INTERMESO

Mereka Yahudi yang ‘Membangkang’

“Kami menolak berperang di seberang perbatasan tahun 1967 yang hanya bertujuan menguasai, mengusir, dan melecehkan semua orang.”

Tentara Israel menghadang warga Palestina yang berniat beribadah di Masjid Al-Aqsa.

Foto: dok. Getty Images

Jumat, 8 Desember 2017

Para pengurus Jewish Reconstructionist Congregation di Kota Evanston, negara bagian Illinois, Amerika Serikat, tak terlampau terkejut saat mereka menerima surat dari Rabi Brant Rosen pada awal September 2014. Lewat suratnya tersebut, Rabi Rosen menyampaikan pengunduran diri dari organisasi Yahudi yang dia pimpin itu.

Padahal, sudah 17 tahun Rabi Rosen bergabung dengan Jewish Reconstructionist Congregation. Tapi selama beberapa tahun terakhir, Rabi Rosen, kini 54 tahun, memang sering kali berbeda sikap dengan kelompoknya. Dan dari hari ke hari, mereka makin jauh bersimpang jalan. Sebagai komunitas Yahudi, Jewish Reconstructionist Congregation tentu saja condong menyokong setiap kebijakan pemerintah Israel, apa pun partai yang sedang berkuasa. 

Sementara itu, Rabi Rosen tak pernah menyembunyikan simpatinya kepada Palestina, negara yang selama puluhan tahun dijajah Israel. Berkali-kali dia ikut turun ke jalan menyuarakan protes atas perlakuan semena-mena Israel terhadap rakyat Palestina. “Aku sangat terbuka dengan kemarahanku terhadap apa yang terjadi di Palestina. Makin lama, aku condong menjadi aktivis gerakan solidaritas terhadap Palestina ketimbang seorang rabi Zionis liberal,” kata Rabi Rosen kepada Haaretz beberapa waktu lalu.

Simpatinya kepada Palestina, Rabi Rosen menuturkan, tumbuh makin besar setelah peristiwa pembantaian pengungsi Palestina di Kamp Sabra dan Shatila, Lebanon, pada 16 September 1982. Hari itu ada ribuan pengungsi Palestina mati dibantai milisi Phalange. Meski kamp itu ada di bawah pengawasan tentara Israel, penguasa di Tel Aviv lepas tangan.

Sebagai seorang Yahudi, kami diperintahkan membenci penindasan, memperlakukan semua orang dengan hormat, dan mencintai tetangga kami.”

Brian Carson, jemaah Tzedek Chicago

Rabi Brant Rosen
Foto: Rabi Brant Rosen via Times of Israel

“Itulah pertama kalinya bayanganku soal negara ideal Israel mulai retak,” kata Rabi Rosen, dikutip In These Times. Serbuan besar-besaran pasukan Israel terhadap wilayah Gaza, Palestina, di bawah payung Operasi Cast Lead pada minggu terakhir 2008 hingga pekan kedua Januari 2009 membuat Rabi Rosen ‘makin jauh’ dari Israel. Selama tiga pekan, Gaza luluh lantak dibombardir mesin-mesin perang Israel. Lebih dari 1.400 orang, sebagian besar warga sipil, tewas.

Pada 2010, dia mendirikan Jewish Voice for Peace, yang bersuara kritis terhadap kebijakan pemerintah Israel di Palestina. Suara dan aktivitasnya membela Palestina rupanya membuat pengurus Jewish Reconstructionist Congregation gerah juga. Apalagi ada jemaah yang mengirim surat kepada pengurus organisasi, menyampaikan kritik terhadap sikap Rabi Rosen yang ‘nyeleneh’.

“Aku paham, banyak orang tak senang terhadap sikapku,” kata Rabi Rosen kepada Al-Jazeera. Dia memilih mundur. Setelah berpisah dari Jewish Reconstructionist Congregation tiga tahun lalu, Rabi Rosen mendirikan kongregasi non-Zionis, Tzedek Chicago.

Kongregasi itu, kata Rabi Rosen, tetap merupakan bagian dari komunitas Yahudi. Tapi mereka tak menutup mata bahwa pendirian negara Israel di atas wilayah Palestina menimbulkan kesengsaraan tak terkira bagi warga Palestina sampai hari ini. “Kami berpijak pada ajaran Yudaisme, yang berpihak pada semua orang yang tertindas di seluruh dunia, termasuk warga Palestina.”

Sikap Rabi Rosen ternyata menarik simpati sebagian komunitas Yahudi di Chicago, terutama di antara kalangan muda Yahudi. Tak sedikit, paling tidak sudah ada ratusan penganut Yahudi, bergabung dengan Tzedek Chicago. Pasangan Carson, Brian dan Wendy, di antaranya. “Sebagai seorang Yahudi, kami diperintahkan membenci penindasan, memperlakukan semua orang dengan hormat, dan mencintai tetangga kami,” kata Brian, dikutip Times of Israel, beberapa bulan lalu.

* * *

Protes keturunan Yahudi menentang pendudukan Palestina.
Foto: Times of Israel

Meski suara mereka dianggap angin lalu oleh para penguasa di Yerusalem maupun Tel Aviv, sebenarnya ada lumayan banyak keturunan Yahudi yang bersimpati kepada Palestina dan tak suka terhadap kebijakan pemerintah Israel.

Pada akhir Mei 2017, misalnya, ribuan warga Israel, keturunan Yahudi maupun keturunan Arab, turun ke jalan Kota Tel Aviv, menentang pendudukan Israel atas wilayah Palestina. “Sudah waktunya Israel, Palestina, dan seluruh dunia tahu, ada sebagian warga Israel yang menentang pendudukan dan mendukung solusi dua negara,” kata Avi Buskila dari Israeli NGO Peace Now, dikutip France24.

Bahkan, tiga tahun lalu, ada sekelompok tentara Israel yang terang-terangan menolak penugasan di wilayah pendudukan Palestina. Para prajurit itu berasal dari Unit 8200 alias Yehida Shmoneh-Matayim, unit intelijen dalam militer Israel (IDF). Ribuan anggota staf unit elite intelijen Yehida Shmoneh, menurut Nir Lempert, mantan Wakil Direktur Unit 8200, direkrut dari lulusan-lulusan perguruan tinggi Israel paling cemerlang.

Selama enam bulan, menurut Kapten H—namanya dirahasiakan—dari menjelang matahari terbit hingga malam, mereka terus dilatih pemrograman, kerja sama tim, manajemen proyek, dan cara memecahkan masalah dengan kreatif. Hampir menyerupai materi di sekolah bisnis. Tak aneh jika alumni Unit 8200 menjadi incaran perusahaan-perusahaan teknologi Israel. Bagi sebagian pemuda Israel, Unit 8200 merupakan ‘perusahaan idaman’ dan menjadi jalan tol menuju masa depan.

“Aku masih ingat betul bagaimana rasanya saat aku direkrut Unit 8200. Aku merasa sangat beruntung memiliki pekerjaan yang benar-benar bersih dari masalah moral karena pekerjaan kami membuat pekerjaan orang lain lebih cerdas,” kata A, 32 tahun, kepada Guardian, kala itu.

Semula, bagi A, juga Nadav, 26 tahun, sersan di Unit 8200, dan D, 29 tahun, yang berpangkat kapten, Yehida Shmoneh merupakan organisasi dengan misi ‘mulia’. “Aku sangat bangga kala itu. Aku pikir unit ini merupakan unit yang sangat penting,” kata Sersan Nadav. 

“Tugas kami mestinya meminimalkan jumlah korban dalam perang melawan terorisme.... Dan saat tentara Israel menyerang balik, kamilah yang harus memastikan bahwa hanya orang-orang jahat yang terbunuh,” kata A, lulusan jurusan matematika dari Universitas Hebrew, Israel. Setelah menjalani latihan militer selama satu setengah tahun, A direkrut oleh Unit 8200.

Rabi Brant Rosen
Foto: Rabi Brant Rosen via Times of Israel

Selama lima tahun menjadi ‘telinga’ bagi militer Israel, pendapat A dan sebagian kawan-kawannya mengenai ‘misi mulia’ Unit 8200 mulai luntur. Sersan Nadav, Kapten D, A, dan 40 anggota staf cadangan maupun personel aktif Unit 8200 merasa operasi intelijen Yehida Shmoneh-Matayim di Palestina sudah kelewatan.

Bukan cuma menguping dan memata-matai orang-orang yang dianggap membahayakan keamanan negara Yahudi itu, tapi Unit 8200 juga menyadap warga sipil Palestina yang tak ada urusan dengan masalah keamanan maupun politik. Mulai urusan perselingkuhan hingga orientasi seksual. 

“Mereka tak punya hak menolak,” kata Sersan Nadav. Intelijen Israel bebas melakukan apa pun dengan informasi yang mereka kumpulkan soal warga Palestina. Jika dibutuhkan, bermodal hasil penyadapan, intel Israel bisa ‘memeras’ warga Palestina supaya bersedia menjadi informan. “Apa pun informasi pribadi yang bisa dipakai memeras, maka akan dianggap sebagai informasi yang relevan.” 

Menurut Nadav, intelijen Israel juga semakin menganggap enteng korban sipil. Belasan tahun lalu, saat pesawat tempur Israel menjatuhkan bom di atas rumah tokoh Hamas, Salah Shehade, dan menewaskan 14 anggota keluarganya, media di Israel ribut mempermasalahkannya. 

“Tapi lihat sekarang, ketika gedung demi gedung berpenghuni dihancurkan dan ratusan warga sipil tewas, tak ada satu pun orang yang mengernyitkan jidat, tak seperti sepuluh tahun lalu,” kata Sersan Nadav. Intelijen Israel tak merasa perlu lagi memastikan bangunan yang hendak dia tembak berpenghuni atau tidak. Korban sipil itu seolah-olah hanya angka-angka belaka.

Kecewa berat terhadap apa yang dilakukan Unit 8200, Sersan Nadav, Kapten N, Sersan Ella, Letnan Assaf, Letnan Gilad, Sersan Maya, dan teman-temannya—total ada 43 orang—nekat mengirimkan surat kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Panglima IDF Benny Gantz, Direktur Intelijen Militer Mayor Jenderal Aviv Kochavi, dan Komandan Unit 8200.

Rabi Brant Rosen.
Foto: dok. JS Online

Lewat surat itu, mereka menyatakan menolak terlibat dalam operasi terhadap warga Palestina dan menolak membantu operasi militer di wilayah pendudukan, wilayah Palestina yang diduduki Israel sejak Perang Enam Hari pada 1967. Menurut mereka, perluasan permukiman Israel di wilayah pendudukan tak ada urusannya dengan masalah keamanan Israel. “Kami tak bisa lagi melanjutkan tugas ini tanpa kesadaran, dengan mengabaikan hak jutaan orang,” mereka menulis dalam suratnya. Surat itu juga mereka kirimkan ke surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, dan koran Inggris, Guardian.

Surat pembangkangan terbuka para veteran dan staf Unit 8200 membuat berang Perdana Menteri Netanyahu dan petinggi militer Negeri Bintang Daud. Apa yang ditulis para refusenik—sebutan bagi para pembangkang—menurut Netanyahu, merupakan fitnah tanpa dasar.

Brigadir Jenderal Motti Almoz, juru bicara IDF, memastikan mereka akan dijatuhi hukuman. “Tak ada tempat bagi penolakan tugas di IDF,” kata Almoz. Menurut Menteri Pertahanan Moshe Ya'alon, mereka yang menandatangani surat itu bakal diperlakukan seperti kriminal.

“Ini harga yang kami siap bayar.... Kalian tak bisa lari dari tanggung jawab,” kata Sersan Nadav. Seorang prajurit perempuan Unit 8200 yang turut membubuhkan tanda tangan sedikit khawatir dengan konsekuensi yang bakal mereka tanggung. “Aku harus siap menghadapi orang-orang yang mengharapkanku mati, yang menyumpahiku sebagai pengkhianat.”

Pembangkangan bukan hal yang benar-benar baru di militer Israel. Pada 2002, Kapten David Zonzhein, Letnan Yaniv Itzkovits, dan puluhan prajurit IDF membuat surat terbuka—belakangan disebut The Combatant's Letter. Lewat surat itu, mereka menolak dikirim ke wilayah pendudukan, di seberang Garis Hijau. Menurut mereka, operasi militer di wilayah pendudukan tak bertujuan menjaga keamanan Israel, melainkan hanya demi melanggengkan kekuasaan atas wilayah Palestina.

“Kami menolak berperang di seberang perbatasan tahun 1967 yang hanya bertujuan menguasai, mengusir, dan melecehkan semua orang,” mereka menulis dalam suratnya. Hingga hari ini, sudah hampir 700 prajurit Israel yang bergabung dalam gerakan Ometz LeSarev alias Courage to Refuse.


Redaktur/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE