INTERMESO

Emak-emak
Pemain Saham

“Saya sempat masuk UGD karena terlalu stres, jadi susah napas. Karena waktu itu serakah, mau cepat dapatnya.”

Ilustrasi: Luthfy Syahban

Sabtu, 13 Januari 2018

Siapa bilang emak-emak hanya pintar urusan dapur? Emak-emak ‘jaman now’ adalah para perempuan ‘super’. Mereka bisa jadi apa saja, tak kalah dengan para laki-laki. Bahkan sembari mengurus anak dan rumah, mereka pun bisa mencari uang.

Sebagai ibu rumah tangga, pagi hari merupakan saat tersibuk bagi Linda Lee. Ketika suara alarm menjerit di pagi hari, ia segera bergegas menunaikan tugasnya di dapur. Linda bisa saja berleha-leha di kasur karena ia memang mempekerjakan seorang asisten rumah tangga. Namun ia telah berkomitmen mempersiapkan sarapan dan bekal bagi suami dan kedua anaknya, Raffa Winters dan Benn Daniel. 

Setelah urusan mengisi perut selesai, Linda menghidupkan mobil. Ia lantas mengantar kedua buah hatinya ke sekolah di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Waktu menunggu anak pulang sekolah biasanya ia habiskan dengan bercengkerama, berbagi gosip, dengan sesama ibu rumah tangga lainnya.

Tapi lama-lama rutinitas seperti itu membuat dia bosan juga. Baru beberapa tahun belakangan Linda berhasil menyiasati waktu luang di sela-sela aktivitasnya mengantar-jemput anak. Linda membawa tas jinjing berisi laptop berwarna putih. Laptop itu bukan ia gunakan untuk menonton serial drama Korea terbaru. Tetapi mengamati pergerakan grafik di pasar modal atau bursa saham. 

Setelah mengenal saham pada 2009, urusan Linda tak hanya melulu soal dapur. “Pemain saham seperti saya nyawanya ada di internet. Makanya ke mana-mana saya selalu bawa Wi-Fi cadangan,” ujar Linda sambil memperlihatkan sebuah modem yang selalu dibawa ke mana pun ia pergi. Dengan bantuan ponsel dan laptop, jual-beli saham yang dilakoni Linda menjadi lebih gampang. Sebab, hal itu bisa dilakukan kapan pun dan di mana saja.

Dari hasil jual-beli saham, meski berkali-kali rugi, setelah makin berpengalaman, Linda meraup keuntungan lumayan juga. Padahal dulu, ketika seorang teman menawarinya bermain saham, Linda sempat menolaknya. Linda alergi terhadap saham karena ia pernah rugi besar di pasar valuta asing. Kerugian yang Linda alami menyentuh angka Rp 50 juta sehingga membuatnya trauma.

“Saya sempat masuk UGD karena terlalu stres, jadi susah napas. Karena waktu itu serakah, mau cepat dapatnya.”

Linda Lee, ibu dua anak pemain saham

Linda Lee
Foto: dok.pribadi via Instagram

Padahal, ketika itu, ia baru saja melahirkan putra keduanya, sementara Raffa Winters, sang putra sulung, baru berusia 2 tahun. Linda baru berani bermain saham setelah sang suami memberi izin. Jika tanpa dukungan suami, Linda mungkin tidak akan pernah menggeluti dunia saham.

Bursa saham sebenarnya dunia yang asing bagi Linda. Saat pertama kali bermain saham, Linda bingung bukan main. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya pada 1998 ini pusing melihat begitu banyak saham berjejer di aplikasi online trading. Jangankan menentukan saham mana yang harus dibeli, Linda bahkan tak paham cara melakukan transaksi jual-beli. Broker atau pialang saham yang mendampingi Linda juga tak banyak membantunya. Alhasil, ia harus mempelajari buku panduan menggunakan aplikasi. 

“Dulu bahkan habis buka rekening nggak ada bimbingan. Makanya saya lama banget, sampai 3 tahun baru paham cara kerja bursa saham. Melihat pergerakan grafiknya saja saya bingung. Ini apa kok isinya angka semua? Mau beli saham Bank BCA kodenya apa?” wanita kelahiran tahun 1976 ini menuturkan.

Beruntung, dewi fortuna sedang berbaik hati kepada Linda. Saat itu kondisi pasar saham cenderung naik, sehingga saham apa pun yang dibeli hampir pasti menguntungkan. Padahal Linda hanya mengandalkan insting dalam bertransaksi saham. Ia juga mengikuti rekomendasi saham dari para analis yang tersebar di Facebook. Dengan modal awal Rp 10 juta, Linda memulai debutnya. Linda berhasil meraih keuntungan 2-5 persen dari jumlah modal transaksi.

Kepincut dengan keuntungan yang ia dapatkan dalam waktu singkat, Linda pun semakin gencar bertransaksi. Linda sempat menjadi trader harian, di mana ia melakukan jual-beli saham pada hari yang sama. Terlalu sibuk memantau pergerakan harga saham membuat Linda kehilangan fokus aktivitas harian sebagai ibu rumah tangga. Sembari menyetir mobil, ia terus memantau pergerakan harga saham di laptop yang ditaruh di sebelah bangkunya. “Sebentar-sebentar saya parkir mobil untuk memantau harga,” kata Linda.

Bukannya untung, terlalu terburu nafsu mengejar hasil tanpa ada strategi dan bekal yang cukup membuat Linda malah buntung. Pada 2011, ketika awan gelap menyelimuti bursa, Indeks Harga Saham Gabungan terjun bebas dari 4.100-an menjadi 3.200, dan harga saham rontok, Linda sempat mengalami stres sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Linda Lee
Foto : dok.pribadi via Instagram

“Saya sempat masuk UGD karena terlalu stres, jadi susah napas. Karena waktu itu serakah, mau cepat dapatnya. Tapi dari situ saya belajar bahwa semua pasti akan melalui masa itu, apalagi trading,” ujar penulis buku Catatan Harian Emak-emak Trader ini. “Pilihannya cuma dua, kamu mau bangun dan belajar lagi atau berhenti. Saya waktu itu ya lanjut. Saat itu saya rugi sampai Rp 9 juta.”

Sejak saat itu Linda semakin rajin mengikuti berbagai kursus berbayar dan pelatihan analisis teknik. Meski biaya kursus tak murah, Linda tidak mempermasalahkannya karena menganggapnya sebagai investasi. Linda pun dapat memetik buah manis dari kesabarannya dalam jual-beli saham. Keuntungan dari saham dia gunakan untuk mengajak keluarganya jalan-jalan ke luar negeri. Sebagian juga ia sisihkan untuk investasi di sektor lain, seperti properti.

Tak ingin cuma untuk diri sendiri, Linda mulai membagikan ilmu dan pengalamannya kepada orang lain yang ingin terjun ke bursa saham. Memakai nama Fiboprincess—dari deret Fibonacci yang biasa digunakan untuk memprediksi pergerakan saham—Linda berbagi ilmu lewat media sosial dan situs miliknya. Linda juga kerap mengadakan kelas tatap muka bagi calon trader yang berada di daerah.

“Yang saya temui selama mengajar, terutama ibu-ibu, maunya serbacepat. Padahal intinya di sana harus mau belajar. Kakak saya sendiri malah awalnya nggak ngerti cara menghidupkan laptop. Sekarang malah sudah bisa dapat untung dari saham,” ujar Linda.

Salah satu murid Linda adalah Yayuk Miranda Kano, 33 tahun, seorang pegawai negeri. Perempuan ini belum lama dikaruniai seorang anak. Awalnya Yayuk menyisihkan tabungannya untuk diinvestasikan di reksa dana. Karena hasilnya tidak seberapa, Yayuk mulai melirik saham. Namun ia merasa kesulitan menemukan wadah yang tepat untuk belajar saham, terutama di tempatnya berdomisili di Makassar. 

“Bersama suami, saya menyusun rencana keuangan. Suami saya kan pekerja swasta, sementara kami punya rencana mau beli rumah. Kalau cuma mengandalkan gaji karyawan dan tabungan terus tergerus inflasi, mana bisa,” kata Yayuk. “Awalnya kami berinvestasi di reksa dana, tapi intinya reksa dana kan di saham. Kenapa nggak kami beli langsung dari ‘pabrik’-nya.” Maka jadilah mereka berinvestasi di bursa saham.

Ketika mulai bermain saham, modalnya tidak sampai Rp 5 juta. Setiap bulan ia menyisihkan uang dari gaji untuk ditabung dalam akun sahamnya sehingga portofolionya makin besar. Awalnya Yayuk berinvestasi untuk jangka panjang. Setelah memahami cara kerja pasar modal, ia memberanikan diri untuk jual-beli. Yayuk memanfaatkan fluktuasi harga jangka pendek untuk mendapatkan keuntungan.

Linda Lee
Foto: dok.pribadi via Instagram

“Kami terjun dengan modal kecil dan uang yang menganggur di tabungan. Kalau kemungkinan terburuk terjadi dan hangus, ya sudah. Intinya harus berani rugi. Pertama kali saya main aman. Tiap bulan sisihkan. Kalau dananya cukup, baru beli saham. Sedikit-banyak saya belajar dari pengalaman,” katanya.

Untuk meminimalkan kerugian, Yayuk menerapkan prinsip batas pemotongan kerugian atau cutloss apabila harga saham sudah turun 3-4 persen dari harga beli. Hasilnya, kerugian yang ditanggung Yayuk selama bermain saham jumlahnya tidak menyentuh dua digit angka. Namun, jika dihitung dari total keseluruhan transaksi, Yayuk masih tetap meraup keuntungan. Belum lama ini Yayuk dapat menggunakan 50 persen dari portofolio sahamnya untuk membeli rumah.

Berinvestasi di saham bagi Yayuk Juga sangat fleksibel dan tidak terlalu memakan waktu. Di sela-sela pekerjaannya di kantor, Yayuk tak perlu memantau pergerakan grafik setiap saat. Biasanya ia hanya mengecek portofolio sahamnya pada pagi dan sore hari. Namun, ketika pekerjaan menumpuk, Yayuk bahkan tidak memeriksanya hingga berhari-hari. 

“Asalkan paham dengan analisis teknikal, nggak ada masalah. Saya biasa menganalisis grafik saham pada malam hari saat anak sudah tidur. Jadi saya sudah bisa tentukan besok akan beli di angka berapa,” kata Yayuk. Dia punya berpesan kepada mereka yang hendak main saham. “Yang paling penting belajar ilmunya dulu. Investasi saham nggak seseram yang orang cerita asalkan kita mau belajar.”


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE