INTERMESO

Ada Escobar di Antara
Seal dan CIA

“Orang itu harus membayarnya… Dia tak akan aku biarkan hidup.”

Barry Seal
Foto: Nola

Minggu, 7 Januari 2018

Target nomor satu yang mesti dikejar sejak hari pertama Del Hahn ditugaskan di kantor Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) di Baton Rouge, negara bagian Lousiana, adalah Adler Berriman ‘Barry’ Seal. Barry pernah menjadi pilot pesawat Boeing 707 termuda di maskapai Trans World Airlines (TWA). Tapi dia lebih memilih menjadi pilot yang mendatangkan duit berlipat-lipat: pilot penyelundup kokain untuk Pablo Escobar, bos besar Kartel Medellin.

Baru beberapa bulan lalu, film American Made tayang di layar bioskop. Film yang disutradarai oleh Doug Liman tersebut mengangkat kisah hidup Barry Seal yang diperankan oleh Tom Cruise. Menurut versi American Made, ada keterlibatan Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA) dalam operasi Barry Seal. “Kami ingin kamu menerbangkan sesuatu untuk kami,” Monty Schafer, agen CIA dalam film itu, berkata kepada Barry Seal.

Dengan armada pesawatnya, Seal menerbangkan senjata-senjata selundupan yang dikirim CIA untuk sejumlah kelompok pemberontak Nikaragua. Sebagai ‘imbalan'-nya, CIA tutup mata terhadap berton-ton kokain yang diselundupkan Barry Seal ke Amerika. Untuk basis operasi penyelundupan senjata, kokain dan pelatihan pemberontak Nikaragua, Seal dan CIA menggunakan lapangan udara di Mena, kota kecil di pelosok negara bagian Arkansas.

Pada 1979, kelompok kiri Front Pembebasan Nasional Sandinista berhasil menumbangkan rezim Anastasio Somoza DeBayle di Nikaragua. Berkuasanya kelompok kiri di Nikaragua, di tengah berkecamuknya Perang Dingin antara Amerika bersama sekutu-sekutunya dan Uni Soviet, membuat penguasa di Washington senewen. Dengan sokongan dana maupun militer dari CIA dan Dinas Intelijen Argentina, kelompok-kelompok anti-Sandinista angkat senjata untuk merebut kekuasaan dari kelompok kiri itu.

Tom Cruise memerankan Barry Seal dalam film American Made.
Foto: dok. LA News Daily

Alih-alih berbicara langsung, mereka memakai raksasa-raksasa media.”

Gary Webb, wartawan investigasi San Jose Mercury News

Operasi bawah tanah melawan Sandinista ini tentu saja butuh duit tak sedikit. Yang bikin penguasa di Gedung Putih pening, belakangan, pada Desember 1982, Kongres Amerika mencabut dukungan untuk operasi menumbangkan kelompok Sandinista. Walhasil, tak ada lagi duit negara yang boleh dipakai membeli senjata bagi gerilyawan anti-Sandinista.

Film American Made bukan satu-satunya yang menuding keterlibatan CIA dalam penyelundupan kokain untuk mengongkosi operasi anti-Sandinista. Ada beberapa buku yang menunjuk keterlibatan intel-intel CIA dalam penyelundupan kokain, satu di antaranya American Desperado: My Life--From Mafia Soldier to Cocaine Cowboy to Secret Government Asset ditulis oleh Jon Robert dan Evan Wright, dan Compromised: Clinton, Bush and the CIA yang ditulis oleh Terry Reed dan John Cummings. Jon Robert kenal dekat dengan Seal dan pernah bersama-sama menyelundupkan senjata ke Nikaragua.

Menurut Reed, dikutip oleh Washington Post, Seal tak cuma mengangkut senjata CIA untuk gerilyawan anti-Sandinista, tapi juga membantu mencuci berjuta-juta dolar AS ‘uang kokain’ untuk CIA. Beberapa orang yang ditulis Reed membantah terlibat operasi gelap CIA untuk menyokong pemberontak anti-Sandinista dengan uang haram dari bisnis kokain.

“Aku tak pernah pergi ke Arkansas. Tak pernah bertemu Bill Clinton (saat itu Gubernur Arkansas). Juga tak pernah bertemu dan punya hubungan dengan William Casey, Direktur CIA,” kata Robert Johnson, pengacara yang ditulis Reed bekerja untuk operasi gelap CIA bersama Barry Seal.

Gary Webb, wartawan San Jose Mercury News
Foto: YouTube

Pada pertengahan Agustus 1996, harian San Jose Mercury News menurunkan beberapa seri tulisan hasil investigasi wartawan mereka, Gary Webb. Selama berbulan-bulan, Webb menelusuri asal muasal kokain yang beredar di Los Angeles. Penelusuran Webb menemukan jejak tak terduga, yakni keterlibatan CIA dalam penyelundupan kokain ke Amerika.

Duit hasil bisnis kokain itulah yang jadi sumber dana operasi gelap mempersenjatai gerilyawan-gerilyawan di Amerika Latin. Kisah Webb menginvestigasi jaringan kokain inilah yang diangkat Michael Cuesta dalam filmnya, Kill The Messenger, pada 2014. Jeremy Renner berperan sebagai Gary Webb. Sampai sekarang, hasil investigasi Webb masih jadi silang selisih.

Hingga kematiannya pada Desember 2004, Webb tetap yakin pada kesimpulan investigasinya soal keterlibatan CIA dalam peredaran kokain. Wartawan pemenang Pulitzer itu menuduh ada konspirasi besar untuk mendiskreditkan liputannya. “Alih-alih berbicara langsung, mereka memakai raksasa-raksasa media,” kata Webb dikutip Extra pada 1998. Investigasi soal keterlibatan CIA dalam bisnis kokain ini menamatkan karier jurnalistik Webb. Konon, Gary Webb mati bunuh diri.

Jika Webb mati bunuh diri, Barry Seal mati dibunuh mitranya yang merasa dikhianati yakni Pablo Escobar. Untuk menghindari hukuman, Seal bersedia menjadi informan Badan Anti Narkotika Amerika (DEA) untuk memata-matai jaringan Escobar. Kesepakatan dengan DEA itu lah yang menamatkan hidupnya.

Pablo Escobar
Foto: dok. NY Daily News

Pada suatu sore, 19 Februari 1996, Seal memarkir mobilnya, Cadillac putih, di halaman Salvation Army Community Treatment Center, Baton Rouge. Hanya beberapa detik setelah mematikan mesin, dua orang utusan Pablo Escobar, Bernardo Vasquez dan Miguel Velez, menghampiri mobilnya dan menghujaninya dengan tembakan.

“Orang itu harus membayarnya… Dia tak akan aku biarkan hidup,” kata Pablo Escobar, dikutip putranya, Juan Pablo Escobar, dalam bukunya, Pablo Escobar  My Father. Ayahnya mengirim pembunuh berpengalaman, Razor, untuk mengakhiri hidup Barry Seal. Selama berminggu-minggu Razor menelusuri jejak Seal hingga menemukannya di Baton Rouge. Razor-lah yang mengutus Bernardo dan Miguel.


Redaktur/Editor:: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE