INTERMESO

Utang Budi Yahudi kepada Filipina

Ada kabar Filipina akan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Sudah lama Manila punya hubungan dekat dengan Tel Aviv.

Presiden Manuel Quezon membuka rumahnya Marikina Hall untuk pengungsi Yahudi.

Ilustrasi: GMA Network

Jumat, 8 Desember 2017

Saat itu usia Lotte Hershfield baru 7 tahun. Meski masih bocah, anak perempuan itu sudah bisa mencium tanda-tanda bahaya di sekitar rumahnya di Breslau, Jerman. Ada banyak bangku di tempat makan dan taman terpasang tulisan ‘Anjing dan Yahudi dilarang duduk’.

Beberapa kali pemuda Nazi dan tentara Jerman datang mengobrak-abrik rumah dan membakar buku-buku milik orang tuanya. “Kami sangat paham apa yang terjadi,” kata Lotte, kini 86 tahun, dikutip CNN, beberapa waktu lalu. Sebagai keluarga Yahudi, orang tua Lotte tahu, mereka tak bisa lagi bertahan hidup di Jerman.

Pada 1938, setahun sebelum perang besar berkobar di Eropa, Lotte dan keluarganya lari dari Jerman. Bersama sekitar 1.300 keturunan Yahudi dari Jerman dan Austria, mereka pergi ke negeri yang tak pernah mereka kenal sebelumnya: Filipina. Di Filipina, negara tropis yang panas dan lembap, orang-orang Yahudi yang terusir dari Eropa itu menemukan rumah baru.

“Kami mengalami kejutan budaya…. Kami tak tahu bahasanya dan sebelumnya tak pernah bertemu dengan orang selain orang kulit putih,” kata Lotte. Keluarga Lotte, yang sebelumnya lumayan makmur, datang ke Filipina tak punya pekerjaan dan tak paham satu patah kata pun dalam bahasa Tagalog. Tapi, paling tidak, di Filipina mereka bebas dari kejaran pemuda Nazi. 

Gunther Leopod, salah satu keturunan Yahudi yang ikut lari ke Filipina, masih ingat saat-saat terakhir keluarganya meninggalkan Kota Berlin. Sekelompok pemuda Nazi menggerebek dan memorakporandakan rumahnya. Keluarganya beruntung masih bisa meninggalkan Berlin dengan selamat. “Kami naik kereta terakhir dari Berlin sebelum pemerintah Jerman menutup perbatasan,” Gunther menuturkan kepada Philippine Daily Inquirer beberapa tahun lalu.

Aku punya teman yang bekerja di Kanada dan Inggris, semua ingin pindah ke sini.”

Darcy Magallo, pekerja asal Filipina di Israel

Frieder bersaudara di antara pengungsi Yahudi di Filipina pada 1940.
Foto: JWeekly

Pada 30 Januari 1933, Presiden Jerman Paul von Hindenburg, yang sudah sepuh dan sakit-sakitan, menunjuk Adolf Hitler menjadi Kanselir Jerman. Keputusan yang akan mengubah masa depan Jerman untuk selamanya. Tanpa buang waktu, dengan segala cara Hitler terus memperkuat posisinya. Semua lawan, kelompok oposisi maupun media massa, dibungkam. Malapetaka pun menimpa keturunan Yahudi.

Hanya dua bulan setelah naik kekuasaan, Hitler dan anak buahnya mulai berkampanye menyingkirkan komunitas Yahudi, orang-orang yang dianggapnya musuh keturunan ras Arya. Saat itu ada sekitar 500 ribu keturunan Yahudi yang tinggal di Jerman. Pembersihan itu dimulai di kantor-kantor pemerintah. Semua pegawai keturunan Yahudi disingkirkan. 

Pemuda-pemuda Nazi terus mengintimidasi komunitas Yahudi dan memaksa orang menjauhi mereka. Di Kota Annaberg, misalnya, kelompok paramiliter Nazi (SS) mencegat orang-orang yang baru keluar dari toko-toko milik keturunan Yahudi dan memberikan stempel di dahi mereka: ‘pengkhianat yang membeli dari orang Yahudi’. 

Perlakuan itu makin buruk dari tahun ke tahun, hanya menyisakan satu pilihan bagi keturunan Yahudi di Jerman: pergi atau mati. Masalahnya bagi mereka, harus lari ke mana? Saat itu tak banyak negara yang bersedia menampung pelarian Yahudi. Konferensi membahas nasib keturunan Yahudi-Jerman di Kota Evians les Bains, Prancis, yang dihadiri perwakilan 33 negara pada Juli 1938, gagal menelurkan komitmen untuk menambah kuota bagi pengungsi Yahudi.

* * *

Hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan rencana memindahkan kantor kedutaan dari Tel Aviv ke kota itu, stasiun televisi Israel, Channel 1, mengabarkan ada dua negara yang berniat mengikuti langkah Presiden Trump, yakni Republik Cek dan Filipina.

Presiden Jerman Paul von Hindenburg, menunjuk Adolf Hitler menjadi Kanselir Jerman, 30 Januari 1933.
Foto: Keystone/Getty Images

Di situsnya, Kementerian Luar Negeri Republik Cek menulis pernyataan, “The Czech Republic currently, before the peace between Israel and Palestine is signed, recognizes Jerusalem to be in fact the capital of Israel in the borders of the demarcation line from 1967.”

Meski mengakui Yerusalem Barat, wilayah yang diduduki Israel sejak 1948, sebagai ibu kota Israel, Republik Cek tak berniat memindahkan kantor kedutaannya ke Yerusalem sebelum tercapai kesepakatan dengan negara-negara mitranya. Meski sejumlah media di Israel sudah memberitakan soal niat pemerintah Filipina mengikuti langkah Presiden Trump, hingga detik ini belum ada pernyataan resmi dari Manila. 

Jauh sebelum pidato Presiden Trump dua hari lalu, Filipina memang sudah lama punya hubungan lumayan mesra dengan Israel. Sedikit-banyak, keturunan Yahudi punya ‘utang budi’ kepada Filipina. Hampir 80 tahun lalu, saat banyak negara enggan menerima pengungsi Yahudi yang lari dari penindasan tentara Nazi, di antara sedikit negara yang mau membuka pintu bagi pelarian Yahudi itu adalah Filipina.

Filipina tak ikut dalam Konferensi di Evians les Bains, tapi Presiden Filipina Manuel L Quezon membuka pintu negaranya lebar-lebar bagi pengungsi Yahudi. “Ayahku percaya bahwa hidup manusia itu satu hal yang suci dan mereka punya hak untuk hidup,” Zeneida Quezon, putri sulung Manuel, menuturkan.

Tak hanya menyatakan siap menampung 10 ribu pengungsi Yahudi, Presiden Quezon juga merelakan belasan hektare tanah miliknya di Marikina untuk kamp pengungsi Yahudi. Yang jadi soal adalah jarak puluhan ribu kilometer Filipina dengan Jerman. Jelas bukan urusan gampang mengangkut ribuan orang dari Jerman ke Filipina.

Pengungsi Yahudi di Shanghai, China, pada 1940.
Foto: Jewish Museum-Keluarga Arthur Rosenstein

‘Operasi’ untuk mendatangkan ribuan pengungsi Yahudi itu diputuskan di meja poker. Bertahun-tahun membangun usaha di Filipina, Frieder bersaudara punya banyak kenalan pejabat di Manila. Pengusaha keturunan Yahudi dari Cincinnati, Amerika Serikat, itu punya pabrik cerutu Helena Cigar Factory di Filipina. Di antara teman bermain poker mereka adalah Presiden Quezon, Kolonel Dwight Eisenhower, dan Paul McNutt, perwakilan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat di Filipina.

Satu kali, di sela-sela permainan poker, mereka membahas nasib keturunan Yahudi di Jerman. Paul meyakinkan Phillip Frieder bahwa dia siap membantu mengungsikan warga Yahudi di Jerman jika Phillip bisa menjamin ongkosnya. Phillip dan saudaranya, Alex, menyanggupi menyediakan semua ongkosnya. Presiden Quezon pun siap mengulurkan tangan. 

Pada akhir Oktober 1938, ratusan keturunan Yahudi asal Jerman sudah mengantongi visa dan siap berangkat ke Filipina. Dalam bukunya, Escape to Manila, Frank Ephraim, saat itu baru 8 tahun, menuturkan perjalanan panjang keluarganya dari Berlin hingga tiba di Manila. Setelah berganti kereta beberapa kali, keluarga Frank tiba di Genoa, Italia. Di pelabuhan sudah bersandar kapal Victoria, yang akan mengangkut mereka menempuh jarak ribuan kilometer dari Jerman.

Dari Genoa, mereka sempat singgah di Port Said, Aden, Bombay, Kolombo, dan Singapura. “Aku tak pernah mendengar semua nama tempat itu sebelumnya,” Frank menulis. Di kapal, dia menjumpai sebagian besar penumpang ternyata sesama pengungsi Yahudi. Ada yang dari Jerman, ada pula dari Austria. “Aku bisa merasakan kegelisahan mereka.” Keluarga Frank dan ratusan Yahudi itu tiba di Manila pada 16 Maret 1939.

Niat Presiden Quezon mendatangkan 10 ribu pengungsi Yahudi tak terwujud lantaran pecah Perang Dunia II. Baru sekitar 1.300 pengungsi Yahudi yang bisa didatangkan ke Filipina. Tentara Jepang datang pada Desember 1941 dan berkuasa di Filipina.

Frieder bersaudara
Foto: JWeekly

Namun hubungan baik komunitas Yahudi dengan Manila terus berlanjut. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa mengajukan proposal pembagian wilayah Palestina untuk negara baru Israel dan Palestina (Resolusi 181) pada November 1947, Filipina merupakan satu-satunya negara Asia yang menyetujui. Sepuluh tahun kemudian, kedua negara sepakat membuka hubungan diplomatik.

Sekarang, di antara 300 ribuan pekerja asing di Israel, pekerja dari Filipina menempati urutan pertama. Kedutaan Besar Filipina di Tel Aviv menaksir, ada sekitar 30 ribu pekerja Filipina di Israel. Sebagian besar bekerja di Tel Aviv, Yerusalem, dan Haifa. 

Darcy Magallo sudah 20 tahun bekerja di Israel dan tak ada niat pindah kerja ke negara lain. “Aku punya teman yang bekerja di Kanada dan Inggris, semua ingin pindah ke sini,” kata Darcy, dikutip New York Times, beberapa bulan lalu. Bukan soal gaji yang jadi pertimbangan nomor satu. “Di sini lebih bebas…. Kalau ada teman hendak bertamu, kamu tinggal bilang ke majikan, dia akan bilang, ‘Pergilah, temui mereka.’”


Redaktur/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE