INTERMESO

Perempuan di Antara Bung Karno dan Basoeki

Basoeki Abdullah lama bersahabat dengan Bung Karno. Dia menyesal tak bisa menjenguk Bung Karno sebelum meninggal.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 18 November 2017

Suatu hari pada 1955, pelukis Basoeki Abdullah berkunjung ke Jepang. Ada satu pekerjaan yang harus dia garap. Di pinggir Kota Tokyo, dia berkenalan dengan seorang gadis Jepang. Namanya Seiseto Arima. Gadis itu mengagumi sketsa-sketsa karya seniman kelahiran Solo, Jawa Tengah, itu.

Kala itu, Basoeki sebenarnya bukan lagi pemuda lajang. Bahkan dia sudah dua kali menikah. Keduanya dengan perempuan Belanda. Pernikahan Basuki dengan Josephine kandas setelah mereka punya satu anak, Saraswati. Pernikahan keduanya dengan Maria Michel, meski belum membuahkan anak, sudah bertahan sepuluh tahun.

Maya—panggilan Basoeki untuk Maria—curiga, ada apa-apa antara suaminya dan Seiseto. Meski bukan laki-laki yang suka bertingkah kurang ajar, Basoeki memang suka pada perempuan cantik. Hubungan mereka yang memang mulai renggang tak bisa dipertahankan lagi. Maya minta pisah dan pulang kembali ke Belanda.

Basoeki, meski Maya sudah memperingatkannya agar tak melanjutkan hubungan dengan Seiseto, malah makin asyik-masyuk dengan gadis Jepang itu. Bahkan dia berniat memperistri Seiseto. Sebelum resmi melamar gadis itu, Basoeki pulang dulu ke Jakarta untuk ‘berkonsultasi’ dengan sahabat lamanya: Presiden Sukarno.

Taufiq Kiemas, Megawati Soekarnoputri, dan anak-anaknya dengan lukisan Bung Karno karya Basoeki Abdullah.
Foto: dok. pribadi

Hubungan Bapak dengan Presiden Sukarno memang sangat dekat, seperti konco banget."

Cecilia Sidhawati, putri Basoeki Abdullah

Dia datang ke Istana Bogor dengan membawa foto Seiseto. “Ya, kawinilah sana. Itu urusanmu,” kata Presiden Sukarno kepada Basoeki, dikutip Agus Dermawan dalam bukunya, Basoeki Abdullah: Sang Hanoman Keloyongan, sembari terbahak. “Kalau jadi, Bapak bersedia jadi wali?” Basoeki kembali bertanya. “Mau,” jawab Bung Karno tanpa banyak pertimbangan lagi. Pernikahan itu batal sebelum pelaminan disiapkan. Orang tua Seiseto merasa keberatan putrinya menikah dengan orang Indonesia. Basoeki, yang sudah berkabar kepada sanak-saudara, patah hati. Dia memilih ‘bersembunyi’ di Singapura.

Basoeki memang sudah kenal lumayan lama dengan Bung Karno. Dia pertama kali bertemu dengan Sukarno pada awal 1930-an saat masih tinggal di rumah Sosrokartono di Bandung. Sosrokartono bukan ‘orang biasa’. Tak hanya merupakan kakak kandung RA Kartini, Sosrokartono juga menguasai puluhan bahasa asing, pernah jadi wartawan untuk koran Amerika, The New York Herald Tribune, juga pengamal aliran kebatinan.

"Walaupun berpendidikan Barat, beliau orang yang ‘sangat Jawa’. Beliaulah yang mengajarkan kepada saya dan banyak orang tentang falsafah sugih tanpo bondho, digdoyo tanpo aji,” Basoeki menuturkan. Banyak tokoh pergerakan perjuangan kemerdekaan saat itu yang sering bertandang ke rumah Sosrokartono, salah satunya Sukarno. Tak lama setelah mereka berkenalan, Bung Karno dibuang oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda ke Ende, Flores.

Basoeki kembali bergaul rapat dengan Bung Karno pada masa penjajahan Jepang. Bersama beberapa seniman lain, seperti S Sudjojono, Basoeki bergabung dengan Pusat Tenaga Rakyat yang dipimpin oleh Sukarno bersama tiga tokoh lain, yakni Mohammad Hatta, KH Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantara. Saat penjajah Jepang mendirikan Keimin Bunka Shidosho atau Pusat Kebudayaan, Sukarno mengajukan protes keras lantaran tak ada seniman Indonesia yang jadi pengurus. Maka masuklah Basoeki, Sudjojono, Agus Djaja, Henk Ngantung, dan sebagainya.

Saat kelahiran putri Basoeki Abdullah, Cecilia Sidhawati
Foto: repro koleksi Museum Basoeki Abdullah

Ketika Letnan Jenderal Hitoshi Imamura, komandan tertinggi tentara Jepang di Indonesia, minta dilukis, Basoeki agak gemetaran. Bagaimana dia tak ketakutan, tentara penjajah Jepang dikenal sadis. Sukarno-lah yang menenangkan Basoeki. “Ciptaanmu bukan tentang politik dan tentara, tapi soal manusia. Tentang Imamura.” Bung Karno dan Hatta sendiri yang mengantar Basoeki melukis Jenderal Imamura.

Basoeki dan Bung Karno memang punya banyak kemiripan. Basoeki seorang seniman, sementara Sukarno sangat suka pada barang-barang seni. Saat Sukarno dipaksa turun dari kekuasaan, ada ribuan lukisan dan barang seni lain di daftar koleksinya. Basoeki empat kali menikah, dua kali dengan perempuan Belanda, dua kali dengan perempuan Thailand. Sedangkan Sukarno, kita semua tahu, menikah lebih banyak lagi. Ya, keduanya memang suka pada perempuan cantik.

There is no other purgatory but a woman,” Bung Karno mengutip kata-kata Francis Beaumont, seniman panggung abad pertengahan dari Inggris. “Tidak ada api penyucian lain kecuali wanita.” Ada banyak sekali lukisan karya Basoeki yang dikoleksi Bung Karno, bahkan terbanyak di antara pelukis lain. Sebagian lukisan bertema panorama, tak sedikit pula lukisan potret Bung Karno dan istri-istrinya. Dan tentu saja lukisan-lukisan perempuan.

Ada beberapa lukisan yang dipesan Bung Karno kepada Basoeki soal legenda Jaka Tarub dan tujuh bidadari. Konon, setiap tanggal tertentu setiap tahun, ada tujuh bidadari turun ke bumi untuk mandi di telaga. Jaka Tarub, yang masih bujangan, berniat mencuri selendang salah satu bidadari supaya dia tak bisa kembali ke kayangan.

image for mobile / touch device
image 1 for background / image background





Pameran Basoeki Abdullah di Hotel Hilton 1984
Foto: repro koleksi Museum Basoeki Abdullah

Entah usil atau ada tujuan lain, Basoeki sengaja hanya melukis enam bidadari di beberapa lukisan Jaka Tarub. Merasa heran, Bung Karno bertanya kepada Basoeki mengapa hanya ada enam bidadari di beberapa lukisan yang dia pesan. “Nawangwulan, salah satu bidadari, sudah ada di rumah saya. Bapak silakan ambil bidadari yang lain saja,” Basoeki menjawab dengan santai. Permintaan Bung Karno agar melengkapi jumlah bidadari tak ditanggapi oleh Basoeki.

“Hubungan Bapak dengan Presiden Sukarno memang sangat dekat, seperti konco banget. (Presiden Sukarno) lagi rapat saja bisa berhenti kalau bapak saya datang,” kata Cecilia Sidhawati, putri bungsu Basoeki, kepada detikX beberapa hari lalu. Itu sebabnya, Basoeki sangat sedih ketika mendengar kabar bagaimana Bung Karno diperlakukan oleh pemerintah Orde Baru. Sahabatnya itu diasingkan dari teman-temannya di Wisma Yaso—kini Museum Satria Mandala—setelah dipaksa turun dari kursinya.

Basoeki memutar otak, bagaimana caranya bisa menjenguk Bung Karno. Tak ada jalan lain kecuali melalui penguasa tertinggi saat itu, Presiden Soeharto. Baru beberapa bulan sebelumnya dia diminta melukis Presiden Soeharto. Basoeki pun mengirimkan permohonan untuk melukis kembali Presiden Soeharto. Kali ini dia juga menyampaikan keinginan mengabadikan Ibu Negara Tien Soeharto. Permohonan Basoeki dikabulkan Cendana.

Foto: repro koleksi Museum Basoeki Abdullah

Sepanjang Februari 1968, Basoeki menuntaskan lukisan Presiden Soeharto dan Tien Soeharto. Setelah pekerjaan kelar, Basoeki menyampaikan permohonan izin untuk mengunjungi Bung Karno. Tapi izin untuk yang satu ini tak diberikan. Hingga Bung Karno berpulang pada 21 Juni 1970, Basoeki tak pernah mendapatkan kesempatan bertemu lagi dengan sahabatnya itu.

“Ketika Bung Karno mangkat, saya terus berusaha menghubungi Ratna Sari Dewi. Tapi tak pernah berhasil,” kata Basoeki. Selain bersahabat dengan Bung Karno, Basoeki memang kenal baik dengan istri-istrinya, termasuk Ratna Sari Dewi. Beberapa kali dia melukis Ratna Sari Dewi di Wisma Yaso.


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE