INTERMESO

Sambil Ongkang-ongkang Kaya Raya

“Yang terpikir oleh saya adalah bahwa saya akan menjadi investor saham sampai akhir hidup saya, karena menjadi investor saham itu begitu nikmat dan asyik.”

Ilustrasi: Luthfy Syahban

Sabtu, 13 Januari 2018

Dalam satu hari, Lo Kheng Hong punya banyak waktu luang. Jika diibaratkan tidur selama delapan jam, sisa waktunya akan dipakai untuk bersantai atau mengerjakan hal yang ia sukai. Lo Kheng Hong tidak punya jabatan, tak memiliki perusahaan, sehingga ia tidak perlu pusing dengan urusan karyawan, anak buah, dan pelanggan.

Ia selalu bangun pada pukul 6 pagi, lalu duduk di kursi taman rumahnya. Sambil memandangi tetangganya yang sedang bergegas pergi bekerja, ia menyesap secangkir kopi, sementara tangan kanannya sibuk membolak-balik halaman koran. Pria 58 tahun ini tampak seperti seorang penganggur. 

Orang yang tak mengenalnya akan bertanya-tanya bagaimana cara Lo Kheng Hong membiayai hidupnya. Setidaknya untuk membayar upah seorang sopir dan dua asisten rumah tangga yang bekerja padanya. Dengan percaya diri, Lo Kheng Hong mengatakan mempunyai filosofi menjadi kaya sambil tidur. 

Tentu ia tak asal sesumbar. Kekayaan Lo Kheng Hong terus bertambah saat dia mandi, ketika dia minum kopi atau jalan-jalan ke luar negeri, bahkan ketika dia sedang tidur sekalipun. Rahasianya, Lo Kheng Hong memutar duitnya di pasar saham. Ia mengoleksi saham yang mampu menghasilkan keuntungan berlipat-lipat dibanding bunga deposito bank. 

Berita pada akhir April 2017 bisa jadi gambaran berapa besar keuntungan yang diraup Lo Kheng Hong di bursa saham. Hanya dalam sepekan, harga saham PT Petrosea Tbk meroket 44,5 persen dari Rp 850 menjadi Rp 1.230. Di perusahaan tambang dan minyak bumi ini, Lo Kheng Hong memiliki 117,8 juta lembar saham. Walhasil, ketika harga saham Petrosea naik Rp 380, dia mengantongi keuntungan Rp 45 miliar. “Lumayan, bisa untuk beli 20 Mercy S Class,” dia bercanda, dikutip Kontan, saat itu.

Agak sulit menaksir berapa persisnya kekayaan Lo Kheng Hong. Tapi tak berlebihan jika diprediksi nilai kekayaan Lo Kheng Hong triliunan rupiah. Bahkan Lo Kheng Hong hanya menyisihkan 15 persen dana tunai di tabungannya. Padahal dia tak lahir di keluarga tajir, tak pernah pula duduk di pucuk manajemen perusahaan besar dengan gaji berlimpah-limpah.

Bursa Efek Indonesia memberikan imbal hasil yang terbesar di dunia dan saya beruntung berada di dalamnya.”

Lo Kheng Hong, investor saham

Lo Kheng Hong (kanan) bersama Andika Sutoro Putra
Foto: dok.pribadi Andika Sutoro via Instagram

Sukses Lo Kheng Hong di pasar modal tak lepas dari Warren Buffett, ‘guru besar’ di bursa saham. Bagi Lo Kheng Hong, salah satu orang terkaya di bumi itu adalah gurunya dalam berinvestasi saham. Semua buku resep investasi Buffet dia lahap sampai habis. Tahun lalu Lo Kheng Hong sempat hadir dalam rapat pemegang saham Berkshire Hathaway, perusahaan investasi milik Buffet.

Tak aneh jika orang-orang memberinya julukan Warren Buffet Indonesia. “Julukan itu tidak layak diberikan kepada saya, karena saya hanyalah investor saham kecil. Banyak orang yang lebih hebat dan lebih kaya dari saya,” Lo Kheng Hong merendah.

Kini setiap malam Lo Kheng Hong dapat tidur dengan nyenyak tanpa memikirkan cara mencari duit lagi. Padahal dulu keluarganya hidup sangat pas-pasan. Ia merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Ayahnya merantau dari Pontianak ke Jakarta. Di Ibu Kota, Lo Kheng Hong dan keluarganya tinggal di rumah selebar 4 meter yang atap dan temboknya terbuat dari papan. Karena tidak memiliki biaya untuk kuliah, Lo Kheng Hong bekerja sebagai pegawai tata usaha di bank. Dari hasil bekerja itulah Lo Kheng Hong bisa berkuliah malam di Jurusan Sastra Inggris Universitas Nasional. 

Sebelas tahun bekerja di bank, pangkat Lo Kheng Hong tak kunjung naik. Begitu pula dengan gajinya yang tak seberapa. Pada 1989, Lo Kheng Hong memberanikan diri berkenalan dengan dunia saham. Modal investasinya saat itu pun sangat terbatas. 

“Saya hanya pegawai tata usaha di bank swasta dengan gaji Rp 350 ribu per bulan. Gaji kecil, hidup hemat, tidak konsumtif. Sisa gaji yang kecil inilah yang menjadi modal pertama saya untuk membeli saham,” dia menuturkan kepada detikX beberapa hari lalu. Padahal saat itu dia sebenarnya masih gelap soal bursa saham. “Saya tidak tahu sama sekali tentang Bursa Efek Jakarta dan perusahaan publik. Saya membeli saham seperti membeli kucing dalam karung. Saya tidak tahu apa yang saya beli, hanya ikut-ikutan teman-teman saja.”

Saham PT Gajah Surya Multi Finance Tbk merupakan saham pertama yang dia beli. Namanya investor ‘kemarin sore’, untuk pertama kalinya membeli saham, Lo Kheng Hong langsung merasakan pahitnya menelan rugi. Ketika dicatatkan perdana di Bursa Efek, saham itu malah jeblok harganya. Terpaksa Lo Kheng Hong menjualnya dalam posisi rugi.

Lo Kheng Hong
Foto: Bursa Efek Indonesia via Instagram

Begitu pula saat ikut dalam penawaran umum saham perdana Astra Graphia, Lo Kheng Hong kembali merugi. Namun dua kali pengalaman pahit itu tak membuat dia kapok. Pengalaman buruk itu malah membuatnya tertantang untuk kembali memburu saham. Ia kembali mempelajari laporan keuangan dan membeli saham.

Satu hal yang membuat bapak dua anak ini tidak patah semangat adalah berita di surat kabar. Ada saham yang dapat memberikan keuntungan 400 persen dari penawaran harga saham perdana. Pada saat itulah Lo Kheng Hong menyadari bahwa peluangnya masih besar. 

“Kalau kita tempatkan uang kita di bank, imbal hasilnya sangat kecil, mana bisa sebesar itu…. Inilah yang memotivasi saya untuk tetap menjadi penabung saham, sehingga sisa uang saya tetap ditaruh di saham,” katanya. Tak terasa, sudah 29 tahun duitnya terus berputar di bursa saham dan nilainya terus menggelembung berlipat-lipat. “Bursa Efek Indonesia memberikan imbal hasil yang terbesar di dunia dan saya beruntung berada di dalamnya.” 

Selama berpuluh tahun bermain saham, Lo Kheng Hong masih tetap setia dengan metode analisis fundamental ala Warren Buffett. Lantaran tak bertransaksi setiap hari, Lo Kheng Hong punya banyak waktu luang. Dia tak perlu memelototi layar monitor setiap saat untuk mengikuti pergerakan harga saham-sahamnya. Lo Kheng Hong menjadi investor jangka panjang demi meraih keuntungan tinggi. Namun ia tidak mematok target keuntungan setiap bulannya. 

Yang perlu ia lakukan setiap hari hanyalah mencermati berita media massa mengenai situasi ekonomi serta kinerja perusahaan di bursa efek. Setelah itu, dia memilih saham yang menurutnya bakal memberikan keuntungan dalam jangka panjang dan menunggu dengan sabar. Hasilnya, Lo Kheng Hong membuktikannya.

“Menjadi seorang trader, memperdagangkan saham dalam jangka pendek, karena kenaikan atau penurunan rata-rata harga saham tidak banyak, tentu saja keuntungannya juga tidak banyak, seperti orang mengumpulkan uang receh. Lihatlah Warren Buffett, beliau bukan seorang trader. Kalau beliau menjadi seorang trader, dia tidak mungkin bisa menjadi salah seorang terkaya di dunia,” ujar Lo Kheng Hong.

Indeks harga saham gabungan
Foto: Hesti Rika/CNN Indonesia

Lo Kheng Hong dikenal sebagai investor fundamental yang supersabar. Ketimbang memelototi pergerakan grafik dan angka, ia lebih percaya pada manajemen dan pertumbuhan perusahaan. Sebagai contoh ketika ia memilih membeli saham PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk pada 2005 seharga Rp 250. Setelah dikumpulkan sampai 6 juta lembar saham, enam tahun kemudian ia menjualnya dan meraih keuntungan pada harga Rp 31.500.

Meski analisis fundamental terbukti bisa memberikan keuntungan besar dalam jangka panjang, menurut Lo Kheng Hong, dari sekian banyak saham di bursa, ada pula perusahaan yang fundamentalnya bagus namun menjebak, sehingga kehati-hatian sangat diperlukan. Berkat ketenangan ini pula, Lo Kheng Hong berhasil melalui krisis moneter pada 1998 dengan selamat. 

Sekarang Lo Kheng Hong sudah bergelimang duit, bahkan mungkin cukup untuk hidup mewah sampai anak-cicitnya. Tapi dia tak suka menghamburkan uang. Kebiasaan hidup berhemat saat muda masih ia terapkan sampai sekarang. Dalam kesehariannya, Lo Kheng Hong tetap hidup berhemat. Ia tak segan menggunakan mobil Mitsubishi Minicab 700 cc yang harganya murah meriah. 

“Hemat pangkal kaya. Hidup hemat sudah saya lakukan sejak muda dan sudah menjadi gaya hidup, sehingga sulit untuk berubah menjadi orang yang boros dan konsumtif,” ujarnya. Sama seperti ‘guru’-nya, Warren Buffet, yang masih terus aktif ‘beternak’ saham meski usianya sudah sangat lanjut, Lo Kheng Hong pun tak berniat pensiun dari bursa. “Belum pernah terpikir oleh saya sekali pun untuk pensiun sebagai investor saham. Yang terpikir oleh saya adalah bahwa saya akan menjadi investor saham sampai akhir hidup saya, karena menjadi investor saham itu begitu nikmat dan asyik.”


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE