. Selama tinggal di kompleks Istana Malacanang, Basoeki membuat 27 lukisan untuk Presiden Marcos dan istrinya.

* * *

image for mobile / touch device
image 1 for background / image background




Anggota Kerajaan Thailand, Princess Galayani Wattana
Foto: repro koleksi Museum Basoeki Abdullah 

Basoeki Abdullah, seperti lukisan-lukisannya, adalah sosok dengan hidup yang penuh warna. Hidupnya sendiri adalah sebuah drama, ada sisi komedi, tapi ada pula kisahnya yang mirip tragedi. Dia tewas dibunuh maling di rumahnya pada 5 November 1993. Jenazah Basoeki diterbangkan ke Yogyakarta dengan pesawat yang disediakan oleh Keluarga Cendana. Basoeki dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di Mlati, Sleman, Yogyakarta.

Sepanjang umurnya, Basoeki, yang seorang Katolik, menikah empat kali. Dua kali dengan perempuan Belanda, dua kali dengan perempuan warga Thailand. Meski tak tergolong mata keranjang, hidup Basoeki memang jarang jauh dari perempuan, entah mereka menjadi modelnya, sahabatnya, kekasihnya, atau istrinya. Itulah barangkali yang membuat Basoeki bisa bersahabat dengan Bung Karno.

Ada banyak sekali karya Basoeki dengan obyek perempuan, bahkan tak sedikit yang menggambarkan perempuan tanpa busana. Dia tentu saja tak berniat menjadikan lukisannya sebagai ‘pornografi’. Gambaran perempuan telanjang, kata Basoeki, memberikan suntikan energi inspirasi bagi laki-laki. “Tentu orang boleh percaya atau tak percaya dengan mitos itu,” ujar Basoeki. Sebagian lukisan perempuan telanjang karya Basoeki dikoleksi oleh Bung Karno dan kini menjadi bagian dari koleksi lukisan Istana Kepresidenan.

Meski lumayan sering berhadapan dengan model perempuan telanjang, Basoeki benar-benar menjaga ‘jarak’ dengan model yang dilukisnya. Tak pernah ada cerita model perempuan yang diperlakukannya dengan kurang sopan. Basoeki, kata Bernadetta, kini 86 tahun, mantan sekretarisnya, memang usil, tapi tidak kurang ajar. “Saya pernah ditanya, 'Det, kamu mau nggak saya lukis telanjang?' Saya jawab, ’Emoh’, ogah,” Bernadetta menuturkan kepada detikX.

Bernadetta, sekretaris Basoeki Abdullah
Foto: Melisa Mailoa/detikX

Gaya lukisan dan sikap berkesenian Basoeki yang sering dianggap melulu menampilkan keindahan itu banyak dikritik sesama seniman. Salah satu ‘musuh’ Basoeki yang paling getol mengkritik adalah sesama maestro S Sudjojono. “Dia membuat lukisan bertitel Indonesie. Saya tengok lukisan apa itu. Ternyata gambar jembatan biasa dengan gunung biru di belakang. Dia tidak mengerti sama sekali rupa hidup masyarakat kita. Dia tidak mengerti pada kata ‘Indonesie’ itu terletak arti bersatu, bangun, bekerja, jatuh, berkorban…. Di sinilah kita tahu, betapa dangkalnya Basoeki Abdullah itu,” Sudjojono menulis kritik terhadap Basoeki puluhan tahun silam.

Tapi Basoeki tetap teguh dan tak tergoyahkan pada pilihannya, sebagai pelukis potret, pelukis naturalis. Dari awal sampai akhir hayatnya, Basoeki tetap konsisten pada sikapnya. “Lukisan saya boleh dikecam, tapi pandangan yang melecehkan naturalisme adalah keliru besar. Naturalisme justru ibu dari realisme…. Naturalisme adalah lukisan menjanjikan kebebasan penciptaan, sekaligus keabadian kesenian,” kata Basoeki.


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE